NovelToon NovelToon
Cincin Brondong Dosen Killer

Cincin Brondong Dosen Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Hidup Dewa sudah cukup runyam diputusin Sasha, keuangannya hampir kolaps, dan menjadi bulan-bulanan takdir. Tapi takdir memutuskan untuk bercanda lebih kejam

Paket cincin untuk pacarnya Sasha nyasar ke apartemen Dian, dosen killer yang bikin satu kampus bergidik.

Dian mulai curiga Dewa adalah penguntit rahasia, merekrutnya mejadi asisten pribadi—dengan ancaman nilai. Dewa malah terjebak dalam permainan dekan genit yang suka dengan Dian.

Tapi kenapa ada perasaan aneh yang muncul di antara interogasi dan kopi panas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apartemen Anggrek

Pukul 19.15, Apartemen Anggrek.

Dewa melangkah masuk dengan perasaan seperti melayang, kakinya terasa ringan tapi kepalanya berat. Ia baru sadar—ini pertama kalinya menginjakkan kaki di dalam unit apartemen yang selama 16 hari terakhir hanya ia lihat dari luar.

"Silakan duduk," Perempuan itu menyalakan lampu ruang tamu.

Dewa mematung di ambang pintu matanya mengitari ruangan.Apartemen itu tidak besar, tapi tertata rapi. Sofa krem dengan dua bantal kecil. Meja kayu penuh tumpukan buku statistika dan jurnal ilmiah. Rak dinding berisi tanaman hias dan beberapa pigura foto—foto Dian sendiri, foto bersama mahasiswa, foto pemandangan Bandung.Tidak ada foto laki-laki, foto keluarga, hanya dia sendiri.

"Silakan," ulangnya sambil melepas sepatunya.

Dewa baru bergerak duduk di ujung sofa, kaku seperti patung manekin

"Kamu terlihat tegang, Dewa?"Ia terkekeh

"Enggak, Bu, biasa aja."

"Santai saja, saya mau ganti baju dulu, sebentar." katanya sambil tersenyum masuk ke kamar meninggalkan Dewa di ruang tamu dengan jantung berdebar tak karuan.

---

Dewa mengambil napas dalam-dalam. Ia mencoba meresapi tempat ini, rumah bagi wanita yang diam-diam ia kagumi.

Matanya jatuh pada sebuah pigura kecil di sudut rak. Foto hitam putih. Seorang wanita muda tersenyum lebar. Di belakangnya terlihat gedung Ganesha.

Ibu Dian muda, pikirnya, 15 tahun lalu sebelum hancur.

Ia ingin mendekat, tapi urung ini bukan tempatnya dan bukan pula haknya.

Pintu kamar terbuka.

Dewa menoleh membeku melihatnya

keluar dengan daster panjang motif bunga-bunga kecil warna biru muda lengan panjang, sopan. Rambutnya yang biasa di kuncir kini terurai sebahu tanpa kacamata, blaze dan riasan.

Ia terlihat... berbeda lebih manusiawi dan hangat.

"Capek, Bu?" tanya Dewa mencairkan suasana.

Ia mengangguk kecil berjalan menuju dapur kecil di pojok ruangan. "Mau teh atau susu?"

"Teh aja, Bu kalau nggak repot."

"Repot apa. Duduk aja, santai."

---

Dian menyeduh teh di dapur, gerakannya lambat, tenang sesekali menatap Dewa yang masih duduk kaku di sofa. Ada senyum kecil yang tidak ia sadari.

"Kamu mau gula?"

"Nggak, Bu. Tawar aja."

Ia membawa dua cangkir teh. Satu ia sodorkan, satu lagi ia pegang sambil duduk di kursi tunggal—bukan di sofa masih ada jarak dan batas."Ini pertama kalinya ada mahasiswa masuk sini,".

Dewa mengangkat alis. "Serius, Bu?"

"Iya. Bahkan asisten-asisten sebelumnya, saya selalu terima di kampus atau di lobby bawah. Tidak pernah di dalam."

Dewa diam merasa istimewa—tapi juga takut. "Kenapa saya, Bu?

"Gimana perasaan kamu hari ini Ikut perjalanan panjang, lihat saya ketemu mantan... pasti berat, ya?"

Laki laki berwajah polos itu menyesap tehnya hangat tapi sedikit pahit."Berat sih nggak, Bu. Tapi... saya jadi tahu banyak hal."

"Seperti?"

Ia berpikir sejenak mencari kata yang tepat.

"Saya jadi tahu kenapa Ibu selama ini terlihat kuat. Tapi sebenarnya... mungkin cuma pandai menyembunyikan perasaan."

Dia diam memandang teh di tangannya. "Kamu tahu, Dewa, selama 15 tahun ini, saya tidak pernah cerita ke siapa pun soal Bandung ke teman, ke keluarga, kepada siapa pun."

Dewa menatapnya lamat

"Ini pertama kalinya saya ajak orang lain ke sana. Dan untuk pertama kalinya saya... pulang."

Dewa menelan ludah terasa pahit di kerongkongan nya. "Kenapa saya, Bu?"

Ia mengangkat wajah,"Karena kamu aman."

"Aman, Bu?"

"Iya. Kamu tidak akan menghakimi, tidak mengiba. Dan kamu tidak akan punya harapan lebih."

Dewa menunduk hatinya terasa perih, kalau Ibu tahu, Bu. Kalau Ibu tahu...

"Jangan salah saya senang kok," lanjutnya "Saya butuh seseorang yang cuma... ada tanpa drama, tanpa ekspektasi."

Dewa diam. Teh di tangannya terasa makin panas mungkin juga pahit.

---

Hening mengisi ruangan. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan.

"Kamu kenapa? Dari tadi diam."

"Nggak papa, Bu. Cuma... mikir."

"Mikir apa?"

Hampir saja ia ungkapkan perasaannya. Tapi ia ingat posisinya, sebagai seorang mahasiswa, Asisten pribadi, pembohong dengan cincin bukan untuknya

"Saya meminta maaf, apa pantas dipercaya segitunya sama Ibu."

Ia tersenyum lembut."Kamu nggak perlu pantas. Kamu cuma perlu... ada."

---

Obrolan mengalir lebih ringan setelah itu. Dian bercerita tentang masa kecilnya di Bandung. Tentang orang tuanya yang sudah tiada, mimpinya dulu jadi peneliti.

Dewa bercerita—dengan hati-hati—tentang ayahnya yang sibuk, ibunya yang sudah lama meninggal, hanya itu, tanpa memberi tahu bahwa sebenarnya ia kabur dari rumah

Mereka tertawa, diam dan saling mengisi.

Hingga...

Dering...

HP Dian berdering keras memecahkan kehangatan.

Ia melihat layar wajahnya berubah."Arif Wijaya"

Dewa melihatnya seketika hatinya mencelos.

"Diangkat, Bu?"

Ia menggeleng. "Tidak."

Deringan berhenti. Tapi beberapa detik kemudian, bunyi notifikasi masuk pesan.

Dian membukanya membaca, wajahnya seketika berubah.

"Apa, Bu?"

Ia meletakkan HP matanya berkaca—bukan sedih tapi kebingungan.

"Dia... Arif... dia bilang besok mau ketemu. Ada yang mau dia kasih."

Dewa diam hatinya berdesir tak enak.

"Apa itu, Bu?"

"Dia nggak bilang. Tapi ini penting, tentang... tentang cincin."

Dewa menegang.

---

Pukul 22.00. saatnya untuk pulang

Dewa berdiri di pintu apartemen "Makasih hari ini, Bu. Maaf sudah ngerepotin."

"Saya yang harus berterima kasih, kamu nggak pernah merepotkan, Dewa."

"Bu... besok Ibu jadi ketemu Pak Arif?"

"Iya. Saya harus tahu apa yang dia mau, tentang cincin itu."

"Sendiri, Bu?"

"Kamu mau temenin?"

Dewa terkejut. "Saya, Bu?"

"Iya. Kamu."

Ia diam jantungnya berdegup kencang.

"Tapi Bu... itu urusan pribadi Ibu. Saya cuma—"

"Kamu cuma asisten? cuma mahasiswa?" Ia memotong tersenyum tipis. "Dewa, hari ini kamu sudah temenin saya ke Bandung. Kamu sudah dengar cerita hidup saya. Kamu lihat saya nangis lihat saya hancur. Kalau bukan kamu, siapa lagi?"

Ia tidak bisa berkata-kata."Besok jam 10. Jemput saya di sini."

Dian membuka pintu. Isyarat bahwa waktu telah habis.

"Selamat malam, Dewa."

"Selamat malam, Bu."

Pintu tertutup. Dewa berdiri di lorong, memandang pintu dengan hati bercampur aduk.Dia minta gue temenin mantannya lagi ?

Apa artinya ini?

---

Pukul 23.00, kosan Depok.

Roby sudah menunggu dengan wajah penasaran.

"Gimana, bro? Masuk apartemen? Ngobrol? Ada apa aja?"

Dewa duduk di lantai memegang kepala.

"By... gue bingung."

"Bingung kenapa?"

"Dia... Ibu Dian... meminta gue temenin besok ketemu dengan mantannya.

" Pak Arif ? Jadi memang benar dia itu mantannya ibu ?"

" Ya ...perjalanan melelahkan ke Bandung."

Roby mengangkat alisnya "Wah... itu sinyal bagus, bro."

"Sinyal apa?"

"Itu artinya lo semakin naik level sebagai asisten bukan cuma temen, tapi orang kepercayaan."

Dewa ingin memprotes. " Gue masih manggil dia 'Ibu', masih ada jarak."

"Ya wajar, bro, dia itu Mak lu dikampus, masa Lo panggil Dian? yang benar aja." Roby tertawa ngakak."

" Lo kenapa sih ?"

" Semuanya berproses, Dewa, yang penting lo ada di sana temenin dia. Itu lebih penting dari apa pun."

---

Di Apartemen Anggrek, Dian duduk di sofa. Sendiri. Cincin safir itu ia lepas dari jari di letakkan di atas meja.

Siapa sebenarnya pengirim cincin ini? Otaknya masih berpikir panjang, Arif bilang bukan dia, Pak Dekan bilang bukan. Lalu siapa?

Ia memandangi safir biru itu. Kilauannya lembut di bawah lampu ruangan.

Dan kenapa Dewa... kenapa dia selalu ada saat saya butuh? Dia cuma asisten. Cuma mahasiswa. Tapi...Ia tidak bisa melanjutkan pikirannya terlalu rumit membingungkan.

Yang ia tahu, besok ia akan bertemu Arif lagi. Dan Dewa akan ada di sampingnya.

Semoga kuat.

---

1
anggita
salah kirim antara shasa dan dian..? 🤔
Ddie: ya mba...seharusnya untuk Sasha jatuh ke Dian...dosen killer
total 1 replies
anggita
like👍, 2iklan☝☝
Ddie: yeee ...thanks mba Anggi ....ciaat...yea...tunggu aku, Purnama !! aku ikut

Kalau mba anggi nulis keren
total 1 replies
Ddie
cinta salah kirim, lucu, koplak dan membuat hati meringis🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!