Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 : Ketika korban dipilih
Pagi datang tanpa suara.
Cahaya matahari masuk dari jendela-jendela besar rumah itu, jatuh ke lantai marmer yang dingin dan bersih. Rumah tersebut selalu tampak siap menyambut tamu, meski hampir tak pernah benar-benar dihuni dengan percakapan. Tidak ada aroma masakan yang menetap lama, tidak ada suara radio, tidak ada langkah terburu-buru. Semua bergerak perlahan, teratur, dan berjarak.
Bela turun dari tangga dengan langkah hati-hati. Setiap pijakannya menggema pelan, seolah rumah itu mencatat keberadaannya satu per satu. Ia sempat berhenti di anak tangga terakhir, memandang ruang bawah yang terlalu luas untuk pagi hari.
Di ruang makan, meja panjang dari kayu tua telah tertata rapi. Dua piring, dua gelas, dua kursi yang saling berhadapan—jaraknya terlalu jauh untuk disebut akrab. Tidak ada bunga, tidak ada koran fisik. Semua bersih, semua siap, semuanya terasa formal.
Mamahnya sudah duduk lebih dulu.
Dr. Ratna Prameswari mengenakan kemeja rumah berwarna netral, rambutnya disanggul rapi seperti hendak menghadiri rapat, bukan sarapan. Di hadapannya tergeletak tablet yang menyala. Tangannya memegang sendok, tetapi ia belum menyentuh makanan.
“Pagi,” kata Bela pelan sambil menarik kursi.
“Pagi,” jawab ibunya singkat, tanpa menoleh.
Bela duduk. Piring di depannya berisi nasi, telur rebus, dan tumisan sayur yang masih mengepul tipis. Aroma makanan naik perlahan, bercampur dengan bau kopi pahit dari cangkir ibunya.
Televisi di sudut ruang menyala. Volumenya rendah, nyaris seperti bisikan. Cukup untuk mengisi ruang, tidak cukup untuk menuntut perhatian—namun justru karena itu, ia menyusup pelan-pelan.
Nama ayahnya muncul di layar.
Wajah itu tampak rapi. Terlalu rapi. Jas kasual, rambut tertata, senyum tipis yang Bela kenal sebagai senyum kamera. Di bawahnya, teks berjalan menampilkan identitas yang selalu disebut media: influencer, pengusaha, mantan bos tambang. Angka pengikut disebutkan. Potongan video lama diputar ulang—tentang keluarga, tentang nilai hidup, tentang integritas.
“Pihak suami menyatakan keberatan atas gugatan cerai yang diajukan sang istri…”
“Merasa menjadi korban atas narasi sepihak…”
“Meminta ruang yang adil dari publik…”
Seolah ibunyalah pemicu segalanya. Seolah ayahnya hanya berdiri pasif, terseret keadaan.
Bela menghela napas pendek, nyaris tidak terdengar.
“Lucu,” gumamnya.
Ibunya akhirnya melirik. “Apa?”
“Media selalu rapi ya,” kata Bela, nadanya datar tapi tegang. “Selalu tahu siapa yang harus kelihatan kuat, siapa yang pantas dikasihani.”
Ibunya kembali menatap layar. “Mereka mencari cerita yang paling mudah dicerna.”
“Dan yang paling menguntungkan,” Bela menambahkan. Ia tidak bermaksud meninggikan suara, tapi ada sesuatu yang mengeras di dadanya. “Seolah Mamah yang menghancurkan semuanya.”
Sendok ibunya berhenti di udara. Ia mengecilkan volume televisi dengan satu gerakan halus.
“Bela,” katanya pelan, “ini bukan waktunya—”
“Bukan waktunya buat apa?” potong Bela. Ia menatap ibunya untuk pertama kali sejak duduk. “Buat jujur?”
Tatapan ibunya menajam, bukan marah, tapi terkontrol. “Ini waktunya makan.”
Bela mendengus kecil, lalu menunduk. Ia tahu pola itu. Nada yang salah. Waktu yang tidak tepat. Selalu ada alasan untuk menunda percakapan sampai akhirnya tidak pernah terjadi.
Ia mengambil suapan kecil. Baru setengah sendok masuk ke mulutnya ketika rasa itu datang—tajam, tiba-tiba. Perutnya berkontraksi, seperti menolak sesuatu yang asing. Bau telur rebus mendadak terasa menusuk.
Bela berhenti mengunyah.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya ibunya.
Ia mencoba menelan, tapi tenggorokannya mengencang. Keringat dingin muncul di pelipisnya.
“Aku—” Kalimat itu terputus.
Ia berdiri terlalu cepat. Kursinya berderit keras, memecah keheningan. Bela menutup mulut dengan tangan dan melangkah cepat ke lorong kamar mandi.
“Bela!”
Pintu belum sempat tertutup rapat ketika ia muntah. Tubuhnya membungkuk, napasnya terengah. Tidak banyak yang keluar, hanya cairan pahit dan rasa perih di tenggorokan.
Ia berdiri lama setelahnya, membilas mulut, mencuci wajah. Pantulan di cermin tampak asing—wajah pucat, mata lelah, bibir kering.
Ibunya berdiri di ambang pintu. Tidak masuk, tapi cukup dekat.
“Kamu sakit?” tanyanya.
“Masuk angin,” jawab Bela cepat. Terlalu cepat.
Ibunya menepuk punggungnya pelan, canggung. “Kamu sering mual?”
Bela mengangguk kecil.
“Kamu harus ke dokter.”
“Ya.”
Mereka kembali ke ruang makan tanpa percakapan lanjutan. Televisi dimatikan. Tablet ditutup. Namun bayangan wajah di layar seolah masih menggantung di udara.
Tak lama kemudian, ibunya berdiri. “Mamah ada rapat daring.”
Ia masuk ke ruang kerja dan menutup pintu.
Bela sendirian.
Rumah itu kembali ke mode diamnya. AC berdengung halus. Jam dinding berdetak terlalu jelas. Bela berjalan pelan menyusuri ruang tamu, ruang keluarga, lorong panjang yang jarang ia lewati. Ada sofa yang hampir tak pernah diduduki, rak buku yang lebih sering dipajang daripada dibaca.
Rumah ini terlalu besar untuk dua orang yang jarang bicara.
Di luar, udara pagi terasa lebih jujur daripada rumah yang baru saja ia tinggalkan.
Bela berdiri sebentar di teras, jaket sudah menempel di tubuhnya, kunci motor digenggam erat. Dari balik dinding-dinding tinggi itu, tidak ada suara yang memanggilnya kembali. Rumah besar tersebut tetap berdiri rapi, sunyi, bersih, dan tak menuntut apa pun selain kepatuhan pada diam.
Ia menarik napas pelan. Tangannya sempat berhenti di perutnya, refleks yang datang lebih cepat dari pikirannya sendiri. Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang belum ia beri nama, tapi terus meminta perhatian.
Pagi itu dengan ibunya dijadikan tersangka publik, ayahnya dipoles menjadi korban, dan tubuhnya sendiri yang terus memberi tanda—Bela sadar satu hal.
Yang akan datang tidak sesederhana berita.
Kantor terasa lebih dingin dari biasanya.
Bela tiba sedikit lebih awal. Lorong-lorong masih lengang, hanya suara langkahnya sendiri yang memantul di lantai keramik. Ia melepas jaket, menggantungkannya di sandaran kursi, lalu menyalakan komputer. Rutinitas kecil yang ia harapkan bisa meredam pikirannya.
Beberapa hari terakhir satu meja di sudut ruangan, kosong. Seorang pria cuti mendadak tanpa penjelasan panjang, tanpa pesan pribadi. Bela sempat berharap ketidakhadirannya berlanjut lebih lama.
Namun pagi itu, kursi itu terisi kembali.
“Pagi, Bela.”
Suaranya terdengar terlalu dekat. Terlalu hangat untuk jam sepagi ini.
Ia menoleh. Pria itu berdiri sambil tersenyum, kemeja kerjanya rapi, rambut disisir ke belakang. Senyum yang sama dan ramah di permukaan, tapi selalu terasa seperti memeriksa.
“Pagi,” jawab Bela singkat.
Ia kembali menatap layar, berharap percakapan berhenti di sana. Namun ia bisa merasakan tatapan itu belum pergi. Seperti jeda yang disengaja.
“Kamu kelihatan beda,” katanya kemudian. “Lebih… segar.”
Bela tidak menjawab. Jarinya bergerak di atas keyboard, berpura-pura sibuk. Ia tahu pria itu sudah beristri. Ia juga tahu cincin di jarinya tidak pernah benar-benar menghalangi cara pandangnya menilai.
Tatapan itu meluncur tanpa izin. Matanya menyusuri garis leher Bela yang jenjang, jatuh ke bahu, lalu ke tubuhnya yang berisi dengan lekuk tenang. Tubuh dengan bentuk gitar Spanyol. Pinggang yang jelas, dada yang penuh tanpa kesan berlebihan. Kulit Bela pucat bersih, kontras dengan rambut panjangnya yang ia ikat rendah pagi itu.
Bela menegakkan punggung. Gerakan kecil, tapi tegas. Ia terbiasa dengan tatapan, namun hari ini tubuhnya terasa lebih sensitif seolah setiap lirikan meninggalkan jejak yang tidak ia minta.
“Cuti kamu lama juga,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.
“Perlu,” jawab pria itu ringan. “Ada urusan keluarga.”
Bela menahan senyum yang hampir sinis. Kata keluarga selalu terdengar fleksibel di mulut orang-orang tertentu.
Ia berdiri, membawa map ke rak arsip. Lorong sempit itu memberinya jarak, meski hanya beberapa langkah. Di sana, di antara berkas-berkas yang sunyi, Bela menarik napas pelan.
Ia sadar, kantor bukan tempat aman. Rumah pun bukan. Bahkan tubuhnya sendiri kini menyimpan rahasia yang belum mau diam.
Bela merapikan map terakhir, lalu kembali ke mejanya. Tatapan itu sudah berpaling, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Namun rasa tidak nyaman tetap tinggal, seperti bayangan yang tahu kapan harus muncul dan kapan harus berpura-pura tidak ada.