Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Leonor tidak sudi menghirup aroma kayu cendana dari jas itu sedetik lebih lama. Pagi-pagi buta, sebelum matahari benar-benar menyentuh cakrawala Los Angeles, ia sudah mengirimkan jas milik Edgar Martinez melalui jasa kurir premium. Ia tidak melampirkan pesan, tidak ada ucapan terima kasih, hanya secarik kertas kecil bertuliskan: "Jangan pernah meminjamkan barangmu padaku lagi."
Setelah kurir itu pergi, Leonor merasa sedikit lebih ringan. Namun, beban yang sebenarnya menanti di balik pintu ruang makan mansion Gonzales.
Leonor sedang berdiri di depan cermin, merapikan kaus crop putih polos dan celana baggy jeans yang longgar. Rambut panjangnya ia ikat asal dengan gaya messy bun.
Bagi Leonor, fashion adalah kebebasan. Terkadang ia ingin tampil sangat feminin dengan bunga-bunga, namun di hari-hari saat ia merasa harus berperang seperti hari ini, ia lebih nyaman dengan pakaian yang memberinya ruang untuk bergerak bebas.
Tok, tok.
Pintu kamarnya terbuka. Aurora masuk dengan sebuah tas jinjing besar bermerek ternama. Wajah Aurora tampak lelah, riasannya sudah sempurna meski hari masih pagi, sebuah tuntutan karena ia adalah mahasiswi performance akting yang selalu dipantau oleh agen dan, tentu saja, ayahnya.
"Leo, pakailah ini," Aurora mengeluarkan sebuah dress rajut berwarna sage green yang sangat cantik. Potongannya elegan namun tetap memiliki sentuhan modern. "Ini koleksi terbaru dari desainer Prancis yang kukenal. Aku tahu kau sedang sedih karena kejadian kemarin, jadi aku ingin kau terlihat cantik hari ini."
Leonor menatap dress itu, lalu menatap Aurora. Kontras di antara mereka sangat nyata. Aurora mengenakan gaun ketat yang menonjolkan lekuk tubuhnya, sesuai dengan citra bombshell yang dipaksakan David Gonzales padanya agar ia bisa segera dipasangkan dengan putra konglomerat.
"Kenapa kau tidak memakainya sendiri, Ra?" tanya Leonor lembut.
Aurora tersenyum getir. "Kau tahu Ayah. Dia menuntut ku untuk selalu terlihat wah dan seksi. Katanya, wajahku adalah aset pemasaran keluarga. Tapi kau... kau punya kebebasan yang tidak kumiliki. Kau bisa memakai celana gombrang itu tanpa ada yang peduli, karena di mata Ayah, kau tidak terdaftar untuk dijual."
Leonor terdiam. Kebebasannya ternyata berakar dari pengabaian ayahnya. Ia bebas karena ia dianggap tidak berharga.
"Terima kasih, Aurora. Aku akan memakainya untukmu," ucap Leonor. Ia mengganti pakaiannya. Dress itu jatuh dengan sempurna di tubuhnya, membuat rambut panjangnya terlihat semakin kontras dan menawan.
Saat mereka turun ke meja makan, David Gonzales sudah duduk di sana, sibuk dengan tabletnya yang menampilkan grafik saham yang merah. Ethan duduk di seberangnya, tampak gelisah.
"Aku mendengar rumor menarik kemarin," suara David memecah keheningan, matanya tetap tertuju pada tablet. "Kantin fakultas bisnis heboh. Katanya, putra Martinez memberikan jasnya pada seorang gadis yang menumpahkan minuman ke tubuhnya sendiri."
David perlahan mengangkat kepalanya, menatap Leonor yang baru saja duduk. Tatapannya tidak lagi dingin, melainkan tajam dan penuh kalkulasi.
"Kau tidak bilang padaku kalau kau punya hubungan dengan Edgar Martinez, Leonor," ucap David.
"Kami tidak punya hubungan, Ayah. Itu hanya kecelakaan," jawab Leonor datar.
"Kecelakaan atau bukan, Edgar Martinez tidak pernah memberikan jasnya pada sembarang orang. Kau mungkin tidak punya nama Gonzales, tapi jika kau bisa membawa Martinez ke meja ini, aku mungkin akan mempertimbangkan kembali posisimu di rumah ini."
Leonor merasa mual. Kemarin ia dihina karena tidak memiliki marga, dan hari ini ia dihargai hanya karena dianggap sebagai umpan untuk menarik keluarga terkaya di negara ini.
"Aku di sana untuk proyek kuliah, bukan untuk menjadi alat negosiasi mu," tegas Leonor.
Ethan mendengus, memutar bola matanya. "Jangan bermimpi, Ayah. Edgar hanya merasa kasihan padanya. Dia bahkan tidak sudi menyebut nama Leonor saat aku bertanya tadi pagi melalui pesan singkat. Dia bilang, Leonor hanya gangguan kecil."
Leonor mengepalkan tangannya di bawah meja. Gangguan kecil. Kata-kata Edgar selalu berhasil menemukan cara untuk menusuknya.
Setelah sarapan yang mencekam, mereka berangkat ke kampus. Kali ini, Leonor sengaja meminta supir untuk menurunkannya jauh dari gerbang, agar ia tidak perlu berpapasan dengan rombongan mobil mewah itu lagi.
Namun, takdir seolah ingin mempermainkannya.
Saat ia berjalan melewati lapangan utama, parade mobil mewah itu kembali dimulai. Satu per satu, kendaraan seharga miliaran rupiah itu memasuki area parkir khusus. Leonor berdiri di kejauhan, menyaksikan pemandangan yang sama, para pewaris yang keluar dari pintu-pintu hidrolik dengan gaya angkuh.
Ia melihat Edgar Martinez keluar dari mobilnya. Pria itu tampak sangat tenang, seolah kejadian memalukan di kantin kemarin tidak pernah terjadi. Edgar menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet tanpa melihat wajah orang itu sedikit pun.
Leonor berdiri di balik pilar besar, memerhatikan dari jauh. Ia merasa seperti pengamat dari dunia lain. Di sana, di bawah sinar matahari yang terik, Edgar dikelilingi oleh orang-orang yang menjilatnya, termasuk Ethan yang berlari kecil untuk menyapa pria itu.
"Nikmati waktumu di atas sana, Edgar," bisik Leonor.
Ia teringat janjinya semalam. Bertekuk lutut. Kalimat itu terdengar konyol, namun saat ia melihat bagaimana Edgar memandang rendah semua orang di sekitarnya, keinginan untuk menghancurkan ego pria itu tumbuh menjadi sebuah obsesi yang gelap.
Leonor memutar tubuhnya, berjalan menuju gedung desain yang nampak kusam dibandingkan gedung bisnis yang megah. Ia mungkin tidak punya mobil mewah, ia mungkin tidak punya marga besar, dan ia mungkin hanya mengenakan dress pemberian kakaknya.
Tapi saat ia melangkah masuk ke kelasnya, Leonor mengambil pensil sketsanya dengan mantap.
Jika Edgar Martinez adalah penguasa pasar saham, maka Leonor akan menjadi arsitek dari kejatuhannya. Ia akan menggunakan proyek kolaborasi ini untuk masuk ke dalam pertahanan Edgar, mencari celahnya, dan membuktikan bahwa kecantikan dan kelembutan seorang wanita bisa menjadi senjata yang lebih mematikan daripada angka-angka di bursa efek.
"Konyol atau tidak," gumam Leonor sambil menggambar pola tajam di kertasnya, "aku akan memastikan kau mengingat namaku, Edgar. Bukan sebagai gangguan kecil, tapi sebagai kehancuran yang tidak pernah kau duga."
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍