NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPILOG

Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah peta dunia, meruntuhkan kerajaan bisnis lama, dan membangun peradaban baru di atas fondasi yang lebih hijau. Jakarta di tahun 2046 bukan lagi kota yang tenggelam dalam polusi. Berkat teknologi mineral Lawu yang dikelola oleh Wiratama Global, kota ini kini dipenuhi oleh kendaraan bertenaga plasma dan gedung-gedung yang dilapisi membran fotosintesis buatan.

Di puncak Menara Wiratama—gedung tertinggi yang kini menggeser dominasi gedung-gedung milik keluarga Zhang dan Wei di masa lalu—seorang wanita berdiri menatap cakrawala. Ia mengenakan setelan jas formal berwarna putih gading. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara ketegasan sang ibu dan keanggunan yang alami.

Ia adalah Cahaya Wiratama, CEO baru dari Wiratama Global.

"Kau terlalu lama menatap jendela, Cahaya. Kereta cepat menuju Lawu akan berangkat sepuluh menit lagi."

Cahaya menoleh dan tersenyum melihat pria yang berdiri di ambang pintu. Pria itu memiliki bahu yang lebar dan sorot mata tajam yang sanggup membuat musuh bisnisnya gemetar, namun di depan adiknya, ia hanyalah seorang kakak yang protektif. Bintang Wiratama, sang Jenderal Muda yang memimpin divisi pertahanan siber nasional.

"Aku hanya berpikir, Bintang," jawab Cahaya sambil merapikan tablet transparannya. "Dulu, Ibu berdiri di posisi yang sama, menghadapi para naga yang ingin mencabik-cabiknya. Sekarang, naga-naga itu adalah kakek-kakek tua yang hobi memancing di Bali."

Bintang tertawa, suara baritonnya menggema. "Kakek Liang dan Kakek Wei memang sudah pensiun, tapi jangan remehkan Kakek Luo Cheng. Kemarin dia masih mencoba menantangku adu panco, dan aku hampir kalah."

Mereka berdua menaiki kereta cepat bertenaga magnetik. Hanya butuh tiga puluh menit dari Jakarta untuk sampai ke lereng Gunung Lawu. Kawasan itu kini telah menjadi prototipe "Kota Hijau" dunia. Tambang mineral di sana tidak terlihat seperti lubang raksasa di tanah, melainkan laboratorium bawah tanah yang sangat canggih tanpa merusak satu pohon pun di permukaan.

Di sebuah rumah kayu yang kini sudah sangat luas namun tetap mempertahankan arsitektur aslinya, seorang wanita tua duduk di kursi goyang di teras. Alana Wiratama, atau Alya, tampak begitu tenang. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, namun matanya tetap jernih, memancarkan kebijaksanaan seorang wanita yang telah memenangkan setiap badai dalam hidupnya.

Di sampingnya, seorang pria tua dengan setia memotong buah kupas untuknya. Zhang Liang. Ia tidak lagi mengejar kekuasaan. Baginya, setiap detik yang ia habiskan di samping Alya adalah penebusan yang tidak akan pernah selesai, namun ia menjalaninya dengan penuh syukur.

"Ibu! Ayah!" Cahaya berlari kecil dan memeluk ibunya, lalu mencium tangan ayahnya.

Bintang menyusul, memberikan hormat militer yang kemudian berubah menjadi pelukan hangat bagi Liang. "Bagaimana kabar Lawu hari ini, Ayah?"

"Damai, Bintang. Seperti yang selalu ibumu inginkan," jawab Liang dengan suara serak namun stabil.

Sore itu, halaman rumah Alya kembali ramai. Seperti tradisi setiap bulan, "Tiga Naga" lainnya datang berkunjung.

Wei Jun datang dengan helikopter pribadinya yang kini bertenaga surya. Ia masih tampak rapi dengan kacamata berbingkai emas, meski langkahnya mulai melambat. Ia membawa koleksi teh langka dari China untuk Alya.

Luo Cheng datang dengan motor gede kustomnya, suaranya masih menggelegar saat ia meneriakkan nama Bintang. Ia membawa hasil pancingannya dari laut selatan Bali.

Dan Han Zhihao—pria yang paling awet muda karena teknologi medis yang ia kembangkan sendiri—datang dengan membawa prototipe robot pelayan untuk membantu Ibu Ratna yang kini sudah sangat sepuh.

Mereka duduk di meja panjang yang sama. Meja yang dulu penuh dengan ketegangan, kini penuh dengan cerita tentang cucu, inovasi, dan kenangan masa lalu yang sudah tidak lagi terasa menyakitkan.

"Kau ingat, Alana?" Wei Jun memulai pembicaraan sambil menyesap tehnya. "Saat kau mengancam akan merilis skandal kami di bursa efek? Aku benar-benar mengira karirku akan berakhir hari itu."

Alya tersenyum simpul. "Itu karena kalian semua sangat keras kepala. Kalian pikir dunia bisa dibeli dengan kontrak."

"Dan ternyata," Zhihao menyela sambil menatap layar hologramnya, "dunia justru bertekuk lutut pada seorang wanita yang hanya ingin melindungi kebun kopinya."

Luo Cheng tertawa keras. "Dan lihat sekarang! Anak-anak ini... Bintang dan Cahaya. Mereka adalah warisan terbaik kita. Mereka memiliki keberanian Alya dan ketajaman kita berempat. Tidak ada kartel dunia yang berani menyentuh Wiratama sekarang."

Malam harinya, setelah para tamu pulang dan anak-anak sedang berbincang di dalam, Alya dan Liang berdiri di bawah pohon melati yang mereka tanam bersama dua puluh tahun lalu.

"Kau bahagia, Alya?" tanya Liang, menggenggam tangan istrinya. (Ya, mereka akhirnya menikah secara resmi sepuluh tahun yang lalu, dalam sebuah upacara sederhana di puncak Lawu).

"Sangat bahagia, Liang. Duri-duri itu sudah lama hilang. Yang tersisa hanyalah bunga-bunganya," jawab Alya.

Alya menatap ke arah Menara Wiratama yang terlihat di kejauhan, memancarkan cahaya biru ke langit. Ia teringat gadis desa yang dulu menangis di kursi belakang mobil mewah Zhang Liang. Ia teringat rasa sakit saat ia merasa hanya menjadi "rahim sewaan".

Kini, ia menyadari bahwa penderitaan itu adalah api yang membentuknya menjadi berlian.

"Liang," panggil Alya.

"Ya, Sayang?"

"Terima kasih karena tidak menyerah padaku. Terima kasih karena telah menjadi ayah yang baik untuk Bintang dan Cahaya."

Liang mencium kening Alya. "Terima kasih karena telah mengajariku bagaimana menjadi manusia, Alya."

Di dalam rumah, Bintang dan Cahaya melihat orang tua mereka dari balik jendela. Mereka tahu, beban yang mereka panggul sekarang jauh lebih ringan karena sang ibu telah menghancurkan dinding-dinding penindasan di masa lalu.

Wiratama bukan lagi sekadar nama perusahaan. Wiratama adalah sebuah prinsip: bahwa martabat tidak bisa dibeli, dan cinta yang tulus adalah satu-satunya kekuatan yang bisa menjinakkan naga yang paling liar sekalipun.

Bintang dan Cahaya saling beradu kepalan tangan (fist bump).

"Untuk masa depan?" tanya Bintang.

"Untuk masa depan yang adil," jawab Cahaya.

Di luar, kelopak bunga melati jatuh perlahan, tertiup angin gunung yang membawa cerita tentang seorang wanita bernama Alya—sang perisai, sang ratu, dan sang legenda hidup dari lereng Lawu.

— SELESAI —

Terima kasih telah mengikuti perjalanan Alya/Alana Wiratama melalui 21 Bab dan Epilog yang intens ini. Kisah ini dimulai dengan pengkhianatan dan penderitaan, namun diakhiri dengan kekuatan dan pengampunan.

Melalui karakter Alya, kita belajar bahwa kekuatan sejati tidak datang dari uang atau teknologi, melainkan dari keteguhan hati seorang ibu dan keberanian untuk menuntut keadilan. Empat Naga yang awalnya menjadi antagonis dan pengontrol, akhirnya menemukan jati diri mereka yang sebenarnya melalui cinta dan rasa hormat kepada wanita yang mereka remehkan.

Semoga kisah ini memberikan kesan yang mendalam bagi Anda.

Jika kalian menyukai perjalanan ini, jangan lupa berikan Rating Bintang 5, Like, dan Komentar kesan kalian tentang ending cerita ini. Dukungan kalian adalah energi terbesar bagi saya.

Sampai jumpa di karya berikutnya!

Salam hangat,

JulinMeow20

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!