NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

moses

Perlahan, sikap Moses berubah.

Bukan perubahan yang mencolok, bukan juga kepergian yang bisa langsung kutunjuk sebagai tanda. Ia tidak menghilang. Ia tetap ada, tetap mengabariku, tetap menelepon. Namun ada sesuatu yang bergeser—sesuatu yang sulit kujelaskan, tapi sangat kurasakan.

Nada suaranya tidak lagi sama. Kalimat-kalimat manis yang dulu sering muncul kini jarang terdengar. Percakapan kami terasa lebih singkat, lebih fungsional. Yang sering ia sampaikan justru keluhan tentang kelelahan. Ia berkata capek, pikirannya penuh, butuh istirahat, butuh menyendiri sejenak, butuh menjauh dari rutinitas yang membuat kepalanya sesak.

Aku mencoba memahami.

Aku selalu mencoba memahami.

Aku bilang padanya bahwa tidak apa-apa merasa lelah. Bahwa ia berhak beristirahat. Bahwa aku mengerti jika ia butuh ruang. Aku tidak ingin menjadi tambahan beban dalam hidupnya, apalagi setelah semua yang terjadi. Aku memilih diam di banyak kesempatan, menelan pertanyaanku sendiri agar tidak menambah keruwetan.

Namun, diam juga melelahkan dengan caranya sendiri.

Lalu, pada tanggal sebelas November, sesuatu yang sama sekali tidak kuduga terjadi.

Pagi itu berjalan biasa saja sampai sebuah pesan masuk darinya. Singkat, tanpa pembuka.

“Eh, kamu siap-siap dong.”

Aku membaca pesan itu beberapa kali. Jantungku berdetak lebih cepat, bukan karena senang, tapi karena bingung. Sebelum sempat bertanya apa maksudnya, pesan berikutnya datang. Ia bilang akan ada Grab yang menjemputku. Aku diminta memakai baju yang bagus dan membawa pakaian ganti. Ia menyebutkan sebuah restoran sebagai tujuan.

Tidak ada penjelasan lebih jauh.

Tidak ada konteks.

Aku ragu sejenak, lalu memutuskan menurut. Ada bagian dalam diriku yang lelah mempertanyakan segalanya. Aku berganti pakaian, merapikan diri dengan perasaan yang campur aduk. Beberapa menit kemudian, Grab sudah menunggu di depan.

Di dalam mobil, aku menatap keluar jendela, mencoba menenangkan diri. Rasa penasaran bercampur dengan kecemasan kecil yang sulit kutepis. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya pada pengemudi.

“Mas, kita mau ke mana?”

Ia melirik aplikasi di ponselnya.

“Saya kurang tahu, Mbak. Ini alamatnya,” katanya sambil menunjukkan layar.

Aku mengangguk.

Aku memilih percaya.

Sepanjang perjalanan, pikiranku berputar. Ada kecurigaan kecil yang muncul, tapi aku tidak menggenggamnya terlalu erat. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa mungkin ini caranya menunjukkan perhatian. Mungkin ini usahanya membantuku sejenak melupakan semua yang melelahkan. Aku ingin memberi ruang pada kemungkinan baik.

Ketika mobil berhenti di depan sebuah hotel, napasku tertahan.

Ada jeda singkat sebelum aku turun. Perasaan kaget datang bersamaan dengan rasa tidak siap. Semua ini terlalu mendadak. Tidak ada pemberitahuan. Tidak ada percakapan sebelumnya. Tapi sebelum pikiranku sempat menolak sepenuhnya, pintu mobil sudah terbuka.

Dan aku melihatnya.

Moses berdiri di sana.

Begitu langkah kami mendekat, semua jarak yang kurasakan sebelumnya runtuh. Aku memeluknya tanpa ragu, erat, seolah seluruh tubuhku mengingat bentuk pelukan itu. Ia membalasnya, bahkan mengangkatku sebentar di depan hotel. Aku tertawa kecil karena malu, tapi air mataku jatuh bersamaan. Aku tidak berusaha menghentikannya.

Aku sangat merindukannya.

Ia menggenggam tanganku dan membawaku masuk. Kami naik ke lantai tiga, menuju kamar bernomor tiga kosong sembilan. Lorong hotel terasa sunyi, langkah kami bergema pelan. Ada rasa gugup yang tidak biasa, bercampur dengan kelegaan yang sulit kujelaskan.

Di depan pintu kamar, ia berkata pelan, “Aku sengaja pilih kamar ini. Aku mau kamu istirahat. Aku tahu kamu capek.”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya mengangguk.

Ketika pintu terbuka, pandanganku menyapu ruangan. Tempat itu lebih menyerupai apartemen kecil daripada kamar hotel biasa. Ada tangga kecil menuju kamar tidur di atas, dapur di bagian bawah, dan jendela besar yang menghadap ke luar.

“Buka jendelanya,” katanya.

Aku menurut. Udara segar masuk, membawa perubahan kecil di dadaku. Rasanya seperti diberi napas tambahan.

Ia menatapku sebentar, lalu bertanya, “Kamu sudah makan?”

Aku menggeleng.

“Belum.”

Ia langsung memesan makanan. Kami duduk berdampingan, makan tanpa tergesa. Percakapan kami ringan, jauh dari topik-topik berat yang belakangan sering menghantui. Kami membicarakan hal-hal kecil, kenangan, cerita yang tidak menuntut apa pun.

Untuk sesaat, aku lupa bahwa sebelumnya aku merasa ditinggalkan secara perlahan.

Setelah makan, kami berbaring. Ia memelukku, dan aku membiarkan diriku tenggelam di sana. Kami berbincang sambil tertawa kecil, membiarkan waktu berjalan tanpa tujuan. Pelukan itu terasa hangat, menenangkan, seperti sesuatu yang lama hilang.

Rasa lelah akhirnya datang. Kata-kata kami melambat, lalu berhenti. Aku tertidur di pelukannya, dengan perasaan yang campur aduk—bahagia, lega, dan sedikit takut jika semua ini hanya sementara.

Malam itu, kami berencana pergi ke klub.

Seperti dulu.

Seperti mencoba mengulang sesuatu yang pernah terasa mudah.

Dan di antara denting rencana dan sisa lelah di tubuhku, aku membiarkan diriku percaya—setidaknya untuk malam itu—bahwa mungkin aku masih boleh merasa bahagia, meski hanya sebentar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!