⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...
Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.
Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.
Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.
"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 (Part 1) Investigasi "Dosen" Ganteng & Plot Twist Si Revan
Kalau ada penghargaan untuk "Drama Queen of the Year", Gia pasti sudah menang telak lewat jalur prestasi. Setelah adegan putus (yang bahkan belum jadian) di depan perpustakaan kemarin, hidup Gia resmi berubah jadi film hitam-putih. Nggak ada gairah, nggak ada warna, bahkan seblak favoritnya pun rasanya kayak kertas basah.
Gia duduk di kelas sambil bengong, matanya sembab kayak habis disengat tawon satu batalyon.
Caca, yang sudah capek nanya, cuma bisa mengelus-elus punggung sahabatnya itu.
"Gi, sumpah ya, lo tuh udah kayak mayat hidup di film All of Us Are Dead. Cerita kek sama gue, lo beneran putus sama Pak Radit? Emang kapan jadiannya, anjir?" tanya Caca, masih berusaha mencari logika di tengah kegalauan Gia.
Gia cuma menggeleng lemah. Dia nggak bisa cerita soal Sarah. Dia nggak mau foto itu kenapa-napa. "Pokoknya gue udah nggak mau urusan sama guru-guru lagi, Ca. Gue mau tobat. Gue mau cari cowok yang seumuran aja."
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Sosok cowok jangkung dengan rambut comma hair yang wangi parfumnya tercium sampai radius tiga meter masuk ke kelas.
Revan. Kapten tim basket putra, anak pemilik yayasan, dan cowok yang selama ini dianggap sebagai "Pangeran" SMA Garuda Bangsa.
Revan langsung jalan ke arah meja Gia. Dia menaruh satu kotak macarons warna-warni di depan Gia.
"Hai, Gia. Gue denger lo lagi nggak enak badan. Ini buat lo, biar mood-nya balik," kata Revan dengan senyum yang menurut cewek-cewek lain bisa bikin meleleh, tapi menurut Gia malah bikin mual.
Caca melongo. Satu kelas langsung ricuh. "Lho, Revan? Tumben banget?"
Gia menatap Revan datar. Dia tahu ini bagian dari rencana Sarah. Sarah pasti sudah "mengompori" Revan buat deketin dia. Tapi, di sisi lain, ini bisa jadi tameng buat Gia biar Pak Radit makin percaya kalau Gia emang udah move on.
"Makasih, Van," jawab Gia singkat, suaranya serak.
"Nanti pulang sekolah, bareng gue yuk? Ada kafe baru di Senopati yang view-nya bagus banget buat healing," ajak Revan, suaranya lembut tapi memaksa.
Gia melihat Sarah yang berdiri di ambang pintu kelas, sedang memperhatikan mereka sambil tersenyum puas. Gia menelan ludah. "Oke. Gue ikut."
...
Sementara itu, di sisi lain gedung sekolah, Pak Radit sedang duduk di mejanya sambil membolak-balik berkas. Meskipun secara teknis dia lagi di-suspend dari mengajar, dia masih punya akses ke kantor untuk urusan kesiswaan.
Pikiran Pak Radit nggak fokus. Kata-kata Gia kemarin—"Saya cuma gabut"—terus terngiang di kepalanya seperti kaset rusak. Tapi Pak Radit bukan cowok umur 17 tahun yang gampang dibohongi drama remaja. Dia tahu ada yang nggak beres dengan cara Gia bicara. Matanya yang merah dan tangannya yang gemetar nggak sinkron sama kata-kata pedas yang keluar dari mulutnya.
Pak Radit melirik Sarah yang baru saja masuk ke ruang guru dan duduk di meja magangnya.
"Pak Radit, kok belum pulang? Masih banyak kerjaan ya?" tanya Sarah dengan nada manis yang dibuat-buat.
"Hanya beberapa laporan kesiswaan," jawab Pak Radit pendek. Dia memperhatikan gerakan Sarah. Sarah terlihat sangat tenang, tapi sesekali dia melirik ke arah HP-nya dengan gelisah.
Pak Radit teringat sesuatu. Dia ingat pernah melihat Sarah di universitas dulu, tapi Sarah bukan dari jurusan pendidikan. Dia dari jurusan komunikasi.
Kenapa tiba-tiba dia magang jadi guru di sini?
Saat Sarah pergi ke toilet meninggalkan HP-nya di meja, Pak Radit melihat sebuah notifikasi muncul di layar HP Sarah. Itu adalah pesan dari sebuah nomor yang nggak disimpan, tapi Pak Radit mengenali foto profilnya: Siska.
"Gimana? Si bocah itu udah menjauh?"
Rahang Pak Radit mengeras. Dia mulai menyambungkan benang-benang merah. Siska, Sarah, dan perubahan mendadak Gia. Ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan barisan para mantan dan orang-orang yang terobsesi padanya.
...
.
.
.
[To be continued ke Episode Selanjutnya ]
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..