Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: PELARIAN
Malam itu gelap tanpa bulan.
Awan hitam menutupi langit, seolah alam pun bersekongkol membantu pelarian mereka. Ha-neul menggenggam erat tangan Soo-ah, menuntun adiknya melewati jalan setapak di belakang gudang yang hanya ia kenal. Di belakang mereka, suara riuh rendah dan obor-obor mulai menjauh—tanda bahwa para pengejar masih berkutat di sekitar kompleks, belum menemukan arah yang benar.
"Kang Oppa... kita ke mana?" Soo-ah bertanya di sela napas. Suaranya bergetar, bukan karena lelah, tapi karena takut.
"Ke tempat aman."
"Tapi... di luar klan, kita tidak punya siapa-siapa."
Ha-neul menoleh, menatap adiknya sekilas. Di kegelapan, ia hanya bisa melihat garis wajah Soo-ah yang samar. Tapi ia bisa merasakan ketakutannya.
"Kita punya satu sama lain. Itu cukup."
Soo-ah tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan kakaknya lebih erat.
---
Mereka berlari selama hampir satu jam, melewati semak belukar, menyeberangi sungai kecil, dan mendaki lereng curam yang bahkan Ha-neul sendiri belum pernah jelajahi. Hyeol-geon terus memberi arahan dari dalam cincin, menunjukkan jalan yang aman dari pengejaran.
"Belok kiri. Ada jurang di kanan."
"Lompati batu besar itu. Di baliknya ada gua kecil."
"Hati-hati, akar pohon. Angkat kaki."
Ha-neul mematuhi semua instruksi, sesekali menarik Soo-ah yang hampir tersandung. Adiknya tidak mengeluh, meski napasnya mulai tersengal dan kakinya pasti lelah. Ia hanya terus berlari, percaya sepenuhnya pada kakaknya.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah gua kecil di balik air terjun tipis. Air terjun itu tidak besar—lebih seperti tirai air setinggi tiga meter—tapi cukup untuk menyembunyikan mulut gua dari pandangan luar.
"Ini dia. Tempat persembunyian sementara. Masuk."
Ha-neul menyingkap tirai air, menarik Soo-ah masuk. Di dalam gua, gelap gulita. Hanya suara gemericik air yang terdengar dari luar.
"Soo-ah, kau bisa tunggu di sini sebentar? Oppa cari kayu kering untuk api."
"Jangan lama-lama." Suara Soo-ah kecil, seperti anak-anak yang takut ditinggal.
"Janji."
Ha-neul keluar lagi, mencari ranting-ranting kering di sekitar air terjun. Hyeol-geon membantunya melihat dalam gelap dengan memberi sedikit cahaya dari cincin—cukup untuk membedakan mana kayu kering dan mana basah.
Setelah mengumpulkan cukup banyak, ia kembali ke gua. Beberapa saat kemudian, api unggun kecil menyala di sudut gua yang agak jauh dari mulut agar asapnya tidak terlalu terlihat.
Cahaya api menerangi wajah Soo-ah. Gadis itu duduk memeluk lutut, dagu bertumpu di lutut, matanya merah.
"Kita tidak akan bisa kembali, 'kan?" bisiknya.
Ha-neul duduk di sampingnya. "Mungkin tidak."
"Selama ini... Oppa sembunyi sesuatu dari Soo-ah." Soo-ah menatapnya. "Soo-ah tahu Oppa berlatih setiap malam. Soo-ah tahu Oppa pergi ke gunung. Soo-ah tahu Oppa berubah. Tapi Soo-ah tidak pernah tanya, karena Soo-ah percaya Oppa punya alasan."
Ha-neul terdiam. Rasa bersalah menyergapnya.
"Maaf, Soo-ah. Oppa tidak bermaksud merahasiakan. Tapi... ada banyak hal yang belum bisa Oppa ceritakan. Demi keselamatanmu."
"Seperti apa yang terjadi di paviliun tadi?" Soo-ah menggigil. "Oppa melawan dua pengawal. Oppa mengalahkan mereka. Sejak kapan Oppa bisa begitu?"
Ha-neul menghela napas panjang. Ia tahu, pada titik ini, ia tidak bisa terus menyembunyikan semuanya dari adiknya. Tapi ia juga tidak bisa menceritakan semuanya—keberadaan Hyeol-geon masih terlalu berbahaya untuk diketahui orang lain.
"Oppa... punya guru," katanya akhirnya.
"Guru?"
"Seseorang yang mengajar Oppa. Diam-diam. Selama beberapa bulan terakhir."
"Di mana gurunya? Kenapa tidak membantu kita?"
"Dia... tidak bisa muncul sekarang. Tapi dia yang menuntun kita ke sini. Dia yang akan membantu kita selanjutnya."
Soo-ah menatap kakaknya lama. Lalu perlahan, ia mengangguk. "Soo-ah percaya Oppa. Tapi Oppa harus janji, jangan tinggalin Soo-ah."
Ha-neul merangkul adiknya. "Tidak akan. Sampai kapan pun."
Di luar, suara air terjun berdesir pelan. Di dalam gua, api unggun berderak hangat. Dua bersaudara itu duduk berdampingan, menghadapi dunia yang tiba-tiba menjadi sangat luas dan menakutkan.
---
Sementara itu, di kompleks Klan Pedang Kang, amukan Dae-ho tidak terbendung.
Ia membanting vas bunga, menendang meja, dan berteriak pada siapa saja yang ada di dekatnya. Sung-min dan Jae-won sudah dibawa ke tabib—Sung-min masih pingsan, Jae-won dengan siku retak. Pengawal lain berkumpul di aula utama, menunggu perintah.
"Bagaimana bisa dua pengawal terlathi kalah oleh sampah macam itu?!" teriak Dae-ho.
Salah satu pengawal memberanikan diri bicara. "Tuan Muda, dari luka yang diderita Sung-min dan Jae-won, sepertinya mereka diserang di titik-titik vital. Ini bukan serangan biasa. Ini teknik yang presisi."
Dae-ho mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Saya pernah melihat teknik serupa waktu bertugas di penjara dulu. Digunakan oleh algojo untuk melumpuhkan tahanan tanpa melukai fatal. Tapi yang bisa melakukannya biasanya ahli bela diri level menengah ke atas."
Dae-ho terdiam. Pikirannya berputar cepat.
Ha-neul, sampah yang selama tiga tahun tak berdaya, tiba-tiba bisa mengalahkan dua pengawal dengan teknik presisi? Itu mustahil. Kecuali...
"Panggil semua orang," perintahnya tiba-tiba. "Aku ingin pengejaran besar-besaran. Cari mereka sampai ke ujung gunung kalau perlu. Dan kalau ketemu..." Ia tersenyum dingin. "Bawa hidup-hidup. Aku ingin tahu rahasia apa yang disembunyikan sepupuku tersayang."
---
Di gua, Ha-neul tiba-tiba tersentak.
"Ada yang datang." suara Hyeol-geon memperingatkan. "Dari timur. Sekitar sepuluh orang. Masih jauh, tapi mereka bergerak ke arah sini."
Ha-neul segera mematikan api unggun. Kegelapan menyelimuti gua.
"Soo-ah, diam. Jangan bersuara."
Ia meraih pedang kayunya—satu-satunya senjata yang ia punya. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut, tapi karena adrenalin.
Di luar, suara langkah kaki mulai terdengar samar-samar, tertutup desiran air terjun. Senter-senter obor menyala di kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan menari di balik tirai air.
Ha-neul menahan napas. Soo-ah merapat di sisinya, menutup mulut sendiri dengan kedua tangan agar tidak berteriak.
Bayangan-bayangan itu lewat. Tidak ada yang menyibak tirai air. Mungkin mereka mengira tidak mungkin ada orang bersembunyi di balik air terjun di malam dingin begini.
Perlahan, suara langkah menjauh.
Ha-neul menghela napas lega. Tapi Hyeol-geon berkata, "Ini baru permulaan. Mereka tidak akan berhenti sampai ketemu. Mulai besok, kalian harus terus berpindah."
Ha-neul mengangguk dalam hati. Ia menatap Soo-ah yang masih gemetar di sampingnya.
Perjalanan panjang baru saja dimulai.