Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
Ketika Reina akhirnya mengu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Bingkai Rahasia di Ruang Tengah
Sore hari menyapa Dharmawangsa dengan semburat cahaya keemasan yang menembus sela-sela gorden tipis di ruang tengah keluarga Danola. Suasana begitu sunyi, hanya deru halus pendingin ruangan dan detak jam kayu yang menemani keheningan. Paul terbangun di kamar atas, meregangkan tubuhnya yang terasa jauh lebih ringan. Keringat dingin yang tadi membanjiri kausnya kini telah kering, meninggalkan rasa segar yang menandakan demamnya telah turun.
Dengan langkah perlahan agar tidak pusing, Paul menuruni tangga kayu. Namun, langkahnya terhenti di anak tangga pertengahan. Matanya melebar, lalu perlahan sebuah senyum jahil terukir di bibirnya yang masih sedikit pucat.
Di atas sofa panjang di bawah sana, pemandangan yang sangat langka terpampang nyata. Dimas tertidur dalam posisi duduk tegak, tangannya bersedekap di depan dada pose tidur yang tetap terlihat berwibawa namun melelahkan. Namun yang membuat Paul tertahan adalah Kathryn. Adiknya itu rupanya juga terlelap, kepalanya bersandar dengan sangat nyaman di bahu kokoh Dimas. Rambut Kathryn yang sedikit berantakan menutupi sebagian pipinya, sementara napasnya teratur, menandakan ia benar-benar pulas setelah kelelahan menghadapi ujian dan kekacauan pagi tadi.
"Kesempatan emas tidak datang dua kali," bisik Paul pada dirinya sendiri.
Ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan mengarahkan kamera ke arah dua insan tersebut. Dengan sengaja, Paul tidak mematikan fitur lampu kilat.
CEKREK!
Cahaya putih terang menyambar ruangan itu. Kathryn tidak bergeming, ia justru sedikit mengerutkan hidung dan semakin menenggelamkan wajahnya di lekukan bahu Dimas. Namun, Dimas yang insting dokternya tetap waspada bahkan saat tidur langsung tersentak bangun.
Mata Dimas terbuka lebar, ia langsung menoleh ke arah sumber cahaya dan mendapati Paul sedang tertawa tanpa suara sambil menggoyang-goyangkan ponselnya. Dimas tampak kesal, wajahnya yang baru bangun tidur terlihat sedikit merah karena malu dan dongkol.
"Paul! Apa yang kamu lakukan?" bisik Dimas dengan nada tajam yang tertahan. Suaranya serak khas orang baru bangun.
Paul mendekat sambil nyengir lebar. "Hanya mendokumentasikan momen bersejarah. 'Dokter Dingin dan Gadis Kampus'. Ini akan jadi wallpaper ponselku yang baru," goda Paul pelan.
Dimas hendak bangkit untuk merebut ponsel itu, namun ia mendadak mematung. Ia merasakan beban di bahu kirinya. Ia menoleh perlahan dan menyadari bahwa Kathryn masih bersandar di sana, tertidur sangat lelap seolah bahu Dimas adalah tempat teraman di dunia. Dimas menghela napas panjang, kemarahannya pada Paul mendadak luntur digantikan oleh rasa hangat yang menjalar di hatinya.
Ia menatap wajah Kathryn dari jarak yang sangat dekat. Ia bisa melihat bulu mata lentik Kathryn yang sesekali bergetar, dan aroma vanila yang menenangkan dari rambutnya kini terasa semakin nyata. Dimas tersenyum kecil, sebuah tatapan yang penuh dengan kekaguman dan kasih sayang yang mendalam.
"Dimas! Berhenti menatapnya seperti itu," bisik Paul ketus sambil menyentil lengan Dimas. "Mata kamu hampir tidak berkedip, kamu terlihat seperti serigala yang kelaparan. Dia itu adikku, bukan pasien yang sedang kamu observasi secara intensif.tegur Paul, kali ini ia yang merasa sedikit kesal melihat adiknya dipandangi seperti itu oleh pria lain, meski pria itu adalah Dimas.
Dimas mengalihkan pandangannya ke Paul, berdehem pelan untuk menetralkan suasana. "Kamu sudah merasa lebih enak?"
"Jauh lebih baik. Teh jahe dan 'obat' dari kalian berdua sepertinya manjur," jawab Paul sambil duduk di kursi tunggal di depan mereka. Ia menatap Dimas dengan lebih serius. "Terima kasih, Dimas. Kamu sudah mau menjaga rumah ini sementara aku tumbang."
Dimas mengangguk pelan, berusaha tidak banyak bergerak agar Kathryn tidak terbangun. "Bukan masalah. Sean juga jagoan, dia langsung tidur setelah kubujuk sebentar tadi."
Paul teringat sesuatu. "Oh ya, sampaikan salamku pada temanmu yang cerewet itu. Siapa namanya? Adrian? Dia dokter yang hebat, setidaknya dia membuatku tertawa saat kepalaku hampir pecah tadi pagi."
"Akan kusampaikan. Tapi saran saya, jangan terlalu sering bergaul dengannya jika kamu tidak mau telingamu panas karena pujian untuk dirinya sendiri," jawab Dimas datar, yang membuat Paul terkekeh.
Keheningan kembali sejenak. Dimas kembali melirik Kathryn yang masih betah dalam mimpinya. Di dalam pikirannya, Dimas merasa bersalah karena masih menyimpan rahasia besar soal identitas aslinya. Ia adalah pemilik rumah sakit tempat ia bekerja, pewaris kekayaan yang bisa membeli kemewahan apa pun yang diinginkan Paul atau Kathryn. Namun melihat Kathryn yang bisa tidur sepulas ini di bahu seorang "dokter biasa" yang tinggal di "kos lusuh", membuat Dimas sadar bahwa ketulusan adalah kemewahan yang sebenarnya.
"Kenapa kamu tidak membangunkannya?" tanya Paul heran. "Lehermu bisa kaku kalau terus begini."
"Biarkan saja," bisik Dimas lembut. "Dia lelah setelah ujian. Lagipula, bahuku tidak akan patah hanya karena menyanggah kepalanya."
Paul menaikkan sebelah alisnya, menyadari bahwa teman barunya ini sudah benar-benar terjatuh dalam pesona adiknya. "Terserah kamu saja. Aku mau ke dapur, lapar sekali. Mau titip sesuatu?"
"Air putih saja," jawab Dimas singkat.
Saat Paul beranjak ke dapur, Dimas kembali menatap lurus ke depan, namun tangannya perlahan dan sangat hati-hati terangkat, menyentuh helai rambut Kathryn yang menutupi matanya, lalu menyampirkannya ke belakang telinga. Gerakan itu begitu lembut, seolah ia sedang menangani pasien paling rapuh di dunia.
Identitas rahasianya mungkin masih tersimpan rapat, namun perasaannya kini sudah terpampang nyata di ruang tengah itu. Dimas tahu, setelah ini hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah menemukan "rumah" yang lebih nyaman dari istana manapun yang ia miliki, dan rumah itu kini sedang tertidur lelap di bahunya.
terlalu berlebihan
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰