NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Pagi itu ruang kendali terasa lebih berat dari biasanya.

Bukan karena alarm berbunyi.

Bukan karena ada ancaman besar.

Tapi karena berita yang muncul di layar utama.

Salah satu anak dari jaringan awal — yang dulu mereka temui di gudang tua — tampil di siaran publik independen.

Wajahnya tidak lagi gugup seperti malam itu.

Ia terlihat yakin.

Namanya Arsen.

Dan kata-katanya… rapi sekali.

“Kalau mereka benar-benar percaya pada transparansi,” ucapnya di layar, “kenapa keputusan besar tetap dibuat di ruangan tertutup? Kenapa publik tidak pernah dilibatkan saat batas itu ditentukan?”

Ruang kendali hening.

Lyra menyandarkan tubuhnya ke meja perlahan.

Lucian mendesah pelan. “Oke. Itu bukan lagi anak yang kebingungan.”

Kael menyipitkan mata. “Dia tidak terdengar seperti seseorang yang baru belajar.”

Aidan memutar ulang bagian tertentu.

Arsen di layar melanjutkan, suaranya tenang, bahkan sedikit hangat.

“Kami tidak ingin menghancurkan kota. Kami hanya ingin suara kami dianggap cukup penting untuk ikut menentukan masa depan.”

Damian berdiri diam, tangannya terlipat.

Lyra memperhatikannya.

“Dia terdengar masuk akal,” katanya pelan.

Lucian menoleh cepat. “Masuk akal bukan berarti aman.”

“Aku tidak bilang aman,” Lyra menghela napas. “Aku bilang… dia tahu bagaimana bicara.”

Damian akhirnya berbicara.

“Dia tidak hanya bicara,” katanya pelan tapi jelas. “Dia sedang membangun simpati.”

Aidan mengangguk. “Dan itu lebih berbahaya daripada sabotase.”

Lucian memutar kursinya menghadap Damian.

“Jadi sekarang apa? Kita undang dia minum kopi juga?”

Nada suaranya terdengar sinis, tapi ada ketegangan nyata di baliknya.

Damian tidak tersinggung.

“Kita tidak bisa mengabaikannya,” katanya pelan. “Kalau kita menyerangnya secara publik, kita menguatkan narasinya.”

Lyra menatap layar lagi.

“Dia tidak menyerang kita,” katanya. “Dia menyerang sistem secara umum. Dan kita kebetulan wajahnya.”

Hening beberapa detik.

Kael akhirnya berkata pelan, “Kita harus bicara langsung dengannya lagi.”

Lucian tertawa kecil, kali ini benar-benar tanpa humor.

“Dan bilang apa? ‘Hai Arsen, kami tahu kau sedang membangun pergerakan kecil yang mungkin tumbuh jadi sesuatu yang lebih besar, tapi tolong jangan terlalu jauh’?”

Lyra menoleh padanya.

“Kenapa kau terdengar seperti dia sudah jadi musuh?” tanyanya.

Lucian menatapnya lama sebelum menjawab.

“Karena aku pernah jadi orang seperti dia.”

Ruangan sedikit berubah.

Aidan mengangkat kepala perlahan.

Lucian melanjutkan, suaranya tidak lagi tajam.

“Frustrasi. Merasa tidak didengar. Merasa orang di atas selalu bilang ‘percayalah pada kami’ tanpa benar-benar membuka pintu. Orang seperti itu tidak butuh banyak untuk berubah jadi ekstrem.”

Damian memperhatikan setiap kata.

“Dan apa yang membuatmu tidak berubah jadi ekstrem?” tanyanya pelan.

Lucian menatapnya langsung.

“Seseorang waktu itu tidak menghancurkanku saat dia punya kesempatan.”

Hening turun lebih dalam dari sebelumnya.

Lyra merasa napasnya sedikit tertahan.

Damian mengangguk pelan.

“Kalau begitu kita tahu apa yang harus dilakukan.”

---

Sore itu, mereka mengatur pertemuan lagi.

Bukan di fasilitas.

Bukan di gudang tua.

Di ruang komunitas terbuka di pusat kota.

Tidak ada penjaga mencolok. Tidak ada kendaraan taktis.

Hanya meja panjang, kursi, dan jendela besar yang memperlihatkan jalan di luar.

Arsen datang dengan dua orang rekannya.

Ia terlihat lebih percaya diri sekarang.

Lyra berdiri lebih dulu.

“Terima kasih sudah datang,” katanya dengan nada tenang. “Kami tidak ingin percakapan ini jadi debat publik. Kami ingin benar-benar mendengar.”

Arsen menyandarkan tasnya ke kursi.

“Kalian selalu bilang ingin mendengar,” jawabnya pelan. “Tapi keputusan tetap dibuat tanpa kami.”

Damian tidak langsung duduk. Ia berdiri sejenak sebelum akhirnya menarik kursi.

“Keputusan darurat memang tidak bisa dipilih lewat voting publik,” katanya. “Tapi bukan berarti tidak bisa dijelaskan.”

Arsen menatapnya lama.

“Dijelaskan setelah semuanya selesai,” katanya. “Itu bukan partisipasi. Itu laporan.”

Nada suaranya tidak berteriak.

Justru itu yang membuatnya kuat.

Lyra ikut duduk.

“Baik,” katanya pelan. “Kalau begitu jelaskan padaku. Apa yang sebenarnya kau inginkan? Bukan slogan. Bukan siaran. Versi jujurnya.”

Arsen terlihat sedikit terkejut.

Ia tidak langsung menjawab.

“Aku ingin…,” ia berhenti sejenak, mencari kata. “Aku ingin kami tidak hanya dianggap risiko yang harus diawasi.”

Damian bersandar sedikit.

“Kau merasa diawasi?”

Arsen tersenyum tipis. “Bukankah kami memang begitu?”

Kael berbicara untuk pertama kali.

“Kami mengawasi tindakan yang bisa membahayakan orang,” katanya pelan. “Bukan opini.”

“Kadang opini berubah jadi tindakan,” balas Arsen cepat.

Lucian yang sejak tadi diam akhirnya angkat suara.

“Dan kadang tindakan lahir karena orang merasa tidak punya ruang untuk opini,” katanya.

Semua menoleh padanya.

Lucian menatap Arsen dengan tatapan yang tidak agresif.

“Percaya atau tidak,” lanjutnya, “kami tidak ingin jadi tembok. Tapi kami juga tidak bisa membiarkan kota jadi eksperimen.”

Arsen menghela napas panjang.

“Lalu di mana titik tengahnya?”

Hening.

Lyra menjawab pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Mungkin bukan titik tengah. Mungkin jembatan.”

Arsen mengernyit. “Jembatan seperti apa?”

Damian menatapnya langsung.

“Kau ingin suara dilibatkan? Baik. Kita buat forum terbuka berkala. Bukan simbolik. Bukan formalitas. Tapi benar-benar ruang diskusi kebijakan publik yang bisa diakses.”

Salah satu rekan Arsen tertawa kecil.

“Kalian pikir orang akan percaya itu?”

Damian tidak tersinggung.

“Mereka mungkin tidak langsung percaya,” katanya tenang. “Tapi kepercayaan tidak dibangun dalam satu malam.”

Arsen menatap meja beberapa detik.

“Dan kalau kami tetap kritis?”

Lyra tersenyum kecil.

“Kami tidak takut kritik,” katanya lembut. “Kami takut diam yang berubah jadi ledakan.”

Arsen akhirnya menatap mereka lagi.

“Kalian benar-benar percaya ini bisa berjalan?”

Damian menjawab tanpa ragu.

“Aku tidak percaya pada sistem yang sempurna,” katanya. “Aku percaya pada orang yang mau terus memperbaiki.”

Ruangan itu sunyi lagi.

Bukan karena tidak ada jawaban.

Tapi karena untuk pertama kalinya, percakapan terasa bukan seperti dua kubu.

Melainkan dua sisi yang sama-sama takut kehilangan sesuatu.

Arsen berdiri perlahan.

“Aku tidak janji akan setuju dengan kalian,” katanya jujur. “Tapi aku juga tidak ingin kota ini hancur.”

Lyra berdiri juga.

“Itu sudah cukup untuk mulai.”

Mereka berjabat tangan.

Bukan sebagai sekutu.

Bukan sebagai musuh.

Tapi sebagai orang-orang yang memilih untuk tidak langsung menyerang.

---

Malamnya, di balkon yang sama, Lyra berdiri memandang kota.

Damian menyusul beberapa menit kemudian.

“Kau terlihat berpikir keras,” katanya pelan.

Lyra tersenyum tipis tanpa menoleh.

“Aku sedang mencoba memahami kenapa ini terasa lebih menegangkan daripada menghentikan mesin raksasa.”

Damian berdiri di sampingnya.

“Karena mesin tidak punya perasaan,” katanya. “Manusia punya.”

Lyra menoleh.

“Kau yakin kita tidak sedang memberi ruang pada sesuatu yang nanti akan menyesal kita biarkan tumbuh?”

Damian tidak langsung menjawab.

“Aku tidak yakin tentang apa pun sepenuhnya,” katanya jujur. “Tapi aku lebih takut pada dunia di mana kita menutup semua pintu karena takut disakiti.”

Lyra menatapnya lama.

“Kau berubah jauh dari pria yang dulu percaya kontrol adalah satu-satunya cara menjaga stabilitas.”

Damian tersenyum tipis.

“Jangan terlalu memujiku,” katanya pelan. “Aku masih bergumul setiap kali harus memilih.”

Lyra tertawa kecil.

“Bagus,” katanya. “Karena aku juga. Dan mungkin kita memang tidak butuh pemimpin yang selalu yakin. Kita butuh yang mau berpikir.”

Angin malam bergerak pelan.

Tidak ada alarm.

Tidak ada ancaman besar.

Hanya kota yang bernapas.

Dan dua orang yang mulai menyadari bahwa perjuangan terbesar bukan menghancurkan musuh.

Tapi menjaga agar mereka sendiri tidak berubah menjadi sesuatu yang dulu mereka lawan.

---

1
Cicih Sophiana
Lyra👍👍👍
Cicih Sophiana
Lara dan Damian seperti nya nanti berjodoh
Cicih Sophiana
apa Damian mafia?
Cicih Sophiana
cerita nya seru...cewek yg keren
Cicih Sophiana
Lyra cewek keren...👍
Cicih Sophiana
hadir ach thor...
seperti seru nih...
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
cape aku thor.. kayak aku yang berlari, sembunyi .. hampir kehilangan nyawa😭 kapan giliran dia yang dburu🤣🤣
adisty aulia
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
jebakan demi jebakan kapan mereka yang di depan
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
deg² an thorr
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
keren cerita nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!