NovelToon NovelToon
SETELAH HUJAN BERHENTI

SETELAH HUJAN BERHENTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.

Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.

Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.

Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMPAT PERSEMBUNYIAN BERNAMA ARSEN

Mata Laras tertuju pada bingkai foto perak yang berdiri di sudut meja kerja Arsen. Di sana, Arsen tampak tertawa lebar sambil mendekap Rosa, dengan Arlo yang duduk di pundaknya. Sebuah potret keluarga yang begitu sempurna dan penuh cahaya. Laras menyunggingkan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Kamu sudah menikah?" tanyanya dengan nada suara yang perlahan melunak, namun terasa ganjil di telinga Arsen.

Tanpa kata, Arsen segera meraih bingkai foto itu dan membaliknya hingga tertelungkup di atas meja. Tindakannya kasar dan penuh proteksi. Ia tidak ingin mata Laras mengotori kebahagiaan yang ada di foto tersebut. "Itu bukan urusanmu. Aku nggak bisa bantu. Pergi sekarang, Laras, sebelum aku panggil keamanan," ucap Arsen dengan suara rendah yang sangat mengancam.

Laras tidak bergeming. Ia justru memajukan duduknya, menatap Arsen dengan tatapan memohon sekaligus putus asa. "Tapi, Sen... suamiku itu orang penting. Dia punya kuasa. Kalau aku cuma pakai pengacara biasa, mereka nggak akan mempan. Mereka akan habis ditekan sama dia. Cuma kamu yang aku tahu nggak bisa dibeli."

Arsen tertegun sejenak. Kata "suamiku" dan "orang penting" membuat kepingan teka-teki di kepalanya mulai menyatu. Ia teringat mobil SUV hitam dengan kaca gelap yang mengintai di hari ulang tahun Arlo. Apakah orang-orang suaminya yang sedang mencari Laras? Dan jika Laras terus mencarinya, maka secara otomatis orang-orang berbahaya itu juga akan menemukan Arsen, Rosa, dan Arlo.

"Suami kamu orang penting?" Arsen mengulang kalimat itu dengan nada sinis. "Lalu kenapa kamu carinya aku? Aku pengacara mandiri, bukan biro hukum raksasa. Kalau dia seberbahaya itu, keberadaan kamu di sini justru membahayakan kantorku."

"Karena dia tahu kamu satu-satunya orang dari masa laluku yang masih punya integritas!" seru Laras setengah terisak. "Tolong, Sen. Aku cuma butuh mediasi supaya bisa lepas dari dia tanpa harus kehilangan nyawaku."

Tepat saat itu, ponsel Arsen di atas meja bergetar hebat. Nama "Rosa ❤️" muncul di layar. Arsen melirik ponselnya, lalu melirik Laras yang masih menangis. Ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang; satu langkah salah, maka badai dari masa lalu Laras akan menghantam rumah barunya yang tenang.

Di depan pagar rumah, pria itu tetap berdiri dengan tenang namun memancarkan aura yang sangat mengintimidasi. Tatapannya tidak lepas dari Arlo yang berada di teras, seolah ia sedang mengklaim kembali miliknya yang hilang.

"Bapak cari siapa? Di sini nggak ada suami saya, nanti saja datang lagi kalau dia sudah pulang!" ucap Rosa dengan suara yang bergetar hebat. Ia berusaha menyembunyikan ketakutannya di balik jeruji pagar yang terkunci.

Pria itu tidak bergeming. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, membuat Rosa refleks mundur. "Saya tidak cari suami Anda. Saya cari anak saya. Seseorang telah membuangnya setahun yang lalu, dan jejaknya berakhir di sini," ucap pria itu dengan nada dingin yang menusuk tulang.

Jantung Rosa seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi, menyisakan suara deru mesin mobil SUV hitam yang masih menyala di belakang pria tersebut. "Bapak ini maksudnya apa? Ini anak saya! Pergi sekarang!" seru Rosa dengan suara meninggi. Ia segera menatap layar ponselnya yang masih tersambung dalam panggilan ke nomor Arsen, namun suaminya masih belum mengangkatnya.

"Saya tahu prosedur yang kalian lakukan," lanjut pria itu datar, namun setiap katanya terasa seperti ancaman. "Tapi saya punya hak biologis atas anak itu. Ada urusan yang belum selesai antara saya dan orang yang membawa anak ini ke Anda."

Rosa merasa lemas. Ia tidak tahu siapa pria ini, tapi ia menyadari bahwa pria ini adalah ancaman nyata yang selama ini dikhawatirkan Arsen. Tanpa pikir panjang, Rosa segera berlari menyambar Arlo dari teras, mendekapnya erat-erat, dan masuk ke dalam rumah.

Di dalam, Rosa mengunci semua pintu dan jendela, lalu terduduk di balik pintu utama sambil memeluk Arlo yang mulai menangis karena kaget. "Angkat, Sen... Tolong angkat..." bisiknya terisak sambil menatap layar ponselnya yang masih sunyi. Sementara itu, dari luar, terdengar suara langkah kaki yang berjalan perlahan di atas kerikil halaman, mendekat ke arah pintu.

Panggilan Rosa tersambung pada dering kedua. Suaranya yang gemetar dan isak tangis yang tertahan membuat Dito yang sedang berada di parkiran kantor Arsen langsung terperanjat.

"Mas Dito, tolong... di rumah ada pria yang bilang cari anaknya terus. Dia di depan pagar sekarang. Saya di dalam rumah sama suster, ada satpam kompleks juga tapi pria itu nggak mau pergi. Saya takut sekali, Mas!" ucap Rosa dengan suara nyaris habis.

Dito tidak banyak tanya. "Rosa, kunci semua pintu! Jangan buka sampai saya atau Arsen sampai. Saya ke sana sekarang!"

Dito mematikan telepon dan langsung berlari sekuat tenaga masuk ke dalam gedung kantor, menuju ruangan Arsen. Ia tidak peduli lagi dengan sopan santun. Begitu sampai di depan pintu ruangan Arsen, ia menendangnya hingga terbuka lebar.

Di dalam, ia melihat Arsen masih berdiri mematung di depan Laras yang sedang menangis sesenggukan. Arsen tampak kaget melihat Dito masuk dengan napas memburu dan wajah merah padam.

"Sen! Angkat telepon lo, bego!" teriak Dito sambil mengacungkan ponselnya. "Ada orang di rumah lo! Rosa ketakutan setengah mati, ada pria yang datang nyari anaknya!"

Arsen seketika pucat pasi. Ia melirik ponselnya yang tergeletak di meja—masih dalam mode silent karena ada Laras di sana. Dalam hitungan detik, Arsen beralih menatap Laras dengan tatapan yang sangat mengerikan, seolah ingin menghancurkan apa pun yang ada di depannya.

Laras tersentak, wajahnya yang tadi penuh air mata kini berubah menjadi ekspresi horor. "Suamiku... dia benar-benar menemukan alamatmu?" gumam Laras ketakutan.

Arsen tidak peduli lagi pada Laras. Ia menyambar kunci mobil dan lari keluar ruangan mengikuti Dito. "Dit, kalau terjadi apa-apa sama anak dan istri gue, gue nggak akan tinggal diam!" geram Arsen sambil menuruni tangga darurat.

Sambil berlari, Arsen mencoba menghubungi Rendy untuk meminta bantuan hukum darurat dan polisi. Pikirannya hanya satu: melindungi Arlo dan Rosa. Ia baru menyadari bahwa Laras datang ke kantornya bukan untuk minta bantuan, melainkan sebagai pengalih perhatian agar suaminya bisa melacak posisi keluarga Arsen melalui dirinya.

Dito tidak langsung ikut berlari di belakang Arsen. Ia berhenti sejenak, langkahnya tertahan oleh rasa geram yang meluap-luap. Ia berbalik dan melangkah lebar menghampiri Laras yang masih terduduk lemas di kursi. Dito mencengkeram pinggiran meja kerja Arsen, menunduk hingga wajahnya sejajar dengan wanita itu.

"Lo mau apa lagi, Laras? Jawab jujur sekarang!" bentak Dito dengan suara yang menggelegar di ruangan yang sempit itu. "Pria di rumah Arsen itu siapa? Dan Arlo... Arlo itu anak lo, kan?"

Laras tersentak, bahunya bergetar hebat. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya, tangisnya pecah lagi, tapi kali ini terdengar lebih seperti rintihan ketakutan daripada sekadar mencari simpati.

"Dia... dia suamiku, Dit. Kami sedang memperebutkan hak asuh anak di tengah perceraian yang kotor," jawab Laras terbata-bata di balik telapak tangannya. "Setahun lalu, aku kalap. Aku takut dia akan mengambil anak itu dan menjauhkannya dariku selamanya. Aku nggak punya pilihan selain... selain menitipkannya lewat perantara supaya anak itu hilang dari radar suamiku."

Dito tertawa sinis, tawa yang penuh rasa muak hingga membuat Laras terlonjak dari duduknya.

"Menitipkannya? Lo membuangnya, Laras! Lo taruh bayi itu di depan pagar rumah Arsen waktu hujan deras setahun lalu!" bentak Dito, urat lehernya menegang. "Lo tahu Arsen itu orang yang paling nggak bisa lihat orang lain susah, apalagi bayi kedinginan di depan rumahnya sendiri. Lo manfaatin sisi kemanusiaan dia buat jadi tempat persembunyian anak lo!"

Laras menggeleng cepat, air matanya jatuh ke lantai. "Aku nggak punya pilihan, Dit... Malam itu aku dikejar-kejar orang suruhan suamiku. Aku cuma mau dia aman di tangan orang yang benar-benar baik."

"Aman?" Dito menunjuk ke arah pintu dengan geram. "Sekarang lihat! Suami lo ada di depan rumah Arsen sekarang, neror istrinya yang nggak tahu apa-apa! Lo nggak cuma buang anak lo, tapi lo juga buang masalah besar ke tengah-tengah kebahagiaan Arsen dan Rosa!"

Dito memutar tubuhnya, tidak tahan lagi melihat wajah Laras yang tampak sangat menyesal namun sudah terlambat. Ia berlari keluar ruangan, menyambar kunci motornya di meja depan, dan langsung menghubungi Arsen yang sedang dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi.

"Sen! Gue baru dapet konfirmasi dari Laras. Dia yang naruh Arlo di depan rumah lo pas hujan waktu itu. Dia sengaja jadiin lo 'benteng' buat ngumpetin anaknya dari suaminya yang gila itu. Sekarang monster itu ada di depan rumah lo buat ambil apa yang dia sebut sebagai 'haknya'. Jangan bertindak gegabah sebelum gue sampai!"

1
Susilawati Arum
Ganti panggilannya dong thor,, masa sama suami sendiri msh panggil nama..kan nggak sopan
nanuna26: baik ka
total 1 replies
falea sezi
keluarga nya kompak bgt meski! tau itu anak mantan arsen mereka ttep sayang sama. arlo/Sob/
falea sezi
q ksih hadiah karena dedek Arlo
falea sezi
apa ini anak mantan arsen
falea sezi
moga Rosa jdoh nya arsen ya
falea sezi
kok bs tinggal di rmh berdebu
nanuna26: kan arsen depresi dittinggal nikah mantannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!