Celina Andreas dijuluki sebagai bawang merah begitu tergila-gila dengan seorang pria sehingga berbagai cara ia lakukan buat menaklukkan hati sang pria incarannya. Meskipun pria itu mencintai adik tirinya.
Berhasilkah Celina menjadi istrinya atau cintanya hanya bertepuk sebelah tangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 21
Selepas sarapan, Celina kembali ke kamar karena ingin mengerjakan tugas kantor yang belum sempat selesai.
"Aku yakin Mama dan Papa ke sini pasti ada yang ingin kalian katakan kepada dia, 'kan?" terka Azka menatap kedua orang tuanya yang duduk dihadapannya secara bergantian.
"Bukan ada yang ingin kami katakan, tapi kami mau menjaga Celina!" kata Andin.
"Kenapa dia harus dijaga?" tanya Azka heran.
"Mama lihat mata kamu memandangi Celina yang sedang mengobrol dengan temannya. kamu terlihat seperti orang yang sedang cemburuan. Kami takut kamu akan menyakiti Celina seperti yang kemarin!" jawab Andin mengingatkan kejadian beberapa waktu lalu sehingga membuat Celina ingin meminta cerai.
"Astaga, Mama. Aku tidak mungkin menyakitinya!" Azka menyangkal tuduhan ibunya.
"Siapa tahu kamu khilaf dan mengulangi lagi," sindir Andin.
Dua jam setelah sarapan bersama, kedua orang tuanya Azka pamit pulang. Celina pun juga turut mengantarkannya hingga ke mobil.
"Azka, kelihatan sepertinya Celina sangat kelelahan apa dia sedang mengandung?" tanya Andin melihat wajah Celina sedikit pucat karena tak tertutupi polesan.
"Aku tidak lagi hamil, Ma!" Celina malah cepat menjawab.
"Padahal Mama berharap kamu segera hamil!" Andin menatap menantunya.
Celina hanya terdiam.
"Ya sudah, kami pamit, ya. Jangan sering bertengkar!" nasihat Andin sebelum masuk mobil.
"Iya, Ma!" ucap Azka mengangguk.
Mobil yang membawa kedua orang tuanya Azka telah meninggalkan tempat. Celina lebih dulu melangkah memasuki rumah dan Azka gegas menyusulnya.
"Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" Azka menerka.
"Apa kau harus tahu semua urusanku?" Celina balik bertanya.
"Ucapan Mama menunjukkan kalau kau seperti wanita yang sedang mengandung," jawab Azka.
"Mama cuma menerka, lupakan saja tak perlu dianggap serius!" kata Celina.
"Bagaimana kalau aku menganggapnya serius?" Azka menatap istrinya.
Celina malah tertawa getir.
"Aku serius, Celina. Aku ingin bertanggung jawab kepadamu dan calon anak kita. Aku mau kita mulai dari awal. Aku mau menjalani rumah tangga ini dengan serius!" ucap Azka dengan jujur.
"Kau mau menjalin hubungan ini serius. Apa aku tidak salah?" Celina bertanya dengan sinis.
"Kau diam-diam masih menemuinya. Kau mentransfer sejumlah uang kepadanya tiap bulan. Tapi, aku sebagai istrimu sama sekali belum pernah merasakan uang jajan darimu. Dia yang bukan siapa-siapa bagimu selalu kau manjakan. Bagaimana aku bisa percaya kalau kau benar-benar berubah?" Celina mengungkapkan perasaannya.
"Kau menginginkan uang dariku?" tanya Azka heran karena sejak menikah biaya keperluan rumah dan gaji pelayan dia yang memberikan.
"Ya. Walaupun gajimu hanya cukup buat membayar makan siang aku satu hari di restoran mewah!" jawab Celina.
"Baiklah, aku akan memenuhi semua kebutuhanmu!" kata Azka berjanji.
"Bukan hanya itu saja, jauhi dia!!" pinta Celina tegas.
"Baiklah, jika permintaanmu. Aku akan mengakhiri hubungan aku dengan Elma!" janji Azka lagi.
"Jika kau berani melanggarnya, aku takkan pernah memaafkanmu dan jangan pernah mengharapkanku lagi!!" tegas Celina kemudian berlalu menuju kamarnya.
***
Esok harinya, Azka kembali bertemu dengan Elma. Tentunya karena Azka ingin menyampaikan kepada wanita yang sempat disukainya buat mengakhiri hubungan mereka.
"Aku tidak mau putus, Azka. Coba pikirkan lagi, di mana janjimu yang akan menikahiku?" tanya Elma dengan wajah sedihnya.
"Aku minta maaf, Elma. Aku tak bisa meninggalkan Celina. Aku tak sanggup jauh darinya, perasaanku kepadanya bukan benci tapi sayang. Aku cemburu melihatnya dengan pria lain," jawab Azka terus terang.
"Kau jahat, aku sudah sabar menunggumu tapi sikapmu malah begini. Kau dan dia sama saja!" kata Elma dengan air mata palsunya.
"Maafkan aku, Elma. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dariku!" ucap Azka kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Azka, aku tidak mau putus. Tolong, jangan lakukan ini kepadaku!!" mohon Elma.
Tanpa bicara lagi, Azka gegas meninggalkan Elma yang menangis.
Elma yang rencananya gagal, mengepalkan tangannya. Ia begitu kecewa dan marah, dia pikir Azka akan tetap memilihnya menjadi pasangan hidupnya.
Sementara itu dilain tempat, Celina mendapatkan informasi bahwa Azka telah mengakhiri hubungan dengan Elma tersenyum puas. Setidaknya dia berhasil menjauhkan suaminya dari wanita berhati busuk seperti Elma dan ibunya.
-
Elma pulang dengan menangis, ia mengadu kepada Hendra dan Ana. Bahwa, Azka memutuskan dirinya.
"Katanya hubungan mereka tidak baik. Kenapa Azka tiba-tiba berubah? Apa Papa tak merasa aneh?" tanya Elma dengan mimik wajah pura-puranya.
"Mungkin saja Celina sudah berubah dan Azka juga ingin menjadi suami yang baik," jawab Hendra.
"Tapi, dia sudah membuat putriku terluka, Mas. Harusnya Azka tak memberikan harapan palsu," kata Ana juga kecewa.
"Sudahlah, jangan terlalu bersedih. Cari saja pria lain, banyak anak temanku yang kaya. Elma bisa mendapatkannya!" Hendra memberikan saran.
"Memangnya siapa anak Mas Hendra yang siap menikah?" tanya Ana.
"Aku tidak tahu, pastinya ada anak temanku yang ditinggal istrinya. Dia cukup lumayan kaya dari Azka, mungkin dia cocok dengan Elma," jawab Hendra.
"Bagaimana? Apa mau kami mengenalkannya kepadamu?" tawar Ana seraya menatap putrinya.