Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Kotak Seberat Gunung dan Tubuh Jelmaan Baja
Pinggir hutan Desa Bambu Merah masih dibalut selimut kabut yang enggan beranjak. Embun pagi bergelantungan di ujung-ujung rumput liar, berkilauan seperti butiran mutiara yang rapuh. Pepohonan raksasa menjulang tinggi, dahan-dahannya saling mengunci seolah membentuk gerbang alami menuju kegelapan yang sunyi.
Di atas tanah yang lembap dan berbau tanah basah, tampak jejak-jejak kaki yang saling tumpang tindih.
Sin Yin, sang Bidadari Maut yang biasanya dingin, kini berlutut dengan gerakan seringan kapas. Jemarinya yang lentik menyentuh cekungan tanah bekas pijakan itu. Matanya yang tajam menyipit, menganalisis setiap lekukan.
“Lima belas orang… mungkin lebih,” bisiknya, suaranya halus namun mengandung kewaspadaan tinggi. “Langkah mereka berat dan tidak beraturan. Bukan pendekar dengan ilmu pernapasan tinggi, tapi jelas bukan rakyat jelata yang terbiasa memegang cangkul.”
Wang Long berdiri mematung di belakangnya. Jubah biru tuanya berkibar pelan ditiup angin pagi. Tangan kirinya masih mendekap kotak hitam misterius itu dengan sikap yang seolah meremehkan berat benda tersebut.
Tiba-tiba, angin membawa aroma yang tak asing bagi penciuman seorang pengelana: bau keringat yang masam bercampur karat besi senjata.
Srekk! Srekk!
“Hahaha! Jadi ini dua tikus kecil yang katanya membuat anak buahku lari terbirit-birit?” sebuah tawa parau memecah kesunyian hutan.
Dari balik rimbunnya semak belukar, belasan pria muncul dengan sikap mengancam. Tubuh mereka gempal, pakaian kulit yang mereka kenakan tampak kotor dan compang-camping. Wajah-wajah itu dihiasi bekas luka bacok, tanda dari ratusan pertarungan jalanan yang brutal. Pemimpin mereka adalah seorang pria raksasa dengan kumis melintang dan mata yang memancarkan kerakusan luar biasa.
Sin Yin berdiri dengan anggun. Secara refleks, jemarinya sudah bertumpu pada gagang pedang Bulan Senja. Hawa dingin mulai memancar dari tubuhnya, membuat rumput di sekitarnya seolah membeku.
“Perampok hutan,” gumam Sin Yin dingin, sudut bibirnya terangkat meremehkan.
“Serahkan semua barang berharga kalian! Terutama kotak hitam itu!” teriak si pemimpin sambil menunjuk ke arah Wang Long. Matanya berkilat penuh nafsu saat menatap kotak pusaka tersebut. Ia merasa, benda yang dijaga sedemikian rupa pastilah berisi emas permata atau kitab pusaka yang tak ternilai.
Sin Yin melirik Wang Long melalui sudut matanya. Ia sudah bersiap melihat Wang Long melancarkan pukulan Naga Langit yang dahsyat untuk menyapu bersih sampah-sampah ini. Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
Wang Long melangkah maju. Wajahnya datar, seringan air di telaga yang tenang.
“Kalian menginginkan ini?” tanya Wang Long pelan. Ia mengangkat sedikit kotak hitam itu.
“Serahkan secara baik-baik, atau kepalamu akan menghiasi ujung tombakku!” ancam si pemimpin perampok sambil menyeringai lebar.
“Wang Long, apa yang kau rencanakan?” desis Sin Yin tajam. Amarah mulai membakar dadanya melihat sikap rekannya yang dianggapnya lemah itu.
Tanpa menjawab, Wang Long justru membungkuk perlahan. Dengan gerakan yang sangat santai, ia meletakkan kotak hitam itu di atas tanah.
Bugh.
Suara kotak itu saat menyentuh tanah terdengar begitu solid, seolah-olah sebuah batu raksasa baru saja dijatuhkan. Debu tipis mengepul di sekitarnya.
“Ambillah. Jika kalian sanggup,” kata Wang Long datar.
Sin Yin terperangah. Matanya membelalak tidak percaya. “Kau gila?! Itu pusaka yang kau pertaruhkan dengan nyawa, dan kau memberikannya pada bandit-bandit busuk ini?”
Para perampok itu tertawa terbahak-bahak hingga hutan itu bergetar. “Anak muda yang cerdas! Kau tahu kapan harus berlutut di hadapan harimau!”
Si pemimpin melangkah maju dengan pongah. Ia membungkuk, meraih tepian kotak dengan satu tangan, bermaksud mengangkatnya dengan sekali sentak untuk memamerkan kekuatannya.
Namun, kotak itu tidak bergeming.
Ia mengernyit, urat di keningnya mulai tampak. Kini ia menggunakan kedua tangannya. Ia menggeram, otot-otot lengannya menegang hingga sebesar batang pohon, wajahnya berubah merah padam, dan urat-urat lehernya menonjol keluar.
Kotak itu tetap diam. Seolah-olah ia telah berakar hingga ke pusat bumi.
“Kenapa, Bos? Terlalu berat karena isinya emas semua?” ejek salah satu anak buahnya yang belum menyadari situasi.
“Diam kau! Maju dan bantu aku!” teriak sang pemimpin dengan nafas memburu.
Dua orang pria paling perkasa di kelompok itu maju. Mereka berjongkok di sisi kiri dan kanan, memasukkan jemari mereka ke bawah kotak, lalu berteriak serempak: “ANGKAT!”
Wajah mereka memerah, lalu membiru karena menahan napas. Kaki mereka menekan tanah begitu dalam hingga amblas beberapa inci. Namun, kotak hitam itu tetap membisu. Jangankan terangkat, bergeser satu garis rambut pun tidak.
Sin Yin, yang tadinya dipenuhi amarah, kini terdiam seribu bahasa. Matanya menatap kotak itu, lalu beralih ke tangan Wang Long yang tadi membawanya dengan santai. “Tidak mungkin… Kekuatan apa yang sebenarnya ada di dalam kotak itu? Atau… kekuatan apa yang dimiliki pria ini?” batinnya bergejolak.
Kini, sepuluh orang perampok mengepung kotak itu. Mereka saling berpegangan bahu, mengerahkan seluruh tenaga dalam liar mereka. Teriakan-teriakan kasar membahana di tengah hutan, namun kotak itu tetap menjadi penguasa yang tak tergoyahkan.
Wang Long berdiri bersedekap. Tak ada ejekan di wajahnya, hanya sebuah ketenangan yang justru jauh lebih menyakitkan bagi harga diri para perampok itu.
“Kau… kau menggunakan sihir!” raung si pemimpin perampok. Rasa malu yang luar biasa berubah menjadi kemurkaan. “BUNUH DIA! JIKA DIA MATI, SIHIRNYA AKAN HILANG!”
Belasan perampok itu menghambur maju. Golok besar menebas, tombak menusuk, dan kapak menghantam dari segala penjuru menuju tubuh Wang Long.
“Wang Long, awas!” teriak Sin Yin. Ia nyaris mencabut pedangnya, namun langkahnya terhenti oleh pemandangan yang tak masuk akal.
Wang Long bahkan tidak berkedip. Ia membiarkan sebuah golok besar menghantam bahunya dengan telak.
TRANG!
Bilah baja golok itu pecah berkeping-keping seolah baru saja menghantam dinding granit yang tak terlihat. Si perampok terpelanting ke belakang dengan telapak tangan yang robek karena getaran balik yang dahsyat.
DUAK!
Sebuah tombak menghantam punggung Wang Long. Bukannya menembus kulit, ujung tombak itu justru melengkung lalu patah menjadi dua. Wang Long tetap berdiri tegak, tidak goyah sedikit pun, seolah-olah serangan-serangan itu hanyalah rintik hujan yang menerpa gunung.
Sin Yin terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke tenggorokan. “Ilmu pelindung tubuh tingkat tinggi… Baju Besi Emas? Tidak, ini lebih murni dari itu. Tubuhnya sendiri adalah senjata,” gumamnya takjub.
Melihat kawan-kawannya tumbang karena senjata mereka sendiri, si pemimpin perampok meraung seperti binatang buas. Ia mencabut pedang raksasanya, melompat ke udara, dan menebas dengan seluruh sisa tenaganya tepat ke arah ubun-ubun Wang Long.
“MATILAH KAU!”
Wang Long hanya mengangkat tangan kanannya. Dengan gerakan yang lambat namun pasti, ia menjepit bilah pedang besar itu di antara telunjuk dan jari tengahnya.
KRETEK… PRANG!
Baja tebal itu hancur berkeping-keping hanya dengan sekali jepit. Mata si pemimpin perampok membelalak, pupilnya mengecil karena ketakutan yang murni.
“Sudah selesai?” tanya Wang Long. Suaranya rendah, namun mengandung wibawa yang membuat nyali siapapun menciut.
Wang Long mendorong telapak tangannya dengan sangat ringan ke dada pria raksasa itu. Meskipun tampak pelan, tubuh pemimpin perampok itu terlempar belasan meter, menabrak pohon besar hingga tumbang, lalu jatuh tersungkur tak berdaya.
Melihat pimpinan mereka dikalahkan seperti membalikkan telapak tangan, para perampok sisanya langsung membuang senjata mereka yang patah dan lari tunggang-langgang ke dalam kegelapan hutan, meninggalkan teriakan ketakutan yang menggema jauh.
Suasana kembali hening. Wang Long membungkuk, memungut kembali kotak hitam itu dengan satu tangan—seperti orang mengambil sepotong kayu bakar—lalu menyelipkannya kembali di ketiaknya.
Sin Yin melangkah mendekat. Ia menatap Wang Long dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, ada rasa hormat, namun juga ada ketakutan akan rahasia besar yang dipikul pemuda ini.
“Kau sengaja membiarkan mereka mencobanya… kau ingin menghancurkan mental mereka tanpa perlu membunuh,” kata Sin Yin pelan.
Wang Long menoleh, tatapannya menerawang ke arah kabut yang mulai menipis. “Ada benda di dunia ini, Sin Yin, yang beratnya tidak diukur dari timbangan, melainkan dari hak untuk memilikinya. Mereka tidak memiliki hak itu.”
Sin Yin terdiam, meresapi kata-kata yang sarat akan filosofi dunia persilatan tersebut. Ia menatap kotak hitam itu sekali lagi.
“Jadi… seberapa berat sebenarnya benda itu?”
Wang Long tersenyum tipis, sebuah senyum misterius yang jarang diperlihatkannya. “Bagi mereka, beratnya seperti Gunung Tai. Bagiku… ia tidak memiliki berat sama sekali.”
“Jangan mempermainkanku,” protes Sin Yin, meski nada suaranya kini lebih lembut.
Wang Long melangkah mendahuluinya, masuk lebih dalam ke arah hutan. “Yang berat bukan kayunya, Sin Yin. Yang berat adalah janji yang ada di dalamnya.”
Sin Yin berdiri mematung sejenak, menatap punggung tegap Wang Long yang kian menjauh. Ia menyadari satu hal: perjalanan ini bukan sekadar mengantar sebuah kotak, melainkan perjalanan mengawal sebuah takdir yang akan mengguncang jagat persilatan. Dan tanpa sadar, sang Bidadari Maut kini telah menjadi bagian dari legenda tersebut.