Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Menargetkan Anastasia
Meskipun badai telah menghancurkan keluarga Steel hingga ke akar-akarnya tepat setelah mereka berurusan dengan Sierra, Nora dan lingkaran pertemanannya menolak untuk percaya adanya konspirasi yang melibatkan Sierra. Bagi mereka, apa yang menimpa Wanda Steel hanyalah sebuah kebetulan.
"Tidak mungkin Sierra punya kekuatan sebesar itu untuk meruntuhkan sebuah dinasti bisnis dalam semalam," cetus salah satu teman Nora saat mereka berkumpul di kafetaria.
"Keluarga Steel memang sudah di ujung tanduk karena skandal investasi, Sierra hanya kebetulan ada di sana saat bomnya meledak."
Nora mengangguk setuju, meski ada sedikit kegelisahan yang ia sembunyikan. Mereka memang tidak takut pada Sierra secara status, namun mereka cukup pintar untuk tidak lagi menyerang secara fisik mengingat Sierra bisa berkelahi dan tidak tanggung-tanggung dalam melukai lawannya. Mereka tidak ingin mengambil risiko berakhir di rumah sakit seperti Wanda.
Maka dari itulah, target mereka pun beralih. Mereka membutuhkan samsak baru, dan pilihan itu jatuh pada Anastasia, gadis yang belakangan ini terus menempel pada Sierra seperti anak ayam. Mereka tidak berani menyentuh Eugene Kartein, selain karena Eugene adalah school crush semua orang, rumor bahwa keluarga Kartein memiliki koneksi dengan dunia mafia, membuat siapa pun berpikir dua kali untuk mencari masalah dengannya.
Sementara itu, Anastasia dianggap sebagai mangsa empuk. Walaupun ia menyandang marga "Blackwood", tidak ada yang mengaitkannya dengan keluarga Blackwood yang merupakan penguasa ekonomi di Metropolia. Hal itu karena Anastasia sangat low profile sama seperti Adrian yang tidak mau tersorot kamera wartawan. Ia sengaja merahasiakan identitasnya karena muak dengan teman-teman palsu yang hanya mendekatinya demi kekuasaan keluarganya. Hanya orang-orang yang dekat dengan keluarga Blackwood saja yang tahu identitas Anastasia.
Teror dimulai dengan hal-hal kecil. Setiap hari, buku-buku pelajaran Anastasia ditemukan dalam keadaan rusak atau lokernya dipenuhi sampah. Namun, reaksi Anastasia justru membuat Nora dan teman-temannya kesal. Gadis itu sama sekali tidak sedih. Baginya, belajar bukanlah passionnya. Justru dengan rusaknya buku-buku itu, ia punya alasan sempurna untuk tidak belajar tanpa takut dimarahi orang tuanya. Lagi pula, dia tinggal menjentikkan jari untuk membeli satu toko buku jika dia mau.
Kalau soal loker yang berisi sampah, Anastasia juga tidak peduli. Pakaian yang dia simpan di sana bisa dibuang dan dia tinggal beli lagi. Bukan dia juga yang harus membersihkan lokernya, dia tinggal membayar petugas kebersihan sekolah.
Melihat gangguan mereka tidak membuahkan hasil yang diinginkan, Nora dan kawan-kawannya beralih ke cara yang lebih kejam. Saat jam istirahat hampir usai, mereka menjebak Anastasia di toilet paling ujung, mengunci pintunya dari luar, dan mengguyurkan seember air bekas pel yang kotor ke dalam bilik tersebut.
Sierra, yang baru kembali dari kantin bersama Eugene, menyadari ada yang salah. "Anastasia belum kembali ke kelas rupanya, bukankah dia sudah pergi ke toilet sejak setengah jam yang lalu?," gumamnya datar, namun matanya menajam.
Keduanya segera menuju area toilet lantai dua, di depan pintu terpasang tulisan toilet rusak. Tapi Sierra mendengar isakan kecil dari dalam toilet yang terkunci rapat dengan gembok tambahan yang dipasang paksa.
Eugene mencoba mendobrak pintu toilet itu dengan bahunya. "Sial!"
Di dalam, Anastasia sudah menggigil hebat. Bajunya basah kuyup oleh air pel yang bau, dan udara dingin pendingin ruangan membuat bibirnya membiru. Anastasia mendengar suara pintu toilet didobrak dan mulai berteriak-teriak.
"Ada orang di sini!! Tolong aku! Aku terkunci!"
"Sierra, tunggulah di sini. Aku akan mencari security untuk membukakan pintu ini," ujar Eugene panik.
Eugene baru saja berbalik beberapa langkah ketika sebuah dentuman keras yang memekakkan telinga bergema di koridor. Ia menoleh dan mendapati pemandangan yang membuat mulutnya menganga.
Sierra baru saja melepaskan satu tendangan yang luar biasa kuat hingga engsel pintu kayu itu jebol dan daun pintunya rubuh ke lantai.
Anastasia kembali berteriak.
"Tolong! Tolong aku!"
Sierra masuk dan mengecek ada bilik toilet yang paling ujung diganjal dengan tongkat pel dari luar.
Sierra segera melepaskan ganjalan tongkat itu dan Anastasia segera keluar dengan langkah gontai. Ia ingin memeluk Sierra, namun ia ragu karena tubuhnya basah dan berbau tak sedap.
"Apa kau terluka?" tanya Sierra pendek.
"Tidak... aku hanya sedikit kedinginan," jawab Anastasia dengan suara bergetar.
Tanpa bicara banyak, Sierra melepaskan jaketnya dan menyampirkannya ke pundak Anastasia. Saat jemarinya menyentuh dahi gadis itu, Sierra mengernyit. "Kau sedikit demam."
"Biar aku antar ke klinik. Naiklah ke punggungku, Anastasia," tawar Eugene sigap.
Anastasia menggeleng lemah, "Tidak perlu, Eugene. Aku masih bisa jalan."
Akhirnya, Eugene mengantar Anastasia ke klinik sementara Sierra pergi ke loker Anastasia untuk mengambilkan baju ganti. Namun, loker Anastasia penuh sampah, Sierra sedikit bingung. Tapi mengingat Anastasia sebelumnya dikunci di toilet dalam kondisi basah kuyup, Sierra pun akhirnya baru sadar sepertinya ada yang membully Anastasia.
Sierra akhirnya membuka lokernya sendiri dan beruntungnya, ada seragam olahraga bersih miliknya di sana.
Setelah berganti pakaian dan meminum obat penurun panas, Anastasia diminta beristirahat di UKS oleh dokter di klinik sekolah.
Dalam perjalanan kembali ke kelas, Sierra berniat menghubungi Adrian yang merupakan paman Anastasia agar gadis itu segera dijemput. Namun ia baru tersadar bahwa ia tidak memiliki nomor pria itu. Satu-satunya kontak yang ia punya adalah James Harrington.
Di tempat lain, James sedang menemani Adrian dalam sebuah rapat penting. Tiba-tiba ponsel James bergetar. Ia terkejut melihat nama yang tertera di layar.
"Sierra menelponku," bisik James spontan.
Adrian, yang tadinya fokus pada presentasi di depan, langsung menoleh tajam. Tatapannya menyelidik, seolah menuntut penjelasan mengapa gadis itu justru menelpon asistennya, bukan dirinya. James hanya menggeleng bingung dan mengangkat telepon itu.
"Halo, Sierra? Ada apa?"
"Apa Mr. Blackwood bersamamu?" suara Sierra terdengar di seberang sana.
James melirik Adrian yang kini memperhatikannya dengan intensitas yang mengintimidasi. "Kau menelponku hanya untuk menanyakan Adrian?"
Mendengar itu, sudut bibir Adrian terangkat sedikit. Ada senyum tipis yang hampir tak terlihat.
"Anastasia sakit," lanjut Sierra. "Apa Mr. Blackwood bisa meminta seseorang untuk menjemputnya pulang?"
"Apa?! Anastasia sakit? Bagaimana bisa? Tadi pagi dia sehat-sehat saja!" James berteriak panik.
Sierra terdiam sejenak. "Hm? Apa Mr. Harrington punya hubungan dengan Anastasia juga? Apa Anda pamannya juga?"
"Tentu saja tidak! Aku akan menjemputnya sekarang!"
Tepat saat James menutup telepon, Adrian tiba-tiba berdiri dan menutup laptopnya dengan kasar, mengabaikan tatapan bingung para klien.
"Rapat selesai. Kita lanjutkan besok"
Adrian berbalik ke arah James.
"Ayo pergi sekarang," perintah Adrian dingin.
"Eh? Ke mana?" James bengong.
Adrian menaikkan satu alisnya, memberikan tatapan yang seolah mengatakan "menurutmu?".
"Kamu mau ikut menjemput Anastasia?" tanya James lagi, kali ini dengan nada menggoda.
Adrian tidak menjawab. Ia langsung melangkah keluar ruangan dengan langkah lebar, meninggalkan James yang segera mengekor di belakangnya sambil berbisik, "Bilang saja kau ingin bertemu Sierra, kan?"
Adrian tetap bungkam, namun langkah kakinya yang terburu-buru mengkhianati ketenangan wajahnya.