Andrean Wibisono dikenal sebagai jurnalis paling perfeksionis, disiplin, dan menegangkan —menurut para rekan kerjanya. Hidupnya diatur oleh data dan struktur berita yang rapi.
Masalah hidup Andrean muncul setiap kali dia harus berurusan dengan Alena Maharani yang santai, spontan, percaya insting, dan entah bagaimana selalu selamat meski hobi sekali mepet deadline. Bagi Andrean, Alena adalah clickbait berjalan yang selalu santai menghadapi apapun, sedangkan bagi Alena, Andrean adalah robot jurnalistik yang siap mengingatkan Alena tentang kode etik jurnalistik dalam situasi apapun.
Ketika sebuah proyek liputan spesial memaksa mereka menjadi partner, bencana pun dimulai. Bagaimana kelanjutan kisah dua jurnalis yang saling bertolak belakang ini? Simak dalam Hotnews: I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Partner?
Malam ini, Andrean duduk santai di teras kosnya ditemani secangkir kopi Kapal Api tubruk tanpa gula yang menandakan pikirannya sedang tak tenang. Sejak kedatangan Alena ke redaksi Hotnews.com tahun lalu, kehidupan jurnalistik Andrean menjadi kacau.
Bagaimana tidak? Andrean yang selalu berpegang teguh pada kode etik jurnalistik dan mengutamakan penulisan berita yang lugas dan tajam berdasarkan fakta dan data, harus selalu bertemu Alena yang, menurut Andrean, bukan manusia jurnalistik sepenuhnya —wawancara yang terlalu santai, gaya penulisan berita yang terlalu bebas dan terkadang penuh drama, dan masih banyak lagi hal-hal yang menurut Andrean tidak sesuai dengan prinsip jurnalistik yang dia anut selama ini.
Namun begitu, Andrean tak bisa pungkiri bahwa artikel-artikel berita Alena selalu saja menarik, mulai dari judul —yang lebih sering mengandung unsur clickbait—, thumbnail yang mengundang rasa penasaran pembaca, hingga isi berita yang enak dibaca. Tak heran jika traffic (jumlah pembaca/pengunjung) berita Alena selalu mengagumkan.
Seperti saat ini, Andrean tengah membaca artikel Alena tentang Darrel. Setelah melalui proses fact-checking dengan pihak Darrel, artikel Alena berhasil naik. Andrean tak menyangka, Darrel tidak menyangkal satu kata pun dari artikel yang ditulis Alena. Seperti pada kalimat yang mengatakan aplikasi anti distraksi tercipta karena Darrel patah hati. Andrean tak pernah menyangka bahwa jawaban Darrel saat wawancara itu adalah fakta.
"Dia memang tidak bilang bercanda. Tapi, tawanya saat itu benar-benar menggiring opini publik," gumam Andrean sambil terus membaca artikel tentang Darrel.
...
Lebih jauh, Darrel menegaskan bahwa HighTech akan terus berusaha menciptakan aplikasi yang mengikuti dan menyesuaikan perkembangan jaman, modern, dan tentu saja fleksibel.
...
Andrean tertegun membaca kalimat itu. Dia seketika ingat sesi wawancara Alena dan Darrel saat itu.
"Ternyata ini maksud dari pertanyaan dan jawaban waktu itu," gumam Andrean.
Andrean tidak pernah menduga, di balik kalimat pertanyaan Alena yang santai dan bebas, dia bisa menemukan inti dari informasi yang ingin dia dapatkan. Andrean, tentu saja, tidak akan pernah menggunakan kalimat semacam itu.
...
Selanjutnya, HighTech melirik bidang media untuk membuat gebrakan baru. Platform distribusi dan analytic media mungkin? Mari kita nantikan!
"Jadi, ajakan menikah itu bukan menikah secara harfiah?" gumam Andrean, semakin tertegun dengan skill interpretasi Alena dalam mengolah bahan mentah absurd menjadi artikel berita yang informatif.
'Pantas saja Darrel tidak menolak artikel ini untuk tayang,'
***
Dua hari berlalu sejak drama penolakan naskah artikel Andrean oleh Pak Indra Wijaya yang masih menyisakan rasa kekecewaan pada diri Andrean. Meski begitu, Andrean tak berkecil hati. Dia justru semakin giat mencari bahan dan strategi untuk artikel selanjutnya yang dia yakini akan mengalahkan artikel Alena.
Sedari pagi Andrean sibuk menyelami halaman-halaman media sosial, mencari hal-hal hangat yang sedang menjadi pembicaraan netizen.
"Perselingkuhan artis, isteri simpanan pejabat, perselingkuhan selebgram. Tak ada yang menarik. Apa serunya mengorek ranjang orang lain?" gumam Andrean sambil menopang pipi kanannya dengan tangan kanannya.
"Tumben muka robot pagi-pagi udah kusut?" tanya Alena saat tiba di kantor. Andrean melihat arlojinya.
"Sepertinya telat bukan lagi kebiasaan lo. Tapi, hobi," kata Andrean masih sambil fokus menjelajah halaman akun sosial media. Alena berjalan mendekati Andrean.
"Bukan telat, tapi menggunakan waktu sebaik mungkin," kata Alena yang kini sudah berdiri tepat di samping kursi Andrean. Andrean menaikkan satu alisnya.
"Menggunakan waktu sebaik mungkin? Dengan telat dateng?" tanya Andrean.
Alena menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman meremehkan yang Andrean sangat benci.
"Kita ini jurnalis, Andrean. Kantor cuma tempat buat nulis," kata Alena sambil tersenyum. Mata Andrean membulat. Dia merasa Alena sudah menemukan scoop menarik selagi dirinya hanya duduk sambil sibuk men-scroll ponselnya.
"Alena, Andrean!" panggil Pak Indra, membuat Andrean mengurungkan apa yang ingin dia katakan untuk membalas Alena.
Alena dan Andrean segera menuju meja Pak Indra yang terlihat sedang serius menonton sesuatu di ponselnya.
"Kalian tau tentang ini?" tanya Pak Indra sambil menyodorkan ponselnya. Andrean dan Alena melongok ke atas meja untuk melihat ada apa di ponsel Pak Indra.
Sebuah berita perselingkuhan komedian yang sedang naik daun. Andrean sempat membacanya tadi saat sedang menyelami media sosial.
"Wah! Ini sih baru anget-angetnya, Pak," kata Alena. Andrean menoleh ke arah Alena.
"Kita juga harus meliputnya," kata Pak Indra. Kini Andrean menoleh ke arah Pak Indra.
"Saya sudah dapet slot untuk press-con nanti jam sepuluh di ballroom Grand Orchid International Hotel," kata Alena cepat. Andrean kembali menoleh ke arah Alena.
"Bagus. Segera liput. Andrean kamu ikut Alena!" perintah Pak Indra.
"Hah?!" kata Andrean dan Alena bersamaan. Saat itu, untuk pertama kalinya keduanya kompak. Pak Indra melirik ke arah Andrean dan Alena bergantian.
"Ada masalah?" tanya Pak Indra, datar seperti biasa.
"Maaf, Pak. Saya bisa melakukan liputan sendiri," kata Alena cepat.
"Benar. Saya rasa, Alena saja cukup," kata Andrean setuju yang mendapat anggukan mantap dari Alena. Pak Indra menggelengkan kepalanya.
"Mulai sekarang," kata Pak Indra dengan nada yang lebih berat dan lebih datar dari sebelumnya.
"Kalian partner," lanjut Pak Indra. Andrean dan Alena saling tatap beberapa saat. Kalimat Pak Indra terdengar seperti vonis kematian bagi keduanya.
"Tapi, Pak, selama ini liputan kami, masing-masing baik-baik saja," kata Alena berusaha membuat Pak Indra berubah pikiran. Pak Indra kembali menggelengkan kepalanya.
"Traffic Andrean menurun drastis, Alena. Selama ini dia hanya fokus pada straight news. Dia harus mencoba hal lain," kata Pak Indra.
"Tapi, saya bisa mencoba hal lain sendiri, Pak. Tidak harus sama dia," protes Andrean. Pak Indra kembali menggelengkan kepalanya.
"Keputusan saya tidak bisa diganggu gugat. Segera liput berita perselingkuhan itu dan tulis artikel yang menarik. Jangan sampai kita ketinggalan berita panas, karena kita adalah Hotnews.com," kata Pak Indra, final.
"Baik, Pak," kata Alena cepat lalu pergi meninggalkan meja Pak Indra. Andrean dengan lesu mengikuti Alena.
"Naik mobil lo," kata Alena pada Andrean saat keduanya keluar dari kantor redaksi.
"Dari semua orang, kenapa harus lo?" gumam Andrean.
"Lo pikir gue mau jadi partner lo?" tanya Alena. Andrean mendengar nada kekesalan disana.
"Kalo traffic lo turun, bukan urusan gue kan?" kata Alena lagi. Kini keduanya sudah tiba di samping mobil Andrean.
"Oh! Roni!" kata Andrean sambil merogoh ponselnya untuk menghubungi Roni.
"Nggak perlu ngajak dia. Lo lupa gue bisa motret?" kata Alena cepat. Andrean melirik tas selempang besar yang selalu Alena bawa saat liputan.
"Cepat berangkat. Kita harus cari tempat yang strategis," kata Alena sambil memasuki mobil Andrean. Andrean mendengus kesal lalu masuk ke mobilnya.
'Semoga nggak akan jadi lebih buruk dari ini,'
***
ceritanya menarik, selalu dinanti.
🥰❤