NovelToon NovelToon
Melati Diantara Lima Cinta

Melati Diantara Lima Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Melati hanyalah gadis desa yang tak pernah bermimpi menjadi pusat dunia. Namun satu langkah ke istana menyeretnya ke dalam permainan cinta, kekuasaan, dan rahasia yang berbahaya.

Lima pria dari lima dunia berbeda datang dengan janji, ambisi, dan perasaan yang tak sederhana. Di balik gaun indah dan perjamuan megah, Melati belajar membaca kebohongan, membangun aliansi, dan melindungi harga dirinya.

Ketika gosip menjadi senjata dan cinta menjadi strategi, Melati harus memilih: bertahan sebagai pion… atau bangkit sebagai pemain yang mengubah sejarah.

Karena di tengah intrik dan perasaan yang rumit, satu kebenaran perlahan muncul — Melati bukan sekadar perempuan yang diperebutkan.
Ia adalah simbol masa depan yang belum ditentukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: HINAAN HIME SAYURI

Angin siang terasa lebih tajam dari biasanya.

Di paviliun kayu tempat Melati ditempatkan, keheningan memiliki suara sendiri—suara menunggu sesuatu yang tidak pasti. Sejak pagi, para penjaga bergerak lebih cepat. Langkah mereka tegang, percakapan dipotong pendek. Ada kedatangan penting.

Melati duduk di dekat jendela, jemarinya memainkan ujung kimono tanpa sadar. Perasaan itu datang lagi—firasat yang tidak memiliki bentuk tetapi selalu benar.

Seseorang akan mengubah keseimbangan kecil yang tersisa.

Langkah sepatu terdengar.

Bukan langkah tentara biasa. Lebih ringan, tetapi lebih tegas. Disiplin yang tidak perlu keras untuk terasa berbahaya.

Pintu geser terbuka.

Perempuan itu berdiri di ambang.

Hime Sayuri.

Seragam militernya rapi tanpa cela. Rambut hitamnya disanggul ketat, wajahnya cantik dengan cara yang dingin—seperti pisau yang diasah sempurna. Tidak ada keraguan di matanya. Tidak ada rasa ingin tahu. Hanya penilaian.

Melati langsung tahu siapa dia bahkan sebelum diperkenalkan.

Tunangan pangeran.

Dunia sering kejam, tetapi perempuan yang datang dengan hak sering kali lebih kejam dari perang itu sendiri.

Sayuri masuk perlahan, menatap ruangan, lalu menatap Melati. Tatapan itu tidak sekadar melihat—ia mengukur, membandingkan, menolak.

“Jadi ini,” katanya dalam bahasa yang rapi namun keras, “gadis yang membuat pangeran menunda banyak keputusan.”

Suara Sayuri tidak tinggi. Justru tenang itulah yang membuat kata-katanya terasa seperti tekanan.

Melati berdiri pelan, menunduk. Tubuhnya ingat bagaimana bertahan.

“Aku Melati,” bisiknya.

Sayuri tidak memperkenalkan diri. Ia tidak merasa perlu.

Ia berjalan mengitari Melati seperti perwira memeriksa barang sitaan. Gerakannya anggun, tetapi ada sesuatu yang mematikan dalam ketepatan setiap langkah.

“Terlalu biasa,” gumam Sayuri. “Terlalu rapuh.”

Melati menahan napas.

Sayuri berhenti di depan Melati, mengangkat dagunya tanpa izin. Sentuhannya tidak kasar, tetapi tidak memiliki kehangatan manusia.

“Inilah yang mengotori fokusnya,” kata Sayuri pelan. “Inlander.”

Kata itu jatuh seperti lumpur.

Melati menutup mata sesaat. Bukan karena tidak sakit—tetapi karena ia tahu rasa sakit itu akan datang, dan melawan tidak selalu berarti bergerak.

Sayuri tersenyum tipis melihat reaksi itu.

“Kamu tahu posisimu?” tanyanya.

Melati tidak menjawab.

Sayuri mencondongkan wajahnya lebih dekat.

“Kamu bukan tamu. Bukan pasangan. Kamu rampasan perang.”

Sunyi menebal.

Di luar, angin menggoyang tirai. Dunia terus berjalan sementara sesuatu runtuh pelan di dalam ruangan.

“Aku tidak meminta berada di sini,” bisik Melati.

Sayuri tertawa kecil. Bukan lucu—lebih seperti seseorang yang mendengar alasan yang tidak relevan.

“Anjing tidak memilih pemiliknya,” katanya dingin. “Tetapi anjing tetap tahu tempatnya.”

Kata itu menusuk lebih dalam dari tamparan.

Melati merasakan bibirnya bergetar. Zikir mulai bergerak di dalam kepalanya sebelum ia sadar. Kata-kata yang menjadi pelindung terakhir.

Sayuri melihat itu.

“Berdoa?” tanyanya. “Kamu pikir itu melindungimu dari struktur kekuasaan?”

Melati tidak menjawab. Karena doa bukan argumen. Doa adalah bertahan.

Sayuri berjalan ke meja, mengambil vas kecil, lalu meletakkannya kembali dengan sengaja—bunyi kecil yang terdengar seperti ancaman.

“Aku dilatih untuk menghapus gangguan,” katanya. “Dan kamu… gangguan.”

Melati menatap lantai.

“Aku tidak ingin mengganggu siapa pun.”

Sayuri berhenti. Kalimat polos itu tidak membuatnya luluh. Justru membuatnya semakin tajam.

“Perempuan sepertimu selalu berkata begitu,” katanya. “Tetapi kehadiranmu sendiri sudah cukup.”

Ia memberi isyarat kecil. Seorang penjaga menutup pintu lebih rapat. Ruangan terasa mengecil.

Sayuri kembali mendekat.

“Kamu tahu berapa lama aku dipersiapkan untuk menjadi pasangan pangeran?” tanyanya.

Melati menggeleng pelan.

“Seumur hidup,” jawab Sayuri. “Disiplin. Kehormatan. Loyalitas mutlak.” Matanya dingin. “Lalu datang seorang gadis desa… dan tiba-tiba fokusnya terbagi.”

Melati merasakan kesedihan aneh di balik kemarahan Sayuri. Tetapi empati tidak menghentikan bahaya.

“Aku tidak mengambil apa pun,” bisik Melati.

Sayuri menampar meja, bukan Melati—tetapi suara itu cukup membuat tubuh Melati tersentak.

“Kehadiranmu sudah mengambil,” katanya.

Ia mendekat lagi, kali ini lebih dekat dari sebelumnya.

“Dengarkan baik-baik. Kamu tidak akan pernah setara. Tidak dalam darah. Tidak dalam sejarah. Tidak dalam masa depan.”

Kata-kata itu seperti dinding yang dibangun satu per satu.

Melati menggenggam jemarinya agar tidak gemetar terlalu terlihat. Zikir terus berjalan di bibirnya, hampir tanpa suara.

Sayuri memperhatikan.

“Masih berharap seseorang menyelamatkanmu?” tanyanya.

Air mata Melati jatuh.

“Aku hanya berharap keluargaku aman.”

Di situlah sesuatu berubah.

Sayuri tersenyum tipis—senyum seseorang yang menemukan titik lemah.

“Keluarga,” ulangnya pelan. “Ya… itu bahasa yang universal.”

Melati langsung menegang.

Sayuri berjalan mengitari lagi, seperti pemangsa yang sudah memahami arah lari mangsa.

“Desamu kecil,” katanya santai. “Catatan tentang keluargamu… mudah ditemukan.”

Jantung Melati seperti berhenti.

“Kamu tidak akan—” suaranya pecah.

Sayuri berhenti di belakangnya.

“Aku bisa,” katanya tenang. “Perintah kecil. Tidak perlu keributan.”

Air mata Melati jatuh lebih deras. Tubuhnya terasa ringan seperti akan runtuh.

“Tolong…” bisiknya. “Mereka tidak bersalah.”

Sayuri tidak tersentuh oleh kata bersalah. Dunia militernya tidak memakai ukuran itu.

“Kepatuhan melindungi banyak hal,” kata Sayuri. “Termasuk keluarga.”

Melati menutup mata, bibirnya bergerak lebih cepat. Doa berubah menjadi pegangan panik.

Sayuri melihat itu sebagai kemenangan kecil.

Ia mendekat lagi, kali ini berbisik di dekat telinga Melati.

“Kamu akan menghilang dari pikirannya,” katanya. “Atau sesuatu yang kamu cintai akan hilang.”

Ancaman itu tidak perlu dijelaskan lebih jauh.

Melati jatuh berlutut bukan karena diperintah, tetapi karena tubuhnya tidak kuat menahan beban kalimat itu.

“Aku tidak punya apa-apa selain mereka…” suaranya hancur.

Sayuri berdiri tegak di atasnya—simbol hierarki yang sangat jelas.

“Itulah sebabnya kamu mudah dikendalikan,” katanya.

Sunyi panjang.

Melati tidak membalas. Tidak membantah. Ia hanya berzikir, kata-kata kecil yang menjadi napas cadangan.

Sayuri menatapnya beberapa detik lebih lama. Ada sesuatu yang membuatnya kesal—bukan perlawanan, tetapi ketenangan aneh dalam kehancuran itu.

“Kenapa kamu tidak membenci?” tanyanya tiba-tiba.

Melati mengangkat wajah basah.

“Aku lelah membenci,” bisiknya jujur.

Jawaban itu tidak sesuai dengan dunia Sayuri. Dunia Sayuri dibangun dari garis tegas: musuh, sekutu, kehormatan, hukuman.

Melati hidup di wilayah abu-abu yang membuat logika militer terasa tidak cukup.

Sayuri menarik napas pelan.

“Jangan salah mengartikan keheningan sebagai keselamatan,” katanya dingin. “Aku akan mengawasimu.”

Ia berbalik menuju pintu, lalu berhenti.

“Dan ingat,” tambahnya tanpa menoleh, “anjing yang tahu tempatnya hidup lebih lama.”

Pintu terbuka. Langkahnya pergi tanpa ragu.

Ruangan kembali sunyi.

Melati tetap berlutut lama setelah Sayuri pergi. Tubuhnya gemetar kecil, seperti daun setelah badai. Ancaman terhadap dirinya bisa ia tahan. Ancaman terhadap keluarga terasa berbeda—lebih tajam, lebih menakutkan.

Ia menunduk hingga dahinya menyentuh lantai.

Zikirnya pecah menjadi tangis.

“Aku tidak kuat sendiri…”

Di luar, markas tetap berjalan. Strategi, laporan, perintah. Dunia besar bergerak tanpa mengetahui satu percakapan kecil yang bisa menghancurkan seseorang.

Melati menarik napas panjang, berusaha menahan panik agar tidak berubah menjadi putus asa. Ia tahu satu hal: ketakutan adalah alat. Dan hari itu, ia baru saja merasakan bagaimana alat itu digunakan.

Namun di tengah rasa takut, ada sesuatu yang tetap bertahan—alasan ia masih berdiri, masih berdoa, masih memohon keselamatan bukan hanya untuk dirinya.

Ia perlahan bangkit.

Matanya merah. Tubuhnya lelah. Tetapi di dalam dadanya, nyala kecil itu belum padam.

Bukan keberanian besar.

Hanya keteguhan sederhana untuk tidak kehilangan kemanusiaan bahkan ketika dunia mencoba merampasnya.

Di paviliun yang sunyi, Melati menyadari bahwa perang tidak hanya terjadi di medan tempur. Kadang perang terjadi di dalam hati—antara ketakutan dan harapan, antara tunduk dan tetap menjadi manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!