NovelToon NovelToon
GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Romantis / Cintamanis / Idola sekolah
Popularitas:492.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.

"Aku akan menikahi Gauri."

~ Devan Valtor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teguran kepala sekolah

Koridor kelas XII⁴ kembali riuh oleh suara bentakan Diana.

"DUDUK! SEMUA DUDUK! KALIAN SAYA SURUH DIAM, BUKANNYA MALAH TERTAWA-TERTA-"

Beberapa murid yang tadi menahan tawa langsung terdiam ketika mata Diana membelalak ke arah mereka. Namun sisa tawa kecil yang telanjur keluar membuat emosi Diana makin memuncak.

"Kalian pikir saya main-main?!" bentaknya lagi, wajahnya memerah.

Seorang murid perempuan di barisan tengah menutup mulutnya, tapi bahunya yang bergetar tetap terlihat jelas. Teman di sebelahnya ikut terkikik pelan.

Diana menepuk meja paling depan dengan keras.

"Kalau ada yang TIDAK SENANG sama saya, SILAHKAN KELUAR SEKARANG JUGA!"

Suasana hening.

Semua murid saling pandang.

Diana berdiri di sana dengan dada naik turun, kekesalan menguasai seluruh sikapnya. Ia pikir ancamannya membuat mereka tunduk.

Tapi, di barisan belakang, Tegar salah satu teman geng Ares berdiri sambil mengangkat ranselnya.

"Saya keluar,"

Diana mengerutkan kening.

Baru satu murid keluar. Ia masih bisa mengatasinya.

Lalu, disusul oleh salah satu temannya.

"Saya juga."

Kemudian satu lagi.

"Sama."

Lalu semuanya bangkit satu per satu.

Langkah kaki mereka menggema bersamaan.

Diana terpaku.

"E-eh… kalian… kalian mau ke mana?! Kalian mau saya panggil orangtua kalian?!"

Tegar menoleh singkat.

"Ibu yang bilang kan? Kalau tidak senang, keluar. Dasar guru lebay, aneh."

Suaranya tenang, dan tidak takut sama sekali. Murid-murid lain berhenti sesaat dan menatap Diana dengan tatapan kecewa. Tanpa sepatah kata, mereka melanjutkan langkah ke luar kelas.

Diana ternganga.

"A-apa kalian sudah gila?! Saya belum,"

Tidak ada yang mendengarkan.

Dalam waktu kurang dari satu menit, kelas yang tadi riuh berubah kosong total. Meja kursi tertinggal tanpa penghuni, menciptakan keheningan yang menusuk.

Bahkan ketua kelas, dan seorang siswa laki-laki pendiam, ikut keluar tanpa ragu. Juga anak paling cupu di kelas, yang biasanya takut membuka mulut, turut menyeret tasnya keluar sambil menunduk.

Pintu kelas perlahan tertutup oleh dorongan murid terakhir.

Brak.

Diana berdiri mematung. Ini tidak pernah terjadi selama kariernya mengajar. Kemarahan berubah jadi rasa malu, lalu rasa takut.

"Apa-apaan ini…?" gumamnya, suaranya getar.

Belum sampai lima menit, ada guru lain yang lewat mengintip ke kelas yang sepi itu dengan dahi mengerut.

"Bu Diana, kelasnya… kosong?" salah satu guru bertanya.

Diana memasang senyum kaku.

"Mereka sedang … uhm, saya beri tugas mandiri. Di luar."

Guru itu mengangkat alis seperti tidak percaya, tapi tidak lanjut bertanya. Ketika ia akhirnya melangkah keluar menuju ruang guru, seorang staf TU mendekat cepat.

"Bu Diana," katanya, sedikit terburu-buru.

"Ibu dipanggil ke ruang kepala sekolah. Segera."

Jantung Diana mencelos.

"A… sekarang?"

"Ita bu. Sekarang. Ibu Victoria sudah menunggu."

"Baik." ucap Diana.

Ia keluar dari kelas, menggenggam buku di tangannya. Ia berjalan mengikuti staf tersebut, mencoba memperbaiki rambut dan wajahnya yang masih memerah karena kesal.

Setiap langkah terasa berat.

Saat pintu ruang kepala sekolah dibuka, pandangan pertama Diana langsung tertuju pada seseorang yang duduk di kursi tamu.

Ares.

Bersandar santai sambil memainkan ponselnya, wajahnya tampak tanpa beban sedikit pun.

Diana menahan desakan untuk memaki lagi.

Kenapa harus ada anak itu di sini?

Lalu matanya berpindah pada Victoria, yang duduk tegak dengan aura dingin khas seorang kepala sekolah berwibawa. Wanita berpenampilan rapi itu menutup map berwarna cokelat dan menatap Diana tajam.

"Silakan duduk, bu Diana."

Diana menelan ludah.

"S-selamat siang, bu Victoria," katanya gugup sambil duduk perlahan.

Victoria tidak membalas salam.

Ia hanya meletakkan kedua tangannya di meja dan memandang lurus, tanpa ekspresi.

"Ada sedikit laporan mengenai kelas ibu barusan." suaranya dingin dan terukur, tidak seperti biasanya.

"Saya hanya…" Diana membuka mulut, tapi Victoria langsung mengangkat tangan.

"Bu Diana, saya belum selesai."

Diana terdiam lagi.

Victoria mengambil selembar kertas dari mapnya.

"Seluruh siswa kelas XII⁴ keluar dari kelas ketika Ibu mengajar. Benar?"

Diana mencengkeram rok kerjanya.

"Itu… mereka membangkang, bu. Saya hanya ..."

"Ada juga laporan bahwa ibu berteriak kasar dan mengusir salah satu murid. Ares?"

Ares mengangkat kepalanya sedikit, melirik Diana dengan senyum malas.

Diana panik.

"Saya hanya menegur dia, bu! Anak itu memang suka membantah saya! Saya sudah berkali-kali bilang ..."

Victoria mencondongkan tubuh.

"Diana," katanya perlahan, tapi nadanya amat menusuk,

"Apa Ibu tahu siapa Ares?"

Diana mengerutkan kening.

"Ares adalah murid …."

Tatapan Victoria makin tajam.

"Ares adalah keponakan saya."

Diana membeku. Darahnya seperti menghilang dari wajah.

"K… keponakan…?" ulangnya terbata.

Victoria mengangguk, tenang.

"Ibunya adalah kakak kandung saya. Dan saya sangat mengenal Ares. Dia bukan anak yang suka membantah tanpa alasan."

Ares tidak berkata apa-apa, tapi jelas ia menikmati momen ini.

Diana mencoba berbicara lagi, suaranya putus-putus.

"Saya… saya… tidak tahu, bu. Saya tidak bermaksud,"

"Justru karena tidak tahu," potong Victoria lagi,

"Ibu seharusnya lebih berhati-hati dalam memperlakukan murid."

Diana menunduk. Tangannya gemetar.

"Bu Victoria… saya hanya sedang… emosional sedikit. Murid-murid itu tidak hormat. Mereka tertawa ketika saya bicara, kelas tidak kondusif,"

"Dan apa solusi Ibu? Mengusir semuanya?"

"Saya… saya hanya ingin menertibkan…"

Victoria menarik napas dalam, menahan diri agar tetap profesional.

"Diana, saya sudah mendapat banyak keluhan tentang gaya mengajar ibu yang terlalu keras sejak semester lalu. Saya sudah beri peringatan. Tapi hari ini, Ibu membuat satu kelas penuh keluar."

Diana menutup mulutnya sendiri, terkejut karena ia tidak tahu keluhannya sudah sebanyak itu.

"Mereka murid, bukan musuh," lanjut Victoria.

"Mereka butuh bimbingan, bukan teriakan. Ares bilang, anda juga tidak pernah suka Gauri yang sering ikut belajar dengannya? Kenapa? Gauri itu pewaris sekolah ini, dia hanya sedang sakit. Dia bisa keluar masuk semaunya di sini. Apalagi dia tidak pernah mengganggu pelajaran ibu. Buktinya, guru-guru yang lain tidak pernah mengeluh dengan keberadaannya di kelas mereka, kenapa bu Diana malah mengeluh?"

Diana kaget saat mendengar Gauri adalah pewaris sekolah ini. Tidak, tidak mungkin. Perempuan sakit mental itu seorang pewaris?

"Bu saya, bukan maksud saya ..."

"Sudah-sudah. Hari ini anda hanya saya peringatkan. Silahkan tulis surat permintaan maaf anda sudah salah. Anda boleh pergi sekarang."

Dengan terpaksa Diana mengangguk lalu keluar dari ruangan itu. Sebelum keluar, ia sempat melihat ke Ares yang tersenyum menang padanya. Anak sombong itu, sangat menyebalkan.

Diana merasa dipermalukan sebagai seorang guru.

1
Masita Masita
Diana...Diana... cari' mati rupanya
Masita Masita
tapi... walaupun bagaimana pun..main tangan dengan orang tua itu juga tidak benar
༄༅⃟𝐐Loeyeolly𝐙⃝🦜
Diana mesti di beri pelajaran keknya, ,

wanita spt itu gk ada kapoknya kalau tidak di beri pelajaran
Susma Wati
diana ini belum jera, sudah tahu gauri pemilik sekolah tempat dia cari uang buat memenuhi gaya hidup yang katanya orang kaya, kalu di pecat terus ngak terima mencoba mencelakai auri lagi, palingan juga hidupnya berakhir dípenjara atau di rumah sakit jiwa
ari sachio
mg aj gauri jd ssadar d kembali normal tanpa ada yg tau.
Herman Lim
buat Diana jadi gelandangan 🤭🤭
Santi Nuryanti
thor blg sn devan klo diana biangkerrokny y🙏🤣
Ita rahmawati
ayo deh cari tau dn setelah tau biang keroknya lgsg cekik aja biar modiyar 😂😂
Naufal Affiq
sabar devan,entar kamu tau sendiri siapa yang memberi tau mama mu kalau runi dirawat di RS.
Rita
Nama mamanya Devan, Risa.. kok jadi berubah Sari, typo ya Thor 🙏
Maharani Rani
lanjutt kak
Rita
kasih paham ke ibumu biar tau diri
Rita
sm Diana tuh tegesin
faridah ida
selagi kamu benar tidak ada anak yang durhaka ....
faridah ida
samperin tuh Diana nya Devan , dia yang bawa mama kamu nemuin Gauri ...
RiriChiew🌺
trauma Gauri terlalu dalam ternyata , sampe² keadaan dia kek begitu . hmm jadi penasaran apa yg akan Devan lakuin smaa ibunya nya 🤔
Desyi Alawiyah
Yang bilang Diana, Devan... 🤧
Anonim
Gauri kasihan sekali hidupmu. Dalam posisi tidur saja garis-garis ketakutan di keningnya masih tampak membekas.

Agam menahan kemarahannya melihat kondisi Gauri saat ini. Mengingat kondisi Gauri semakin hari semakin membaik, namun kedatangan Sari membuat trauma Gauri kembali muncul.

Agam meninggalkan Gauri untuk ke ICU ada pasien yang baru operasi kemarin, saat ini kondisinya tiba-tiba menurun.

Setelah di periksa Agam - pasien harus operasi lagi.

Operasi selesai, kondisi pasien stabil. Agam menuju ke kamar Gauri, sampai di sana terlihat Gauri memeluk erat Devan.

Devan merasa ada yang salah - Gauri terlihat sedang tidak baik-baik saja. Sedangkan tadi pagi Gauri jauh lebih baik dari sebelumnya.
astr.id_est 🌻
1+1= diana si ulat bulu
sum mia
segera bertindak Devan.... selidiki siapa yang kasih info ke mama laknat mu itu . saat tahu siapa itu jangan kasih ampun lagi .
cewek saraf kayak Diana tuh emang gak bisa di kasih hati sedikitpun . setelah dia mendorong Gauri ke kolam , kini buat ulah lagi yang benar-benar tidak bisa diampuni .

lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!