NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TITIK BEKU

01:00 AM. Markas "The Nest", Kamar Raka.

Udara di luar markas mungkin lembap dan panas, khas hutan tropis, tetapi di dalam kamar Raka yang sempit, suasana terasa begitu padat oleh ketegangan yang berbeda. Peta digital Arktik masih menyala di tablet yang tergeletak di meja samping tempat tidur, memancarkan cahaya biru dingin yang menyinari langit langit.

Raka baru saja selesai mandi untuk membersihkan sisa jelaga mercusuar. Ia hanya mengenakan celana pendek hitam taktis, membiarkan dadanya yang bidang dan penuh bekas luka terpapar udara dingin AC. Saat ia hendak mematikan lampu, pintu kamarnya bergeser terbuka pelan.

Liana berdiri di sana. Ia tidak mengenakan kacamata, matanya yang tajam kini terlihat lembut dan sedikit sayu. Ia mengenakan kemeja linen putih milik Raka yang sangat longgar, menutupi paha atasnya.

"Belum tidur?" tanya Raka, suaranya rendah dan serak.

Liana tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik yang final. "Tutup matamu, Raka. Jangan lihat aku sebagai peretasmu malam ini. Lihat aku sebagai wanita yang hampir kehilanganmu tiga kali dalam 48 jam terakhir."

Liana mendekat, tangannya yang halus meraba perban di bahu Raka. Sentuhannya membuat napas Raka tertahan. "Besok kita akan pergi ke Arktik. Ke tempat di mana darah bisa membeku dalam hitungan menit. Aku tidak ingin berangkat dengan membawa rasa haus ini."

Raka meraih pinggang Liana, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Kehangatan tubuh Liana kontras dengan kulit Raka yang masih dingin sisa air mandi. "Kau tahu risikonya, Li. Jika kita mulai, tidak ada jalan kembali ke Protokol Sunyi."

Liana mendongak, jemarinya menyisir rambut Raka yang masih basah. "Persetan dengan protokol, Raka. Aku bosan menjadi hantu. Aku ingin merasa hidup, meski hanya untuk satu malam sebelum kita menghadapi Yudha."

Liana berjinjit, menempelkan bibirnya pada bibir Raka. Awalnya ciuman itu terasa ragu, sebuah pencarian akan kepastian. Namun, saat Raka membalasnya dengan geraman rendah dan tekanan yang lebih dalam, ciuman itu berubah menjadi badai yang menuntut. Raka mengangkat Liana, membuat wanita itu melingkarkan kakinya di pinggangnya, dan membawanya ke tempat tidur yang sempit namun terasa seperti satu satunya tempat aman di dunia.

Di bawah temaram cahaya biru Arktik, mereka melepaskan segala topeng profesionalisme. Di sini, tidak ada Kapten dan tidak ada Ratu Data. Hanya ada dua manusia yang saling mencari perlindungan di tengah dunia yang runtuh.

"Raka..." desah Liana saat Raka membenamkan wajahnya di lehernya, menghirup aroma vanila dan kopi yang selalu menjadi candu baginya. "Kau... kau selalu terasa begitu kuat, tapi jantungmu bicara sebaliknya. Dia berdetak sangat cepat."

Raka berhenti sejenak, menatap mata Liana yang berkaca kaca di bawahnya. "Dia berdetak untukmu, Li. Sejak hari pertama di Unit 09, dia tidak pernah benar benar milikku lagi."

Liana tersenyum manis, sebuah senyuman yang paling jujur yang pernah Raka lihat. Ia menarik kepala Raka kembali ke bawah, menyatukan napas mereka dalam sebuah tarian yang lambat namun intens. Setiap sentuhan Raka di kulit Liana terasa seperti sebuah janji bahwa ia tidak akan membiarkan apa pun menyakiti wanita ini lagi.

Sentuhan itu berpindah dari bahu ke pinggang, menjelajahi lekuk tubuh Liana yang selama ini hanya ia bayangkan dalam mimpi mimpi buruknya di pengasingan. Liana membalasnya dengan keberanian yang nakal, jemarinya meninggalkan jejak di punggung Raka yang penuh bekas luka, mencoba menghapus kepedihan masa lalu dengan kehangatan masa kini.

"Nakal sekali tanganmu, Kapten," bisik Liana di telinga Raka, suaranya bergetar karena sensasi yang menjalar ke seluruh sarafnya.

"Kau yang mengajariku cara meretas sistem, Li," sahut Raka sambil mencium bahu Liana. "Aku hanya sedang mencoba mencari akses ke inti sistemmu."

Liana tertawa kecil, suara yang terdengar seperti musik di telinga Raka. "Akses diberikan. Jangan berhenti sampai kau menemukan kuncinya."

Malam itu, di dalam kamar yang tersembunyi dari radar dunia, mereka saling memiliki sepenuhnya. Bukan lagi sekadar kontak fisik, tapi sebuah penyatuan dua jiwa yang telah lama terkoyak oleh perang dan teknologi. Di setiap desahan dan gerakan, ada pernyataan bahwa mereka masih manusia, bahwa cinta mereka lebih kuat daripada algoritma paling rumit milik Yudha.

Saat fajar mulai menyelinap di sela-sela ventilasi markas, Liana berbaring di pelukan Raka, kepalanya bersandar di dada pria itu yang naik turun dengan teratur. Kulit mereka masih terasa hangat, berselimutkan kain tipis yang berantakan.

"Raka," panggil Liana pelan.

"Hmm?" jawab Raka.

"Jika di Arktik nanti segalanya menjadi sulit... janji padaku satu hal."

Raka mengecup puncak kepala Liana. "Apa pun."

"Jangan pernah membiarkan dirimu menjadi 'dingin' lagi. Tetaplah menjadi Raka yang ini. Raka yang bisa merasakan... ini." Liana meletakkan tangannya di atas jantung Raka.

Raka menggenggam tangan Liana, mencium jemarinya satu per satu. "Aku janji. Arktik mungkin dingin, tapi aku punya api yang cukup di sini untuk menjagaku tetap hangat."

Pukul 06:00 AM, Bimo menggedor pintu kamar dengan keras, menghancurkan momen damai tersebut. "Oi! Pasangan paling dicari di dunia! Pesawat kargo kita sudah siap di landasan rahasia! Cepat bangun sebelum kita membeku di sini karena menunggu kalian!"

Liana mendesah, menarik selimut menutupi wajahnya. "Bimo benar benar punya sensor perusak momen yang sangat akurat."

Raka terkekeh, ia duduk dan mulai memakai kembali pakaiannya. Ia menarik selimut Liana, memberikan kecupan singkat di bibir wanita itu yang masih merona. "Ayo, Ratu. Arktik menanti. Dan ingat, kau yang bilang kita harus 'menyewa' pangkalan apung itu."

Liana bangkit dengan malas, namun matanya kini bersinar dengan tekad yang baru. Ia melihat ke arah peta Arktik di tabletnya. "Yudha tidak akan tahu apa yang menimpanya. Dia pikir dia menguasai internet, tapi dia lupa satu hal internet tidak punya detak jantung. Kita punya."

Raka mengulurkan tangannya, membantu Liana berdiri. Saat mereka berjalan keluar kamar menuju ruang komando, mereka bukan lagi pelarian yang hanya mencoba bertahan hidup. Mereka adalah sepasang kekasih yang siap membakar dunia demi sebuah kebenaran.

Bimo menatap mereka saat mereka sampai di ruang tengah. "Kalian terlihat... segar. Terlalu segar untuk orang yang mau pergi ke tempat bersuhu minus empat puluh derajat."

Liana hanya mengedipkan mata ke arah Bimo sambil mengambil tas ranselnya. "Itu rahasia teknologi, Bim. Kau tidak akan paham."

Raka memimpin jalan menuju landasan udara, memeriksa senjatanya dengan tatapan tajam. Di belakangnya, Liana berjalan dengan langkah ringan, siap meretas apa pun yang menghalangi jalan mereka. Perjalanan ke Arktik akan menjadi babak yang paling berat, namun setelah malam ini, Raka tahu bahwa tidak ada badai salju mana pun yang bisa memadamkan api yang baru saja mereka nyalakan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!