Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5: Rahasia Kalung dan Serangan Yang Diperamalkan
Hujan gerimis mulai turun di atas Kota Yunlong saat matahari mulai merangkak ke balik pegunungan. Chen Feng berdiri di balkon kamarnya, memegang kalung perak dengan hati-hati sambil menatap pola sisik naga yang terukir pada liontinnya. Sejak beberapa hari terakhir, dia merasakan bahwa kalung itu semakin sering bersinar, bahkan ketika dia tidak sedang berlatih.
“Kamu lagi memikirkan kalung itu?”
Suara Ye Linglong membuat Feng terkejut. Ia menoleh dan melihat wanita itu berdiri di pintu balkon, memegang sebuah ember kayu berisi makanan dan segelas teh hangat. Udara dingin membuat napasnya tampak seperti asap tipis.
“Aku merasa ada sesuatu yang tersembunyi di dalamnya,” jawab Feng sambil menyimpan kalung kembali ke bawah bajunya. “Selain sebagai kunci untuk menemukan Pedang Naga, sepertinya kalung ini juga bisa merespon bahaya sebelum aku menyadarinya.”
Linglong mendekati dan duduk di sisi Feng, memberikan segelas teh padanya. “Ayah bilang bahwa kalung itu dibuat lebih dari seribu tahun yang lalu oleh nenek moyangmu yang pertama kali bersatu dengan Naga Putih Tianwu. Ia tidak hanya sebagai kunci—ia juga sebagai pelindung dan panduan bagi keturunan Chen.”
Saat mereka duduk berdampingan, menikmati teh hangat sambil menyaksikan hujan yang semakin deras, suara berjalan cepat datang dari arah koridor. Ye Chen muncul dengan wajah yang serius, membawa sehelai kertas yang terlipat rapat.
“Paman memanggil kita semua di ruang rapat,” katanya dengan suara yang tegas. “Ada kabar buruk dari wilayah utara.”
Mereka segera bergegas ke ruang rapat yang terletak di bagian tengah kompleks. Ye Tianhong sudah berada di sana bersama beberapa pemimpin keluarga lain, wajah mereka penuh dengan kekhawatiran. Di atas meja besar kayu, sebuah peta besar Tanah Seribu Pegunungan ditempelkan dengan jarum kayu menandai beberapa lokasi.
“Sekte Ular Hitam telah menyerang tiga desa lagi dalam seminggu terakhir,” jelas Ye Tianhong saat semua orang duduk. “Mereka tidak hanya membunuh penduduknya—mereka juga mencari sesuatu di setiap desa yang mereka serang.”
Ia menunjuk ke salah satu lokasi di peta. “Desa-desanya semuanya memiliki hubungan dengan keluarga pemburu naga kuno. Sepertinya mereka sedang mencari sesuatu yang terkait dengan Warisan Pedang Naga selain kalung yang dimiliki Feng.”
Feng merasa jantungnya berdebar kencang. “Apakah mereka tahu bahwa kalung itu ada padaku?”
“Belum tentu,” jawab seorang pemimpin keluarga lain bernama Zhang Wei. “Namun mereka pasti tahu bahwa keturunan Chen masih ada di dunia. Kita harus meningkatkan keamanan di Kota Yunlong dan melindungi Feng dengan sekuat tenaga.”
Setelah rapat selesai, Ye Tianhong mengajak Feng ke ruang bawah tanah yang tersembunyi di kompleks. Mereka menuruni tangga batu yang panjang dan sempit, sampai tiba di sebuah ruangan kecil yang dihiasi dengan lukisan dinding tentang sejarah keluarga pemburu naga.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” kata Ye Tianhong sambil berjalan ke dinding belakang yang penuh dengan tulisan kuno. Ia menekan sebuah batu tersembunyi, dan bagian dinding itu perlahan terbuka, mengungkapkan sebuah lemari besi tua.
Di dalam lemari itu, sebuah buku kulit tua dengan sampul yang diukir kepala naga ditempatkan dengan hati-hati. Ye Tianhong mengambil buku itu dan memberikannya kepada Feng.
“Ini adalah catatan rahasia keluarga Chen yang disimpan oleh keluarga Ye selama bertahun-tahun,” jelasnya. “Isinya berisi tentang Warisan Pedang Naga dan cara menemukan lokasinya. Tapi sebelum kamu membacanya, kamu harus memahami sesuatu yang penting.”
Ia melihat Feng dengan mata yang penuh kedalaman. “Pedang Naga tidak hanya bisa digunakan untuk kebaikan. Jika seseorang dengan niat jahat menguasainya, ia bisa menghancurkan seluruh dunia yang kita kenal. Itulah mengapa nenek moyang kita membuat perjanjian untuk menjaga rahasia lokasinya—hanya orang yang benar-benar layak yang boleh mengeluarkannya.”
Feng menerima buku itu dengan hati-hati. Rasanya berat di tangannya, seolah membawa seluruh sejarah keluarganya. “Aku akan berhati-hati,” janjinya dengan suara yang tegas. “Aku tidak akan membiarkan pedang itu jatuh ke tangan yang salah.”
Pada malam yang sama, ketika Kota Yunlong sudah terbenam dalam kegelapan, sekelompok orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup menyelinap masuk ke kompleks Keluarga Ye. Mereka bergerak dengan senyap dan cepat, menghindari pengawal dengan mudah seolah mereka sudah mengetahui setiap sudut kompleks itu.
Mereka sampai di kamar Feng, membuka pintu dengan alat khusus tanpa membuat suara. Ketika mereka masuk dan mendekati tempat tidur yang tampaknya terisi, salah satu dari mereka meraih bentuk yang tertutup selimut dengan cepat. Tapi dalam sekejap, selimut itu terbuka untuk mengungkapkan Ye Chen yang sudah siap dengan pedangnya.
“Kau berpikir kita tidak menyadari bahwa kamu akan datang?” katanya dengan suara dingin.
Sebuah senyum sinis terdengar dari pemimpin kelompok itu. “Kita memang tahu bahwa kamu sedang mengantisipasi serangan. Tapi itu hanya untuk mengalihkan perhatianmu dari target sebenarnya.”
Pada saat yang sama, suara ledakan keras terdengar dari arah ruang bawah tanah. Feng yang sedang membaca buku kuno bersama Ye Tianhong dan Linglong terkejut. Cahaya merah menyala dari arah pintu masuk, dan mereka melihat sekelompok penjajah sedang menghancurkan pintu dengan kekuatan yang luar biasa.
“Hei Yu!” teriak Feng saat melihat sosok pria tinggi itu muncul di depan mereka. Wajahnya penuh dengan senyum jahat, dan matanya bersinar dengan hasrat untuk balas dendam.
“Chen Feng,” ujar Hei Yu dengan suara kasar. “Aku sudah menunggu lama untuk bertemu denganmu lagi. Kali ini, aku tidak hanya akan mengambil kalung itu—aku juga akan membunuhmu dan semua orang yang membantumu!”
Hei Yu menyerang dengan cepat, pedangnya yang hitam pekat menyala dengan energi gelap. Ye Tianhong segera menghadangnya dengan tongkat peraknya, sementara Linglong menarik tombaknya dan siap untuk membantu. Feng merasakan energi kalungnya mulai mengalir dengan kuat, matanya menyala dengan cahaya keemasan saat dia menghadapi pembunuh orang tuanya untuk kedua kalinya.
“Waktunya untuk membayar dosamu!” teriak Feng dengan suara yang penuh kemarahan tapi juga tenang. Dia tahu bahwa pertempuran yang sebenarnya sudah dimulai—pertempuran yang akan menentukan nasib seluruh Tanah Seribu Pegunungan.
Di luar kompleks, hujan masih turun deras, menyembunyikan suara pertempuran yang sedang terjadi di dalam. Tapi beberapa orang yang melihat dari kejauhan menyaksikan bagaimana cahaya keemasan dan hitam saling bertempur di antara gedung-gedung kompleks Keluarga Ye, seperti dua ular besar yang sedang berkelahi di malam yang gelap.