NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Terindah

Ta'Aruf Terindah

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kartu Terakhir Clara

Langit Jakarta mendung sejak pagi. Awan kelabu menggantung rendah di antara gedung-gedung tinggi, seolah menahan hujan yang tak kunjung turun. Di sebuah apartemen kawasan Sudirman, Clara berdiri di depan jendela, menatap kota yang pernah menjadi saksi kisahnya bersama Ragnar.

Tangannya menggenggam sebuah map cokelat tua.

Di dalamnya, tersimpan sesuatu yang selama ini ia rahasiakan.

“Aku tidak ingin menghancurkanmu, Rag…” gumamnya pelan. “Tapi kau harus bertanggung jawab pada masa lalu.”

Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal—yang sebenarnya sangat ia kenal.

Semua dokumen sudah siap. Tinggal tunggu instruksi.

Clara menarik napas panjang. Ia tidak pernah membayangkan akan sampai pada titik ini. Tapi ketika ia melihat Ragnar benar-benar serius dengan Yasmin, sesuatu dalam dirinya terasa terancam. Bukan karena ia masih mencintai Ragnar—atau mungkin iya, sedikit—melainkan karena ada hal yang belum selesai.

Dan rahasia itu kini siap dibuka.

________________________________________

Sementara itu di Ciwidey, Yasmin tengah membantu ibunya di dapur. Aroma bawang goreng dan daun bawang memenuhi udara. Hatinya lebih tenang beberapa hari terakhir. Ragnar tampak lebih terbuka. Mereka berbicara panjang tentang masa lalu, tentang harapan, tentang ketakutan.

Namun ketenangan itu terasa rapuh.

“Min,” panggil ibunya lembut, “kamu yakin dengan pilihanmu?”

Yasmin tersenyum kecil. “InsyaAllah, Bu. Yasmin tidak ingin terburu-buru. Tapi Yasmin melihat kesungguhan dalam dirinya.”

Ibunya mengangguk pelan. “Laki-laki yang pernah jatuh dan bangkit, biasanya lebih menghargai kehidupan. Tapi tetap… hati-hati.”

Yasmin tahu ibunya benar.

Sore itu, Ragnar datang membawa wajah yang tidak biasa. Tidak setenang biasanya.

“Ada apa, Kang?” tanya Yasmin ketika mereka berjalan menyusuri kebun teh.

Ragnar berhenti. Tatapannya dalam.

“Aku dapat telepon dari seseorang di Jakarta. Tentang proyek lama yang pernah aku tangani… sebelum aku memutuskan keluar.”

Yasmin menunggu.

“Proyek itu ternyata bermasalah. Ada manipulasi data keuangan. Dan namaku masih tercatat sebagai penanggung jawab.”

Yasmin terdiam.

“Itu tidak sepenuhnya salahku,” lanjut Ragnar cepat. “Tapi aku memang tahu ada yang tidak beres waktu itu… dan aku memilih diam.”

Angin sore berembus lebih kencang. Daun-daun teh bergoyang pelan.

“Apakah ini akan berpengaruh besar?” tanya Yasmin pelan.

Ragnar mengangguk. “Bisa saja. Jika kasus itu dibuka kembali, reputasiku bisa hancur. Bahkan mungkin berurusan dengan hukum.”

Yasmin merasa dadanya sesak. Bukan karena takut pada skandal, tapi karena ia menyadari—ujian ini lebih besar dari sekadar bayangan mantan kekasih.

“Kang… kenapa sekarang muncul lagi?”

Ragnar menatap jauh ke perbukitan. “Aku tidak tahu pasti. Tapi aku merasa… ini bukan kebetulan.”

Di Jakarta, Clara menutup laptopnya perlahan.

________________________________________

Malam itu hujan akhirnya turun. Deras. Membasahi Ciwidey dalam dingin yang lebih pekat.

Yasmin tidak bisa tidur. Ia memikirkan kata-kata Ragnar. Manipulasi data. Diam atas ketidakjujuran. Tanggung jawab.

Ia teringat satu hal yang selalu ia pegang: pernikahan dibangun di atas kejujuran dan keberkahan.

Ponselnya berbunyi.

Sebuah email masuk.

Tanpa nama pengirim yang jelas.

Tangannya gemetar saat membukanya.

Terlampir beberapa dokumen—laporan keuangan, tanda tangan digital, dan… nama Ragnar terpampang jelas di sana.

Di bagian bawah email hanya tertulis satu kalimat:

Apakah kamu siap menikah dengan lelaki yang menyimpan dosa seperti ini?

Air mata Yasmin jatuh tanpa suara.

________________________________________

Keesokan paginya, Ragnar menerima telepon dari pengacaranya di Jakarta.

“Kasus lama itu resmi dibuka kembali,” kata suara di ujung sana. “Ada yang melaporkan ulang dengan bukti baru.”

“Bukti apa?” tanya Ragnar tegang.

“Dokumen internal. Sepertinya seseorang menyimpannya cukup lama.”

Ragnar menutup mata.

Ia tahu siapa yang punya akses dokumen itu.

Clara.

Bukan karena ia ingin menjebaknya—atau mungkin iya—tapi karena Clara pernah menjadi bagian dari tim proyek tersebut.

Ragnar segera menghubungi Yasmin.

Namun panggilannya tidak diangkat.

________________________________________

Yasmin duduk di musala kecil rumahnya. Air matanya sudah kering, tapi hatinya belum.

Ia tidak marah.

Ia hanya merasa… takut.

Takut jika semua ini adalah tanda bahwa jalan mereka memang tidak akan mudah. Takut jika masa lalu Ragnar lebih gelap dari yang ia bayangkan.

Pintu rumah diketuk.

Ragnar berdiri di sana, wajahnya tegang, basah oleh sisa hujan.

“Fi… aku tahu kamu menerima email itu.”

Yasmin menatapnya. Tidak ada kemarahan di sana. Hanya kesedihan.

“Apakah itu benar, Kang?”

Ragnar tidak langsung menjawab.

“Aku tahu ada manipulasi,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak melakukannya. Aku hanya… tidak melaporkannya.”

“Kenapa?”

“Karena waktu itu aku pengecut,” jawabnya lirih. “Aku takut kehilangan posisi. Takut reputasiku rusak. Dan aku memilih diam.”

Keheningan menggantung berat.

“Diam dalam kebatilan tetap bagian dari kesalahan, Kang,” bisik Yasmin.

Ragnar menunduk. “Aku tahu.”

Air mata kembali mengalir di pipi Yasmin.

“Kenapa tidak kau ceritakan sejak awal?”

“Aku malu,” jawab Ragnar jujur. “Aku ingin kau melihatku sebagai lelaki yang sudah berubah. Aku takut kau pergi jika tahu semuanya.”

Yasmin memejamkan mata.

“Inilah ujian sebenarnya, Kang,” katanya pelan. “Bukan Clara. Bukan masa lalu percintaanmu. Tapi keberanianmu menghadapi kesalahan.”

Ragnar menatapnya, mata penuh penyesalan.

“Aku siap bertanggung jawab. Jika harus menghadapi hukum, aku akan hadapi. Jika reputasiku hancur, biarlah. Aku tidak ingin membangun rumah tangga di atas kebohongan.”

Yasmin terdiam lama.

Hatinya berperang.

Di satu sisi, ia melihat ketulusan dan penyesalan yang nyata. Di sisi lain, ia sadar konsekuensinya bisa panjang dan melelahkan.

“Beri aku waktu, Kang,” ucapnya akhirnya. “Aku perlu istikharah. Aku perlu memastikan bahwa aku menikah bukan hanya dengan lelaki yang aku cintai… tapi dengan lelaki yang berani memperbaiki kesalahannya.”

Ragnar mengangguk pelan.

“Aku akan menunggu.”

________________________________________

Di Jakarta, Clara menerima kabar bahwa kasus itu resmi diproses.

Ia duduk diam lama.

Hatinya tidak selega yang ia kira.

Ia membuka media sosial—melihat foto Ragnar di Ciwidey beberapa minggu lalu. Wajahnya berbeda. Lebih tenang.

“Kenapa kamu membuatku merasa bersalah, Rag…” bisiknya.

Ia tidak tahu bahwa langkahnya kali ini bukan hanya menguji Ragnar.

Tapi juga menguji kekuatan cinta Yasmin.

________________________________________

Di Ciwidey, kabut turun lebih cepat sore itu.

Yasmin berdiri sendirian di tengah kebun teh. Angin menerbangkan ujung jilbabnya.

Ia berdoa dalam diam.

“Ya Allah… jika dia adalah jodohku, kuatkan aku untuk mendampinginya melewati badai. Tapi jika ini akan menjauhkan kami dari keberkahan-Mu, pisahkanlah dengan cara terbaik.”

Dari kejauhan, Ragnar berdiri memandangnya.

Untuk pertama kalinya, ia sadar—

Ta’aruf ini bukan lagi tentang dua hati yang saling mengenal.

Ini tentang dua jiwa yang diuji kejujurannya.

Dan badai sebenarnya baru saja dimulai.

1
Alvaraby
namanya juga novel 🤣
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
bukannya kecelakaan motor????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kok mbulet y thor,,,,kan diawal sudah dijelaskan masa lalu yang hampir menikah namanya Clara,,,,awal awal ceritanya bagus pertengahan kok mbulet gini????
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
Clara gak ada nyerah nyerahnya y
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
lanjut,,,,,😍😍😍😍😍😍
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
penasaran lanjut,,,
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
masa SMP udah gak ingat wajahnya Yasmin???
🪴🍓🌟💫sangdewi💫🌠💐🏵️
kata katanya tertata rapi banget thor,,,, lanjut semangat berkarya 💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!