Linggar adalah seorang sekretaris cerdas dan berhati emas, namun ia selalu merasa rendah diri karena tubuhnya yang gemuk. Karena desakan adiknya, Nadya, Linggar akhirnya mencoba peruntungan di aplikasi kencan. Takut ditolak karena fisiknya, ia nekat menggunakan foto cantik adiknya sebagai profil.
Di dunia maya, ia bertemu dengan Rangga, pria tampan dan karismatik yang jatuh cinta pada kepribadian Linggar. Namun, Rangga mengira ia sedang jatuh cinta pada wanita di foto tersebut.
Dunia Linggar runtuh saat ia menyadari bahwa Rangga adalah CEO baru di kantornya—bos besarnya sendiri. Kini, Linggar terjebak dalam dilema besar: tetap bersembunyi di balik identitas palsu atau mempertaruhkan segalanya untuk menunjukkan bahwa yang patut dicintai adalah hatinya, bukan sekadar wajah di foto itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Jalanan malam ini seolah ikut berduka. Di dalam kabin mobil yang melaju membelah kegelapan, Rangga mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Napasnya memburu, sesak oleh rasa dikhianati yang membakar dada.
"ARGHHHH!" Rangga berteriak sekencang-kencangnya, suara baritonnya memenuhi ruang sempit mobil itu, bersaing dengan deru mesin yang ia paksa bekerja maksimal.
Dua kepribadian yang ia puja, Linggar sang sekretaris andalan dan Nadya sang kekasih impian ternyata adalah satu orang yang sama.
Satu orang yang telah menipunya mentah-mentah.
Brak! Brak!
Tangan kanannya memukul setir mobil berkali-kali dengan penuh emosi.
"Kenapa, Linggar?! Kenapa harus kamu?!" isaknya frustrasi.
Air mata yang jarang ia keluarkan kini mengalir deras, membasahi wajah tampannya yang mengeras karena luka.
Ia merasa seperti badut yang sedang ditertawakan oleh takdir.
Sementara itu, di depan Cafe House, Linggar berdiri mematung.
Bayangan lampu belakang mobil Rangga perlahan menghilang di tikungan jalan, membawa pergi separuh jiwanya.
Harapannya untuk mendapatkan pengampunan musnah seketika.
"Rangga..." bisiknya parau, sebelum akhirnya tangisnya pecah menjadi isakan yang tak terkontrol.
Linggar mulai berjalan dengan langkah gontai, sampai pergelangan kakinya yang baru saja sembuh dari keseleo kembali berdenyut sakit, namun rasa nyeri itu sama sekali tidak sebanding dengan hancurnya hatinya.
Tiba-tiba, langit seolah tak lagi mampu menahan bebannya.
Petir menyambar dengan kilatan yang membutakan, disusul oleh guyuran hujan deras yang langsung membasahi tubuh Linggar dalam sekejap.
Air hujan yang dingin menusuk kulitnya, namun Linggar terus melangkah.
Ia berjalan di trotoar yang mulai sepi, melewati lampu-lampu toko yang berpendar remang.
Rambutnya yang indah kini lepek menempel di wajah, dan pakaiannya melekat erat di tubuhnya yang berisi.
Beberapa orang yang berteduh di halte menatapnya dengan pandangan kasihan melihat seorang wanita menangis sesenggukan di bawah hujan lebat tanpa peduli pada diri sendiri.
"Lihat itu, kasihan ya..." bisik salah satu orang yang lewat.
Linggar tidak peduli dengan keadaannya sekarang.
Ia tidak peduli jika orang kembali mengejeknya sebagai 'babi yang malang'. Pikirannya hanya dipenuhi oleh wajah kecewa Rangga.
"Aku memang pantas mendapatkan ini," isak Linggar di sela derasnya hujan.
"Aku memang pantas dibenci."
Langkah kakinya membawanya semakin dekat ke rumah, namun rumah itu tidak lagi terasa hangat baginya.
Di tengah badai malam itu, Linggar menyadari bahwa ia baru saja kehilangan pria yang mencintainya bukan karena fotonya, melainkan pria yang ia khianati justru saat ia sedang belajar untuk mempercayai cinta itu sendiri.
Suara guntur masih bersahutan di langit Jakarta saat Linggar tiba di depan pintu rumahnya.
Seluruh tubuhnya basah kuyup, pakaian kantor yang ia kenakan kini terasa seperti beban ribuan ton yang menariknya ke bawah.
Dengan tangan yang gemetar hebat, ia mengetuk pintu kayu itu dengan sisa tenaganya.
Tok... tok... tok...
Pintu terbuka dengan cepat. Nadya berdiri di sana dengan wajah yang seketika pucat pasi.
"Astaghfirullah, Mbak!" pekik Nadya tertahan.
Ia melihat kakaknya berdiri dengan tatapan kosong, bibirnya sudah membiru karena kedinginan, dan air matanya terus mengalir bersatu dengan air hujan.
Tanpa banyak bicara, Nadya segera menarik Linggar masuk.
Ia berlari mengambil handuk besar dan membungkus tubuh Linggar yang menggigil hebat.
Nadya dengan telaten mengeringkan rambut dan wajah kakaknya, namun isak tangis Linggar justru semakin menjadi-jadi.
"Dia marah, Nad. Rangga membenciku. bisik Linggar dengan suara yang hampir habis.
"Sshhh... Mbak, tenang dulu," hibur Nadya sambil mendekap bahu kakaknya yang terus terguncang.
"Aku mencintai Rangga, Nad. Aku sangat mencintainya, tapi aku sudah merusak segalanya," rintih Linggar lagi.
Rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan daripada hawa dingin yang menusuk tulang.
Nadya menatap kakaknya dengan iba. "Sekarang Mbak ganti baju dulu. Nadya ambilkan pakaian kering, ya? Aku nggak mau Mbak Linggar kenapa-napa,"
Nadya bergegas ke kamar, meninggalkan Linggar yang masih mematung di ruang tamu, meratapi kenyataan bahwa pria yang ia puja kini mungkin telah menganggapnya sebagai musuh terbesar.
Di sisi lain kota, dentuman musik techno yang memekakkan telinga memenuhi sebuah klub malam eksklusif.
Di pojok bar yang remang, Rangga duduk dengan beberapa botol whisky yang sudah kosong di hadapannya.
Rangga, yang biasanya dikenal sebagai CEO yang dingin, disiplin, dan benci mabuk-mabukan, kini terlihat sangat berantakan.
Dasinya sudah entah ke mana, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka.
Setiap tegukan minuman keras itu ia harap bisa membilas bayangan wajah Linggar dari ingatannya, namun semakin ia minum, semakin rasa sakit itu mencengkeram.
"Lagi!" teriak Rangga sambil menggebrak meja bar saat pelayan ragu untuk menuangkan gelas berikutnya.
"Maaf, Pak, Anda sudah minum terlalu banyak," ucap pelayan itu sopan.
"Jangan mengaturku! Kamu tahu siapa aku?!"
Rangga berdiri dengan sempoyongan, ia menyenggol gelas hingga pecah berantakan di lantai.
"Dia membohongiku! Dia menjadikan aku bahan lelucon!"
Rangga mulai berbuat onar. Ia mendorong seorang pria yang kebetulan lewat hingga terjadi keributan.
Beberapa petugas keamanan segera datang untuk menahannya, namun Rangga terus memberontak dengan liar, meneriakkan nama Linggar di tengah kemarahannya yang membabi buta.
Melihat situasi yang semakin tidak terkendali, manajer klub segera mengambil ponsel milik Rangga yang tergeletak di meja.
Ia mencari kontak terakhir yang dihubungi atau nomor darurat.
"Halo? Ini dari Blue Night Club. Pemilik ponsel ini, Pak Rangga Steward, terlibat keributan dan mabuk berat. Tolong segera dijemput sebelum kami menyerahkannya ke pihak kepolisian."
Manajer klub malam itu terlihat sangat cemas melihat Rangga yang terus berteriak frustrasi di bawah pengawalan ketat petugas keamanan.
Beruntung, saat ia menggeledah kontak darurat di ponsel mahal itu, ia menemukan nama Maya.
Hanya butuh waktu dua puluh menit bagi Maya untuk sampai di lokasi.
Wanita atletis itu melangkah masuk ke dalam klub dengan raut wajah yang sangat serius.
Begitu melihat Rangga yang terkulai di sofa dengan pakaian berantakan dan aroma alkohol yang menyengat, Maya menghela napas panjang.
"Pak Rangga, cukup," ucap Maya tegas namun lembut.
Ia segera menyelesaikan urusan administrasi dan ganti rugi atas keributan yang dibuat Rangga.
Bagi Rangga, Maya bukan sekadar asisten di gym miliknya. Maya adalah sosok yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri; kakak perempuan yang tahu kapan harus bersikap keras dan kapan harus merangkulnya.
"Linggar... kenapa, Maya? Kenapa dia menipuku?" racun Rangga meracau saat Maya memapahnya menuju mobil. Tubuhnya yang besar terasa sangat berat, namun Maya yang terbiasa dengan latihan beban mampu menahannya.
Maya tidak menjawab. Ia fokus membawa Rangga menuju apartemen mewah milik sang CEO di pusat kota.
Sesampainya di apartemen, Maya membaringkan Rangga di atas ranjang king size-nya yang luas.
Pria itu tampak sangat rapuh, jauh dari imej CEO Steward’s Group yang perkasa.
Rangga terus bergumam tidak jelas, air mata membasahi bantal sutranya.
Maya melepas sepatu Rangga dan menyelimutinya.
Ia mengambil air hangat dan handuk kecil untuk menyeka wajah pria itu.
"Kamu mencintainya, Rangga. Itulah kenapa rasanya sesakit ini," bisik Maya sambil menatap kasihan pada pria yang sudah ia anggap adiknya sendiri itu.
Tiba-tiba tangan Rangga mencengkeram lengan Maya dengan kuat, matanya terbuka sedikit, menatap dengan pandangan kosong.
"Dia membohongiku, Maya. Dia berpura-pura menjadi orang lain. Semua kata manis itu, apa semuanya palsu?"
Maya mengusap dahi Rangga untuk menenangkannya.
"Dia membohongimu soal identitasnya, itu benar. Tapi aku melihat matanya saat di gym tempo hari, Rangga. Rasa kagum dan ketulusannya padamu itu nyata. Kadang orang melakukan kesalahan besar karena mereka terlalu takut untuk ditolak."
Rangga tidak membalas lagi. Ia memalingkan wajah, terlelap karena pengaruh alkohol yang sangat kuat, meninggalkan Maya yang terduduk di sisi ranjang sambil merenungi kerumitan hubungan antara bosnya dan sang sekretaris.