EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamera CCTV
Mendung menggantung rendah di atas langit Pesantren Al-Anwar sore itu.
Angin dingin berhembus membawa aroma tanah basah, memaksa para santri segera menyelesaikan tugas piket halaman dan bergegas menuju masjid.
Di tengah suasana yang mulai remang, Zunaira berjalan menyusuri selasar menuju perpustakaan pusat pesantren.
Ia membutuhkan beberapa referensi tambahan dari kitab Fathul Mu’in untuk materi pelajarannya besok pagi.
Perpustakaan itu adalah bangunan tua dengan langit-langit tinggi dan rak-rak kayu yang dipenuhi ribuan kitab kuning yang sudah mulai menguning dimakan usia.
Baunya khas yaitu campuran kertas lama, debu halus dan kapur barus, di jam sesunyi ini, biasanya hanya ada satu atau dua santri pengabdian yang berjaga di meja depan.
Zunaira melangkah ke lorong paling pojok, bagian kitab-kitab fiqh tingkat lanjut.
Saat ia sedang memindai judul-judul di rak setinggi kepalanya, sebuah tangan dengan jari-jari bersih dan jemari yang kokoh terlebih dahulu meraih kitab yang ia cari.
Zunaira tersentak dan hampir saja menjatuhkan tas kecilnya, ia menoleh dan mendapati Gus Azlan berdiri tepat di sampingnya.
"Mencari ini Ustadzah?" tanya Gus Azlan.
Suaranya rendah, hampir menyerupai bisikan, namun getarannya terasa hingga ke dada Zunaira.
"Gus... Mas..." Zunaira meralat panggilannya dengan cepat setelah melirik ke ujung lorong dan memastikan tidak ada orang.
"Nggih, saya butuh referensi untuk kelas besok." jawab Zunaira lembut.
Gus Azlan tidak segera menyerahkan kitab itu, ia justru berdiri bersandar pada rak kayu dan menatap istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan yaitu campuran antara kerinduan yang tertahan dan kekaguman yang dalam.
Di bawah lampu neon yang sedikit berkedip, wajah Zunaira nampak sangat teduh meski terlihat sedikit lelah.
"Ayam goreng dan sambal bajakmu kemarin... itu adalah alasan aku sanggup menyelesaikan rapat koordinasi sampai tengah malam." bisik Gus Azlan, senyum kecil terukir di bibirnya.
"Terima kasih Zu, tapi tolong jangan terlalu memaksakan diri di dapur karena aku tidak mau tangan yang biasanya memegang kitab ini terluka karena pisau atau terkena minyak panas." ucap Gus Azlan dengan serius.
Zunaira menunduk dan pipinya menghangat seketika dengan ucapan yang begitu penuh kasih dari sang suami.
"Itu kewajiban saya Mas, justru saya yang merasa bersalah karena hanya bisa memberikan itu secara sembunyi-sembunyi." sahut Zunaira.
Gus Azlan hendak mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Zunaira, sebuah dorongan naluriah seorang suami yang ingin menenangkan istrinya.
Namun gerakannya terhenti di udara, matanya menangkap titik merah kecil di pojok plafon.
Kamera CCTV.
Meskipun kualitasnya tidak terlalu tajam, kamera itu terhubung langsung ke ruang keamanan pusat yang dijaga oleh para pengurus senior.
Gus Azlan segera menarik tangannya kembali, menggantinya dengan gerakan formal seolah sedang menjelaskan isi kitab.
"Perhatikan bab ini, Ustadzah." ujar Gus Azlan dengan suara yang tiba-tiba dikeraskan, sedikit lebih tegas agar jika ada audio yang terekam, semuanya terdengar profesional.
"Penjelasan tentang syarat sah di sini sangat krusial jadi jangan sampai ada santriwati yang salah paham." seru Gus Azlan.
Zunaira yang cerdas segera menangkap isyarat itu, ia ikut melihat ke arah kitab dan pura-pura menyimak dengan serius.
Namun di bawah meja rak yang menutupi pandangan kamera dari pinggang ke bawah, jari-jari Gus Azlan dengan berani meraih ujung jari Zunaira dan menggenggamnya erat selama beberapa detik.
Genggaman itu adalah pesan tanpa kata yaitu 'Aku di sini. Aku milikmu. Bersabarlah.'
Zunaira merasa jantungnya seolah ingin melompat keluar, di atas mereka bicara soal fiqh dan hukum agama dengan wajah kaku tapi di bawah, ada aliran kasih sayang yang berusaha menembus dinding kerahasiaan.
"Nggih Gus, saya mengerti. Terima kasih atas arahannya." jawab Zunaira dengan suara yang sedikit bergetar.
Sesaat kemudian, terdengar langkah kaki kecil yang berlari di lorong perpustakaan.
"Paman Azlaaan! Paman dicari Kakek!" seru bocah kecil itu.
Itu Naura, bocah kecil itu muncul dari balik rak dengan nafas terengah-engah.
Di belakangnya ada Mbak Hana menyusul dengan wajah meminta maaf karena membiarkan putrinya berlari di tempat sunyi.
"Eh ada Ustadzah Zu juga?" tanya Mbak Hana sambil tersenyum penuh arti saat melihat posisi Azlan dan Zunaira yang berdiri cukup dekat.
"Nggih Mbak, tadi saya sedang bertanya soal referensi kitab pada Gus Azlan." Zunaira segera mengambil jarak, mencoba bersikap senormal mungkin.
Naura menarik-narik sarung Gus Azlan.
"Paman ayo pulang ke rumah, tadi Naura lihat ada burung merpati masuk ke kamar Paman. Burungnya warnanya putih, cantik kayak Ustadzah Zu!" ujar bocah itu.
Gus Azlan tertawa, lalu menggendong Naura ke dalam dekapannya.
"Masa burungnya cantik kayak Ustadzah? Memangnya Naura tahu Ustadzah Zu cantik?" tnya Gus Azlan memancing jawaban jujur sang ponakan.
"Tahu dong! Kan Naura sering lihat Ustadzah Zu shalat di masjid dan wajahnya bersinar." jawab Naura polos.
Mbak Hana mendekat ke arah Zunaira dan berbisik pelan.
"Sabar ya Zu, Naura ini memang CCTV berjalan tapi tenang saja dia sayang sekali padamu, tadi di rumah dia terus-terusan bertanya kapan Ustadzah Zu main ke rumah lagi untuk makan kue." seru mbak Hana.
Zunaira hanya bisa tersenyum haru, di tengah tekanan dari luar ada keluarga Kyai Hamid adalah oase baginya.
Mereka tidak hanya menerimanya sebagai istri Gus Azlan, tapi juga memperlakukannya sebagai bagian dari jiwa keluarga itu sendiri.
Sebelum mereka berpisah di depan pintu perpustakaan Gus Azlan berhenti sejenak, ia melihat beberapa santri yang sedang lalu lalang lalu ia menatap Zunaira untuk terakhir kalinya sore itu.
"Ustadzah Zunaira." panggil Gus Azlan dengan nada formal namun penuh penekanan.
"Ingatlah apa yang pernah disampaikan oleh Imam Syafi’i tentang ilmu. Beliau berkata:
"Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang melakukan maksiat."
"Maka, dalam menjaga hubungan kita meski dalam rahasia jangan pernah tinggalkan kejujuran kepada Allah, biarlah manusia tidak tahu asalkan Allah rida dengan cara kita menjaga kehormatan satu sama lain." tutur Gus Azlan.
Zunaira mengangguk takzim dan penuh hormat kepada Gus nya sekaligus suaminya itu.
"Nggih Gus, pesan itu akan selalu saya simpan." seru Zunaira.
Azlan berjalan pergi bersama Mbak Hana dan Naura, sementara Zunaira berdiri mematung memegang kitab Fathul Mu’in di dadanya.
Ia merasa seolah-olah baru saja mendapatkan siraman air dingin di tengah padang pasir.
Zunaira tidak menyadari bahwa di balik pilar besar di dekat pintu keluar perpustakaan, seseorang sedang memperhatikan interaksi tersebut dengan mata yang menyipit.
Itu adalah salah satu pengurus keamanan yang juga merupakan orang kepercayaan keluarga Kyai Mansur.
Ia mencatat sesuatu di buku kecilnya, baginya interaksi antara Gus Azlan dan Ustadzah Zunaira di perpustakaan tadi meski nampak formal tapi terasa terlalu lama dan terlalu bergetar untuk ukuran seorang guru dan pengasuh.
"Ada yang tidak beres." gumam pengurus itu.
Zunaira berjalan kembali ke asramanya saat rintik hujan mulai turun satu per satu.
Ia merasa bahagia namun ada firasat kecil yang mulai menusuk hatinya, ia tahu bahwa rekaman CCTV dan mata-mata pesantren adalah ujian berikutnya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...