NovelToon NovelToon
Antara Dua Pilihan Hati

Antara Dua Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Misteri / Perjodohan / Romantis / Pengantin Pengganti / Komedi
Popularitas:606
Nilai: 5
Nama Author: Gurania Zee

Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

"Maksud Elo Sen?,.." Arden yang berada diujung telepon yang masih tersambung itupun langsung terdiam beberapa detik lamanya. Suara nafasnya saja berat terdengar seperti saat sedang menahan sesuatu.

"Hmm gini bro, maksud gue,..gimana ya gue ngomongnya susah kalo diceritain." ucap Arsen..

"Yang serius bro, gue enggak lagi bercanda ini teh?."

"sama gue juga serius kali bro, jadi gini maksud gue Den, kalai seumpamanya orang ini sampai segitunya nagih utang piutang bokapnya si Lola. Nih orang sumpah bahaya banget Broo, bisa lakuin apa aja tau nggak." jawaban Arsen sedikit pelan tapi cukup membuat Arden langsung mengepalkan tangannya erat. Sedangkan Arsen masih terpaku kedua netranya pada layar tersebut.

"Jadi maksud elo, si Lola bisa jadi tumbal alias sasaran empuk mereka, gitu?."

"Iyapz betul banget Broo."

"Gue balik sekarang." telpon pun langsung terputus.

#####

Diruang tengah Rumah itu, suasana yang tadinya ceria dan penuh tawa berubah dalam sekejap penuh Ketegangan. Prasha sampai berdiri dan mengacak rambut "Anjir,..ini sih enggak bisa dibiarin bro,"

Aluna menatap layar itu dengan wajah yang cemas sekaligus khawatir. "Mas, jadi Lola gimana?, kasian dia?." ucap Aluna pada Prasha dan Arsen menoleh pada keduanya.

"Bukan cuma bantu Lun, tapin emang harus cepet action ngeri si lola yang jadi korbannya."ucap Arsen.

Soalnya yang jadi pertanyaan disini tuh, bukan masalah perihal utang piutangnya yang bikin bahaya Lun, tapi dia pinjem ke siapa dulu sampai seribet ini masalahnya." jelas Arsen lagi.

"Maksud mas Arsen?."

"Iya, bokapnya si Lola itu berurusannya sama orang paling bahaya di kampung itu Lun, cara nagihnya aja amit amit nauzubillah min dzalik deh jangan sampai si Lola jadi korbannya."

"Ikh mas Arsen mah bikin takut orang aja, seriusan mas?."

"Iya lunaa, gue enggak bohong ini data yang gue dapet dari orang kepercayaan gue." ucap Arsen saking gemasnya. Lalu menoleh pada Prasha. "Elo punya bekingan ga, Jo?, yang bisa bantu masalah si Lola ini, kita butuh preman diatas ini yang ditakuti, tapi jangan yang Abal Abal, kita mesti nyari preman ya g udah insaf tapi masih mau bantu orang kesusahan kaya si Lola."

Prasha tengah berpikir, dan pada akhirnya ia tersenyum. "Santai, urusan itu elo juga kenal."

"Hah, serius saja, siapa jelemanya?."

"Mr x."

"What, kakek elo hahaha iya juga ya gue enggak kepikiran sama sekali, kemaren kasus kebongkar aja gegara kakek elo ya bro hahaha." ucap Arsen ngakak.

"Ok gaslah kalo gitu."

"Di pikir pikir rumah catur penghuninya paket komplit juga ya berbagai bidang hahaa, permistikan ada, entertainment ada, sekarang pertemanan juga gabusah ditanya CK!."

ketiganya pun hanya mengangguk diselingi tawa ciri khasnya masing masing. Namun belum sempat mereka lanjut bicara ponsel Aluna berdering, bersamaan pesan yang baru saja masuk di ponsel Arsen. Hanya saja Arsen belum sempat membukanya.

"Mas, Luna jawab telp dulu dari ayahnya mas Arsen?."

"Oh yaudah jawab."

"Tumben si ayah telpon elo lun, sampe lupa sama anaknya sendiri." celetuk Arsen dengan wajah sedih yang dibuat buat.

Aluna pun menjawab telpon tersebut, kebetulan ayah Arsen sengaja berada di Singapur atas keinginan sendiri. Karena tidak mau mengganggu kegiatan anak anaknya. Aluna harus fokus sekolah dan Arsen harus fokus pada karirnya.

Ayah Arsen begitu sayang pada Aluna semenjak Aluna masih bayi sudah membuatnya jatuh cinta ingin sekali dulu ia memiliki anak perempuan tapi selalu yang berojol hasilnya laki laki lagi padahal sudah banyak mengkonsumsi apapun yang disarankan.

Tapi takdir berkata lain, memang sudah jalannya ia harus mengangkat Aluna menjadi anaknya karena rasa bersalahnya pada ayah Aluna. Karena dulu sempat hampir saja terlibat lebih dalam pada kasus sabotase yang di alami ayah kandung Aluna hingga tewas saat kecelakaan beruntun saat itu.

"Luna?."

"Iya yah, kamu kesini ya."

"Kenapa yah, ada kabar apa soal kak Arden?." tanya Luna.

"Kakakmu disini semakin kritis nak kondisinya, dokter menyarankan agar salah satu keluarga kandung datang antisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak bisa,..."

Degh! Jantung Aluna tiba tiba saja berdetak begitu cepat, Di sebrang sana, Aluna langsung terdiam membeku, dengan ekspresi wajah seperti hendak menangis. Semua begitu nampak terlihat di kedua netra Prasha saat itu yang begitu memperhatikannya dengan seksama.

"Lun, kenapa?." tanya Arsen berbisik pelan saking penasarannya.

Tak lama telpon pun terputus. "Lun tadi si ayah bilang apa?." tanya Arsen lagi, saking penasaran.

"Kata ayah,." ucap Luna terbata yang langsung terduduk dengan Isak tangisnya sambil menutupi wajahnya.

"Ayah bilang, kak Arden kritis Luna disuruh kesana sekarang."

"Serius lun Yallah moga enggak kenapa napa sama Kak Arden, mana kak Arden masih muda belum merit pula." ucap Arsen. Prasha memeluk Aluna, menenangkannya. Arsen langsung mengalihkan pandangannya langsung ke arah layar laptopnya meskipun hatinya merasa sesak saat itu. Ia hanya bisa memendam perasaannya dalam diam.

Aluna sempat terdiam sejenak, namun tak lama ia menoleh ke Prasha "Mas, Luna harus ke Singapura."

"Kapan?."

"Sekarang?."

Bak tersambar petir prasha saat itu, apalagi dirinya sedang sibuk sibuknya mengatasi masalah baru di perusahaan.

Tak lama terdengar suara pintu gerbang terbuka dengan berat, dan suara mobil yang masuk ke halaman rumah itu. Arden langsung berlari masuk menuju rumah itu tanpa basa-basi lagi.

Seketika langkahnya terhenti saat melihat wajah Aluna yang sembab seperti habis menangis. Ia langsung mendelik ke arah Prasha.

"Kenapa si Luna, lu apain bro?."

"Sembarangan lu kate main nuduh orang, gue ga apa apain si Luna dia nangis karena dapet kabar dari Singapur kalo kak Arden makin kritis kondisinya."

"Astaghfirullah, terus terus sekarang gimana jadinya??, kok bisa?."

"Si Luna disuruh ke Singapura sekarang."

"Buseeet, mendadak amat bro, gila ya timingnya serba enggak tepat enggak pernah enak gitu." ucap Arden menarik nafas panjang kemudian ia duduk mendekat ke arah Arsen dan menyeruput kopinya tanpa basa basi.

"Oke deh, kalo gitu kita bagi tugas aja biar fokus kita enggak buyar gimana?."

"setuju sih gue, soalnya dua duanya urgent."

"nah justru itu, elo Sha, elo temenin Aluna aja." titah Arsen tapi jangan lupa bujuk kakek elo juga ya Taulah tugas elo apa ga perlu guejabarin lagi ya." Prasha hanya mengangguk.

"Tapi Seb, gue titip kantor ya, elo tau kan disana juga lagi genting masalah proyek yang kemarin itu?."

"iya tenang gue yang urus."

"dan elo Den ntar kita bareng bareng urusin masalah si Lola."

"Oke thanks ya bro, coba mana gue liat data yang elo dapet, jadi penasaran gue."

"Tuh lihat sendiri saja sudah gue save di file."

"Tang mana?."

"Tuh ada tulisan nama filenya Arsen ganteng jangan disentuh Aw."

"Idih nama filenya jijay marijay amat bosku dah kaya bencos aja lu hahaha." ucap Arden sambil bergidik jijik. Seketika suasana kembali menghangat meski sempat tegang sesaat.

"Kamu tenang ya, semua pasti akan selesai satu persatu dan semoga kak Arden disana kuat bisa cepat diangkat penyakitnya kita disini bantu do'a kok."

"Thanks ya kakak kakakku, Luna sayang kalian." semua pun berhamburan memeluk Aluna. Dan tak lupa Arsen mengusap kepala Aluna.

Tidak menunggu waktu lama, Aluna langsung menuju kamarnya, membereskan beberapa helai pakaian yang ia masukkan ke dalam koper yang sudah setengah terbuka.

Ia memasukkan pakaiannya satu persatu dengan gerakan pelan. Tangannya beberapa kali sempat berhenti karena saat itu ia tidak bisa fokus karena memikirkan banyak hal. Memiliki kegiatan sekolah yang sebentar lagi aka menghadapi kelulusan, belum lagi masalah Lola yang barusan aja ia tahu. Sekarang ia malah harus pergi ke rumah sakit Singapore yang jaraknya bukan lagi dekat seperti ke luar kota. Semuanya terasa begitu datang bersamaan.

Prasha mengetuk pintu pelan, dan langsung membukanya begitu saja. Masuk tanpa banyak bicara. Ia berdiri didekat pintu memastikan Aluna baik baik saja.

"Kamu enggak sendiri lun." ucap Prasha. Prasha mendekat lalu meraih tangan Aluna untuk bangkit berdiri. Kedua tangannya memegang pipi Aluna dan menatapnya lekat.

Kedua nafas dan mata mereka pun begitu dekat dan beradu. Tak lama Aku ada disini, bakal temani kamu hmm, jangan sedih." Prasha mengecup kening Aluna lembut dan Aluna memejamkan matanya.

Tak lama keduanya saling memeluk erat, air mata Aluna kembali jatuh membasahi wajahnya saat itu. "Makasih ya mas, mas baik banget sama Luna?."

Tanpa mereka sadari seseorang merasa sesak ketik melihat adegan kemesraan mereka didalam kamar itu. Yang langsung ia mengalihkan pandangannya saat itu berjalan menuju area balkon dan langsung menyalakan sebatang rokok dan kopi yang kini menjadi teman saat suasana hanya begitu sunyi.

"Aku temani sampai bandara ya, nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabarin mas, mas akan susul kamu besoknya setelah urusan mas dikantor selesai enggak apa apakan?."

"Iya mas makasih ya."

"Hmm."

Dibalkon Arsen menyeruput kopinya yang barusan saja ia buat. Menatap langit sambil menghirup udara segar di kediaman rumah catur itu.

Namun pikirannya berkelakar masih terngiang rasanya ucapan Aluna yang menangis mengabarkan kakaknya dalam kondisi kritis. "Kak Arden kritis,..."

Namun Arsen hanya tersenyum tipis, seharusnya akunyang ada di dekat kamu lun, temani kamu disana," tapi Arsen berusaha untuk menerima dengan ikhlas meski berat.

Karena sejatinya adakalanya cinta tidak harus memiliki, begitulah pepatah mengatakan yang membuat Arsen menjadi sadar diri. Karena jodoh hidup mati tidak akan tau akan kemana dan sama siapa dikemudian hari.

"Jaga dia baik baik bro." gumamnya pada Prasha namun hanya dia ucapkan pada dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!