Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Kelola
Waktu bergulir cepat. Pagi sudah tiba, dan udara segar menyelinap masuk melalui celah-celah jendela rumah Gerard. Ia baru saja menyelesaikan olahraga kecil di halaman—beberapa gerakan peregangan dan lari-lari kecil—dan kini berdiri di teras, meneguk air mineral dari botol sambil sesekali melirik ke ponsel yang digenggamnya.
Kemarin, sebelum berpisah di pagar, ia dan Mawar akhirnya bertukar kontak. Gadis itu menerima dengan senyuman lebar, hampir tak percaya. Saat berbalik untuk pulang, Mawar bahkan tampak melompat kecil—seperti anak kecil yang baru dapat permen.
Dan pagi ini, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Mawar: "Selamat pagi, Kakak!" disertai stiker panda lucu yang sedang melambai.
Gerard tersenyum. Diketiknya balasan singkat, lalu ia memasukkan ponsel ke saku dan masuk ke rumah untuk mandi.
...*•*•*...
Satu jam kemudian, dengan rambut masih sedikit basah, Gerard duduk di kursi kayu di ruang tamu. Laptop terbuka di hadapannya, dan jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard.
Malam tadi, ia sudah menyusun rencana matang. Tiga miliar di rekening—jumlah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—kini akan ia kelola dengan hati-hati:
· Sebagian untuk donasi
· Sebagian masuk ke saham (riset sudah ia lakukan meski masih awam)
· Sisanya untuk dana darurat dan modal usaha kecil-kecilan
Ini baru awal, pikirnya. Aku harus menghargai setiap rupiah.
Sekarang, layar laptopnya menampilkan website Yayasan Peduli Kami. Gerard membaca setiap halaman dengan teliti—visi misi, program kerja, laporan keuangan, hingga daftar donatur. Yayasan ini sudah beroperasi sepuluh tahun, terdaftar resmi di Kemenkumham, dan semua laporan penggunaannya transparan.
Tak ada alasan untuk ragu.
Gerard menekan tombol Kontak Kami, lalu menulis email dengan hati-hati:
...~*•*•*~...
Kepada Yayasan Peduli Kami,
Saya Gerard Putra, ingin melakukan donasi dan membutuhkan informasi mengenai prosedur transfer serta dokumentasi yang akan diberikan. Mohon infonya.
Terima kasih.
...~*•*•*~...
Tak sampai lima menit, balasan masuk. Profesional, ramah, dan jelas. Mereka menjelaskan langkah-langkahnya dengan rinci—rekening resmi atas nama yayasan, konfirmasi yang diperlukan, hingga sertifikat donasi dan laporan berkala yang akan dikirimkan.
Gerard menghela napas lega. Gampang juga ternyata.
Kemudian ia membuka ponselnya lagi. Jarinya bergerak lincah di layar, masuk ke aplikasi mobile banking. Dengan hati-hati ia mengisi setiap kolom—nomor rekening tujuan, nominal, dan catatan singkat.
Rp200.000.000.
Jumlah yang cukup besar. Tapi Gerard sudah yakin. Nama penerima tertera jelas: Yayasan Peduli Kami, bukan nama pribadi. Rekening resmi atas nama yayasan. Itu sudah cukup sebagai jaminan.
Ia menarik napas, lalu menekan tombol konfirmasi. Memasukkan PIN.
Transfer berhasil.
Layar menampilkan notifikasi hijau disertai nomor referensi. Gerard mengambil screenshot, menyimpannya di galeri. Lalu ia membuka email, melampirkan bukti transfer itu, dan mengetik pesan singkat:
...~*•*•*~...
Kepada Yayasan Peduli Kami,
Saya lampirkan bukti transfer donasi sebesar Rp200.000.000 (dua ratus juta rupiah). Mohon konfirmasi setelah dana diterima. Terima kasih.
Salam,
Gerard Putra
...~*•*•*~...
Ia tekan send. Selesai.
Ponsel diletakkan di atas meja. Gerard bersandar, menatap langit-langit dengan perasaan aneh—ringan, tapi juga hangat. Donasi pertama dalam hidupnya. Bukan jumlah kecil, tapi rasanya... benar.
Beberapa menit kemudian, ponsel bergetar. Email balasan:
...~*•*•*~...
Yth. Bapak Gerard Putra,
Terima kasih banyak atas donasi Anda sebesar Rp200.000.000. Dana telah kami terima dengan baik. Sertifikat donasi akan kami kirimkan melalui email ini dalam 1x24 jam. Laporan penggunaan dana akan kami sampaikan secara berkala setiap tiga bulan.
Sekali lagi, terima kasih atas kepercayaan Bapak kepada Yayasan Peduli Kami. Semoga kebaikan Bapak dibalas berlipat ganda.
Salam hangat,
Rina Wijaya
Administrasi Yayasan Peduli Kami
...~*•*•*~...
Gerard tersenyum. Ini baru permulaan.
Ponsel dimasukkan ke saku, tapi senyum itu masih merekat di wajahnya. Ada kepuasan yang tak bisa dijelaskan—bukan karena uangnya berkurang, tapi karena ia tahu, uang itu akan pergi ke tempat yang tepat. Kehidupan orang lain mungkin akan berubah karenanya.
Keberuntungan ini harus dirasakan oleh semua orang.
Ia menghitung cepat di kepala. Dua ratus juta terpotong, menyisakan sekitar Rp2.849.467.000 di rekening. Masih sangat besar. Lebih dari cukup untuk membangun bisnis, berinvestasi, dan menjalani hidup tanpa khawatir.
Apalagi dengan hadiah dari Sistem yang akan terus berdatangan.
Ngomong-ngomong tentang Sistem, saat Gerard baru saja hendak beranjak dari kursi, panel biru itu tiba-tiba muncul lagi. Suaranya terdengar nyaring, tapi juga lembut. Namun begitu membaca isinya, mata Gerard terbelalak—tak percaya.
Sungguhan?
[Berdonasi]
[Status: Selesai]
[Hadiah: 3.200.000.000 IDR + Sebuah Restoran]
Ini bukan ucapan selamat pagi dari Sistem. Ini konfirmasi misi yang bahkan tak Gerard ketahui keberadaannya. Tapi mengingat pengalaman sebelumnya, ini bisa jadi misi tersembunyi yang tak sengaja ia picu.
Tapi... beneran? Bahkan berdonasi pun dikasih hadiah? Bukankah itu jadi riya?
Untuk pertama kalinya dalam menerima hadiah dari Sistem, Gerard menghela napas berat. Kepalanya menggeleng perlahan, perasaan aneh mengganjal di dada. Ia menatap panel biru itu dengan sorot campur aduk—antara penyesalan dan kepasrahan.
"Kamu bikin aku merasa bersalah..." gumamnya, kelopak mata terpejam sejenak. "Lain kali jangan masukin ini ke misi, meskipun aku nggak punya wewenang buat ngatur..."
Tak lama, Sistem muncul di sampingnya—wujud samar yang hanya bisa ia rasakan kehadirannya.
[Saya minta maaf atas kelalaian saya.]
[Saya hanya memberikan imbalan atas ketulusan Anda. Anggap saja sebagai karma baik.]
[Jika berkenan, Anda bisa menerimanya. Atau mungkin saya ubah hadiahnya?]
Gerard mendengarkan. Perlahan, ekspresinya melunak. Mungkin benar—karma baik berlaku untuk siapa pun. Menolak hadiah ini juga sama saja menolak rezeki. Lagipula, restoran itu... bisa ia gunakan untuk sesuatu yang lebih besar.
Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pasrah.
"Baiklah." Suaranya pelan. "Nggak masalah. Aku terima. Terima kasih."
[Saya senang mendengarnya.]
[Saya akan mendukung setiap keputusan Anda ke depannya!]
Gerard tersenyum tipis. Kehangatan kembali menyelimuti wajahnya. Ia bangkit dari kursi, melangkah ke kamar untuk berganti pakaian.
Meski hadiah ini perlu diperhatikan, ia ingin fokus pada hal lain hari ini. Sesuatu yang sudah lama menjadi rencana—dan baru bisa ia lakukan sekarang, di saat semua jadwalnya kosong.
Di depan cermin, ia berhenti. Jemarinya menekan sisi lemari, menatap bayangannya sendiri dengan tatapan tegas.
"Aku harus tebus kembali rumah itu..." gumamnya pelan. "Aku ingin tepati janji sama Mama."
...*•*•*...
Siang itu, matahari bersinar terik di atas kompleks perumahan yang tenang. Gerard duduk di balik kemudi mobil Camry silver-nya, menyalakan mesin setelah memastikan sabuk pengaman terpasang. Ia melirik sekilas ke arah rumah Mawar—pagar hitam itu tertutup rapat, dan tak ada tanda-tanda gadis itu akan muncul.
Syukurlah, pikirnya sedikit lega. Bukan karena ia tak ingin bertemu Mawar, tapi hari ini ia punya misi pribadi yang lebih baik dilakukan sendirian.
Mobilnya melaju pelan, keluar dari area perumahan dengan mulus. Tak ada yang menghalangi, tak ada yang mengejutkan. Pertukaran kontak dengan Mawar kemarin memang sangat membantu—gadis itu sempat mengabari bahwa ia akan pergi keluar hari ini untuk mengecek sesuatu, mungkin bermain atau urusan lain.
Gerard tersenyum tipis, membayangkan senyuman dan semangat Mawar yang selalu membara—mengiringinya sepanjang perjalanan yang berlangsung damai.
Tapi di balik bayangan itu, ia tak sadar bahwa ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan.
Di sudut jalan, di balik rindangnya pohon besar, seorang pria bersandar pada sepeda motor bututnya. Topi hitam menutupi sebagian wajahnya, namun sorot matanya tetap tajam menembus celah-celah dedaunan. Ia memperhatikan bagaimana mobil Camry itu keluar dari gerbang kompleks dengan tenang, melaju ke arah jalan raya.
Pria itu mengamati plat nomor. Mengamati arah. Mengamati segalanya.
Tak lama, ia mengangkat tangan, menekan earphone di telinga kanannya. Suaranya rendah, nyaris berbisik. "Bos... target sudah bergerak. Mobil Camry silver, plat B 2621 MG. Keluar dari kompleks sekitar lima menit lalu, arah ke timur."
Dari seberang, suara berat menjawab singkat. "Lanjutkan pantau. Jangan sampai kehilangan."
Pria itu mengangguk—meski tahu lawan bicaranya tak bisa melihat. "Siap."
Ia menyalakan mesin motor, perlahan mengikuti jejak mobil Camry yang mulai menjauh—seperti bayangan kematian.