Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 18 — “Perempuan Tanpa Harga Diri Itu Mudah Dihancurkan”
Langit mendung sejak pagi.
Tapi bukan itu yang membuat dada Pipit terasa sesak.
Semalam ia pulang dengan langkah kosong. Kata-kata Bu Ratna masih berputar di kepalanya seperti rekaman rusak yang tidak bisa dimatikan.
“Kamu terlalu kecil untuk dunia Bagas.”
“Kamu ancaman.”
“Kamu beban.”
Setiap kalimat seperti duri kecil yang tidak terlihat tapi menusuk dari dalam.
Bagas tidak menyusulnya tadi malam.
Tidak menahan.
Tidak menjelaskan.
Dan itu lebih menyakitkan daripada omelan siapa pun.
Pagi itu Pipit duduk sendirian di kontrakan kecilnya. Beras tinggal segenggam. Uang tinggal beberapa lembar tipis.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Nama yang muncul: Rika.
Pipit menatap layar lama.
Lalu mengangkat.
“Halo.”
Suara di seberang terdengar manis. Terlalu manis.
“Pipit, kamu di rumah? Aku mau mampir sebentar ya.”
Tanpa menunggu jawaban, telepon ditutup.
Setengah jam kemudian, Rika sudah berdiri di depan pintu.
Berpakaian rapi. Parfum wangi. Senyum tipis yang terasa seperti sindiran.
Rika masuk, melihat sekeliling ruangan kecil itu tanpa menyembunyikan ekspresinya.
“Oh… jadi kamu tinggal di sini sekarang?”
Nada suaranya lembut.
Tapi matanya berbicara lain.
“Lumayan juga ya… sederhana.”
Sederhana.
Kata yang sering dipakai orang untuk menyebut miskin tanpa terdengar kasar.
Pipit diam.
Rika duduk tanpa diminta.
“Kamu tahu nggak, Pipit… kemarin setelah kamu pergi, Bu Ratna masih ngomel panjang sekali.”
Pipit menelan ludah.
Rika melanjutkan.
“Beliau bilang, perempuan tanpa harga diri itu paling mudah menghancurkan masa depan laki-laki.”
Kalimat itu diucapkan santai.
Seolah sedang membicarakan cuaca.
Pipit menatapnya.
“Maksudnya?”
Rika tersenyum.
“Ya kamu.”
Sunyi.
“Kamu datang tanpa apa-apa. Tidak punya nama. Tidak punya posisi. Tidak punya jaminan masa depan. Tapi berani masuk ke keluarga besar seperti itu.”
Ia menyilangkan kaki.
“Kalau kamu jadi ibu, kamu juga pasti takut.”
Pipit masih mencoba tenang.
“Aku tidak pernah berniat menghancurkan siapa pun.”
Rika tertawa kecil.
“Semua perempuan bilang begitu.”
Ia mendekat sedikit.
“Tapi faktanya, sejak kamu ada, Bagas jadi melawan orang tuanya. Itu bukan kebetulan.”
Pipit meremas ujung bajunya.
Rika belum selesai.
“Dan kamu tahu yang paling menyedihkan?”
Ia menatap langsung.
“Bagas mulai capek.”
Kalimat itu lebih menyakitkan dari makian Bu Ratna.
“Apa maksud kamu?”
Rika menghela napas panjang.
“Dia cerita ke aku. Dia bilang hidup sekarang tidak mudah. Dia bilang tekanan dari orang tua berat. Dia bilang kamu sering terlihat merasa bersalah.”
Pipit merasa darahnya turun.
“Bagas bilang begitu?”
Rika mengangguk pelan.
“Dia tidak menyalahkan kamu. Tapi kamu bisa lihat sendiri kan? Listrik mati. Uang tipis. Hubungan dengan keluarga retak. Semua karena keputusan yang dia ambil demi kamu.”
Demi kamu.
Kalimat itu seperti palu.
Pipit mencoba berdiri.
“Kalau kamu datang hanya untuk mengatakan itu—”
“Aku datang untuk menyelamatkan kamu dari mempermalukan diri lebih jauh.”
Suara Rika tiba-tiba berubah dingin.
“Kamu tahu tidak orang-orang mulai bicara?”
Hening.
“Mereka bilang kamu perempuan ambisius yang pura-pura polos. Mereka bilang kamu pintar cari simpati.”
Pipit menggeleng.
“Itu tidak benar.”
Rika tersenyum tipis.
“Di dunia sosial, yang benar tidak penting. Yang penting apa yang terdengar.”
Ia berdiri.
“Bu Ratna sedang mempertimbangkan satu hal.”
Pipit menatapnya waspada.
“Mencari calon yang lebih… sesuai untuk Bagas.”
Sunyi.
Udara terasa lebih berat.
“Keluarga Pak Hendra sudah mulai bicara dengan relasi bisnis lama. Anak mereka cantik. Pendidikan luar negeri. Keluarga jelas. Tidak seperti—”
Ia berhenti sengaja.
Pipit melanjutkan dalam hati.
Tidak seperti dirinya.
Rika mendekat ke pintu.
“Saran aku, Pipit… sebelum kamu benar-benar dipermalukan di depan umum, lebih baik kamu mundur sendiri.”
Ia menatap ruangan kecil itu sekali lagi.
“Karena kalau mereka yang bertindak, kamu tidak akan punya sisa harga diri sedikit pun.”
Pintu tertutup.
Pipit berdiri lama.
Tangannya dingin.
Kepalanya kosong.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada tangisan histeris.
Hanya sunyi yang menghancurkan pelan-pelan.
Sore itu Bagas datang.
Wajahnya lelah.
Pipit menatapnya lama.
“Kamu capek?”
Bagas terdiam sebentar.
“Iya.”
Jawaban jujur.
Dan itu sudah cukup.
Pipit tersenyum kecil.
“Aku dengar kamu cerita ke Rika.”
Bagas terkejut.
“Apa?”
“Kamu bilang hidup sekarang berat.”
Bagas menoleh.
“Aku memang bilang begitu. Tapi bukan—”
“Bukan menyalahkan aku?”
Sunyi.
Dan justru karena ia tidak langsung menjawab, Pipit mengerti semuanya.
Bagas mengusap wajahnya.
“Aku cuma lelah, Pipit. Tekanan dari Mama, dari Papa, dari lingkungan… itu bukan hal kecil.”
Pipit mengangguk.
“Aku tahu.”
Bagas menatapnya.
“Aku tidak menyesal memilih kamu.”
Kalimat yang dulu terdengar menenangkan.
Sekarang terasa seperti pembelaan yang dipaksakan.
Pipit berjalan pelan ke arah jendela.
“Aku tidak mau jadi alasan kamu kehilangan semuanya.”
Bagas mendekat.
“Kamu bukan alasan.”
“Tapi aku dampaknya.”
Bagas terdiam.
Dan di situlah Pipit benar-benar merasa sendirian.
Karena cinta tanpa keberanian hanya akan jadi beban yang dipikul diam-diam.
Malam itu, pesan masuk ke ponsel Bagas.
Dari Bu Ratna.
“Besok makan malam dengan keluarga Pak Surya. Datang sendiri.”
Bagas menatap layar lama.
Pipit melihatnya.
“Siapa?”
Bagas ragu.
“Hanya makan malam.”
“Hanya?”
Ia tersenyum kecil.
“Aku tidak bodoh, Bagas.”
Hening.
Pipit menarik napas panjang.
“Pergilah.”
Bagas menatapnya kaget.
“Kamu serius?”
“Iya.”
Suara Pipit tenang.
Terlalu tenang.
“Pergi dan lihat seperti apa dunia yang ibumu anggap pantas untukmu.”
Bagas mencoba memegang tangannya.
Pipit menarik pelan.
“Kalau setelah itu kamu merasa aku hanya kesalahan, katakan saja.”
Kalimat itu pelan.
Tapi menghancurkan.
Bagas berdiri terpaku.
Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan hanya luka di mata Pipit.
Tapi kelelahan.
Dan kelelahan itu tidak dibuat-buat.
Di luar, hujan akhirnya turun.
Deras.
Seolah langit ikut meledak.
Pipit duduk di lantai, memeluk lututnya.
Ia tidak menangis.
Karena ada jenis sakit yang terlalu dalam untuk air mata.
Dan malam itu—
Cinta mereka tidak runtuh karena kebencian.
Tapi karena tekanan yang tidak pernah benar-benar dilawan.
Dan di kejauhan,
Bu Ratna sedang menyiapkan panggung baru.
Panggung di mana Pipit akan dipermalukan secara perlahan.
Tanpa ampun.
Tanpa simpati
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid