Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedalaman yang Mencekam
Kapal selam mini itu berguncang hebat saat gelombang elektromagnetik menghantam sistem navigasinya. Lampu interior berkedip merah sebelum akhirnya mati total, menyisakan pencahayaan darurat berwarna jingga yang remang-remang. Aira mencengkeram lengan Aristhide, merasakan detak jantung suaminya yang berpacu namun stabil. Di luar jendela antipeluru yang tebal, kegelapan samudra seolah siap menelan mereka, namun bayangan kapal selam raksasa milik The Consortium tampak seperti monster logam yang mengepung mangsanya.
"Julian, kau pengkhianat!" desis Adipati Narendra sambil menodongkan senjatanya ke arah pengacara Swiss itu.
"Bukan! Aku bersumpah, Adipati!" Julian mengangkat tangannya, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya jingga. "Pelacak itu... mereka pasti memasangnya saat aku di bandara. Aku tidak tahu!"
"Cukup!" Aristhide menengahi dengan suara rendah namun otoriter. "Berdebat tidak akan menyelamatkan kita. Kapal ini kehilangan daya gerak. Jika mereka menarik kita masuk ke dalam dok mereka, kita tamat."
Aristhide bergerak cepat menuju panel manual di bagian belakang kabin. Ia membuka sebuah katup rahasia yang hanya diketahui oleh perancang kapal tersebut. "Aira, kau ingat saat aku mengajarimu tentang tekanan air di kolam vila?"
Aira mengangguk lemah, mencoba menahan rasa mual yang melanda akibat guncangan. "Ya, Aris."
"Kita harus melakukan emergency ballast release. Kita akan meluncur ke dasar laut untuk menghindari sonar mereka, lalu menggunakan arus bawah laut untuk hanyut menjauh. Tapi tekanannya akan sangat berat bagi tubuhmu," Aristhide menatap perut Aira dengan cemas.
"Lakukan saja, Aris," sahut Aira mantap. "Anak ini lebih kuat dari yang kau kira. Dia adalah darah Sofia dan Narendra. Dia tidak akan menyerah pada tekanan."
Di luar, kapal selam raksasa milik The Consortium mulai mengeluarkan lengan mekanis untuk menangkap kapal mini tersebut. Di dalam pusat komando kapal raksasa itu, seorang pria dengan rambut perak yang dipotong rapi—sosok yang dikenal sebagai The Lion—menatap layar monitor dengan dingin.
"Tarik mereka. Aku ingin kuncinya dalam keadaan utuh. Jangan sampai wanita itu terluka parah, setidaknya sampai kita mendapatkan akses biometriknya," perintah The Lion.
Namun, tepat saat lengan mekanis hampir menyentuh lambung kapal, kapal mini itu tiba-tiba melepaskan seluruh pemberatnya. Dengan kecepatan yang tak terduga, kapal itu meluncur jatuh ke jurang bawah laut yang gelap.
"Mereka melakukan bunuh diri?" tanya salah satu operator.
"Tidak," The Lion menyipitkan mata. "Mereka sedang berjudi dengan gravitasi. Ikuti mereka!"
Di dalam kapal mini, tekanan mulai terasa. Suara logam yang mengerang karena tekanan air yang sangat tinggi terdengar mengerikan. Aira merasakan telinganya berdenging dan dadanya sesak. Aristhide memeluknya, menyalurkan kehangatan tubuhnya di tengah suhu kabin yang mulai menurun drastis.
"Tahan, Sayang... sebentar lagi," bisik Aristhide.
Kapal itu akhirnya mendarat di sebuah celah karang yang sempit, jauh dari jangkauan sonar standar. Di sini, mereka benar-benar buta dan tuli. Aristhide mematikan semua sistem, termasuk pemanas, untuk menghilangkan jejak panas.
"Kita punya oksigen untuk enam jam," ujar Adipati sambil memeriksa indikator manual. "Julian, sekarang bicara. Siapa 'The Lion' sebenarnya? Kenapa dia begitu terobsesi dengan kunci digital itu?"
Julian menghela napas, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. "Nama aslinya adalah Marcus Vane. Dia adalah saudara tiri Sofia dari pihak ibu yang tidak pernah diakui oleh keluarga Narendra. Dia merasa dialah yang seharusnya memiliki takhta Narendra dan akses ke sistem perbankan bayangan itu. Baginya, Sofia adalah pencuri, dan Aira adalah bukti dari kegagalan garis keturunan yang ia benci."
Aira tertegun. "Saudara tiri? Jadi dia adalah pamanku?"
"Paman yang ingin melihatmu menjadi mayat setelah dia mendapatkan apa yang ada di dalam darahmu," sahut Julian pahit. "Kunci digital itu tersimpan di dalam struktur DNA-mu yang dimodifikasi secara sintetis oleh kakekmu—sebuah teknologi eksperimental yang hanya bisa aktif saat terjadi perubahan hormonal besar, seperti kehamilan. Itulah sebabnya mereka baru bergerak sekarang."
Aira menyentuh perutnya. Ia merasa ngeri membayangkan bahwa tubuhnya telah dijadikan tempat penyimpanan data tanpa persetujuannya. Namun, rasa ngeri itu segera berganti menjadi amarah yang dingin.
"Jadi aku hanyalah sebuah flasdisk berjalan bagi mereka?" tanya Aira dengan suara yang bergetar karena emosi.
"Bagi mereka, ya. Tapi bagiku, kau adalah segalanya," Aristhide menggenggam tangan Aira. "Aira, dengarkan aku. Jika data itu ada di dalam darahmu, berarti kita bisa menghancurkannya. Kita tidak perlu menyerahkannya pada mereka."
"Bagaimana?" tanya Adipati.
"Kita butuh fasilitas medis tingkat tinggi untuk melakukan enkripsi ulang atau netralisasi. Dan ada satu tempat yang tidak bisa dijangkau oleh Marcus Vane," Aristhide menatap Adipati. "Pangkalan rahasia di pulau terpencil milik mantan sekutu ayahmu di Rusia."
"Itu terlalu jauh, Aristhide. Kita terjebak di dasar laut Bali!"
Tiba-tiba, sebuah dentuman keras menghantam lambung kapal. Bukan dari luar, tapi dari bawah. Sebuah kapal selam lain—yang lebih kecil dan lebih lincah—telah menempel pada lubang palka mereka.
"Siapa lagi ini?!" seru Adipati sambil menyiapkan senjatanya.
Lubang palka terbuka, dan sesosok pria dengan pakaian selam hitam masuk dengan tangkas. Ia membuka helmnya, menampakkan wajah yang sangat familiar bagi Aristhide namun mengejutkan bagi Aira.
"Yudha?" bisik Aira tak percaya.
"Bukan Yudha, Nona," pria itu tersenyum tipis, matanya memancarkan kesetiaan yang berbeda. "Saya adalah saudara kembarnya, Yasha. Yudha memang pengkhianat, tapi saya bekerja untuk Tuan Adipati sejak lama di unit intelijen luar negeri. Kami datang untuk menjemput Anda."
Yasha memberikan instruksi cepat. "Marcus Vane sedang menyiapkan peledak kedalaman. Kita harus pindah ke kapal saya sekarang. Kapal ini akan kita jadikan umpan."
Mereka berpindah melalui lorong sempit yang menghubungkan kedua kapal. Saat Aira melangkah masuk ke kapal Yasha, ia melihat teknologi yang jauh lebih canggih—sebuah kapal siluman yang tidak bisa dideteksi oleh radar apa pun.
"Kita akan menuju utara," ujar Yasha. "Tuan Aristhide, saya sudah menyiapkan peralatan medis di sana. Nona Aira, mohon maaf, tapi perjalanan ini akan sangat tidak nyaman."
Kapal siluman itu meluncur pergi tepat saat kapal selam raksasa Marcus Vane melepaskan torpedo ke arah posisi lama mereka. Ledakan besar terjadi di dasar laut, menghancurkan kapal mini yang kosong itu.
"Target hancur," lapor operator Marcus Vane.
Marcus menatap layar dengan curiga. "Periksa puing-puingnya. Aku tidak melihat tanda-tanda kehidupan yang keluar, tapi instingku mengatakan Sofia tidak akan membiarkan anaknya mati semudah itu."
Di dalam kapal siluman Yasha, Aira duduk bersandar pada Aristhide. Ia merasa lelah secara mental dan fisik, namun api di matanya belum padam.
"Aris," panggil Aira.
"Ya?"
"Setelah kita sampai di pangkalan itu, aku ingin kau yang melakukan prosedurnya. Aku tidak percaya pada siapa pun lagi selain kau."
Aristhide menatap istrinya dengan penuh haru dan beban yang berat. "Aku akan melakukannya, Aira. Aku akan mengeluarkan 'mahkota' itu dari tubuhmu, dan kita akan menggunakannya untuk menghancurkan Marcus Vane selamanya."
Perjalanan menuju Rusia telah dimulai. Di atas permukaan, dunia mungkin tetap berjalan normal, namun di kedalaman samudra, sebuah perang untuk menentukan masa depan ekonomi dunia sedang terjadi di dalam rahim seorang wanita yang hanya ingin hidup tenang.
Apakah Yasha benar-benar bisa dipercaya, ataukah ia memiliki agenda tersembunyi seperti saudaranya? Dan tantangan apa yang menanti mereka di pangkalan dingin Rusia?