NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Belum sempat abu di reruntuhan rumahnya mendingin, tragedi lain kembali menghantam hidup Akhsan.

Keesokan harinya, pagi yang seharusnya tenang di kediaman utama Hermawan mendadak pecah oleh suara jeritan histeris Mama yang menggema dari lantai atas.

"AKHSAN! TOLONG! PAPA, AKHSAN!"

Akhsan yang sedang melamun di ruang makan langsung berlari menaiki tangga.

Ia menemukan Mama terduduk lemas di pintu kamar mandi dengan wajah pucat pasi.

Di dalam sana, tubuh Papa Hermawan tergeletak kaku di atas lantai marmer yang dingin, napasnya tersengal dan sudut mulutnya tampak tertarik ke samping.

"Pa! Papa bangun!" Akhsan berteriak panik.

Tanpa membuang waktu, Akhsan segera membopong tubuh Papanya yang terasa berat.

Dengan tenaga yang tersisa, ia membawa pria itu masuk ke dalam mobil dan melesat membelah jalanan kota menuju rumah sakit terdekat.

Sesampainya di sana, ketegangan menyelimuti ruang tunggu.

Akhsan mondar-mandir dengan perasaan campur aduk, sementara Mama hanya bisa menangis di kursi tunggu.

Setelah beberapa jam yang terasa seperti selamanya, dokter keluar dengan raut wajah serius.

"Pak Akhsan, kondisi Pak Hermawan cukup kritis. Beliau mengalami serangan stroke akibat tekanan darah yang melonjak drastis. Saat ini bagian kanan tubuhnya mengalami kelumpuhan," jelas dokter itu.

Dunia seolah kembali memukul Akhsan. Di saat ia baru saja kehilangan "adiknya", kini pilar utama yang menopang hidupnya jatuh tak berdaya.

Kabar tumbangnya sang penguasa bisnis itu sampai ke telinga pengacara pribadi keluarga Hermawan.

Tak butuh waktu lama, sang pengacara mendatangi Akhsan di koridor rumah sakit dengan membawa koper berisi berkas-berkas penting.

"Pak Akhsan, dalam kondisi seperti ini, perusahaan tidak boleh dibiarkan tanpa nakhoda. Sesuai dengan surat wasiat dan rencana suksesi yang telah disiapkan Pak Hermawan sebelumnya, Anda harus segera menggantikan posisi beliau sebagai CEO Hermawan Group," ucap sang pengacara dengan nada formal yang tegas.

Akhsan menatap kosong ke arah ruang ICU tempat Papanya dirawat.

Ia tahu, beban yang diletakkan di pundaknya sangat besar.

Perusahaan itu sedang dalam sorotan pasca kebakaran dan skandal kematian Zahra.

"Saya mengerti, Pak. Saya akan mengambil alih tanggung jawab ini." jawab Akhsan akhirnya dengan suara berat.

Ia menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bermain-main di dunia akademis. Sebagai CEO, ia membutuhkan fokus penuh untuk menyelamatkan kekaisaran Hermawan yang mulai goyah.

"Segera siapkan surat pengunduran diri saya dari kampus. Saya harus mengundurkan diri sebagai dosen secepatnya," perintah Akhsan kepada asistennya.

Akhsan berdiri tegak di depan jendela besar rumah sakit, menatap pemandangan kota.

Di balik setelan kemejanya yang kusut, ambisinya mulai bangkit kembali.

Ia merasa siap untuk memegang kendali penuh, tanpa tahu bahwa di luar sana, fajar baru bernama Aruna sedang bersiap untuk menenggelamkan seluruh kejayaannya.

Sementara itu di tempat lain dimana udara musim dingin di Seoul terasa menusuk tulang, namun dinginnya fasilitas medis tercanggih di Korea itu tak sebanding dengan kegelisahan yang menyelimuti hati Zahra.

Ia duduk di atas ranjang rumah sakit dengan pakaian operasi berwarna biru pucat.

Di depannya, jendela besar menampilkan gedung-gedung pencakar langit yang tertutup salju tipis.

"Aku takut, Chris. Kalau aku tidak bangun lagi bagaimana?" bisik Zahra.

Tangannya yang masih terbalut perban gemetar hebat.

Bayangan kematian di gudang itu masih terlalu nyata di benaknya.

Christian melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang dan membawa tangan Zahra ke dalam genggamannya yang hangat.

"Ssshh.. yakin sama aku, Ra. Kamu akan bangun. Kamu kuat, kamu sudah melewati neraka, dan sekarang adalah jalan menuju surgamu," ucap Christian lembut, berusaha mengalirkan ketenangan.

Sebelum perawat datang untuk membawanya ke ruang bedah, Christian tiba-tiba turun dari kursi dan berjongkok di hadapan Zahra.

Ia memberikan jarak antara seorang penyelamat dan seorang pria yang jatuh cinta.

Dari saku mantelnya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.

"Zahra Adistia, aku tahu ini mungkin bukan waktu yang tepat. Tapi aku ingin kamu punya alasan untuk bangun dan kembali padaku,"

Christian membuka kotak itu, menampakkan sebuah cincin dengan permata biru yang indah.

"Maukah kamu menikah denganku? Aku tidak peduli dengan wajahmu nanti seperti apa, karena dari dulu aku mencintaimu, bukan wajahmu."

Zahra tertegun. Air mata haru mengalir di pipinya, membasahi luka berbentuk X yang masih memerah.

Di tengah kehancuran hidupnya, ia menemukan satu hati yang tulus menerimanya.

Zahra menganggukkan kepalanya perlahan, tak mampu berkata-kata.

"Terima kasih, Ra," Christian tersenyum tulus, ia menutup kembali kotak itu.

"Aku pakaikan setelah operasi selesai. Sebagai simbol kelahiran Aruna yang baru."

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Indri masuk dengan wajah tegang sambil memegang tablet di tangannya.

"Mas, Ra. Lihat ini. Berita dari Indonesia baru saja naik," ucap Indri pelan.

Di layar tablet, terlihat siaran langsung konferensi pers yang diadakan di lobi sebuah rumah sakit mewah di Jakarta.

Di sana, Akhsan berdiri dengan setelan jas hitam yang sangat rapi.

Ia tampak berwibawa meski wajahnya terlihat lelah.

Ia mengumumkan kondisi Papa Hermawan yang terkena stroke dan pengambilalihan takhta CEO Hermawan Group.

Namun, yang membuat napas Zahra tercekat adalah sosok Sisil yang berdiri tepat di samping Akhsan.

Sisil terus menempel pada lengan Akhsan, sesekali mengusap punggung pria itu dengan tatapan penuh kasih di depan kamera, seolah ingin menunjukkan pada dunia siapa wanita di balik sang CEO baru.

Zahra menatap layar itu dengan tatapan kosong yang mendadak berubah menjadi tajam.

"Lihatlah Chris, Indri..." suara Zahra terdengar dingin, jauh lebih dingin dari udara Seoul di luar sana.

"Tanah kuburanku masih basah, mawar di atas nisanku belum layu, tapi mereka sudah terlihat sangat mesra di depan publik."

Zahra mengepalkan tangannya. Rasa sakit di punggungnya seolah terbakar kembali oleh api cemburu dan dendam.

"Ayo lakukan operasinya sekarang. Aku ingin segera 'lahir' kembali. Aku ingin mereka tahu, bahwa api yang mereka nyalakan tidak membunuhku, tapi menempaku menjadi pedang yang akan menghancurkan mereka."

Papa Adrian masuk bersama dokter Woo dan perawat perempuan.

"Jangan takut, Ra. Papa disini bersama Christian dan Indri," ucap Papa Adrian sambil mencium kening wanita yang sekarang dianggap putrinya sendiri.

Zahra menganggukkan kepalanya sambil menggenggam tangan Papa Adrian.

Kemudian perawat mendorong ranjang Zahra dan membawakan ke ruang operasi.

Zahra melepaskan genggaman tangannya dan memejamkan matanya.

"Mas Akshan, ternyata aku salah mencintai kamu. Selamat tinggal, Mas. Mulai malam ini Zahra Adisty mati."

Lampu operasi yang terang benderang menjadi pemandangan terakhir yang dilihat Zahra sebelum cairan anestesi merayap masuk ke dalam pembuluh darahnya.

Kesadarannya perlahan memudar, membawa pergi sisa-sisa rasa sakit dan memori tentang gudang yang pengap.

Di luar ruangan, Christian tak pernah beranjak. Ia duduk dengan punggung tegak, sementara Indri berkali-kali mencoba menenangkannya dengan segelas kopi panas.

Papa Adrian sendiri ikut masuk ke dalam ruang observasi, memastikan kolega terbaiknya, Dokter Woo, melakukan setiap sayatan dengan presisi sempurna.

Operasi itu berlangsung selama dua belas jam yang melelahkan.

Bukan hanya memperbaiki jaringan kulit yang rusak akibat luka bakar di punggung, Dokter Woo juga harus mengangkat paku yang tertanam di kepalanya dengan sangat hati-hati, serta merekonstruksi wajah Zahra yang rusak akibat tamparan cincin Akhsan.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!