Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Di Cairo
Flashback
Hari itu Rani baru pulang setelah menjenguk Elyra dari rumah sakit. Jam empat sore Ibu Rani pulang ke rumah dan mendapati putrinya tengah menangis di kamarnya.
"Nak?" Ibu Rani mendekat. Rani menghapus air matanya dengan kasar saat merasakan kini ibunya duduk di tepi ranjang.
"Mah?" Rani dengan senggukkannya mencoba agar tetap terlihat baik-baik saja.
"Kenapa, Nak?" tanyanya lagi. Rani bangkit dari tidurnya dan kembali terisak.
"Mah, hiks… Rani salah mencintai orang. Rani bersalah pada hati Rani, dan Rani bersalah pada kerapuhan Rani hari ini," ucap Rani dengan isaknya. Ibu Rani mengusap pipi putrinya yang memerah, putri kecilnya yang tak pernah membawa piala seperti orang lain, namun selalu membawa kebanggaan setiap kali dia pulang.
"Adimas?" tanya Ibu Rani, seolah sudah tahu apa yang ada dalam hati putrinya. Rani mengangguk membenarkan. Ibu Rani memeluk putrinya. Akhirnya Rani menumpahkan air matanya dalam pelukan sang Ibu.
"Bagaimana ini, Mah?" tangis Rani lagi. Ibu Rani mengusap rambut panjang putrinya beberapa kali.
"Dia mencintaimu, Hem?" tanya lagi Ibu Rani. Rani tidak menjawab.
"Tapi sepertinya dia sangat mencintaimu, Nak. Mamah tidak berbohong, Mamah melihat dari tatapannya saja sudah jelas mengartikan bagaimana dunia di matanya hanya ada kamu, Nak." Rani mengangguk pelan, dia juga menyadarinya.
"Dia sudah memiliki kekasih," ucap Rani lagi pelan. Ibu Rani sejenak terdiam.
"Jodoh sudah ada yang mengatur, petunjuk terbaik berasal dari Yang Maha Pemberi petunjuk, Nak," tutur Ibu Rani lagi. Rani mengangguk.
"Mah, bila aku meninggalkan Mas Adimas, apa aku akan menyesal?" tanya lagi Rani. Ibu Rani menghela napas kasar.
"Apa kamu sangat mencintai dia?" tanya lagi Ibu Rani. Rani mengangguk pasti.
"Dia belum menikah, kan?" tanya lagi Ibu Rani. Rani kembali mengangguk.
"Perjalanan masih panjang, Nak. Jangan berada di tengah hubungan Adimas dan kekasihnya. Namun, Ibu juga tidak melarang kamu memperjuangkan perasaanmu." Rani sejenak terdiam.
"Aku mengerti, Mah," ucap lagi Rani. Ibunya tersenyum tulus dan kembali memeluk putrinya.
Cinta tidak salah. Adimas yang memiliki cinta pada Rani di tengah hubungannya dengan Elin juga tidak salah. Namun, bagaimana Adimas menyikapi perasaannya dan memilih jalurnya, itulah yang akan menentukan langkah dia ke depannya.
Rani juga tidak salah mencintai Adimas, dia juga tidak bersalah memperjuangkan cintanya. Toh, Adimas juga belum menikah. Tapi bukan berarti Rani akan melakukan hal kotor untuk mendapatkan Adimas.
Biar waktu yang menjawab masa depan mereka, dan Rani ingin menangkan segalanya. Membiarkan Adimas dengan dunianya, dan Rani fokus dengan masa depannya.
Empat tahun waktu yang cukup untuk Adimas berpikir, dan cukup pula untuk Rani tumbuh jauh lebih dewasa dalam bertindak.
.
.
.
Satu minggu sudah Ibu Rani dirawat, Kakek Rani juga sudah menerima semua barang yang dikirim Tuan Ghiffari. Dan mereka akhirnya pulang ke Bukittinggi, kecuali Rani yang harus berangkat langsung dari Jakarta ke Cairo.
Semua persiapannya sudah matang disiapkan oleh sang Kakek. Dia juga meminta agar Rani tak perlu risau dengan Ayahnya dan Ibunya. Semua akan diselesaikan dengan baik, Rani hanya perlu belajar.
Hari itu Rani mengecat di benaknya setiap langkah yang akan dia lewati, dari Soekarno-Hatta (CGK) yang riuh dengan pengumuman pintu boarding, lalu berjam-jam melintasi lautan awan, lebih dari delapan ribu kilometer melewati berbagai sunset dan sunrise,
sampai Cairo International Airport (CAI) yang membentang di ujung lain benua.
Di CAI Rani dijemput oleh seorang pria muda, tinggi dan sangat tampan. Wajahnya sangat mirip dengan idol Korea, namun pakaiannya sangat mirip dengan orang Indonesia.
"Rani, kan, ya?" tanyanya. Rani mengangguk.
"Aku Lee Joong Kyun, panggil aku Kyun yang tampan, imut, baik hati, dan tidak sombong," ucapnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Saya Rani Jaya Almaira," ucap Rani. Kyun mengangguk dan mereka pun menuju ke sebuah mobil, di mana seorang wanita cantik berada di dalamnya. Ada juga seorang pria yang duduk di belakang kemudi. Dua bocah kembar ada di kursi barisan ketiga dengan wajah riang, berusia empat tahun.
"Kenalin, ini Bang Ziyan, ini istrinya Sofia. Ini Rian dan Rayan, dan si kembar gemas ini Sofian dan Sofuan." Kyun menguyel-uyel pipi Sofian dan Sofuan.
"Berhenti, Kyun. Mereka baru saja tidur," ucap Sofia menjentik tangan nakal Kyun.
"Aku om-nya Sofia, jadi meski muda gini dan tampangku masih tampan tak ada lawan, tapi aku ini sudah menjadi kakek," ucap Kyun bangga tanpa rasa malu.
"Kalian ini?" Rani tampak bingung saat tiga koper besar milik Rani satu per satu dimasukkan ke bagasi belakang mobil Ziyan.
"Aku sih secara resmi ditunjuk untuk jemput kamu oleh pihak universitas, tapi karena aku belum punya izin bawa mobil di sini, jadi untuk mengirit ongkos aku minta bantuan Ziyan," ucap Kyun lagi. Rani sejenak terdiam. Tampaknya, di mana pun dia berada, takdirnya untuk bertemu dengan orang-orang somplak tak dapat dielakkan. Apalagi Kyun yang nampaknya memiliki tingkat narsisme yang tinggi.
"Kenal Elyra, kan?" tanya lagi Kyun setelah memasukkan semua koper Rani. Rani mengangguk cepat.
"Dia itu nasabahku," ucap lagi Kyun mempersilakan Rani masuk ke dalam mobil.
"Jangan lihat tampangnya, Ran. Dia itu rentenir," celetuk Ziyan. Kyun tertawa mendengarnya.
"Itu dulu, sekarang mah enggak lah," ucap lagi Kyun. Ziyan terkekeh dan mereka berangkat menuju rumah yang sudah disiapkan mereka untuk ditempati Rani.
"Elyra itu adik iparnya kakak kandungku, jadi kami kenal. Rumah kami juga tetanggaan," tambah Ziyan. Rani mengedipkan matanya beberapa kali. Kini dia ingat dengan siapa dia bicara.
"Kak Ziyan yang itu?" tanya Rani akhirnya. Ziyan tertawa melihat antusiasan Rani.
Ziyan adalah kakak angkatan mereka. Saat kelas satu SMA, Ziyan sudah kelas tiga dan jadi idola sekolah. Dan kini Rani menatap Kyun, dan dia ingat dengan kakak angkatannya yang lain.
"Dan ini Kak Kyun yang modeling itu, kan?" tanya lagi Rani. Kyun tertawa dan mengangguk membenarkan.
Kini Rani duduk di tengah idola sekolah yang sangat terkenal. Ziyan yang pernah menjadi inspirasi Rani saat memilih jalan untuk mandiri dan bekerja sembari sekolah, dan Kyun. Ah, Kyun tidak pernah jadi inspirasi Rani karena sifat Kyun di sekolah sangat gila. Kyun tukang terlambat, tukang kabur dari sekolah, tukang bolos, tapi nilainya selalu bagus. Bahkan terakhir kali, Kyun dikatakan terlibat judi online dan menghabiskan ratusan juta rupiah.
"Kamu akan tinggal di area yang nyaman. Tuan Ghiffari sudah bayar tempat itu untuk empat tahun ke depan. Jadi kamu tidak perlu berterima kasih pada kami," ucap Kyun. Rani membelalakkan matanya.
"Tapi beliau tidak pernah mengatakan ini, justru tadinya saya akan tinggal bersama temannya Kakek," ucap Rani. Ziyan menghela napas kasar.
"Teman Kakekmu itu seorang tentara. Kamu tahu bagaimana di sini? Lebih baik kamu jangan banyak terlibat dengan hal semacam itu di sini," amanat Ziyan. Kyun mengangguk setuju.
"Betul, ada baiknya juga kamu fokus belajar. Kalau mau kerja di empat bulan liburan, daripada pulang ke Indonesia lebih baik diam di sini. Lebih menguntungkan, bos!" tambah Kyun lagi. Ziyan mengangguk setuju.
Mereka pun terus bercengkerama tentang cuaca, tentang banyak hal, hingga tentang area tempat tinggal yang akan ditinggali Rani. Bahkan tempat di Al-Azhar dan tempat jalan-jalan nyaman sampai tempat sunyi untuk belajar pun diberitahu Kyun.
Agaknya empat tahun tidak akan berlalu lama, karena keberadaan mereka di hari-hari Rani. Sifat Sofia yang tenang dan Kyun yang bawel serta Ziyan yang dewasa menjadi kakak dan sosok sempurna dalam setiap hari Rani di Cairo.
[Untuk kisah Kyun dan kisah mereka di Cairo nanti aku spil di novel lain khusus Kyun. Oh ya, mau aku buat happy ending atau tidak nih kisah Kyun? Apa sesuai realita saja? Spil di kolom komentar.]
[Aduh, ini kasus lagi. Kok aku lupa ya kalau belum buat novel tentang Ziyan. Plak!]
SEKILAS INFO
Aku itu punya Chenel YouTube nah rencananya, untuk kedepannya aku mau buat lagu buat setiap novel. Ya meski bantuan ai instrumennya si, tapi semoga suka sama lirik dan yang nyanyi nya. Uhuk!
Tadinya aku mau up tentang ml, mau mulai live tapi suami gak ngebolehin, aku di ml itu pemain, ya begitulah istilah pemainnya itu real pemain ya. Aku kadang ngejoki akun teman. Eit jangan salah, mak-emak juga jago urusan main game.
Tapi sekarang teknologi dah canggih, jadi aku mau mulai dari buat lagu soundtrack novel dulu. Kedepannya ya gimana nanti aja, hehehe..
Kalo ada dari kalian yang tertarik bisa cek aja dulu akunku, nanti kalo udah di up soundtrack nya aku kabarin lagi.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang