NovelToon NovelToon
Titik Penghubung

Titik Penghubung

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: prasetya_nv

sebuah kehancuran adalah sebuah derita bagiku, seperti kutukan akan kelakuan berat masa laluku. nyatanya itu hanyalah sebatas prasangka. _Ailavati Keysa Maharani.

wajah datar tampak acuh adalah penguat ku, aku terlalu takut untuk dikasihani sebagai alasan pertemanan ku. hidupku telah luluh lantah atas kehancuran.~Alga Mahensa Putra

Di sinilah kisahku dimulai.
Aku Aila Putri cantika yang memiliki trauma akan masalalu, yang di pertemukan dengannya Alga Mahensa Putra.

Pria yang memiliki parasa tampan dan berwajah datar.
Akankah Aku bisa bersamanya?
Apakah ego kita yang akan sama sama menyakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetya_nv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bertemu

Selepas pulang dari psikiater aku mampir ke sebuah kafe yang terkenal di kota ini bersama Aksara. Aku tertawa bahagia saat setiap kali mendengar cerita Aksara. Hidupku sekarang lebih baik dari yang lalu. Aku mulai bisa menerima semua lukaku. Tidak semua hal yang menyakitkan itu membunuh karakter kita perlahan. Aksara adalah seorang yang pertama kali membuatku kembali takut merasakan kehilangan.Entah mengapa darinya aku belajar, seseorang memang pergi tapi bukan berarti meninggalkan. Mereka hanya pergi tadi tidak dengan hatinya yang selalu memikirkan kita.

Aku terdiam melamun di meja ujung dekat jendela. Aku memandang Aksara dengan tersenyum.

" Kak aku bahagia, lantas apa kamu tidak mau bertemu seseorang? " ucapku saat dia mengaduk aduk minumannya.

"siapa Ai? " singkat tapi aku cukup tahu bahwa dia menanti jawabanku.

"Tanala" satu nama yang meluncur di dari mulutku membuat dia terdiam. Dia memalingkan pandangannya dariku. Aku memandangnya tersenyum geli.

"Kak selesaikan masalah kakak, jangan lari. Tanala menunggu kakak" Aku mencoba memberinya saran.

"Aku akan menemuinya nanti Ai, aku masih belum siap" ucapnya padaku.

Dia orang yang sangat berarti untukku sama sama jatuh cinta. Namun sayang, mereka tidak mau memahami isi hati masing masing. Aku diam tanpa mendebat Aksara. Biarkan dia berpikir sendiri masalahnya.

Aku kembali meminum makanan yang tersaji di hadapanku kini. Tapi kegiatanku terhenti saat dua orang di sana berjalan memasuki kafe ini. Rasanya sesak, aku yang dulu ada di sampingnya sekarang tak lagi sama. Dia menggandeng gadis itu dengan senyumnya. Aku di tinggalkannya.

Aksara yang melihat arah pandangku terlihat menahan amarahnya. Aku menggenggam tangannya untuk meredam emosinya.

"jangan, aku tidak mau ada keributan" ucapku menahan Aksara.

Aku tidak heran Aksara tahu kemana arah tatapanku. Dia begitu kenal laki laki yang sedang datang dengan gadis cantik di sampingnya.

"aku tahu hubungan kakak denganya tidak baik baik saja. Tapi kali ini cukup kakak diam" aku memperingati Aksara untuk diam.

"Aku tahu kamu dekat dengannya Ai. Tapi dia buat kamu kecewa. Aku mengetahui segalanya tentang kamu Ai. " Aksara menjawabku.

Tanpa teguran sapa Laki laki itu duduk di meja sebrang kami. Mereka berdua terlihat begitu serasi saat bersanding. Aksara mengepalkan tangan tanda amarahnya memuncak.

Aku menenangkan amarah Aksara sambil sekali pandang ke arah meja sebrang.

"rasanya sesakit ini saat melihatnya tertawa untuk orang lain" batinku mengacaukan semua pikiranku.

Dadaku terasa sesak saat mereka berdua bercengkrama bersama. Aku mencoba terlihat biasa untuk mengontrol emosi Aksara. Aku menenangkan diriku sendiri dengan memejamkan mata.

"Kak, pulang aja. " anakku saat hatiku belum siap menerima semuanya. Aksara mengangguk mengiyakan ajakanku.

Kami berdua pergi meninggalkan tempat itu bersama rasa sakit yang masih ada dalam diriku. Aku ingin berdamai dengan semua rasa sakit itu. Namun, hatiku belum bener bener ikhlas menerimanya.

Dalam perjalanan Aksara terus menoleh ke arahku. Dia sepertinya ingin memastikan sesuatu.

"Kak, aku baik baik saja jangan mengkhawatirkanku." Ucapanku menenangkan Aksara. Dia mengangguk singkat tanpa kata. Perjalananku pulang di isi dengan keheningan tanpa ada yang kembali berucap. Rasa amarah dalam diri Aksara masih tertinggal. Sedangkan ku masih dalam pikiran yang belum sepenuhnya sembuh.

Aku dengan Aksara sampai di depan rumah, kami berpisah ke tujuan masing masing.

"kak, aku masuk dahulu. Aku ingin istirahat. " Pamit ku pada Aksara. Dia mengangguk paham.

"kakak pergi dulu. hati hati di rumah. " Aksara kembali melajukan mobilnya untuk pergi yang entah tujuannya kemana.

...----------------...

Ucapanku pada Aksara hanyalah bohong agar dia tidak khawatir. Tujuanku sekarang adalah ke tempat dimana aku ingin berkunjung. Aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobilku. Rasa trauma ku harus aku lawan dengan perlahan. Aku ingin mengemudi sendiri kembali. Aku bisa menyetir mobil sendiri, hanya saja belakangan ini trauma ku muncul membuat aku menghindari mengemudi sendiri. Aku takut dalam perjalanan pikiranku kembali kacau.

Perlahan aku melakukan mobilku membela kemacetan kota ini menuju ke suatu tempat. Aku mengemudikan mobilku dengan tenang. Sepertinya keadaanku lebih stabil dari biasanya. Aku sampai ke tempat tujuanku tanpa ada masalah. Rasanya aku bangga dengan diriku yang sudah sedikit lebih maju.

Aku sampai di pemakaman umum yang megah terlihat di depan mataku. Langkahku perlahan membawaku di depan makam dengan nisan yang bertuliskan nama Reihan. Sahabat sekaligus cinta pertamaku.

Ku simpan bunga yang ku beli di tengah perjalananku ke sini tadi. Aku duduk di sampingnya sambil memandang baru nisan yang begitu bersih dan bertuliskan namannya. Dia bulan lamanya dia pergi meninggalkanku di sini. Rasa rinduku kepadanya masih tersimpan rapi.

"Hai Re, maaf aku lama tidak datang. " aku mengelus nisannya sambil berkata sendirian. Aku tidak tahu gumamku di dengarnya ataupun tidak. Tapi setidaknya aku ingin bercerita.

"Re, rasanya hidup ini kembali sepi. Sakit Re. Aku ingin berada dalam pelukanmu yang membuatku tenang." aku kembali bergumam, masih sama posisiku menatap batu nisan itu. Aku menahan mataku untuk tak berkedip saat air mataku kembali luruh. Aku berlarut dalam ceritaku tanpa menyadari bahwa di belakang sana ada seseorang yang melihatku dengan pandangan yang tak dapat di artikan itu.

Lama aku berdiam diri di sana sambil bercerita kini kuputuskan untuk kembali pulang. meninggalkanya yang tertidur pulas di sana. Langkah kecilku berjalan perlahan dengan meninggalkan jejak kerinduan untuknya.

Di balik langkahku terasa seperti ada seorang yang berjalan. Aku memutar kembali tubuhku untuk memastikan. Aku tersentak saat melihat seseorang jongkok di depan malam Reihan.

..."dia ada di sini. " batinku saat melihat orang itu....

Tubuhku seolah kaku, orang yang ingin ku hindari kini ada di depan sana. lagi lagi aku melihatnya lagi.

"mengapa aku harus bertemunya kembali. " batinku.

"Aku belum siap untuk kembali bertemu denganmu Al, maaf. Aku menghindarimu karena rasa sakit ini. " batinku kembali bersuara.

Dialah Alga Mahensa Putra laki laki yang saat ini mengisih sebagian hatiku. Aku kembali jatuh cinta setelah cinta pertamaku pergi meninggalkanku dahulu untuk pengobatannya. Hingga kini dia benar benar meninggalkan ku dan semua orang yang menyayanginya.

Aku mempercepat langkahku untuk menghindarinya sebelum dia sadar aku di sini. Tanpa aku sadari pun dia tahu aku ada.

Sedangkan di sisi lain, Alga yang diam memandang kepergianku. Dia tersenyum, memandang punggungku yang semakin menjauh.

"Han, entah mengapa dia menjauhiku. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku Han. Tiada jawaban untuk semua itu. " ucap Alga pada makan Reihan.

"aku tidak tahu akan kembali bertemu dengannya di sini. Satu bulan lamanya dia menjauhiku. Rasanya kosong Han. Aku takut dia tidak menginginkanku ada di sisihnya. " ucap Alga di depan malam Reihan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!