Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. tubuh yang masih bertahan.
Pelukanku tidak ia balas.
Bukan karena ia tidak mau—aku tahu itu.
Tapi karena tubuhnya tidak mengizinkannya.
Haruka berdiri kaku di ambang pintu, lengannya terangkat setengah, napasnya tertahan terlalu lama. Aku bisa merasakan itu. Dari caranya dadanya naik-turun tidak beraturan. Dari cara bahunya menegang di bawah genggamanku.
“Alya…” suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. “Lepaskan.”
Aku menggeleng, menekan wajahku ke dadanya lebih dalam. Seolah jika aku melepaskannya sekarang, ia akan menghilang lagi.
“Jangan,” bisikku. “Tiga hari kamu pergi tanpa kabar. Aku pikir—”
Kata-kataku terhenti ketika aku merasakan tubuhnya sedikit bergetar.
Bukan karena emosi.
Tapi karena kelelahan.
Tangannya akhirnya menyentuh pundakku, bukan untuk memeluk—melainkan untuk menahan dirinya sendiri agar tetap berdiri.
“Alya,” ulangnya, lebih pelan. “Aku belum kuat.”
Kalimat itu membuatku langsung tersadar.
Aku melepaskan pelukan dengan cepat, tapi tanganku masih mencengkeram jasnya. Saat aku mengangkat wajah, barulah aku melihatnya dengan jelas.
Ia memang terlihat lebih segar. Wajahnya lebih hidup. Matanya lebih terang.
Namun warna pucat itu masih ada. Dan bibirnya—sedikit kebiruan.
“Haruka…?” napasku tercekat. “Kamu—”
Ia tidak menjawab. Lututnya sedikit melemah.
Aku refleks meraih lengannya.
“Kamu habis operasi,” ucapku pelan, seperti menyusun potongan yang selama ini hilang. “Kamu pergi bukan urusan kerja… tapi ini.”
Ia menutup mata sesaat.
“Masuk,” katanya singkat. “Tolong.”
Aku tidak bertanya lagi. Tidak membantah. Aku membimbingnya ke sofa, pelan, hati-hati, seolah tubuhnya terbuat dari kaca yang bisa retak kapan saja.
Saat ia duduk, napasnya terdengar kasar. Tangannya mencengkeram sandaran sofa kuat-kuat, rahangnya mengeras—menahan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.
“Kenapa kamu tidak bilang?” tanyaku akhirnya, suaraku bergetar. “Kenapa kamu pergi begitu saja?”
“Karena aku tidak tahu apakah aku akan kembali,” jawabnya jujur.
Kalimat itu seperti menghantam dadaku tanpa peringatan.
“Apa?” Aku menatapnya, air mata langsung menggenang. “Haruka—”
“Aku tidak ingin kau menungguku dengan ketakutan,” lanjutnya. “Aku tidak ingin wajahmu menjadi hal terakhir yang kupikirkan jika aku gagal.”
Aku berlutut di depannya tanpa sadar.
“Itu tidak adil,” kataku. “Kamu tidak bisa memutuskan itu sendiri.”
Ia tersenyum kecil. Lelah. Sangat lelah.
“Aku sudah terlalu sering kehilangan orang,” katanya pelan. “Aku tidak ingin menjadi alasan orang lain kehilangan harapan.”
Tanganku gemetar saat menyentuh punggung tangannya. Hangat—tapi tidak sehangat biasanya.
“Kamu pikir aku tidak kehilangan apa pun selama tiga hari ini?” suaraku pecah. “Aku bangun setiap pagi dengan ketakutan. Aku pulang ke rumah kosong. Aku—”
Aku berhenti bicara karena dadaku terasa terlalu penuh.
Ia menatapku lama. Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang tidak ia sembunyikan.
“Aku hampir tidak bangun,” katanya akhirnya, hampir berbisik.
“Di ruang operasi itu… aku sempat berpikir, mungkin inilah akhirnya.”
Air mataku jatuh.
“Tapi aku bangun,” lanjutnya. “Dan hal pertama yang kupikirkan adalah… kau.”
Kalimat itu membuatku menutup wajah dengan kedua tanganku.
“Aku tidak butuh kamu jadi kuat terus,” ucapku dari balik tangis. “Aku hanya butuh kamu hidup.”
Ia mengangkat tanganku perlahan, gerakannya hati-hati—seperti takut menyakitiku.
“Alya,” katanya pelan. “Tubuhku ini… masih bertahan. Tapi aku tidak tahu sampai kapan.”
Aku menatapnya. Matanya jujur. Tidak ada kebohongan. Tidak ada janji kosong.
“Kalau begitu,” kataku sambil mengusap air mata, “izinkan aku berada di sini. Selama tubuhmu masih bertahan… aku juga akan bertahan.”
Ia menelan ludah.
“Kau membuat segalanya jadi lebih sulit,” katanya lirih.
“Aku tahu.”
“Tapi juga… lebih berarti.”
Keheningan jatuh di antara kami.
Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, matanya terpejam. Napasnya perlahan lebih teratur. Tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan yang ia tahan sejak kembali.
Aku duduk di lantai, bersandar di lututnya, tanpa memeluk—hanya memastikan ia tidak sendirian.
Hari-Hari yang Perlahan Pulih..
Haruka tertidur hampir sepanjang hari itu.
Bukan tidur nyenyak—lebih seperti tubuh yang akhirnya berhenti melawan. Napasnya masih berat, tapi tidak lagi terputus-putus. Dadanya naik turun pelan, seolah setiap tarikan adalah keputusan sadar untuk tetap tinggal.
Aku tidak pergi ke mana pun.
Aku duduk di sisi sofa, menghitung napasnya tanpa sadar. Satu. Dua. Tiga.
Setiap kali ia bergerak sedikit, jantungku ikut menegang.
Menjelang sore, ia terbangun.
Matanya terbuka perlahan, kebingungan sesaat melintas sebelum fokusnya kembali. Saat melihatku, alisnya berkerut tipis.
“Kau belum pergi,” gumamnya.
“Aku tidak berencana,” jawabku pelan.
Ia menghela napas, kali ini lebih ringan. “Kau keras kepala.”
“Aku belajar dari orang yang salah,” balasku, dan untuk pertama kalinya—ia tersenyum. Kecil, tapi nyata.
Hari berikutnya berjalan lebih tenang.
Dokter datang. Obat-obatan teratur. Tidak ada rokok. Tidak ada balkon. Tidak ada hujan. Haruka mematuhi semuanya tanpa komentar, seolah menyadari bahwa tubuhnya benar-benar membutuhkan waktu.
Aku membantunya minum obat. Mengingatkannya makan. Menegurnya saat ia mencoba bangun terlalu cepat.
“Kau bukan penjagaku,” katanya suatu pagi.
“Aku tahu,” jawabku sambil menyodorkan air. “Aku hanya orang yang peduli.”
Ia tidak membantah.
Di hari ketiga, warna di wajahnya mulai kembali. Bibirnya tidak lagi kebiruan. Napasnya masih pendek, tapi tidak menyakitkan. Ia bisa berjalan ke jendela sendiri, meski langkahnya pelan.
“Kau membaik,” kataku.
“Untuk sementara,” jawabnya jujur.
Aku menatapnya. “Itu cukup.”
Sore itu, kami duduk berhadapan dengan secangkir teh hangat. Tidak ada pembicaraan berat. Tidak ada masa lalu. Hanya sunyi yang tidak menekan.
“Alya,” katanya tiba-tiba. “Jika aku harus menjalani hidup dengan hati-hati… kau akan bosan.”
Aku tersenyum tipis. “Aku kuliah untuk masa depan. Aku bisa menunggu hal-hal yang berharga.”
Ia menunduk sejenak, lalu berkata pelan, “Aku belum pernah menjadi hal yang berharga bagi siapa pun.”
Aku menggeser cangkirnya sedikit lebih dekat. “Sekarang kamu sedang belajar.”
Malam datang tanpa hujan.
Haruka berdiri di depan jendela, tidak di balkon. Tidak dengan rokok. Hanya menatap lampu kota dari kejauhan. Aku berdiri di sampingnya, menjaga jarak—memberinya ruang yang dulu selalu ia jaga sendiri.
“Terima kasih,” katanya tanpa menoleh.
“Untuk apa?”
“Untuk tidak pergi saat tubuhku gagal.”
Aku menoleh padanya. “Aku tidak jatuh cinta pada kekuatanmu.”
Ia menatapku, terkejut.
“Aku jatuh pada caramu bertahan,” lanjutku. “Dan sekarang… caramu pulih.”
"mungkin dulu di saat aku tau kalo menikah dengan mu adalah hal yang paling menakutkan itu salah, kini aku mulai belajar banyak hal darimu."
Ia tersenyum lagi. Lebih lama kali ini.
Dan di malam yang tenang itu, aku tahu satu hal dengan pasti:
Haruka Sakura memang belum sepenuhnya sembuh.
Tapi untuk pertama kalinya—
hidup tidak lagi terasa seperti pinjaman yang akan segera ditarik kembali.