NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 22 - Rencana Picik

Beberapa Hari Kemudian...

Steven berjalan cepat masuk ke halaman gedung agensi tanpa mengenakan penyamaran apa pun sehingga dia diikuti beberapa penggemar. Tapi seperti biasa, dia bersikap dingin—bahkan terkesan lebih tidak peduli kali ini.

Dia masuk ke gedung dengan langkah kaki kasar membuat beberapa orang yang ada di lobi memandang ke arahnya keheranan.

"Apakah masalah NOVA sudah selesai?" Para Staf berbisik—jelas di telinga Steven.

Steven masuk ke lift tanpa mengatakan apa pun, diikuti beberapa penggemar yang juga ikut masuk ke lift sampai alarm peringatan kelebihan beban berbunyi.

Semua mengangkat ponsel mereka ingin merekam Steven dari dekat. Apalagi karena Steven tanpa pengawalan oleh manajer dan staf lainnya kali ini. Dia benar - benar menunjukkan dirinya begitu saja.

Karena kesal, Steven mengambil ponsel salah satu penggemar dan melemparnya begitu saja.

"Aku akan merusak semua ponsel jika kalian bertingkah seperti ini!" ancamnya.

Awalnya, Steven pikir ancamannya tidak akan berarti apa - apa mengingat banyak penggemar yang juga obsesif terhadap idola mereka sehingga merasa memiliki dan berhak terhadap Sang Idola.

Namun ternyata ancaman itu bekerja. Semuanya mundur membiarkan Steven berasa di lift sendirian yang akhirnya pintu tertutup dan lift mulai naik ke lantai empat.

Tangannya mengepal, urat - urat di rahangnya terlihat jelas karena menahan amarah.

"BANG DAFFA!" teriak Steven tepat ketika pintu lift terbuka.

Langkahnya panjang menuju ruang kerja Talent Manager. Tanpa mengetuk pintu, dia masuk begitu saja sehingga lima pasang mata orang yang ada di sana langsung tertuju padanya.

Semua orang terkejut dengan kehadiran Steven di kantor setelah beberapa hari tidak menunjukkan batang hidungnya.

"Steven, hai!" sapa Daffa antusias.

"Ada urusan apa kamu nemuin Alexa, Bang?" Bukannya membalas sapaan Daffa, Steven langsung menodong Daffa dengan pertanyaan itu.

Daffa menghela nafas panjang, menepuk kursi kosong yang ada di sampingnya memberi isyarat pada Steven untuk duduk terlebih dahulu.

"Aku nggak butuh duduk, Bang. Bang Daffa beberapa hari lalu nemuin Alexa, kan?" Steven mengulang pertanyaannya.

"Iya."

"Buat apa? Nyalahin dia karena aku keluar dari NOVA?!" bentak Steven.

Empat orang lainnya seketika berdiri dan beranjak pergi karena tidak mau terlibat dengan pertengkaran antara Steven dan manajernya.

Semua selalu melihat keakraban keduanya yang seperti kakak - adik kandung, sehingga perdebatan Steven dsn Daffa adalah hal baru yang tidak ingin mereka saksikan.

"Duduk dulu, Stev." Daffa menawarkan.

"Aku—"

"Saya menemui Alexa untuk memberikan surat panggilan interview kerja." Daffa memotong cepat.

Kening Steven seketika berkerut. Surat panggilan interview kerja biasanya akan dikirim melalui surel ataupun kontak yang ditinggalkan pelamar. Tapi ini Steven yang mengantarnya—itu janggal.

Akhirnya mau tak mau Steven duduk di samping Daffa masih dengan tatapan penuh rasa curiga.

"Itu biasanya dikirim melalui kontak pelamar. Lagipula, itu bukan jobdesk Abang." Steven menekankan suaranya.

"Ya, memang bukan. Tapi karena aku sempat melihat Abi menemui Alexa, aku akhirnya menggunakan alasan itu untuk bertanya apa yang Abi katakan pada Alexa saat itu.'

"Bang Abi?"

"Hm." Daffa mengangguk pelan masih sibuk dengan tumpukan kertas di hadapannya.

"Terus, Bang Abi bilang apa ke Alexa."

"Masalahnya, Alexa juga nggak mau bilang."

Sontak Steven bangkit ingin langsung menemui Abi. Dia benar - benar masih marah tentang kejadian tempo hari dengan Abi. Mereka belum menemukan jalan damai karena Steven memang memilih untuk tidak bertemu dengan siapa - siapa selama beberapa hari.

"Kamu mau ke mana?" tanya Daffa menghentikan Steven dengan mencengkeram tangannya.

"Ruang latihan, nemuin Abi," jawabnya mantap.

Daffa membuka laci mejanya dan memberikan kartu masuk ruang latihan milik Steven sebelumnya yang Steven lempar pada Abi.

"Aku nggak butuh kartu ini," kata Steven keras kepala.

"Nggak ada yang bakal buka pintu walaupun kamu menekan bel ketika latihan berlangsung, Kamu nggak mungkin lupa itu, kan?" Daffa mengangkat satu alisnya.

Steven akhirnya pergi membawa kartu itu dan langsung menuju ruang latihan di lantai dua.

Beberapa staf menyapanya, tapi Steven sama sekali tidak membalas. Bahkan staf saja seringkali terlihat tidak suka pada Steven karena sikapnya yang sombong dan cuek itu.

Tanpa permisi, Steven masuk ke ruang latihan.

Yang dia dapati hanya ada Abi yang sedang berlatih dengan gitarnya.

Eksistensi Alexa - lah yang membuat Steven speechless. Dengan seragam cleaning service, Alexa memegang sapu dan kemonceng di tangannya—bengong menatap Steven.

"Kamu ngapain di sini?" tanya Steven sadar dari lamunannya.

"Dia kerja."

"Aku kerja."

Abi dan Alexa menjawab bersamaan.

"Sejak kapan?" Steven tak menoleh pada Abi sedikit pun.

"Kemarin."

Alexa terlihat masih syok karena Steven ternyata datang lagi ke ruang latihan setelah kejadian yang sempat membuat gempar semua orang.

Bahkan banyak berita beredar bahwa ada banyak jadwal konser yang akhrinya dibatalkan dengan alibi bahwa salah satu anggota NOVA mengalami masalah kesehatan dan NOVA tidak bisa tampil dengan ketidakhadiran salah satu Anggota.

"Lo mau latihan?" tanya Abi mencoba menyapa lebih dulu.

"Nggak. Gue cuman mau tanya, buat apa lo nemuin Alexa waktu itu?" balas Steven yang akhirnya bertemu pandang dengan Abi.

Abi melirik ke arah Alexa sesaat. Tampak di wajahnya kalau dia tidak nyaman dengan keberadaan Alexa yang entah bagaimana ceritanya malah diterima bekerja dan ditugaskan khusus membersihkan seluruh ruangan di lantai dua.

Di mana ruang kerja NOVA sepenuhnya ada di lantai dua. Hanya nyelip satu ruang HRD.

"Lo cemburu?" ledek Abi menyeringai sinis.

"Kayaknya lo emang suka berantem sama gue."

"Nggak kok, nggak. Bercanda." Abi tertawa. "Gue nemuin Alexa karena mau ngasih tahu kalau sebenarnya, papa lo mungkin aja mencelakai Alexa kalau dialah penyebab lo keluar dari NOVA," Abi mengada - ada.

Alih - alih membenarkan, Alexa justru ikut terkejut sama terkejutnya dengan Steven setelah mereka mendengar pernyataan dari Abi.

"Ayah?"

"Iya. Dia tahu soal Alexa dan bisa aja—"

"Beneran?" Steven langsung bertanya pada Alexa untuk memastikan.

Alexa tak menjawab sama sekali. Dia sendiri bingung—linglung seperti nimbrung di pembicaraan grup chat ketika sudah ada seribu pesan lebih.

"Papaku nggak ngapa - ngapain kamu kan?"

Kali ini Alexa menggeleng dan menjawab, "Ng—nggak."

Steven memandang Alexa dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak percaya kalau Alexa benar - benar kerja di sana.

"Terus, kenapa kalian jadi akrab?" Kali ini pertanyaan Steven tertuju pada Alexa dan Abi karena keduanya ada di ruangan yang sama.

Hanya berdua.

"Akrab? nggak kok. Aku cuman ngembaliin kar—maksudku, dompet milik Kak Abi yang jatuh waktu itu." Alexa menceritakan semuanya dengan tenang.

Ucapan Alexa diimbuhi anggukan dari Abi—membenarkan.

"Alexa udah kerja di sini, Stev. Lo msuk balik ke NOVA?"

Senyum pahit Steven langsung muncul. "Oh!" peliknya.

Dia memandang Abi dan Alexa bergantian.

"Kalian sekongkol ternyata. Pasti sama Banget Daffa juga, sama - sama picik!" kilahnya berapi - api. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!