Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat di sisiku.
Pagi selanjutnya, mansion Marquess tidak lagi sunyi.
Sejak fajar menyingsing, lorong-lorong panjang dipenuhi suara langkah cepat. Pelayan berlalu-lalang membawa gulungan kain, kotak perhiasan, baki perak, dan daftar panjang yang terus mereka cek ulang. Aroma parfum mahal bercampur dengan wangi bunga segar yang baru dipetik dari rumah kaca.
Debutante Lilith dimulai esok hari, dan seluruh kediaman bergerak seolah hidup hanya untuk satu tujuan itu.
Di kamar kecilnya, Elenna merasakan perubahan itu bahkan sebelum melihatnya. Ia terbangun oleh suara-suara bising di luar pintu. Bukan langkah pelayan yang biasa mengantarkan makanan dengan senyap, melainkan langkah-langkah penuh tujuan. Suara pintu kamar dibuka tutup berkali-kali, suara perintah terdengar bersahutan, kain diseret di lantai.
Hari ini berbeda.
Elenna duduk di tepi ranjang, menyibakkan selimut tipis. Balutan di lengannya sudah diganti semalam, lukanya mulai mengering, meski rasa nyeri masih setia menemani. Ia menatap pakaian yang tergantung di sudut kamar, gaun polos berwarna kelabu pucat, satu-satunya pakaian “layak” yang ia miliki.
Itulah yang selama ini ia kenakan jika dipanggil ke hadapan keluarga.
Dadanya terasa berat, Ia tahu undangan itu akan datang. Tidak ada alasan baginya untuk tidak hadir. Lilith telah menyebutkan dengan jelas: Elenna akan berada di sana. Sebagai bagian dari keluarga. Sebagai pajangan yang harus tampak patuh.
Namun… dengan apa ia akan berdiri di ruangan penuh cahaya dan sutra itu?
Gaun kelabunya tampak semakin kusam di mata Elenna. Ia membayangkan dirinya berdiri di antara para bangsawan, di samping Lilith yang berkilau. Bayangan itu membuat perutnya mual.
Ia menarik napas panjang.
Hari itu terasa panjang bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Menjelang siang, pintu kamar Elenna diketuk.
Bukan dua kali pelan seperti biasanya. Kali ini tiga kali, dan lebih cepat.
Seorang pelayan wanita berdiri di ambang pintu. Usianya lebih muda, wajahnya tegang, seolah takut terlambat menyampaikan sesuatu. Di belakangnya, dua pelayan lain berdiri membawa sebuah kotak besar berlapis kain krem.
“No-nona… Elenna,” ucap pelayan itu ragu, jelas tidak terbiasa menyebut namanya dengan nada hormat. “Kami… kami diperintahkan untuk mengantarkan ini.”
Elenna mengernyit pelan. “Ini?”
Pelayan itu menunduk. “Nona Lilith mengirimkannya untuk Anda.”
Jantung Elenna berdetak lebih cepat.
Lilith?
Ia menatap kotak itu. Terlalu besar untuk sekadar aksesori. Terlalu rapi untuk sebuah ejekan terang-terangan. Pelayan-pelayan itu tidak menatapnya dengan sinis, hanya… canggung.
“Apa isinya?” tanya Elenna pelan.
“Kami tidak tahu, Nona,” jawab pelayan itu jujur. “Kami hanya diminta mengantarkannya dan membantu Anda bersiap jika diperlukan.”
Elenna terdiam.
Naluri di dalam dirinya berteriak. Lilith tidak pernah memberi tanpa maksud. Tidak pernah menyentuh hidup Elenna tanpa meninggalkan luka. Namun, di saat yang sama, Elenna tahu satu hal pahit: ia tidak punya pilihan.
Jika ia menolak, ia akan dianggap tidak tahu diri.
Jika ia bertanya terlalu banyak, ia akan dianggap terlalu curiga. Jika ia datang dengan pakaian lamanya… itu hanya akan menjadi alasan baru bagi dirinya untuk dipermalukan.
“Buka saja,” katanya akhirnya.
Kotak itu dibuka perlahan.
Di dalamnya terdapat sebuah gaun.
Bukan gaun megah penuh renda berlebihan. Bukan pula gaun sederhana murahan. Gaun itu berwarna biru pucat, hampir keperakan, dengan potongan lembut yang jatuh mengikuti tubuh. Kainnya halus, berkilau samar saat terkena cahaya. Tidak mencolok, tetapi jelas terlihat mahal dari kainnya yang lembut.
Elenna menatapnya lama.
“Ini…” suaranya nyaris tak keluar.
“Gaun untuk malam debutante,” ujar pelayan itu. “Nona Lilith berkata… Anda harus tampil pantas sebagai anggota keluarga.”
Kata pantas menggantung di udara, berat dan ambigu. Pelayan-pelayan itu mulai membantu Elenna berganti pakaian. Gerakan mereka profesional, cepat, seolah waktu adalah musuh terbesar hari ini. Gaun biru itu menyentuh kulit Elenna, terasa dingin, asing, dan rerlalu indah untuk seseorang sepertinya.
Saat ia berdiri di depan cermin kecil di kamar, Elenna hampir tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Rambutnya disisir rapi. Wajahnya bersih, pucat, dengan mata yang tampak terlalu besar di wajah kurusnya. Gaun itu… pas. Terlalu pas.
Ia tidak terlihat seperti anak haram yang berdarah kotor.
Ia lebih terlihat seperti seseorang yang seharusnya berada di sana, dan itu justru membuatnya gelisah.
Belum sempat ia mengumpulkan pikirannya, ketukan lain terdengar. Kali ini lebih pelan.
Alberto.
Ia masuk membawa sebuah kotak kecil beludru hitam. Tatapannya terhenti sesaat saat melihat Elenna. “Kau… terlihat baik,” ujarnya sembari menatap lekat Elenna.
Elenna menunduk. “Ini… dari Lilith.”
Alberto mengangguk, seolah paham tanpa menanyakan apapun. Ia mendekat dan membuka kotak beludru itu. Di dalamnya terbaring sebuah kalung perak sederhana dengan liontin kecil berbentuk tetesan air, dihiasi batu bening yang memantulkan cahaya lembut.
“Ini dariku,” ujar Alberto. “Untuk melengkapi.”
Elenna menatap kalung itu. Indah. Terlalu indah. Dan datang dari orang yang paling ia percayai.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Alberto terdiam sejenak. “Karena kau tidak boleh terlihat… kurang.”
Jawaban itu terdengar logis. Terlalu logis. Namun, sesuatu di nada suaranya membuat Elenna merinding.
Ia mengingat hari-hari sunyi di kamar kecilnya. Tatapan keluarga di ruang makan. Senyum tipis Alberto di balik pelukan perlindungan.
Kepercayaan dan kecurigaan beradu di dadanya. Tetapi lagi-lagi, ia tidak punya pilihan lain selain menerimanya.
“Terima kasih,” katanya lirih.
Alberto sendiri yang memasangkan kalung itu. Jarinya menyentuh leher Elenna sebentar, hangat, ringan, tetapi terasa asing. Kalung itu jatuh tepat di atas tulang selangkanya, berkilau lembut.
“Jangan khawatir,” ucap Alberto pelan. “Malam ini, kau hanya perlu tersenyum dan berdiri di tempatmu.”
Tempatmu.
Kata itu berputar di kepala Elenna bahkan setelah Alberto pergi.
Saat pintu tertutup, Elenna kembali menatap cermin. Gaun dari Lilith. Perhiasan dari Alberto. Dua hadiah dari dua orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya, dan dua orang yang membuatnya ragu dengan cara berbeda.
Setiap pantulan cermin di sepanjang lorong menyuguhkan bayangan yang membuatnya tidak nyaman. Bukan karena ia terlihat buruk, melainkan karena ia terlihat baik.
“Ini bukan aku,” bisik hatinya.
Namun, bayangan itu menatap balik tanpa membantah, seakan berkata bahwa mungkin… beginilah seharusnya ia terlihat sejak awal, jika dunia tidak memutuskan untuk menghancurkannya lebih dulu.
Ia menggenggam ujung roknya tanpa sadar. Ujung jarinya gemetar halus. Di dadanya, liontin tetesan air itu terasa dingin, beratnya konstan, seolah mengingatkannya bahwa ada sesuatu yang kini melekat padanya, sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Kenapa Lilith memberinya gaun?
Pertanyaan itu berulang, berputar tanpa jawaban. Lilith tidak pernah berbuat baik tanpa perhitungan. Setiap senyum manis selalu diikuti oleh jatuhnya seseorang, dan Elenna tahu, terlalu sering, orang itu adalah dirinya.
Apakah ini bentuk ejekan yang lebih halus?
Atau justru persiapan agar kejatuhannya nanti terasa lebih memuaskan?
Ia membayangkan bisikan-bisikan di aula besar nanti.
“Bukankah itu gadis pembawa sial?”
“Kasihan sekali, tapi lihat… mereka benar-benar mendandaninya.”
“Sayang sekali, semua itu sia-sia pada akhirnya.”
Dadanya terasa sesak.
Namun, lalu pikirannya beralih pada Alberto.
Kalung itu.
Pemberian darinya selalu menjadi satu-satunya hal yang dulu terasa aman. Satu-satunya pengingat bahwa di mansion ini, mungkin masih ada seseorang yang melihat Elenna sebagai manusia, bukan beban atau alat.
Tapi hari ini… bahkan itu terasa berbeda.
"Karena kau tidak boleh terlihat… kurang."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada yang ingin ia akui. Bukan karena kejam, melainkan karena jujur dengan cara yang menyakitkan. Seolah Alberto tidak sedang melindunginya, melainkan sedang menyesuaikannya agar cocok dengan panggung yang akan menelannya.
Elenna menutup mata.
Ia mencoba mengingat bagaimana rasanya menolak. Bagaimana rasanya berkata tidak. Bagaimana rasanya mempercayai nalurinya sendiri tanpa takut akan konsekuensinya.
Tetapi semua kenangan itu terasa jauh, kabur, seperti mimpi yang pernah ia miliki sebelum mansion ini mengajarinya satu pelajaran sederhana: Bertanya terlalu banyak hanya akan membuat segalanya lebih buruk.
Jika ini jebakan, maka ia sudah berdiri di tengahnya. Jika ini perlindungan, maka ia tidak tahu harga apa yang harus ia bayar nanti.
Ia membuka mata kembali.
Tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada keberanian besar. Hanya kelelahan yang dalam, kelelahan dari terus-menerus berjaga, dari selalu mengantisipasi rasa sakit berikutnya.
“Sedikit saja,” gumamnya nyaris tanpa suara.
“Bertahan sedikit lagi.”
Dengan punggung ditegakkan, bukan karena percaya diri, melainkan karena kebiasaan bertahan, Elenna melangkah menuruni tangga.
Setiap langkah mendekatkannya pada cahaya, pada pandangan orang-orang, pada malam yang ia tahu tidak akan ramah.
Namun, untuk saat ini, ia memilih satu-satunya jalan yang tersisa baginya:
Diam. Tersenyum tipis. Dan membiarkan semua orang percaya bahwa ia baik-baik saja.
Ia mengangkat tangan, menyentuh liontin di lehernya.
“Kalau ini jebakan,” bisiknya pada bayangannya sendiri, “maka aku tidak punya jalan keluar.”
Karena di mansion Marquess, menunjukkan keraguan sering kali lebih berbahaya daripada terjebak dalam kebohongan yang berkilau.