Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Orang Satu Hati
Senja di kafe langganan mereka kali ini terasa berbeda. Bukan karena menu yang berubah atau dekorasi yang diganti, tapi karena udara di antara mereka lebih berat, lebih penuh makna.
Arman duduk di kursi yang sama, menghadapi Nadia yang hari itu mengenakan tunik panjang warna maroon dengan bros kecil di kerah. Rambutnya diikat rendah, beberapa helai jatuh membingkai wajah yang sendu namun penuh harap. Di meja, latte untuk Nadia hampir dingin, kopi hitam Arman tidak tersentuh.
Sejak pengakuan Nadia di kafe Kemang, Arman terus memikirkan kata-katanya. Dua minggu berlalu dalam kebimbangan yang tak kunjung reda. Di satu sisi, ada Nadia yang menawarkan pelabuhan yang tenang, yang melihatnya sebagai pahlawan, bukan pecundang.
Di sisi lain, ada Rani yang diam-diam mengawasi, Aldi yang polos memanggilnya "Bapak", dan rumah yang meski dingin namun masih ia sebut miliknya.
Tapi malam ini, Arman sudah mengambil keputusan. Atau setidaknya, ia sudah siap untuk jujur.
"Nadia," panggilnya, tanpa embel-embel formal. Nama itu kini terasa akrab di lidahnya.
"Aku sudah mikirin semuanya. Tentang kita. Tentang apa yang kamu bilang."
Nadia mengangkat wajah, matanya tajam namun rapuh. "Dan?"
Arman menarik napas panjang. Tangannya, yang sejak tadi menggenggam cangkir kopi dingin, ia letakkan di atas meja.
"Aku suka kamu. Aku nggak bisa bohong. Selama ini, kamu jadi satu-satunya tempat aku bisa jadi diri sendiri, nggak dinilai gagal, nggak dicurigai terus. Aku seneng sama kamu."
Garis-garis ketegangan di wajah Nadia perlahan melunak. Matanya yang sendu kini berkaca-kaca, bukan karena sedih tapi karena lega. "Arman…"
"Tapi aku minta satu hal," potong Arman, suaranya serius.
"Jangan minta aku milih antara kamu dan Rani. Aku nggak sanggup. Aku sayang Aldi, aku juga masih… masih ada tanggung jawab sama Rani. Kalau aku harus milih, aku nggak akan bisa. Aku cuma akan jadi orang yang kalah, apa pun yang aku pilih."
Nadia terdiam. Jari-jarinya yang lentik memilin ujung syal tipis di lehernya. Kemudian, perlahan, ia mengangguk.
"Aku nggak akan minta kamu milih, Arman," ucapnya lirih.
"Aku cuma minta tempat. Bukan gantikan posisi Rani. Cuma… jangan sembunyikan aku terus. Jangan jadikan aku rahasia yang kotor. Aku juga manusia."
Arman menghela napas lega. Lega yang aneh, bercampur rasa bersalah yang sudah menjadi langganan.
"Aku perlu waktu. Buat ngomong sama Rani. Pelan-pelan. Aku nggak bisa langsung. Kasih aku waktu."
"Berapa lama?" tanya Nadia, tanpa nada mendesak, hanya kepastian.
Arman menggeleng. "Aku nggak tahu. Tapi aku janji, aku akan bicara."
Nadia tersenyum, senyum yang rapuh namun tulus. Ia meraih tangan Arman di atas meja, menggenggamnya lembut.
"Aku tunggu. Tapi Arman… sambil nunggu kamu bicara sama Rani, aku juga punya masalah sendiri."
Arman menatapnya, menunggu.
"Gosip. Udah mulai berhembus," ujar Nadia, suaranya bergetar sedikit.
"Di kalangan relawan, di antara supplier, bahkan ada yang nanya langsung ke aku. 'Mba Nadia, itu driver lo kok sering banget ya nemenin kemana-mana? Kayaknya lebih dari sekadar driver deh.' Ada yang bilang, 'Wah, jangan-jangan asisten pribadi yang spesial.'"
Nadia menirukan nada sindiran itu dengan getir.
Dia menghela napas. "Aku janda, Arman. Aku bisa hidup sendiri, usaha sendiri, tapi gosip… gosip itu bisa bunuh kredibilitas pelan-pelan. Aku nggak mau nanti dibilang selingkuhan orang, atau lebih parah: pelakor."
Suaranya pecah di kata terakhir. "Padahal aku nggak pernah punya niat jahat. Aku cuma… ya, aku suka kamu."
Arman terdiam. Ia belum pernah melihat sisi Nadia yang rentan seperti ini. Selama ini, Nadia adalah sosok yang tegar, mandiri, selalu punya kendali. Sekarang, di hadapannya, ia hanya seorang perempuan yang takut pada julukan-julukan kejam dari masyarakat.
"Maka dari itu," Nadia melanjutkan, menegakkan punggungnya, mencoba mengumpulkan keberanian, "aku punya usul. Dan aku harap kamu nggak kaget atau tersinggung."
"Usul apa?"
Nadia menarik napas dalam-dalam. Matanya menatap Arman tanpa berkedip, seperti akan melompat dari tebing. "Nikah siri. Kita nikah siri dulu."
Udara di meja itu seketika membeku. Arman merasa dadanya ditinju. Nikah. Kata yang sangat sakral, yang dulu ia ucapkan di hadapan penghulu dan saksi dengan Rani.
Sekarang, Nadia mengucapkannya dengan tenang di kafe, seperti menawarkan kerjasama bisnis.
"Aku tahu ini tiba-tiba," sambung Nadia cepat, membaca ekspresi Arman.
"Tapi coba pikir, Arman. Statusku janda. Kamu sering terlihat dengan aku. Kalau hubungan ini nggak jelas, gosip akan makin jadi. Lama-lama aku dicap 'wanita simpanan', kamu dicap 'laki-laki nakal'. Itu nggak baik buat kita, buat usahaku, dan juga buat kamu—kalau sampai Rani tahu dari orang lain."
Ia meraih kedua tangan Arman. "Dengan nikah siri, setidaknya ada status yang halal. Aku bukan selingkuhan. Kamu bukan pezina. Ini bukan tentang merebut kamu dari Rani, tapi tentang melindungi apa yang kita punya sekarang, dan memberiku hak untuk tidak dihakimi."
"Tapi Rani…" suara Arman serak.
"Urusan kamu dengan Rani, aku serahkan sepenuhnya ke kamu," potong Nadia tegas.
"Aku nggak akan ikut campur. Aku nggak akan datang ke rumahmu, nggak akan nuntut kamu ninggalin dia. Tugas suami terhadap istri pertama tetap jalan. Aku nggak minta lebih. Aku cuma minta status yang jelas di mata agama, biar aku nggak terus-terusan dijadikan bahan omongan."
Arman membisu. Pikirannya berputar seperti tornado. Nikah siri. Status halal. Bukan selingkuhan. Kata-kata itu berkelindan dengan janji setianya pada Rani, dengan wajah Aldi yang polos, dengan perjanjian yang ia tulis sendiri di atas kertas dulu.
Tapi di saat yang sama, ia juga melihat Nadia di depannya: perempuan yang tak minta banyak, yang hanya ingin diakui, yang tak ingin dicap sebagai perusak rumah tangga.
"Kamu nggak harus jawab sekarang," bisik Nadia, melepaskan genggamannya.
"Tapi tolong, pikirkan. Aku nggak butuh pesta. Nggak butuh mas kawin mahal. Cukup seperangkat alat salat dan kerelaanmu. Kita bisa saksikan dua orang yang kita percaya. Selesai."
Ia mengambil dompet, mengeluarkan uang untuk membayar kopi. Sebelum beranjak, ia menatap Arman sekali lagi.
"Kalau kamu butuh aku buat bantu ngomong ke Rani, aku siap. Aku nggak takut. Demi kita." Nadia tersenyum, tapi senyum yang mirip tangis.
Ia pergi, meninggalkan Arman sendirian di meja dengan dua cangkir kopi dingin dan segelas pertanyaan yang tak terjawab.
---
Malam itu, Arman tidak langsung pulang. Ia duduk di kos-kosan rahasianya, menatap dinding tanpa melihat. Di kepalanya, debat berkecamuk.
Nikah siri.
Pro: Status halal. Nadia terlindung dari gosip. Hubungan mereka tidak lagi "kotor". Dan mungkin, mungkin ini bisa jadi jalan untuk tetap bersama Nadia tanpa harus kehilangan Rani sepenuhnya.
Kontra: Ini pengkhianatan. Tidak peduli bagaimana membungkusnya, pernikahan kedua tanpa sepengetahuan istri pertama adalah bentuk perselingkuhan yang legal secara agama tapi diam-diam. Perjanjian dengan Rani, meski sudah usang, tetap ada. Dan yang paling berat: bagaimana nanti dengan Aldi?
Ia mengambil ponsel. Membuka galeri foto. Ada foto Aldi di taman bermain, tertawa lebar dengan es krim di tangan. Ada foto Rani—foto lama, saat mereka masih pacaran, saat Rani belum menjadi perempuan yang selalu diam penuh curiga. Lalu ada foto Nadia yang ia simpan diam-diam, foto candid saat ia menyetir, dengan senyum tipis di bibir.
Tiga orang. Satu hati. Tidak akan pernah cukup.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Nadia.
[Nadia] : Aku sampai rumah. Maaf kalau aku terlalu memaksakan kehendak tadi. Aku cuma takut, Arman. Takut kehilangan kamu sebelum sempat punya kamu. Tapi apa pun keputusanmu, aku akan terima. Selamat malam. Jangan lupa salat.
Arman membaca pesan itu berulang kali. Lalu, tanpa berpikir panjang, jari-jarinya menari di layar.
[Arman] : Aku terima. Tapi aku minta waktu seminggu buat nyiapin diri. Dan buat ngomong sama Rani. Doain aku.
Balasan Nadia datang dalam hitungan detik. Hanya satu kata, tapi seolah mengandung seluruh lautan:
[Nadia] : Alhamdulillah.
Dan di bawahnya, sebuah ayat pendek yang ia salin:
[Nadia] : "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." (QS. Ar-Rum: 21)
Arman tidak bisa tidur malam itu. Di rumahnya, Rani mungkin sudah terlelap setelah seharian mengadoni risoles. Di kos-kosan ini, ia baru saja menjatuhkan sauh untuk pelayaran baru yang penuh badai.
Ia tidak tahu apakah ini langkah maju atau lompatan ke jurang. Yang ia tahu, kini ada janji baru yang harus ia tepati, sementara janji lama masih tergantung tak terselesaikan.
Di kamar Aldi, anak itu bermimpi tentang bapaknya yang mengajaknya ke pantai, seperti yang dijanjikan minggu lalu. Dalam mimpi itu, mereka bertiga—Aldi, Bapak, dan Mama—bermain air sambil tertawa. Langit biru cerah. Tidak ada awan gelap di cakrawala.
Di dunia nyata, awan itu sudah mengumpul di ufuk, siap menumpahkan hujan yang tak bisa dihindari lagi.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.