Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden tidak lagi terasa hangat bagi Hana, melainkan seperti alarm yang menandakan dimulainya kehidupan baru.
Hana berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang mengenakan blazer berwarna biru navy yang pas di tubuh, dipadukan dengan celah kain hitam yang menonjolkan kaki jenjangnya. Rambut cokelat pendeknya ia tata sedikit bergelombang, memberikan kesan wanita karier yang tangguh dan mahal.
Di atas meja rias, Hana meletakkan ponselnya yang menampilkan pesan balasan dari Adrian semalam. "Pilihan yang cerdas, Hana. Aku menunggumu di lobi jam sembilan tepat."
Hana menarik napas dalam, mengoleskan parfum beraroma sandalwood yang elegan, lalu melangkah keluar kamar. Ia turun ke dapur dengan gerakan tenang, menyiapkan sarapan sederhana, nasi goreng dan telur mata sapi seperti yang biasa ia lakukan selama lima tahun terakhir.
Bedanya, kali ini ia melakukannya bukan karena pengabdian, melainkan sebagai tanda perpisahan pada rutinitasnya sebagai pelayan tak berbayar.
Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar. Arlan muncul dengan kemeja yang masih berantakan, wajahnya tampak segar, sisa-sisa malam yang ia habiskan di kamar Maura. Namun, langkah Arlan mendadak terhenti di anak tangga terakhir saat melihat pemandangan di hadapannya.
Hana sedang memakai sepatu hak tinggi berwarna hitam mengkilap di dekat pintu utama, tas jinjing bermerek sudah tersampir di bahunya.
"Hana? Mau ke mana kamu sepagi ini? Dan... pakaian apa itu?" tanya Arlan dengan nada bingung sekaligus menuntut.
Hana tidak menoleh. Ia sibuk mengancingkan tali sepatunya. "Sarapan sudah ada di meja. Makanlah bersama istrimu," jawabnya datar.
Arlan berjalan cepat menghampiri Hana, matanya menyapu penampilan istrinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia terkejut. Hana terlihat sangat cantik, sangat berkelas, dan... sangat asing.
Aura kepatuhan yang biasanya memancar dari diri Hana telah menguap, digantikan oleh kedinginan yang membekukan.
"Aku tanya, kamu mau ke mana? Kenapa dandan seperti itu? Hari ini kan hari kerja, aku tidak ingat menyuruhmu pergi ke mana pun," cecar Arlan, suaranya mulai meninggi.
Hana menegakkan tubuh, berbalik menatap Arlan dengan tatapan yang kosong. "Kau tidak perlu menyuruhku lagi, Mas. Mulai hari ini, aku bukan lagi pengangguran yang menunggu sarapanmu berakhir. Aku mulai bekerja."
"Bekerja?!" Arlan tertawa meremehkan, meski dalam hati ia merasa terancam. "Kerja di mana? Siapa yang mau menerimamu setelah lima tahun hanya mengurus dapur? Hana, jangan konyol. Kembali ke dapur dan siapkan teh jahe untuk Maura, dia sedang tidak enak badan."
Hana hanya menyunggingkan senyum tipis yang tampak merendahkan. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan membuka pintu depan.
"Hana! Hana Ayunindya! Aku bicara padamu!" teriak Arlan geram. Ia hendak mengejar, namun langkahnya tertahan oleh suara Maura yang memanggil manja dari lantai atas.
"Mas Arlan... perutku mual lagi..."
Arlan bimbang sejenak, menatap pintu yang baru saja tertutup rapat oleh Hana, lalu menatap ke arah tangga. Rasa egonya terusik. Hana benar-benar mengabaikannya.
Di luar, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sudah terparkir di depan gerbang. Hana masuk ke dalam mobil tanpa ragu. Ia bisa merasakan tatapan Arlan dari balik jendela lantai atas, namun ia tidak peduli.
Saat mobil itu melaju meninggalkan kediaman Mahendra, Hana merasakan beban di pundaknya perlahan terangkat.
Hana menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang nyaman, menatap lurus ke depan. "Aku ingin mereka sadar bahwa tanpa aku, istana yang mereka banggakan itu hanyalah tumpukan kartu yang rapuh."
~~
Gedung Gavriel Corp berdiri megah di pusat distrik bisnis Jakarta, sebuah menara kaca yang mencerminkan kekuasaan dan ambisi. Di lobi utama yang berlangit-langit tinggi, Hana melangkah dengan kepercayaan diri yang baru ia temukan.
Tidak ada lagi daster atau celemek yang melekat, kini ia mengenakan set blazer berwarna navy yang mewah.
Adrian Gavriel sudah menunggu di depan lift khusus eksekutif. Ia menatap Hana dengan binar kekaguman yang tak disembunyikan.
"Selamat datang di Gavriel Corp, Hana. Mulai detik ini, kau adalah Sekretaris Utamaku. Orang kepercayaanku yang akan mengatur seluruh jadwal dan pergerakan strategis perusahaan ini," ucap Adrian sambil memberikan kartu identitas karyawan berwarna emas.
Hana menerima kartu itu. Tangannya tidak lagi gemetar. "Terima kasih, Adrian. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Sepanjang hari, Hana tenggelam dalam kesibukan yang luar biasa. Ia mengoordinasi rapat-rapat penting, menyaring dokumen investasi bernilai miliaran, dan berkomunikasi dengan klien internasional.
Di Gavriel Corp, setiap orang yang berpapasan dengannya akan menunduk hormat dan menyapa, "Pagi, Bu Hana." Sebuah penghormatan yang terasa asing namun sangat manis, kontras dengan perlakuan di rumah Mahendra di mana namanya hanya dipanggil jika ada piring kotor.
Sore harinya, ponsel Hana terus bergetar di atas meja kerja yang luas. Arlan mengirimkan rentetan pesan yang penuh amarah.
"Hana! Pulang sekarang! Ibu sedang di rumah dan dia ingin makan malam spesial. Bi Inah sakit punggung, jadi kau harus segera memasak !"
"Hana, kenapa ponselmu tidak aktif?! Jangan sok sibuk, pekerjaanmu hanya mengurus rumah! Pulang atau aku jemput paksa !"
Hana hanya melirik layar itu dengan senyum sinis. Ia mematikan ponselnya, menyelesaikan laporan terakhirnya, dan baru meninggalkan kantor saat jarum jam menunjukkan pukul delapan malam.
Begitu Hana menginjakkan kaki di ruang tamu rumah Mahendra, suasana langsung terasa mencekik. Arlan berdiri di tengah ruangan dengan tangan bersedekap, sementara Ibu Mira duduk di sofa dengan wajah yang merah padam.
"Dari mana saja kamu, Hana?!" teriak Ibu Mira tanpa basa-basi. "Jam berapa ini? Kamu tahu rumah ini kacau karena kamu tidak ada? Lantai dapur belum dipel ulang setelah makan siang!"
Hana meletakkan tas jinjingnya di atas meja makan dengan tenang. "Selamat malam, Bu. Saya baru pulang kerja."
"Kerja? Kerja apa yang membuat istri mengabaikan rumah tangga?!" bentak Arlan, melangkah maju hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Hana. "Kau pikir dengan berdandan seperti ini kau bisa lari dari kewajibanmu? Cepat ke dapur, Ibu lapar!"
"Mas, di rumah ini ada Bi Inah. Kenapa kalian tidak memintanya?" tanya Hana datar.
"Bi Inah itu asisten rumah tangga untuk urusan berat! Tapi urusan melayani aku dan Ibu adalah tugasmu! Kau itu menantu di sini, tugasmu adalah memastikan kami nyaman!" Ibu Mira menyela dengan nada menghina. "Bagi kami, kamu itu tidak lebih dari pembantu yang sah secara hukum karena kamu tidak bisa memberikan anak! Jadi setidaknya bergunalah sedikit dengan memasak dan membersihkan rumah!"
Hana menatap Ibu Mira, lalu beralih ke Arlan. "Pembantu yang sah secara hukum? Jadi itu nilai saya di mata kalian selama lima tahun ini?"
"Jangan drama, Hana!" Arlan memijat pelipisnya dengan kasar. "Siapa atasanmu? Beritahu aku sekarang, aku akan menuntutnya karena sudah mencuci otakmu hingga kau berani melawan suamimu sendiri!"
Hana menarik napas panjang, menatap Arlan dengan keberanian yang belum pernah ia tunjukkan. "Nama perusahaannya adalah Gavriel Corp. Dan atasanku adalah Adrian Gavriel. Silakan kalau kau ingin menuntutnya, Mas. Tapi aku ragu kau punya nyali untuk menghadapi pria yang aset perusahaannya sepuluh kali lipat dari perusahaanmu."
Mendengar nama Adrian Gavriel, Arlan tertegun sejenak. Nama itu sangat disegani di dunia bisnis. Namun, egonya sebagai suami jauh lebih besar.
"Adrian Gavriel? Untuk apa pria sepertinya mempekerjakan wanita rumahan sepertimu?" Arlan tertawa mengejek. "Paling kau hanya jadi tukang fotokopi di sana. Dengar, Hana, mulai besok kau tidak boleh pergi. Aku akan mengunci gerbang!"
Tiba-tiba, Maura turun dari lantai atas dengan gaun malam yang tipis, wajahnya tampak pucat dan penuh drama. "Mas Arlan... perutku sakit sekali. Mbak Hana tidak ada di rumah dari pagi, jadi aku harus pesan makanan luar yang mungkin tidak bersih. Aku takut calon bayi kita kenapa-napa..."
Arlan langsung berubah panik. Ia merangkul Maura dengan protektif. "Lihat, Hana! Karena keegoisanmu ingin 'bekerja', kesehatan Maura dan anakku jadi terancam! Kau benar-benar tidak punya hati nurani!"
Ibu Mira berdiri, menunjuk wajah Hana dengan jarinya yang berhias cincin mahal. "Mulai malam ini, kamu tidak boleh keluar rumah! Kamu harus melayani Maura, pastikan semua kebutuhannya terpenuhi. Kalau perlu, kamu cuci kakinya setiap malam agar dia tenang! Itu hukumanmu karena sudah membangkang!"
Hana menatap Maura yang sedang tersenyum tipis di balik bahu Arlan. Sebuah senyuman kemenangan.
"Melayani Maura?" Hana mengulang kata-kata itu dengan nada yang dingin hingga membuat Arlan merinding. "Kalian salah besar. Mulai besok, saya tidak hanya akan terus bekerja di Gavriel Corp, tapi saya juga akan memastikan bahwa setiap detik yang saya habiskan di rumah ini akan menjadi penyesalan bagi kalian."
"Hana! Kurang ajar kamu!" Arlan hendak melayangkan tangan, namun Hana tidak menghindar. Ia justru menantang mata Arlan.
"Pukul saja, Mas. Pukul aku dan aku akan pastikan Adrian Gavriel membawa pengacara terbaiknya untuk menjebloskanmu ke penjara malam ini juga atas KDRT. Pilih mana? Menanti anakmu lahir di penjara, atau membiarkan aku pergi bekerja?"
Arlan tertegun, tangannya tertahan di udara. Ia tidak pernah melihat Hana seberani ini. Hana berbalik, mengambil tasnya, dan menaiki tangga menuju kamarnya tanpa memedulikan teriakan Ibu Mira yang masih memaki-makinya sebagai "istri mandul yang tak tahu diri".
Di dalam kamar, Hana menyandarkan punggungnya di pintu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, tapi karena merasa puas. Ia membuka laptopnya dan melihat email dari Adrian yang berisi dokumen kerja untuk besok.
"Kalian menganggapku pembantu?" bisik Hana pada kesunyian. "Maka bersiaplah melihat bagaimana pembantu ini meruntuhkan istana kalian dari dalam."
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
...----------------...
Next Episode....
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.