Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hati yang Kian Retak
Hari-hari Arman kini berputar dalam siklus yang melelahkan. Dua minggu di Jakarta, dua hari di kampung. Seperti bandul jam yang bergerak teratur, tapi tak pernah menemukan titik keseimbangan.
Di Jakarta, ia menjalani rutinitas bersama Nadia. Pagi-pagi membantu di thrift shop, siang mengantar meeting, sore kembali ke rumah. Tapi ada yang berubah.
Nadia, yang dulu hangat dan penuh perhatian, kini sering diam. Obrolan mereka terasa hambar, seperti sayur tanpa garam.
Suatu malam, saat mereka duduk di ruang tamu, Nadia membuka suara.
"Arman, kita perlu ngomong."
Arman menoleh dari ponselnya. "Ngomong apa?"
Nadia menarik napas panjang. "Dua minggu ini, rasanya aku hidup sama mayat. Kamu di sini, tapi kamu nggak ada. Pikiran kamu entah di mana. Mungkin di kampung, sama mereka."
"Nad, jangan gitu..."
"Aku nggak salah, kan?" potong Nadia, matanya tajam.
"Setiap kali mau berangkat ke kampung, seminggu sebelumnya kamu kayak orang nggak tenang. Hitung hari. Siap-siap. Pas pulang dari kampung, dua tiga hari pertama kamu masih terbawa suasana. Baru minggu kedua kamu mulai normal. Tapi sebentar lagi, kamu akan siap-siap lagi. Dan aku di sini, cuma jadi penonton."
Arman diam. Ia tak bisa membantah karena itu benar.
"Aku nikah sama kamu karena aku sayang. Aku kira kita bisa bangun hidup bareng. Tapi kenyataannya, aku cuma dapat sisa. Sisa waktu, sisa perhatian, sisa hati."
Suara Nadia bergetar. "Aku capek, Arman. Capek."
"Nad, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud..."
"Aku tahu kamu nggak bermaksud. Tapi ini kenyataannya." Nadia mengusap matanya.
"Aku nggak akan minta kamu ninggalin Aldi. Itu nggak mungkin dan aku nggak akan sebodoh itu. Tapi tolong, kalau kamu di sini, hadir utuh. Jangan setengah-setengah. Jangan biarkan aku merasa sendirian di rumah sendiri."
Arman menghela napas. Ia meraih tangan Nadia, menggenggamnya erat. "Aku usahakan, Nad. Aku janji."
Nadia tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke mata. "Kamu selalu janji. Tapi buktinya?"
Pertanyaan itu menggantung, tak terjawab.
---
Dua hari di kampung terasa seperti dunia yang berbeda. Arman tiba Jumat sore, diantar ojek dari terminal. Rumah mertua masih sama, tapi sambutan tak pernah berubah—dingin, canggung, penuh jarak.
Aldi selalu menyambutnya dengan hangat. "Bapak! Bapak dateng!" teriaknya, berlari memeluk kaki Arman.
Arman menggendongnya, mencium pipi gembulnya. "Iya, Nak. Bapak kangen Aldi."
Tapi Rani? Rani hanya muncul sebentar, mengangguk sopan, lalu sibuk dengan urusannya sendiri. Masak, bersih-bersih, atau membantu orang tuanya. Tak ada obrolan panjang, tak ada tanya kabar. Hanya basa-basi seperlunya.
Malam harinya, Arman tidur di ruang tamu. Bukan di kamar Rani. Alasannya, "Aldi sudah besar, nggak enak kalau lihat bapak tidur sama mama."
Tapi Arman tahu, itu alasan. Rani belum siap. Mungkin tak akan pernah siap.
Sabtu pagi, Arman mengajak Aldi main ke sawah. Mereka berlarian, main layangan, tertawa bersama. Untuk beberapa jam, Arman bisa melupakan semuanya—Nadia yang cemburu, Rani yang dingin, kehidupan yang ruwet. Di sini, ia hanya bapak, Aldi hanya anaknya. Sederhana.
Tapi kebahagiaan itu selalu berakhir cepat. Sore harinya, mereka harus kembali. Aldi mulai rewel.
"Bapak, jangan pulang. Tidur sini lagi," rengeknya.
"Nak, Bapak harus kerja. Dua minggu lagi Bapak dateng lagi, ya?"
"Janji?"
"Janji."
Aldi memeluknya erat. Arman memejamkan mata, menghirup wangi rambut anaknya. Rasanya ingin rasanya tak pernah melepas.
Rani muncul di ambang pintu. "Aldi, masuk. Bapak mau pulang."
Suaranya datar. Tak ada "hati-hati", tak ada "sampaikan salam". Hanya perintah singkat.
Arman menatapnya. "Ran, boleh ngobrol bentar?"
"Ngobrol apa?"
"Tentang kita."
Rani menggeleng. "Nggak ada 'kita', Arman. Udah. Sekarang lo pulang sana. Nanti keburu gelap."
Pintu tertutup. Arman berdiri di luar, menatap kayu-kayu usang itu. Di baliknya, Aldi mungkin menangis. Rani mungkin menahan air mata. Tapi ia tak bisa masuk. Tak diizinkan.
---
Perjalanan pulang ke Jakarta terasa panjang dan hampa. Arman duduk di bus, menatap gelap di luar jendela. Pikirannya berkelindan antara dua rumah, dua perempuan, dan satu anak yang menjadi pusat dari segalanya.
Ponselnya bergetar. Nadia.
[Nadia] : Udah di mana? Aku masak sop iga. Kamu pasti laper.
Pesan itu hangat. Tapi entah mengapa, Arman merasa terbebani. Karena ia tahu, begitu sampai di Jakarta, ia harus kembali berakting. Menjadi Arman yang utuh untuk Nadia, meski hatinya terbelah.
[Arman] : Masih di bus. Sampai sekitar jam 10.
[Nadia] : Aku tunggu. Hati-hati.
[Arman] : Makasih.
Ia menyimpan ponsel, memejamkan mata. Lelah fisik terasa, tapi lelah mental lebih berat. Hidup dengan dua rumah, ternyata bukan tentang kebahagiaan berlipat. Justru tentang kehilangan berlipat.
Ia kehilangan keintiman dengan Nadia karena pikirannya terbagi. Ia kehilangan kesempatan membangun kembali hubungan dengan Rani karena tembok yang terlalu tinggi. Dan yang paling menyakitkan, ia kehilangan momen-momen kecil bersama Aldi—momen yang tak akan pernah kembali.
Dulu, saat pertama kali bertemu Budi dan terinspirasi poligami, aku membayangkan hidup yang lebih lengkap. Dua istri yang saling mendukung, anak-anak yang bermain bersama, kebahagiaan yang berlipat ganda. Arman tersenyum getir. Ternyata, yang kudapat adalah dua rumah yang tak pernah utuh, satu hati yang terus retak, dan kerinduan yang tak pernah terobati.
---
Bus tiba di Jakarta pukul setengah sebelas malam. Arman naik ojek ke rumah Nadia. Begitu masuk, aroma sop iga menyambutnya. Nadia keluar dari dapur dengan celemek masih terikat, wajahnya lelah tapi berusaha tersenyum.
"Udah pulang? Makan dulu, ya. Aku panasin."
Arman meletakkan tas, duduk di meja makan. Nadia menghidangkan sop iga hangat, nasi putih, dan sambal. Ia duduk di seberang, menopang dagu, memandangi Arman makan.
"Enak?" tanyanya.
"Enak banget. Makasih, Nad."
Nadia tersenyum. Tapi matanya berkata lain. Ada kesedihan di sana, yang tak bisa ia sembunyikan.
"Arman."
"Iya?"
"Aku mikir... mungkin kita perlu jeda."
Arman berhenti mengunyah. "Jeda? Maksudnya?"
"Maksudnya, mungkin aku perlu waktu sendiri. Biar aku nggak terus-terusan cemburu, nggak terus-terusan merasa kurang."
Nadia menunduk. "Aku cinta kamu, tapi aku juga perlu jaga hati aku."
"Nad, jangan gitu. Kita bisa omongin baik-baik."
"Aku udah omongin. Berkali-kali. Tapi nggak ada yang berubah." Nadia mengangkat wajah, matanya basah.
"Kamu tetap pergi dua minggu sekali, tetap pikirannya ke sana, dan aku tetap di sini, merasa sendirian. Aku nggak kuat, Arman."
Arman terdiam. Sop iganya tak lagi terasa hangat.
"Kamu minta aku milih?" tanyanya lirih.
"Bukan milih. Aku cuma minta kamu sadar, bahwa aku juga manusia. Aku juga butuh diperhatikan. Bukan cuma jadi nomor dua yang nerima sisa."
Kalimat itu seperti tamparan. Nomor dua. Selama ini, Arman mengira ia bisa berlaku adil. Tapi ternyata, keadilan itu subjektif. Dan Nadia, yang dulu menerima status istri kedua dengan lapang dada, kini mulai goyah.
Malam itu, mereka tidur saling membelakangi. Jarak fisik yang dekat, tapi jarak hati yang terasa begitu jauh. Arman memandangi punggung Nadia, lalu menatap langit-langit. Pikirannya kembali ke Aldi, ke Rani, ke dua hari di kampung yang selalu terasa terlalu singkat.
Di mana rumahku sebenarnya? tanyanya pada diri sendiri. Di sini, bersama Nadia yang memberiku kenyamanan tapi cemburu? Atau di kampung, bersama Rani yang dingin dan Aldi yang selalu kurindukan?
Tidak ada jawaban. Hanya sunyi dan detak jam dinding yang berdetak pelan, seolah menghitung mundur menuju kehancuran berikutnya.
---
Pagi harinya, Arman bangun lebih dulu. Nadia masih tidur, dengan wajah lelah dan sisa air mata di pipi. Arman menatapnya lama, merasa bersalah. Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Rani—foto Aldi sedang sarapan, dengan senyum ceria. Tanpa teks. Seperti biasa.
Arman memandangi foto itu, lalu ke Nadia yang tidur gelisah. Di antara dua dunia ini, ia merasa semakin terperangkap. Tak bisa sepenuhnya bersama Nadia karena bayang-bayang Rani dan Aldi. Tak bisa sepenuhnya bersama Rani karena tembok yang ia bangun sendiri.
Inilah poligami, pikirnya. Bukan surga dunia, tapi neraka yang tak pernah terbayangkan.
Ia bangkit, menuju kamar mandi. Di depan cermin, ia memandangi wajahnya sendiri—wajah yang semakin tua, semakin lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata. Wajah seorang pria yang pernah bermimpi terlalu tinggi, dan jatuh terlalu dalam.
Di luar, Jakarta mulai bangun. Suara kendaraan mulai ramai. Hari baru dimulai. Tapi bagi Arman, tak ada yang baru. Hanya rutinitas yang sama, dengan hati yang semakin retak.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.