NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji yang tak terpisahkan

Anindya terbangun di atas tempat tidur besar dengan kepala yang masih terasa sangat berat akibat sisa obat bius. Begitu matanya menangkap sosok Bastian yang sedang merapikan setelan jas pengantinnya di depan cermin, Anindya langsung berteriak.

"Bastian! Lepaskan aku! Kamu sudah benar-benar gila! Aku punya suami, aku punya Yoga!" teriak Anindya sambil mencoba turun dari tempat tidur.

Bastian menoleh, matanya berkilat aneh—campuran antara cinta yang sakit dan dominasi. "Yoga sudah menganggapmu mati, Anin. Di dunia ini, kau hanya milikku. Di luar sudah ada penghulu dan saksi yang aku bayar mahal. Malam ini, kau akan sah menjadi istriku, baik kau mau atau tidak."

Anindya mencoba berlari menuju pintu, namun Bastian dengan cepat menyergapnya. Anindya memukul dada Bastian dengan kepalan tangannya, menendang, dan mencakar, namun tenaga Bastian jauh lebih kuat. Dengan sekali sentakan, Bastian membopong Anindya dan melemparnya kembali ke tempat tidur.

"Jangan memaksaku melakukan kekerasan, Anindya!" geram Bastian sambil menindih kedua tangan Anindya di atas kepala. "Jika kau terus melawan, aku tidak akan menunggu penghulu itu memulai acaranya. Aku bisa memilikimu sekarang juga, di sini, tanpa status apa pun!"

Anindya terengah-engah, air matanya mengalir deras. Ia melihat kilat ancaman di mata Bastian yang menunjukkan bahwa pria itu tidak main-main. Jika ia terus memberontak secara fisik, Bastian akan melecehkannya saat itu juga.

"Pergi... keluar dari sini, Bastian! Aku mohon..." bisik Anindya sambil memundurkan tubuhnya hingga terpojok di kepala tempat tidur, mencoba memberi jarak sejauh mungkin. "Jangan lakukan ini... ini bukan cinta, ini kejahatan."

****

Sementara itu, di jalanan berkelok menuju Magelang, mobil yang dikemudikan Yoga melaju dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Cakra di sampingnya hanya bisa berpegangan erat pada handgrip mobil, wajahnya pucat pasi.

"Bos, pelan sedikit! Kita bisa kecelakaan!" seru Cakra.

Yoga tidak mendengar. Fokusnya hanya satu: titik koordinat mobil Bastian yang berhasil dilacak Cakra melalui bantuan orang dalam di kepolisian. "Dia membawa istriku ke arah Borobudur. Dia pikir dia bisa menyembunyikannya dariku di sana?"

Rahang Yoga mengeras hingga urat lehernya menonjol. Amarahnya sudah mencapai puncak. Ia sudah menyiapkan senjata di laci mobil, bukan pisau bedah, melainkan sesuatu yang akan ia gunakan jika Bastian berani menyentuh seujung kuku istrinya.

Di Dalam Villa

Bastian berdiri di dekat pintu kamar, menatap Anindya yang meringkuk ketakutan dengan tatapan dingin. "Aku beri waktu sepuluh menit untuk merapikan dirimu. Pakailah kebaya yang ada di lemari itu. Jika kau tidak keluar, aku yang akan masuk dan memakaikannya untukmu... dengan caraku sendiri."

Brak! Bastian menutup pintu dan menguncinya dari luar.

Anindya gemetar hebat. Ia menatap ke sekeliling kamar, mencari celah untuk kabur atau senjata untuk membela diri. Matanya tertuju pada sebuah vas bunga keramik besar di sudut ruangan. Di saat yang sama, ia mendengar suara raungan mesin mobil yang sangat kencang mendekat ke arah villa.

Pemandangan di ruang tengah villa itu bagaikan neraka bagi Yoga. Bastian sedang berdiri di depan seorang pria tua yang dipaksa menjadi penghulu, sementara dua pria berbadan besar berjaga di sana.

"Lanjutkan akadnya!" bentak Bastian kalap.

"HENTIKAN!" Raungan Yoga menggelegar saat ia mendobrak pintu jati villa tersebut.

Bastian menoleh, matanya merah penuh kebencian. "Kau lagi, Yoga! Kau tidak seharusnya ada di sini!"

Tanpa banyak bicara, Yoga menerjang. Sebuah pukulan telak mendarat di rahang Bastian, disusul tendangan yang membuat Bastian terjerembap ke meja kayu hingga hancur. Baku hantam hebat terjadi. Yoga yang biasanya tenang kini bertarung seperti binatang buas yang kehilangan pasangannya.

Ia tidak peduli pada luka-luka di wajahnya, fokusnya hanya satu: menghancurkan pria yang mencoba mencuri istrinya.

Di saat keributan itu memuncak, Anindya yang ketakutan di dalam kamar berhasil menjebol selot jendela. Dengan sisa tenaga dan air mata, ia melompat ke kegelapan taman belakang dan berlari sekuat tenaga menuju hutan pinus di lereng bukit tersebut.

****

Yoga berhasil melumpuhkan Bastian setelah sebuah hantaman keras membuat pengusaha itu pingsan bersimbah darah. Yoga segera berlari ke arah kamar disekapnya Anindya.

"Anin! Anin!" Yoga mendobrak pintu, namun hatinya mencelos melihat kamar kosong dengan jendela yang terbuka lebar ditiup angin malam yang dingin. Tanpa berpikir panjang, ia melompat keluar jendela, mengikuti arah rumput yang terinjak.

"Anindya! Ini aku, Sayang! Berhenti!" teriak Yoga sambil berlari membelah semak belukar.

Di depan sana, Anindya yang sudah sangat trauma tidak bisa membedakan suara lagi. Di kepalanya, suara itu adalah suara Bastian atau anak buahnya yang mengejar. Kakinya lemas, napasnya tersengal-sengal, namun ketakutan memberikan ia kekuatan ekstra.

Ia memungut sebuah batu tajam sebesar kepalan tangan dari pinggir jalan setapak yang gelap. Saat ia merasakan seseorang mendekat dan tiba-tiba menarik bahunya masuk ke dalam pelukan yang sangat erat, Anindya berteriak histeris dan menghantamkan batu itu sekuat tenaga ke arah kepala orang tersebut.

DUG!

Darah segar seketika mengucur, membasahi wajah dan baju putih orang yang memeluknya.

Anindya bersiap untuk memukul lagi, namun tangannya mendadak membeku di udara. Di bawah cahaya rembulan yang remang-remang, ia melihat wajah pria yang sedang mendekapnya. Mata tajam itu menatapnya dengan sayu, bibirnya bergetar mencoba tersenyum meski darah mengalir deras dari pelipis dan kepalanya.

"Mas... Yoga?" bisik Anindya, suaranya hilang ditelan angin.

"Syukurlah... kau... selamat, Anin..." Yoga bergumam lirih. Tubuhnya limbung, ia tidak kuat lagi menahan luka di kepala akibat hantaman batu dan sisa pertarungannya dengan Bastian tadi. Yoga jatuh berlutut, kepalanya terkulai di bahu Anindya, membasahi pundak istrinya dengan darah yang hangat.

"TIDAK! MAS YOGA! MAAFKAN AKU!"

Anindya menjerit histeris, menjatuhkan batunya dan memeluk kepala suaminya dengan tangan gemetar. "Cakra! Tolong! Siapa pun tolong!"

Darah terus mengalir, dan di tengah sunyinya hutan Magelang, Anindya menangis sejadi-jadinya, meratapi luka yang justru ia berikan pada pria yang telah mempertaruhkan nyawa untuk menemukannya.

Suasana di lorong rumah sakit Magelang malam itu begitu mencekam hingga Cakra datang bersama beberapa petugas medis yang ia panggil melalui bantuan polisi setempat. Cakra hampir saja jatuh lemas saat melihat Yoga tergeletak di pelukan Anindya dengan wajah tertutup darah.

"Bos! Nyonya!" seru Cakra panik. Petugas medis dengan sigap mengangkat tubuh Yoga ke atas tandu.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Anindya tidak melepaskan tangan Yoga yang mendingin. Ia terus terisak, menggenggam jemari suaminya yang penuh luka lebam akibat baku hantam dengan Bastian. Di kepalanya terus terngiang bunyi hantaman batu yang ia ayunkan sendiri.

Di Bangsal Rumah Sakit

Beberapa jam kemudian, aroma antiseptik memenuhi ruangan VVIP tempat Yoga dirawat. Luka di kepala Yoga cukup dalam dan memerlukan belasan jahitan. Kini, kepalanya terbungkus perban putih bersih yang kontras dengan warna kulitnya yang pucat.

Perlahan, kelopak mata Yoga bergerak. Ia meringis saat rasa pening yang luar biasa menghantam kesadarannya. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Anindya yang sembap, duduk di kursi samping tempat tidur sambil memegangi tangannya.

"Mas... Mas Yoga sudah sadar?" bisik Anindya dengan suara serak.

Yoga mencoba memfokuskan pandangannya. Ia melihat istrinya hidup, nyata, dan berada tepat di depan matanya. "Anin..."

Melihat Yoga sudah bisa bicara, tangis Anindya kembali pecah. Ia menunduk dan mencium punggung tangan Yoga berkali-kali. "Maafkan aku, Mas... Maafkan aku. Aku bodoh, aku ceroboh. Aku malah melukaimu saat kamu mempertaruhkan nyawa untukku. Aku pikir kamu orang jahat itu..."

Yoga tersenyum tipis, meski setiap gerakan di wajahnya terasa menyakitkan. Ia menggunakan tangan satunya untuk mengusap rambut Anindya dengan gerakan lemah.

"Jangan minta maaf, Sayang," suara Yoga terdengar berat namun penuh kasih. "Justru aku yang bangga. Istriku ternyata sangat berani dan bisa melindungi diri sendiri. Pukulanmu... cukup kuat juga untuk seorang dokter Internis sepertiku."

"Mas, jangan bercanda! Aku hampir membunuhmu!" seru Anindya antara sedih dan kesal karena Yoga masih sempat-sempatnya bergurau.

Yoga menarik napas panjang, menatap Anindya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan rindu yang tertahan selama berbulan-bulan. "Aku lebih baik mati di tanganmu daripada harus kehilanganmu lagi di tangan pria gila itu. Kemarilah... jangan jauh-jauh dariku."

Anindya mendekat dan menyandarkan kepalanya dengan hati-hati di dada Yoga, takut menyakiti luka suaminya. Mereka terdiam dalam keheningan yang mengharukan, mensyukuri keajaiban bahwa takdir masih menyatukan mereka setelah melewati api dan kegilaan Bastian.

Kehadiran Cakra dan Berita Bastian

Pintu kamar terbuka pelan, Cakra masuk dengan kepala menunduk. "Maaf mengganggu, Bos. Saya hanya ingin melaporkan bahwa Bastian Purnomo sudah diamankan kepolisian Magelang. Dia akan dipindahkan ke Surabaya untuk diproses atas kasus penculikan dan percobaan pernikahan paksa."

Yoga mengangguk lemah, matanya berkilat dingin sejenak saat mendengar nama itu. "Pastikan dia tidak pernah bisa menggunakan uangnya untuk keluar dari penjara, Cakra. Dan bagaimana dengan Dinda di Jepang?"

"Tim kita sudah berkoordinasi dengan otoritas di sana, Bos. Setelah Bastian bicara, Dinda tidak akan punya tempat sembunyi lagi."

Yoga kembali menatap Anindya. "Sekarang tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita, Anin. Tidak api, tidak kuburan palsu, dan tidak juga obsesi siapa pun."

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!