NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Misteri / Detektif
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Hambatan

🛑

#

Tadi malam, bertepatan dengan Mahesa yang kembali dari ruangan Panji, tim mereka kembali mendapat sebuah laporan yang mengejutkan. Bagaimana tidak. Laporan yang mereka terima mengatakan penemuan jasad seorang pria di dekat jalanan sepi. Jarang sekali ada warga atau kendaraan yang melintas karena jalanan itu biasa digunakan untuk parkir becak motor pengangkut sampah.

Tanpa pernah mereka duga, sosok yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan itu adalah Pak Rajiman, pria yang sempat melaporkan keberadaan sebuah mobil misterius yang membuka jalan lebar bagi penyelidikan mereka.

Dari penyelidikan yang telah dilakukan, ditemukan sejumlah luka menganga di tubuh korban yang mengindikasikan adanya tindak penganiayaan. Beberapa diantaranya adalah luka karena pukulan benda tumpul di area kepala, dua puluh tujuh luka tu*suk di sekujur tubuh korban, hingga luka bakar parah yang melebar di area punggung.

Dugaan awal penyebab meninggalnya korban adalah karena kehabisan da*rah.

Kini, mereka kembali disibukan dengan kasus baru yang menambah daftar pekerjaan mereka.

Dan karena kemunculan hal mengejutkan itu, Mahesa urung mengakui alasan utamanya bergabung dengan tim yang diketuai Bagus itu.

Saat ini, Mahesa memilih untuk mengikuti ke mana alur penyelidikan membawanya tanpa menutup kemungkinan ia sendiri yang akan menuntun jalur.

Ketika Mahesa tengah menatap laporan awal penyelidikan, ponselnya bergetar sebentar lalu disusul getaran yang lebih lama.

“Halo, Bro? Gue baru mau buka chat lo...” kata Mahesa pada Hardi.

“Bang! Gue cerita dulu bentar. Waktu gue nyari tahu soal orang itu, gue iseng cek latar belakang keluarga dia. Dan lo tahu, Bang? Bokap dia tuh ternyata penyumbang dana terbesar ke Rumah Kreatif Pelangi yang ternyata yayasan itu milik Pak Kepala atasan lo, Bang...!” jelas Hardi terdengar semangat.

“Yang bener, Har?” kedua mata Mahesa melebar, pria itu bahkan sempat tersentak dari duduknya.

“Ish...! Beneran, Bang! Gue gak bohong. Makanya sekarang gue ngerti kenapa dulu kasus tabrak lari anaknya Pak Sugeng bisa cepet ditutup dan tiba-tiba aja anaknya diberitain jadi korban kebakaran itu...”

“Oiy, Bro. Gak boleh suudzon...” kata Mahesa dengan raut wajah datar.

“Ya gak suudzon gimana, Bang? Walaupun waktu itu Pak Sugeng punya jabatan, tapi tingkah anaknya, beuh... Kayak begajulan. Nyetir sambil kobam dan nabrak pemotor pula, Bang! Kalau bukan karena campur tangan Pak Kepala--”

“Hey... Hey... Hey... Kita tidak boleh berspekulasi seperti itu, wahai anak muda...” Mahesa secara halus meminta Hardi menghentikan ocehannya. Ia tidak ingin Hardi terlibat terlalu jauh.

“Hm. Sayang sekali, Pak Tua. Orang baik seperti anda ini lah yang justru sering dijadikan batu loncatan oleh orang-orang haus kekuasaan di dunia yang kejam ini,” balas Hardi dengan nada tak mau kalah.

Keduanya lalu sama-sama tertawa kecil. Sudah lama sekali sejak mereka melontarkan candaan garing ala terjemah film yang super formal itu.

“Oke, deh. Gue mau cek file yang lo kirim. Thank you berat ya, bro!”

“Sip...! Santai aja Bang, santai...”

Sambungan telpon itu lalu berakhir.

Mahesa kini bergegas membuka pesan berisi dokumen yang diterimanya dari Hardi.

Isi kepala Mahesa seperti langsung bercabang banyak sejak awal ia membaca data di ponselnya sampai beberapa menit setelahnya.

“Gila...!” katanya nyaris tanpa suara. “Berarti sekarang Martin ada di mana...?”

Lalu segera setelah itu, jemarinya lincah mengetik pesan untuk Addam.

“Dam. Nanti malem lo ada waktu? Gue mau ngomong,”

#

Malam harinya, Addam, Naya dan Mahesa akhirnya kembali bertemu di ‘markas’ mereka, tepatnya di unit hunian Mahesa.

“Banyak banget yang harus dibahas, Dam...” kata Mahesa sambil memberikan Addam dan Naya masing-masing satu set dokumen.

Dokumen itu terlihat tipis, sepertinya hanya terdiri dari tiga atau empat lembar kertas saja.

“Ini apaan, Sa?” tanya Addam sambil menerima dokumen itu.

“Itu jawaban dari prasangka buruk gue, Dam.” Mahesa menyandarkan punggungnya di sofa.

“Nama lengkap: Martin Subagyo Kusuma. Martin--maksud lo?!” Addam begitu terkejut saat ia membaca baris pertama dokumen pemberian Mahesa.

“Yaa... Seperti yang dulu pernah gue bilang. Pelaku kejahatan kadang adalah orang terdekat korban atau orang yang mengenal korban dengan baik.”

“Terus kenapa Martin, Sa?! Martin--” Addam menaruh dokumen pemberian Mahesa di meja.

Sementara itu, Naya tampak serius membaca kata demi kata yang tertulis di kertas itu sambil terus menajamkan indra pendengarannya karena tak mau ketinggalan obrolan Addam dan Mahesa. Bagaimana lagi, Naya justru merasa aneh jika ia hanya diam dan menonton perbincangan serius mereka.

“Lokasi vila, Jalan Gunung...” gumam Naya sambil pura-pura terlihat sibuk.

“Dam. Dengerin gue dulu.” Mahesa merubah posisi duduknya menjadi tegak sambil terus menatap ke arah Addam. “Coba lo inget-inget. Lo pernah validasi info soal kematian Martin atau lo langsung percaya gitu aja info yang lo dapet dari... Siapa, ART mereka itu? Mbok Yum?”

“Mbok Rum,” Addam mengkoreksi ucapan Mahesa.

“Nah. Lo udah pernah validasi info yang lo denger itu?” Mahesa menatap Addam lekat-lekat.

Addam lalu terdiam. Memorinya pergi menuju ingatan beberapa tahun ke belakang. Sejak Addam mendengar berita mengenaskan tentang keluarga Sofia, ia tak pernah lagi mau mencari tahu informasi atau kabar mereka karena rasa bersalah yang seperti terus mengurungnya.

Melihat Addam yang mendadak terdiam, Mahesa lalu menyodorkan kembali kertas yang tadi Addam simpan.

“Lo tahu, Dam? Orang yang meninggal dalam bencana kebakaran itu bukan Martin...” kata Mahesa pelan.

Kedua mata Addam membulat. Raut wajahnya berubah tegang dan tangannya menyambar kertas yang diberikan Mahesa.

Begitu juga Naya, gadis itu juga tampak sama terkejutnya dengan Addam.

“Iya, Dam. Malem itu, Martin lagi ditahan di kepolisian karena dia terlibat kasus tabrak lari. Dan kerangka yang ditemuin di lokasi kebakaran itu kerangka tukang yang urus vila mereka... Dia gak punya keluarga, jadi gak ada laporan soal orang hilang.”

“Jadi sekarang Martin ada di mana, Sa...?”

“Itu dia, Dam... Karena pengakuan Pak Sugeng yang bilang anaknya jadi korban kebakaran, jadinya Martin dianggap meninggal dunia di pencatatan sipil...”

Kedua pria itu lalu sama-sama terdiam.

Hening.

Kemudian bunyi ponsel Naya memecah keheningan mereka.

“Hm? Annie?” kata Naya sambil menatap layar ponselnya.

“Kak aku jawab telpon dulu, ya,” pamit Naya pada Addam dan Mahesa. Kedua pria itu hanya mengangguk pelan.

“Hallo?”

“Nay. Buka chat aku deh, cepetan...!” kata Annie terburu-buru.

Sambungan telpon itu lalu diakhirinya begitu saja sebelum Naya sempat menjawab.

Kemudian sesuai dengan ucapan singkat Annie, Naya membuka grup obrolan di ponselnya. Dan bagai disambar petir, Naya langsung terperangah karena dadanya mendadak dipenuhi rasa terkejut yang luar biasa besarnya.

“Ya Tuhan!” kata Naya nyaris tanpa mengeluarkan suara.

Melihat gelagat aneh Naya, Addam dan Mahesa spontan melirik gadis yang berdiri di dekat pintu menuju balkon.

“Kenapa, Nay?!”

“Ada apa?!”

“Kak. Aku barusan dihubungi temen kantorku, dia ngirim ini...” Naya menunjukkan layar ponselnya pada Addan dan Mahesa.

“Ya Tuhan...” Addam dan Mahesa sama-sama tercengang melihat apa yang Naya tunjukkan.

1
Melissa McCarthy
sukaaaaa
nurul supiati
tegang tegang fiks sih si martin yg jdi psikopetnya 😭🤣
nurul supiati
wahhh kek nya alden deh sih menurut akuuu mah...
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!