Setelah enam tahun tak bertemu, Senja kembali bertemu mantan kekasihnya Arsean.
Pertemuan kembali mereka, mengingatkan luka dan rasa sakit pada dirinya Senja.
Karena di saat itu dia tengah hamil anaknya Sean, namun Sean tak tau. Kedua orang tua Sean pun seolah bungkam dan menginginkan anak dalam kandungannya Senja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makanan Sisa Pesta
"Selamat bro!" Andrew langsung menyalami Sean yang duduk bergabung dengan dirinya, Dina dan Riana.
"Terimakasih kalian udah pada datang."
"Tumben si mulut congor gak datang?" tanya Sean heran.
"Deri? Istrinya lagi ngidam yang aneh-aneh. Tadi dia mau ke sini, tapi istrinya lagi bertingkah, alhasil dia gak jadi ke sini." Jawab Andrew diikuti anggukan Dina dan Riana.
"Sean.." Suara Riana sedikit pelan, takut-takut Rea mendengar. Meski saat ini Rea berada di meja berbeda dengan mereka.
"Ada apa?" Sean menatap penasaran.
"Tadi ada .." ucap Riana ragu.
"Ada Senja?" Tebak Sean.
"Hmmm.. Dia kerja bagian catering tadi aku lihat." sambung Dina.
"Sebenarnya dia punya berapa pekerjaan seh? Kemaren aku lihat dia kerja jadi tukang bersih-bersih taman. " lirih Sean sambil menghela nafasnya.
" Itu gak seberapa, malahan aku pernah lihat dia jadi badut bagi-bagi brosur gitu. "tambah Dina.
" Mau gimana lagi, dia kan ibu tunggal, suaminya udah gak ada, otomatis dia banting tulang untuk menghidupi dirinya dan anaknya." ucap Andrew merasa prihatin.
"Yang gak habis fikir itu kenapa dia mesti menikahi pria yang sakit-sakitan hingga membiarkan dia hamil dan melahirkan anak sendirian." tambah Rania.
" Tapi status di KK nya malah belum menikah kok. Seharusnya kalau suaminya meninggal,maka statusnya di KK itu akan ditulis Cerai Mati.Kan udah aku jelaskan juga sebelum nya kalau anaknya di KK gak ada nama ayahnya." Ucap Dina kali ini.
" Atau jangan-jangan dia gak pernah menikah, dan anak itu anak dari kekasihnya. Bisa saja dia hamil dan kekasihnya gak mau tanggung jawab. " Tebak Andrew membuat Sean menatapnya tajam.
Sean terdiam, entah mengapa ucapan andrew sedikit membuat dia tersinggung dan merasa bersalah.
" Tapi anaknya mirip Sean loh! " tambah Dina menatap selidik Sean.
" Jujur seh Sean, dulu kalian pacaran ngapain aja? Apalagi bisa dibilang kalian tinggal satu atap. Gak mungkin kan kalian gak ngapa-ngapain?" Selidik Riana kali ini.
"Itu yang membuat aku jadi kepikiran. Apa jangan-jangan, anak itu adalah anakku?" jawab Sean tanpa sadar.
" Sean? " Ucap Andrew dan yang lain tak percaya.
" Jadi beneran kamu dan Senja pacarannya terlalu jauh?" Tanya Riana semakin kepo.
" Aku akui, pacaran aku dan Senja waktu itu memang kelewat batas. Tapi waktu itu, aku beneran serius dengan hubungan aku dengan dirinya. Aku sudah berjanji sama dia, akan selalu bersama dengannya selamanya. Aku benar-benar mencintainya. Tetapi dia tiba-tiba menghilang bertahun-tahun membuat aku akhirnya melupakan dirinya."
" Aku kira dia mungkin sudah mendapatkan pengganti aku,apalagi kami sudah tak ada komunikasi lagi."
Andrew menepuk pelan pundak Sean.
"Sean.. Yang terjadi sudah terjadi. Kamu udah ada Rea, dan gak mungkin mengulang kisah lama dengan Senja. Tetapi kamu juga harus pastikan sama Senja, apa benar kamu bapak anak itu, boleh jelas seperti apa tanggung jawab kamu selanjutnya!" Ucap Andrew.
" Setuju dengan ucapan Andrew. "Ucap Dina kali ini diikuti anggukan Riana juga.
Sean pun melihat ke sekelilingnya, namun dia sudah tak melihat sosok Senja di sini.
" Beb..cari siapa? " Rea tiba-tiba menghampiri meja mereka.
Dina, Riana dan Andrew langsung diam dan hanya tersenyum tipis menatap Rea yang datang.
" Gak ada sayang.. " Sean buru-buru menggeleng.
" Terimakasih kalian udah hadir di acara kami ini! " Ucap Rea terlihat senang.
" Sama-sama Rea.. Sean sahabat kami, dan kami wajib datang dong di hari bahagianya." Jawab Riana.
-
-
Sementara itu Senja meminta kepada pemilik catering agar dipindahkan ke bagian mencuci piring saja. Untungnya pemilik catering setuju dan tak bertanya macam-macam.
Bagian mencuci piring pasti lebih melelahkan daripada di dalam aula, tetapi ini semua tak apa bagi Senja. Dia tak mau berlama-lama di dalam aula,takut bertemu mamanya Sean. Apalagi selama ini dia sudah aman tinggal berdua dengan Angkasa.
Senja sudah memakai celemek dan siap bergabung dengan yang lainnya mencuci piring di ruangan kitchen. Piring-piring kotor bahkan sudah menumpuk banyak,apalagi tamu yang hadir memang bagitu banyak tadi.
Tak disangka waktu berlalu cepat dan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Acara di dalam aula hotel pun sudah selesai,namun pekerjaan Senja masih belum beres. Dia masih mencuci piring-piring kotor tersebut.
***
"Kamu hati-hati pulangnya!" Sean mengantarkan Rea ke parkiran. Rea akan pulang bersama kedua orangtua dan keluarganya.
"Iya.. kamu juga! Jangan bergadang sampai tengah malam." Rea melirik Andrew yang berdiri di samping Sean.
"Sekali ini aja kok,udah lama aku gak ngobrol-ngobrol dengan Andrew." jawab Sean cepat.
"Yaudah deh,kalian hati-hati juga pulangnya!" Rea akhirnya tersenyum.
Setelah mobil Rea dan keluarganya menjauh,Sean dan Andrew akhirnya bisa bernafas lega.
"Ah gara-gara Lo ,pasti tunangan Lo itu salah paham sama gue." Ujar Andrew menghela nafas.
"Mau gimana lagi, gue harus menemui Senja dan menanyakan kejelasan tentang anak dia. Dan Lo tau sendiri, Senja gak akan mau bicara berdua saja sama gue."
" Kali ini saja,gue bantuin Lo. Gue gak mau ikut-ikutan lagi."
"Iya..iya." Sean merangkul Andrew dan mengajaknya kembali masuk ke dalam aula tempat acara pertunangan nya tadi.
Sesampainya di sana,dia tak menemui Senja. Untungnya salah satu dari karyawan catering mengatakan kalau Senja pindah di bagian mencuci piring. Akhirnya Sean dan Andrew bergegas ke ruangan kitchen hotel tersebut.
Dari luar mereka bisa melihat Senja baru saja selesai mencuci semua piring kotor.
" Kalau dia kerja sampai tengah malam begini,lantas anak itu tinggal sama siapa?" Oceh Sean sendiri.
" Iya yah..Apalagi yang kita tau Senja hidup sebatang kara setelah lo bilang Buk de-nya sudah meninggal setahun yang lalu." Ucap Andrew ikutan kasihan memikirkan Senja dan anaknya.
"Yaudah.. Lo masuk sana! Bicara sama Senja!" Suruh Andrew mendorong pelan tubuh Sean.
Namun ketika Sean hendak masuk,seseorang berseragam seperti Senja masuk duluan dengan membawa sebuah kantong kresek hitam cukup besar.
Sean dan Andrew memilih berdiri di luar dan mendengarkan percakapan Senja dengan teman satu kerjaannya itu.
" Senja..kamu bawa ini pulang ya!" Ucap ibu-ibu itu menyerahkan kantong kresek itu kepada Senja.
" Ini apa buk?" Tanya Senja bingung.
" Itu ada beberapa makanan sisa pesta tadi. Masih layak untuk dikonsumsi kok. Mana makanannya enak-enak. Pasti kamu dan anak kamu belum pernah makan makanan hotel bintang lima kan?Jadi bawakan untuk anak kamu, pasti dia senang!" Ucap ibu tersebut dengan santainya.
Senja membuka kantong kreseknya dan melihat beberapa jenis makanan mewah yang sudah terbungkus dengan plastik.
"Terimakasih buk!" Ucap Senja tersenyum,meski di hatinya terasa sesak memikirkan apa dirinya begitu menyedihkan sehingga menerima makanan sisa dengan kantong kresek.
Sean yang berdiri di luar tanpa sadar mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan ibu-ibu itu tentang Senja dan anaknya. Ada perih yang menggerogoti hatinya. Dia benar-benar tidak habis pikir, mengapa Senja mau menerima makanan itu dan bahkan memasukkannya ke dalam tas.
“Sean…” ucap Andrew pelan.
Sean menggeleng, lalu menarik napas dalam sebelum mengajak Andrew menunggu Senja di depan hotel saja.
Sean tahu, Senja pasti sedang merasa rendah diri karena menerima makanan sisa itu. Apalagi jika Senja sampai tahu bahwa dirinya dan Andrew melihat semua kejadian tadi. Harga diri Senja pasti akan semakin terluka.