Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.
Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.
Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.
Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Turunkan Egomu, Krisna
Krisna tidak langsung menjawab pertanyaan Lena.
Tatapan perempuan itu masih tertuju padanya, menunggu kepastian, menunggu pembelaan, atau setidaknya sebuah kalimat yang menenangkan. Namun Krisna justru mengalihkan pandangannya.
Ia menatap ibunya.
“Bu, ikut aku sebentar,” ucapnya pelan.
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar dari kamar tamu. Bu Lita memahami maksudnya. Ia mengikuti putranya, meninggalkan Lena yang masih berdiri dengan wajah campuran antara kesal dan cemas.
Di dalam kamar, Raisa tetap duduk tenang di sofa, menyusui Ezio yang kini hampir terlelap. Senandung pelan masih terdengar, halus seperti embusan angin. Raisa tidak ikut mencampuri urusan mereka. Ia tahu percakapan yang akan terjadi bukan wilayahnya.
Sementara itu, Krisna dan Bu Lita berjalan menuju ruang keluarga. Ruangan itu lebih luas, dengan sofa panjang dan meja kayu di tengahnya. Lampu gantung menyala lembut, menciptakan suasana yang hangat namun tegang.
Bu Lita duduk dengan santainya di sofa, seolah sudah siap menghadapi apa pun yang akan diucapkan anaknya. Ia menyilangkan kedua tangannya di pangkuan, menatap Krisna yang masih berdiri.
Krisna menghela napas panjang sebelum akhirnya duduk berhadapan.
“Bu, kenapa Ibu tidak bicarakan dulu kalau mau memanggil dan mempekerjakan Raisa, sedangkan aku sudah memilih Lena?” tanyanya. Nada suaranya tidak keras, tapi jelas menyimpan kekecewaan.
Bu Lita menatapnya tanpa gentar.
“Dan kamu ingin menunggu anakmu sekarat baru memutuskan sesuatu yang terbaik buat anakmu, begitu?” jawabnya tenang, tanpa meninggikan suara. “Apa matamu buta, Nak? Kamu lihat sendiri kan, anakmu langsung tenang saat sudah dipegang Raisa. Apa susahnya kamu mengakuinya?”
Krisna terdiam.
Kata-kata itu menusuk tepat di titik yang paling ia hindari.
Ia mengusap wajahnya dengan gusar, jemarinya menekan pelipis seakan mencoba meredam pusing yang tiba-tiba datang.
“Bu ...,” desahnya lirih.
“Krisna,” lanjut Bu Lita, suaranya tetap stabil namun sarat makna, “kamu itu dokter. Hebat dalam teori dan mengobati orang. Tapi perlu diingat, dalam mengasuh anak itu bukan sekadar teori. Bukan cuma soal jadwal, dosis, atau grafik tumbuh kembang. Ini soal kenyamanan dan ketulusan orang yang sangat menyayanginya.”
Krisna menunduk.
“Coba ... turunkan ego dan gengsimu itu,” sambung Bu Lita. “Ibu paham kalau kamu ingin mencari pengasuh yang berpengalaman. Ibu pun juga maunya begitu. Namun kenyataannya anakmu tidak cocok. Bahkan sekarang sedang demam.”
Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kalimatnya meresap.
“Ibu minta maaf kalau dalam mengambil keputusan memanggil Raisa tanpa melibatkanmu. Ini naluri seorang nenek yang ingin cucunya tidak rewel terus menerus. Ibu tidak ingin sakit anakmu semakin parah."
Suasana hening sesaat.
Krisna tidak membantah, tetapi juga belum sepenuhnya menerima.
“Dan ... Ibu tidak menyuruh kamu memecat Lena,” lanjut Bu Lita. “Kalau kamu ingin tetap mempekerjakannya, silakan saja. Ibu yang menggaji Raisa, bukan kamu.”
Kalimat itu terdengar tegas, sekaligus memberi pilihan.
Krisna mengangkat wajahnya perlahan.
Dilema terasa jelas di rautnya. Egonya masih besar. Ia merasa keputusan memanggil Raisa tanpa persetujuannya seperti bentuk pengabaian terhadap otoritasnya sebagai ayah.
“Ini bukan masalah siapa yang menggaji, Bu,” ucapnya akhirnya. “Aku hanya kecewa saja sama Ibu.”
Bu Lita tersenyum getir.
“Tapi kamu harus menyadari sikapmu itu, Krisna,” katanya pelan. “Anakmu bukan kelinci percobaan. Dia manusia yang butuh kasih sayang seorang ibu, bukan sekedar teori yang selama ini kamu pel ajari."
Kata-kata itu membuat Krisna kembali tertunduk.
Hatinya berdenyut pelan, seperti disentuh sesuatu yang lama ia tekan.
Pikirannya melayang pada masa lalu.
Pada rumah tangganya yang hancur.
Pada Hanni—perempuan yang dulu ia pilih sebagai istri. Rumah tangga mereka runtuh bukan karena kurang cinta di awal, tetapi karena kesibukan yang perlahan mengikis perhatian. Ia terlalu sering berada di rumah sakit. Terlalu fokus pada pasien, operasi, dan penelitian. Ia merasa semua itu demi masa depan keluarga.
Namun Hanni merasa ditinggalkan.
Dan pada akhirnya, diam-diam berselingkuh dengan teman dekatnya.
Pengkhianatan itu menghancurkan Krisna. Bukan hanya karena luka harga diri, tapi karena ia merasa gagal sebagai suami.
Untungnya saja Ezio benar-benar darah dagingnya. Tes DNA yang ia lakukan kala itu membuktikan hal itu. Setidaknya satu hal tidak ikut hancur dalam badai tersebut.
Namun sejak perceraian itu, Krisna seperti membangun tembok tak terlihat di dalam dirinya.
Ia ingin menjadi ayah yang sempurna.
Ia ingin membuktikan bahwa tanpa ibunya pun, Ezio bisa tumbuh baik-baik saja.
Ia ingin menunjukkan bahwa ia tidak lagi membutuhkan siapa pun. Saking sudah kecewa pada mantan istrinya.
Dan mungkin ... di situlah letak masalahnya.
Bu Lita memandangi anaknya dengan mata yang lebih lembut.
“Kamu terluka, Ibu tahu,” ucapnya pelan. “Tapi jangan biarkan luka itu membuat kamu menutup mata terhadap kebutuhan anakmu. Ezio masih kecil, yang belum tahu apapun."
Krisna tidak menjawab.
Ia hanya duduk diam, kedua tangannya saling menggenggam erat.
Di dalam kamar tamu, Ezio mungkin sudah tertidur dengan nyaman dalam pelukan Raisa. Pemandangan itu kembali terbayang jelas di benaknya—bagaimana anaknya langsung tenang, bagaimana kepala kecil itu bersandar tanpa gelisah.
Ego dan kenyataan kini saling berhadapan.
Dan untuk pertama kalinya sejak perceraian itu, Krisna merasa ia tidak bisa lagi lari dari kenyataan bahwa Ezio tetap membutuhkan kehadiran seorang ibu—atau setidaknya seseorang yang bisa memberinya rasa yang sama.
Bersambung ... ✍️
Takut aja Lena kerjasama dg Wirda untuk menyerang Raisa. Walaupun mereka punya misi yang sama untuk mendapatkan cinta Krisna. Bakal rame ini konfliknya,,, Ezio bantuin kak Raisa ya. TOS dulu kita Dek Ezio.🫸🫷🍻
dan ga merasa paling hebat tetapi survey membuktikan bisa jaga Anak ,,,bisa bikin kopi enak dan nasgor nya enak cocok di lidah penikmat nya,,, kenapa orang pada iri
sama Raisa karena ga muluk,,,Mas sabar ngadepi calon ular betina belum tentu sayang sama putramu seperti itu,,,jadi tukang ngepel,,,