NovelToon NovelToon
The Crimson Legacy

The Crimson Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyeberangan Dunia Lain / Sistem
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: BlueFlame

‎Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.

‎Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.

‎Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.

‎Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.

‎Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.

bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5. Bertemu

DING.

‎Jendela sistem muncul di pojok visi Arthur.

‎╔══════════════════════════════════╗

‎║ 【NOTIFICATION】 ║

‎╚══════════════════════════════════╝

‎Small Acts, Big Impact:

‎◈ Mengapresiasi prajurit: +1% Reputation

‎◈ Mengalahkan pembunuh dengan mudah: +2% Reputation

‎Current Reputation: 90%(+3%)

‎ 【SYSTEM NOTE】

‎Para prajurit, pengawal dan pelayan semakin kagum dengan kekuatan, Host.

‎Arthur tersenyum kecil karena merasa sedikit lucu

Sudahlah. Yang penting sekarang aku baik-baik saja.

Namun senyuman itu perlahan memudar ketika rasa sakit kembali menusuk dari dadanya.

Tahan. Sedikit lagi.

Setelah menaiki dua tangga spiral dan melewati tiga koridor—setiap langkah terasa seperti mendaki gunung dengan beban batu di punggungnya—Arthur akhirnya berhenti di hadapan sebuah pintu besar dari kayu oak gelap, dihiasi ukiran rumit berbentuk Pohon Pengetahuan.

Perpustakaan Utara.

Ia mengenalnya dari memori Arthur yang asli. Tempat ini adalah domain pribadi Valerine—ruang di mana ia menghabiskan sebagian besar waktunya. Tidak ada pelayan yang berani masuk tanpa izin. Bahkan Arthur yang asli pun jarang datang ke sini, kecuali saat pertemuan yang tak terelakkan dan penuh paksaan.

‎Arthur menarik napas dalam, merapikan vest-nya, memastikan posturnya tetap tegak.

Lalu ia mendorong pintu.

CREAK.

Pintu terbuka dengan suara pelan, dan pemandangan yang menyambutnya membuat Arthur terdiam sejenak.

Perpustakaan Utara adalah sebuah katedral buku.

Langit-langitnya menjulang setinggi tiga lantai, dihiasi jendela kaca patri raksasa yang memantulkan cahaya sore dalam gradasi biru, perak, dan putih. Rak-rak buku dari kayu ebony membentang di keempat sisi ruangan, menjulang hingga ke langit-langit, dipenuhi ribuan—tidak, puluhan ribu buku bersampul kulit, sutra, dan beberapa di antaranya bahkan memancarkan cahaya sihir lembut.

Di salah satu sudut, tangga spiral mengarah ke mezzanine lantai dua. Sebuah meja baca besar dari marmer putih berdiri di tengah ruangan, dipenuhi tumpukan buku, perkamen, dan botol tinta. Di dinding belakang, perapian raksasa menyala dengan api biru yang lembut—jelas sihir, bukan kayu bakar.

Dan di depan perapian itu, duduk seorang wanita di kursi tinggi bersandaran ukiran halus.

Valerine Silvaine.

Arthur berhenti bernapas sejenak.

Cahaya lampu kristal memantul lembut di rambut peraknya yang terurai panjang hingga pinggang. Gaun biru yang dikenakannya sederhana, namun memancarkan keanggunan yang tak bisa diabaikan.

Namun yang membuat Arthur benar-benar tak mampu mengalihkan pandangan adalah wajahnya.

Ia memang sudah melihat Valerine dalam ingatan Arthur asli, tetapi melihatnya secara langsung terasa sangat berbeda.

Dia sangat cantik—namun bukan kecantikan yang hangat atau lembut.

Ini adalah kecantikan yang membuat siapa pun terkesan hingga sulit melupakannya. Bukan kecantikan yang mengundang orang untuk mendekat, melainkan justru membuat mereka menjaga jarak karena tekanan tak kasatmata yang dipancarkannya. Hidungnya lurus sempurna, bibir tipis berwarna merah muda yang jarang tersenyum. Kulitnya seputih dan sehalus kulit telur rebus, hampir bercahaya di bawah pantulan sihir.

Dan mata peraknya—

mata itu begitu menawan hingga Arthur tak tahu harus berkata apa.

Pasangan suami istri ini benar-benar punya visual yang tidak main-main.

‎‎Valerine menutup bukunya dengan bunyi pap pelan. Lalu menatap Arthur dengan ekspresi datar.

“Kau datang,” katanya akhirnya. “Mengejutkan. Kupikir kau akan tidur sampai siang seperti biasanya.”

“Aku menghargai waktu,” jawab Arthur sambil menarik kursi di seberang Valerine lalu duduk dengan tenang. “Terutama waktu orang yang jelas-jelas lebih suka tidak menghabiskannya bersamaku.”

Valerine mengangkat alis, lalu kembali datar. “Setidaknya kau masih punya sedikit kesadaran diri,” katanya, seraya melipat tangan di atas meja.

Arthur tidak tersinggung.

“Boleh aku tahu kenapa kau memanggilku ke sini?” tanyanya. “Suratmu cukup… samar.”

“Karena aku tidak berniat menuliskan detailnya di atas kertas yang bisa dibaca para pelayan jika mereka cukup penasaran,” jawab Valerine dengan nada seolah pertanyaan itu tidak perlu diajukan. “Kita perlu bicara tentang kondisimu sekarang, wilayah yang terbengkalai selama dua bulan, dan fakta bahwa musuh-musuh politikmu sedang mengasah pisau untuk ditusukkan ke punggungmu."

Ucapannya langsung menuju inti, tanpa pembuka dan peringatan.

Aku mulai mengerti kenapa orang-orang menyebutnya gila, pikir Arthur. Seorang wanita bangsawan seharusnya lembut, diplomatis, pandai bermain dengan kata-kata.

Valerine tidak seperti itu.

Ia lebih mirip pedang yang ditarik dari sarungnya dan langsung diarahkan ke jantung lawan bicaranya. Ia tidak membuang waktu untuk basa-basi, apalagi memikirkan perasaan orang lain

Dan Arthur menyukai tipe orang seperti itu—baik sebagai lawan bicara maupun sebagai partner.

“Baik,” kata Arthur sambil bersandar di kursi—gerakan yang tampak santai, meski sebenarnya ia lakukan untuk meredam tekanan di dadanya yang mulai berdenyut nyeri.

“Mari kita bicarakan kondisiku. Mana Core-ku retak hingga sekitar tujuh puluh tiga persen. Mana Heart-ku nyaris berhenti berdetak. Magic Circuits-ku terputus di dua belas titik vital. Kekuatan total yang tersisa sekitar delapan sampai sembilan persen.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Dan jika tidak ada perubahan, aku mungkin akan mati dalam tiga minggu.”

Semua itu ia ucapkan dengan nada datar—seolah sedang membacakan laporan cuaca.

Valerine menatapnya cukup lama. Lalu ia menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti campuran antara frustrasi dan… kelelahan.

“Kau mengatakannya seolah sedang membahas inventaris gudang,” katanya dingin, “bukan nyawamu sendiri.”

“Panik tidak akan mengubah fakta,” jawab Arthur. “Jadi lebih baik kita fokus pada solusi.”

‎Valerine terdiam.

Tatapannya berubah—bukan menjadi lebih hangat, melainkan… bingung. Seolah ia sedang menatap sesuatu yang sama sekali tidak ia mengerti.

“Kau tahu,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, namun tegas. “Sekarang aku merasa kau sangat berbeda.”

Alarm langsung berbunyi di kepala Arthur.

Sial

“Orang berubah setelah hampir mati,” jawabnya hati-hati.

“Tidak sedrastis ini,” potong Valerine.

Ia bangkit dari kursinya dan melangkah mendekat, gerakannya anggun, nyaris tanpa suara. Berhenti tepat di samping Arthur, ia menatapnya dari atas.

“Arthurian Vancroft yang kukenal arogan, sombong, dan menganggap semua orang—termasuk aku—sebagai alat untuk ambisinya,” kata Valerine. “Ia tidak akan pernah duduk di hadapanku dengan postur seperti itu. Ia tidak akan pernah mengakui kelemahannya dengan jujur. Dan ia tidak pernah menatapku seperti itu.”

“Seperti apa?” tanya Arthur, benar-benar penasaran.

Valerine terdiam sejenak, alisnya terangkat tipis.

“Kau benar-benar tidak sadar bagaimana caramu menatapku?”

“Memangnya seperti apa?” Arthur tampak kebingungan.

“Sejak tadi kau menatapku seperti sedang melihat orang yang kau kagumi,” jawabnya datar. “Dan jujur saja, dari tadi aku ingin mencolok matamu.”

Ia menunduk dan mengusap pipi Arthur dengan sentuhan lembut—terlalu lembut untuk ancaman yang barusan diucapkan.

“Jadi sebaiknya tatap aku seperti biasanya, suamiku. Aku khawatir tidak akan tahan… dan membekukanmu.”

Arthur tersedak.

“Yang benar saja. Itu cuma perasaanmu.”

“Aku harap begitu.”

Valerine lalu berbalik, kembali ke kursinya, dan duduk seolah tidak terjadi apa-apa.

“Aku pernah dengar,” ujar Valerine sambil menuangkan teh dari teko porselen—yang baru sekarang Arthur sadari keberadaannya di atas meja, “biasanya orang yang akan mati akan berubah drastis. Mereka menjadi lebih religius, lebih sentimental, atau lebih putus asa.”

Ia mendorong cangkir teh ke arah Arthur.

“Tapi kau…” Valerine berhenti sejenak, seolah mencari kata yang paling tepat. “…kau sangat hebat saat memimpin peperangan. Aura yang biasanya terpancar darimu adalah aura dominan—yang memaksa siapa pun untuk tunduk.”

Ia mengangkat pandangan, menatap Arthur lurus.

“Namun entah kenapa, sekarang aku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku merasakan aura seorang kaisar darimu. Aura seseorang yang sudah memimpin, mendengarkan, dan menegakkan kedaulatan.”

Arthur mengambil cangkir itu, merasakan kehangatan merambat ke telapak tangannya.

Haruskah aku memujinya sekarang?

“Aku sudah bilang,” kata Arthur tenang, “itu hanya perasaanmu saja. Mungkin karena aku lebih tenang dari biasanya, dan itu membuatmu menafsirkan semuanya secara berlebihan.”

“Hm.”

Valerine menyesap tehnya sendiri, matanya tak pernah lepas dari Arthur. “Baiklah. Kita sudahi dulu pembicaraan tentang transformasi dramatis ini.”

Ia meletakkan cangkirnya dengan pelan.

“Sekarang, mari kita bicarakan hal yang sebenarnya menjadi alasan aku memintamu kemari.”

Valerine memberikan sebuah perkamen kepada Arthur.

‎“Baiklah. Kita bahas yang pertama terlebih dahulu,” kata Valerine. “Akhir-akhir ini para petani mulai resah. Pajak meningkat, sementara hasil panen justru menurun. Serikat pedagang juga mengajukan keluhan tentang tarif tinggi di Pelabuhan Crimsonvale. Ditambah lagi, persaingan dari wilayah Duke Evrard yang semakin agresif.”

Ia berhenti sejenak. “Dan pendapatan kita turun dua puluh persen.”

Arthur meletakkan perkamen itu. Wajahnya mengeras, namun tetap terkendali. Ia menarik napas panjang.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Mari kita selesaikan satu per satu.”

Arthur mengambil pena dan selembar kertas kosong dari atas meja.

“Pertama,” ujarnya, “sektor pertanian. Kekeringan dan pajak.”

‎Ia mulai menulis.

“Kurangi pajak petani sebesar tiga puluh persen untuk dua musim panen berikutnya. Gunakan dana dari cadangan pribadiku—bukan kas wilayah. Itu akan menstabilkan situasi dalam jangka pendek.”

Valerine menatapnya dengan mata membulat.

“Cadangan pribadimu?” ulangnya pelan. “Kau… kau bersedia menggunakan uangmu sendiri?”

“Rakyat kita kelaparan dan kita punya uang,” jawab Arthur sederhana. “Tidak perlu kalkulasi rumit.”

Valerine tetap terdiam, namun tangannya perlahan meraih pena dan mulai mencatat.

“Sektor perdagangan,” lanjut Arthur. “Tarif tinggi di pelabuhan—itu kebijakan yang bodoh. Kita memiliki pelabuhan terbaik di kekaisaran. Lalu kenapa kita justru membuat pedagang enggan datang dengan tarif yang mencekik?”

“Maksudmu kita harus menurunkannya?” Valerine mengerutkan kening. “Tapi kita butuh pendapatan. Kita membutuhkan uang untuk—”

“Itu hanya pendapatan jangka pendek,” potong Arthur. “Dan kita akan membunuh pertumbuhan jangka panjang jika terus seperti ini. Turunkan tarif sebesar lima belas persen. Dan percayalah dalam seminggu jumlah pedagang akan meningkat, dan pada akhirnya total pendapatan justru akan naik.”

‎“Tambahkan insentif untuk pedagang yang membuka kantor permanen di Crimsonvale,” lanjut Arthur. “Potongan pajak di tahun pertama, bantuan logistik. Buat mereka ingin menetap—bukan sekadar singgah.”

Valerine mulai menulis lebih cepat. Matanya berbinar, dengan sesuatu yang jarang terlihat darinya—antusiasme.

“Dan soal Duke Evrard yang mulai agresif itu,” Arthur melanjutkan, senyum tipis terbit di sudut bibirnya, “kita kalahkan dia dengan inovasi. Apa keunggulan pelabuhan kita yang tidak ia miliki?”

Valerine berpikir sejenak.

“Kita memiliki akses langsung ke jalur laut timur,” jawabnya. “Tiga hari lebih cepat dibanding pelabuhan Evrard.”

“Tepat sekali.” Arthur menunjuk catatannya dengan pena. “Itu berarti kita menguasai waktu. Maka jadikan itu nilai jual. Tawarkan garansi jadwal—jika terjadi keterlambatan akibat pihak kita, kembalikan sebagian biaya.”

Valerine menatapnya dengan ekspresi aneh—campuran antara keterkejutan dan… rasa hormat.

Aku tidak pernah tahu dia secerdas ini dalam menyusun strategi bisnis, pikir Valerine.

...***...

1
Xiao Ling Yi
Imutnya~
Xiao Ling Yi
Kurangg/Frown/
Xiao Ling Yi
Semangat updatenya Thor~/Smile/
Fel N: Makasih banyak, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kawaii😍
Fel N: 🤭🤭🤭😅😅
total 1 replies
Khns_
setting yang detail, penjelasan yang rinci di setiap kejadian, bahasa yang enak dibaca, dan penggambaran karakternya yang joss bgt sih yg bikin betah baca 1 bab lagi, lagi, dan lagi.
Fel N: Makasih banyak, kak.😭😭😭🥰🥰🥰
total 1 replies
Khns_
kakak author update tiap kapan ya?
Fel N: Tiap hari, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
blueberry
lucu bgt pasangan ini🤭
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Satu banget nih Thor?/Grievance/
blueberry
semangat thor up nya
Fel N: makasih kak 🥰🥰☺️☺️☺️
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Suka banget sama ceritanya, semangat!!/Smile/
Fel N: makasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Lanjut Kak Othor~!💪💪
Fel N: siap🥰🥰🥰☺️
total 1 replies
Jack Strom
Mantap... 😁
anak panda
🔥🔥🔥
Jack Strom
Keren... 😁
anak panda
gasss up 2-3 bab🔥🔥🔥
🤭🤭
Fel N: Semoga bisa yah kak🥰
total 1 replies
anak panda
lanjutt
Jack Strom
Wow... Keren... 😁😁😛😛😛
Jack Strom
Bikin Penasaran... 😁😛😛😛
Fel N: makacih 🥰
total 1 replies
Jack Strom
Mantap!!! 😁😛😛😛
Jack Strom
Eh... Tubuh Arturian itu biologis apa cyborg kah... 🤔🤔🤔...😛😛😛😛
Fel N: biologis kak😭. Nanti bakal ada penjelasan tentang world building nya. jadi bersabarlah kak Jack .🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!