Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di Balik Selimut
Malam itu, New York yang biasanya bising seolah meredup demi memberikan privasi bagi dua jiwa yang baru saja menemukan muaranya.
Setelah ketegangan di meja rias mereda, tidak ada lagi perdebatan, tidak ada lagi sinisme, dan tidak ada lagi dinding pertahanan yang dibangun Claire selama bertahun-tahun.
Leo tidak pulang ke unit apartemennya sendiri. Ia memutuskan untuk menetap. Di atas ranjang king size yang dilapisi sprei sutra berkualitas tinggi, mereka berbaring bersama.
Cahaya lampu dari gedung-gedung Manhattan menyelinap masuk melalui celah gorden, memberikan bias cahaya remang pada wajah mereka.
Leo menarik tubuh Claire ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala wanita itu di dada bidangnya.
Claire, yang biasanya kaku dan menuntut otoritas, kali ini menyerah sepenuhnya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Leo, menghirup aroma maskulin yang kini terasa begitu menenangkan.
"Sepuluh tahun, Claire," bisik Leo pelan, jemarinya membelai rambut Claire dengan sangat lembut. "Aku tidak menyangka bisa memelukmu seperti ini di tengah Manhattan."
Claire mendongak sedikit, menatap rahang tegas Leo yang hanya berjarak beberapa inci. "Aku juga tidak menyangka akan berbagi tempat tidur dengan bocah yang dulu selalu membuatku kesal di perpustakaan."
Leo tersenyum tipis, kali ini senyuman yang tulus, bukan provokasi. Ia mengecup puncak kepala Claire lama. "Sekarang kamu milikku. Bukan milik publik, bukan milik naskah, tapi milikku."
Sepanjang malam itu, mereka tertidur dalam posisi saling mengunci. Leo seolah takut jika ia melepaskan pelukannya, Claire akan menghilang seperti mimpi.
Sementara Claire merasa untuk pertama kalinya ia tidak perlu menjadi Putri Aimo yang sempurna, ia hanya perlu menjadi Claire yang merasa aman di dekapan pria yang pernah ia beri gigitan berdarah itu.
Di luar, New York masih sibuk dengan gosip tentang mereka, namun di dalam kamar yang sunyi itu, hanya ada suara napas yang teratur dan detak jantung yang selaras.
Pukul tujuh pagi, bel pintu depan berbunyi nyaring. Siska datang dengan kopi dan jadwal pemotretan, masih dengan perasaan canggung setelah kejadian semalam.
Ia membuka pintu kamar Claire dengan sangat hati-hati, hanya menyembulkan kepalanya. Matanya langsung melotot. Di atas tempat tidur, ia melihat pemandangan yang akan membuat seluruh dunia geger, Leo Abelano sedang tertidur pulas dengan posisi memeluk Claire dari belakang (spooning), dan tangan Claire menggenggam tangan Leo di atas dadanya.
Siska menutup mulutnya dengan tangan agar tidak berteriak. Ia segera mengambil ponselnya, bukan untuk menyebar gosip, tapi untuk memotret momen langka itu sebagai senjata untuk menggoda bosnya nanti.
"Oke... sepertinya pemotretan jam tujuh pagi ini harus diundur," bisik Siska sambil nyengir lebar, lalu menutup pintu kamar dengan sangat pelan agar tidak membangunkan dua singa yang sedang beristirahat itu.
Sinar matahari pagi New York menerobos masuk melalui celah gorden penthouse yang mewah, menyinari butiran debu yang menari di udara kamar yang hangat.
Claire adalah yang pertama terbangun. Ia merasakan beban hangat di pinggangnya dan napas teratur yang menyentuh tengkuknya.
Untuk sejenak, ia lupa di mana ia berada, sampai ia merasakan jemari besar Leo yang bertautan dengan jemarinya di atas perutnya.
Ia mencoba bergerak sedikit, namun pelukan Leo justru mengencang.
"Lima menit lagi, Odette..." suara Leo terdengar parau dan berat khas orang baru bangun tidur, suara yang biasanya hanya didengar oleh mikrofon syuting, kini terdengar sangat intim di telinga Claire.
Claire memutar tubuhnya di dalam dekapan Leo, hingga kini mereka berhadapan. Wajah Leo terlihat sangat tenang saat tidur, tidak ada seringai nakal atau tatapan provokatif, hanya ada kedamaian.
Claire tidak bisa menahan diri untuk menyentuh bekas luka tipis di bibir Leo dengan ujung telunjuknya.
"Sakit?" bisik Claire pelan.
Mata Leo terbuka perlahan, menampakkan warna cokelat yang dalam dan langsung mengunci tatapan Claire. Ia menangkap tangan Claire dan mengecup telapak tangannya.
"Sakitnya sudah hilang sejak semalam," jawab Leo dengan senyum tipis yang tulus. "Tapi rasanya masih ada. Rasa kamu."
Bukannya segera mandi untuk jadwal pemotretan, mereka justru tetap bergelung di balik selimut sutra. Leo menarik Claire lebih dekat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma pagi yang alami.
"Siska tadi datang," gumam Claire sambil mengusap rambut berantakan Leo. "Dia pasti akan meledekku habis-habisan di lokasi hari ini."
"Biarkan saja," Leo terkekeh pelan. "Lagipula, seluruh dunia sudah tahu kalau aku terobsesi padamu. Sekarang mereka hanya perlu tahu kalau obsesiku sudah terbalas."
Leo kemudian bangkit sedikit, menumpu tubuhnya dengan siku dan menatap Claire dengan intensitas yang berbeda dari biasanya. Bukan tatapan Duta Kokop yang brutal, melainkan tatapan pria yang benar-benar jatuh cinta.
"Claire," panggilnya lembut.
"Hmm?"
"Terima kasih sudah menyimpan pulpen itu selama sepuluh tahun."
Claire tersipu, sebuah pemandangan langka yang hanya bisa dilihat oleh Leo. Ia menarik selimut untuk menutupi sebagian wajahnya. "Aku hanya tidak ingin membuang barang mahal, Abelano."
Leo tertawa, lalu menunduk untuk memberikan kecupan singkat namun manis di bibir Claire.
"Berhenti berbohong. Akui saja kalau kamu juga sudah menungguku sejak di London dulu."
Claire terdiam sejenak, lalu perlahan menurunkan selimutnya. Ia menatap Leo dengan mata yang berbinar.
"Mungkin. Tapi jangan harap aku akan mengatakannya dengan mudah."
Leo tersenyum puas, ia tahu ia sudah menang. Ia kembali menarik Claire ke dalam pelukannya, menikmati momen tenang di tengah hiruk pikuk Manhattan sebelum mereka kembali menjadi pusat perhatian dunia.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰
keren....