Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dead for Three Months
Tiga Bulan Lalu – Gudang Terbengkalai di Brooklyn
Gedung itu sudah lama ditinggalkan. Dinding bata merah yang retak-retak, jendela-jendela pecah, lantai beton dipenuhi genangan air hujan dan pecahan kaca.
Cahaya bulan menerobos masuk melalui atap yang bolong, menciptakan pola-pola cahaya yang menari di lantai.
Rafael berdiri di tengah ruangan, katana panjang terhunus di tangan kanannya. Bilah pedang itu memantulkan cahaya bulan—baja Jepang asli, dibuat oleh pandai besi terakhir dari dinasti Masamune.
Nafasnya memburu, keringat menetes dari pelipis. Seragam hitamnya robek di beberapa bagian, darah segar mengalir dari luka sayatan di lengan kirinya.
Di hadapannya, Lyra Vantross bergerak seperti bayangan.
Wanita itu cantik dengan cara yang berbahaya—rambut hitam dipotong pendek, mata hijau zamrud yang berkilat dengan kegilaan, tubuh ramping yang bergerak dengan kelincahan seorang penari balet.
Tapi tangan-tangannya memegang dua dagger berlapis racun, dan senyumnya adalah senyum predator yang menemukan mangsa.
"Kamu semakin lambat, Rafael,"
suaranya merdu, tapi dingin seperti salju di musim dingin.
"Racunku sudah menyebar. Berapa lama lagi sebelum tubuhmu tidak bisa bergerak?"
Rafael tidak menjawab. Dia tidak punya waktu untuk bicara. Kulitnya sudah mulai membiru—tanda racun neurotoxin yang menyebar melalui pembuluh darahnya.
Nafasnya tercekat, paru-parunya seperti diremas oleh tangan raksasa. Penglihatannya mulai kabur di bagian tepi.
Tapi tangannya masih memegang katana dengan mantap.
Lyra menyerang pertama—tubuhnya melayang dalam gerakan akrobatik, berputar di udara, dagger di tangan kanannya melesat ke arah leher Rafael. Gerakan yang terlalu cepat, terlalu mematikan.
Rafael menghindar dengan margin yang sangat tipis. Bilah dagger melewati lehernya hanya dengan jarak satu sentimeter.
Dia membalas dengan tebasan horizontal—katana membelah udara dengan bunyi desing tajam.
Lyra melengkungkan tubuhnya ke belakang, menghindari tebasan itu dengan gerakan yang mustahil bagi manusia biasa.
Mereka bertukar serangan dalam ritme yang brutal.
Setiap tebasan katana dijawab dengan tikaman dagger.
Setiap gerakan adalah taruhan nyawa.
Lantai beton pecah di bawah kaki mereka setiap kali salah satu mendarat setelah lompatan.
Percikan baja bertabrakan dengan baja memenuhi udara.
Tapi Rafael semakin lemah. Racunnya semakin dalam. Gerakan-gerakannya mulai kehilangan ketajaman. Lyra menyadari itu—senyumnya melebar.
"Sudah waktunya mengakhiri ini."
Dia melompat tinggi, berputar seperti gasing, kedua dagger-nya menyala dalam cahaya bulan.
Rafael tahu ini adalah serangan terakhir. Dia tidak punya kekuatan untuk menghindar lagi.
Jadi dia tidak menghindar.
Dia maju.
Katana ditarik ke belakang, seluruh sisa kekuatannya dikumpulkan dalam satu tusukan. Waktu seolah melambat. Dia bisa melihat mata Lyra melebar—terkejut dengan keputusan bunuh diri ini.
Bilah katana menusuk tepat di bawah jantung Lyra—menembus tulang rusuk, merobek jaringan otot, keluar dari punggungnya dengan percikan darah.
Pada saat yang sama, dagger Lyra menusuk perut Rafael—menembus kulit, merobek otot, masuk dalam hingga hanya pegangan yang terlihat.
Mereka berdiri dalam posisi itu. Saling menikam. Saling membunuh.
Darah Lyra mengalir hangat di tangan Rafael. Racun dari dagger menyebar lebih cepat di tubuhnya—darahnya sendiri terasa seperti api yang membakar dari dalam.
Lyra batuk darah. Senyumnya masih terpasang.
"Kau luar biasa, Rafael. Sayang sekali nyawamu harus berakhir disini."
Rafael tidak menjawab. Penglihatannya sudah hampir gelap total. Dia melepaskan pegangan katana, tubuhnya jatuh ke belakang.
Yang terakhir dia lihat adalah langit-langit gudang yang bolong, dengan bulan purnama bersinar di atasnya.
Lalu kegelapan menelan segalanya.
***
Lantai 30 – Elysium Medical Institute – Saat Ini.
Rafael membuka mata. Tangannya masih menyentuh perut yang seharusnya berlubang.
Dia pikir itu adalah akhir. Dia sudah menerima kematian. Sudah melepaskan segalanya.
Tapi kenapa dia masih hidup?
Pintu ruangan terbuka dengan desisan pneumatik. Daniel masuk—pria muda dengan jas putih dokter, kacamata bermata bulat, rambut coklat disisir rapi.
Wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap tajam, selalu mengamati, selalu menganalisis.
Di tangannya, sebuah tablet medis menampilkan data vital Rafael.
"Pemeriksaan rutin,"
kata Daniel tanpa basa-basi. Dia berjalan mendekati tempat tidur, meletakkan tablet di meja samping.
"Aku perlu memastikan semua fungsi tubuhmu kembali normal sebelum mengeluarkanmu dari sini."
Rafael tidak bergerak. Matanya menatap kosong ke depan.
Daniel mulai bekerja—memeriksa tekanan darah, detak jantung, refleks saraf, fungsi motorik.
Tangannya bergerak dengan efisiensi seorang profesional yang sudah melakukan ini ribuan kali. Dia tidak berbicara kecuali untuk memberikan instruksi singkat.
"Angkat tangan kananmu. Kepalkan jari-jarimu. Tarik nafas dalam."
Rafael mengikuti semua instruksi tanpa ekspresi.
***
Setelah lima belas menit pemeriksaan menyeluruh, Daniel melepas stetoskop dari telinganya. Dia menatap Rafael dengan pandangan yang sulit dibaca.
"Apa yang kamu rasakan?"
Rafael terdiam. Matanya bergerak perlahan, menatap ke jendela besar yang menghadap ke cakrawala kota.
Jutaan lampu berkilauan di kejauhan. Gedung-gedung menjulang seperti kristal raksasa.
Lalu tangannya terangkat. Jari telunjuknya menunjuk ke suatu titik yang sangat jauh.
"Burung itu,"
suaranya serak, tidak terbiasa digunakan setelah tiga bulan terdiam.
"Aku ingin hidup seperti burung itu. Bisa terbang kemanapun dengan bebas. Tanpa peduli dengan sekitarnya."
Daniel mengikuti arah telunjuk Rafael. Dia menyipitkan mata, mencoba melihat apa yang dimaksud.
Tidak ada apa-apa. Hanya gedung-gedung dan langit gelap.
Tangannya bergerak ke saku jas, mengeluarkan kaca pembesar portable—alat yang biasa digunakan untuk memeriksa detail luka. Dia mengarahkannya ke titik yang ditunjuk Rafael.
Dan dia melihatnya.
Dua kilometer jauhnya, hinggap di kabel listrik yang membentang di antara dua gedung, seekor burung gereja. Sangat kecil. Mustahil terlihat dengan mata telanjang dari jarak ini.
Kaca pembesar hampir jatuh dari tangan Daniel.
"Luar biasa..." gumamnya, hampir tidak percaya.
Dia menatap Rafael dengan pandangan baru—bukan lagi menatap pasien, tapi menatap fenomena yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Apa lagi yang kamu rasakan?"
Rafael mengalihkan pandangan dari jendela. Matanya yang kelam menatap dada Daniel—menatap tepat di posisi jantung.
"Aku bisa mendengar detak jantungmu."
Daniel terdiam. Ruangan ini kedap suara. Bahkan dengan stetoskop pun, detak jantung tidak akan terdengar dari jarak sejauh ini.
"Mustahil," kata Daniel, tapi suaranya ragu.
"Jarak kita hampir dua meter. Tidak ada cara—"
"Seratus dua belas ketukan per menit," Rafael memotong. Suaranya datar, seperti membaca data dari layar komputer.
"Sedikit lebih cepat dari normal. Kamu terkejut?"
Daniel merasakan darahnya mendingin. Dia menatap jam tangan medisnya—sensor detak jantung tertanam di dalamnya. Angka di layar menunjukkan 112 BPM.
Tepat seperti yang Rafael katakan.
"Apa lagi?" suara Daniel hampir berbisik sekarang.
"Apa lagi yang kamu rasakan?"
Rafael menutup mata. Telinganya menangkap setiap suara di gedung ini—desiran sistem ventilasi di lantai bawah, bunyi keyboard yang diketik di ruang administrasi, percakapan dokter dan perawat di koridor jauh.
Dan satu suara yang sangat jelas. Jeritan.
"Di lantai bawah," Rafael membuka mata.
"Ada pasien yang meninggal. Keluarganya menangis histeris."
Daniel tidak bergerak. Dia menatap Rafael dalam keheningan yang panjang. Lalu tangannya bergerak ke tablet, jarinya mengetuk layar dengan cepat. Data pasien muncul—lantai 12, ruang ICU 7.
Time of death: 18:37.
Dua menit yang lalu.
Daniel meletakkan tablet dengan tangan yang sedikit gemetar. Semua pengetahuan medisnya, semua pengalaman bertahun-tahun—tidak ada yang bisa menjelaskan ini.
"Apa lagi?" pertanyaannya keluar lebih seperti permohonan sekarang.
"Apa lagi yang kamu rasakan, Rafael?"
Rafael menatap tangannya sendiri. Dia mengepalkan jari-jarinya, merasakan kekuatan yang mengalir di setiap serabut otot.
Kekuatan yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Kekuatan yang terasa asing, tapi pada saat yang sama, terasa sangat natural.
"Entahlah," jawabnya pelan.
"Aku tidak tahu pasti apa yang aku rasakan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada tubuhku?"
Dia menatap Daniel dengan tatapan yang menuntut jawaban.
"Aku bisa merasakan seluruh indra-ku menguat. Aku juga bisa merasakan kekuatan yang lebih besar mengalir di dalam diriku. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Daniel mengambil nafas panjang. Dia menarik kursi, duduk di samping tempat tidur Rafael. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan ini, ekspresinya melembut—tidak lagi dokter yang memeriksa pasien, tapi seseorang yang akan menyampaikan kebenaran yang sangat berat.
"Saat pertama kali kamu dibawa ke rumah sakit ini," Daniel mulai bicara perlahan, memilih setiap kata dengan hati-hati,
"kamu sudah tidak sadar. Penuh dengan luka. Kekurangan banyak darah. Kulit membiru karena racun. Dokter yang pertama menanganimu bukan aku—aku masih sibuk menangani pasien yang sama parahnya denganmu. Tapi dia tidak terkena racun."
Rafael mendengarkan tanpa berkedip.
"Di tengah perawatan," Daniel melanjutkan,
"jantungmu berhenti. Tidak lagi berdetak. Monitor vital menunjukkan garis datar. Dokter yang menanganimu—Dr. Morrison, salah satu dokter terbaik di sini—menyatakan kamu sudah mati."
Keheningan.
"Chaos terjadi setelah itu," Daniel menggosok wajahnya.
"Orang yang membawa kamu ke sini—Ryzen—dia tidak terima. Dia memukuli Morrison sampai harus dijahit enam belas jahitan di wajahnya. Security hampir menembaknya. Aku harus turun sendiri untuk menenangkan situasi."
"Ryzen..." Rafael menggumamkan nama itu. Sahabatnya. Orang yang selalu ada di saat-saat terburuk.
"Setelah Ryzen pergi—atau lebih tepatnya, setelah dia sedikit tenang—aku masuk ke ruang UGD yang menanganimu," kata Daniel.
Matanya menatap jauh, seperti mengingat kembali momen itu.
"Dan aku melihat keajaiban."
Dia menatap Rafael.
"Detak jantungmu kembali bergerak. Pelan. Sangat pelan. Hampir tidak terdeteksi. Tapi ada."
Rafael mengerutkan kening.
"Bagaimana itu bisa—"
"Aku tidak tahu," Daniel memotong.
"Sampai sekarang, aku masih tidak tahu. Tapi setelah melakukan serangkaian tes—biopsi jaringan, analisis darah, pemindaian selular—aku menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dalam tubuhmu."
Dia mengambil tablet lagi, menampilkan gambar mikroskopis. Sel-sel darah terlihat jelas—tapi di antaranya, ada sel lain. Sel yang berwarna berbeda, bergerak dengan pola yang asing.
"Adaptive Hyper-Cell," kata Daniel.
"Atau kami menyebutnya AH-Cell. Sel ini... aku tidak tahu dari mana asalnya. Bukan hasil mutasi alami. Bukan virus atau bakteri. Ini seperti sel yang dirancang—bio engineering tingkat tinggi yang belum pernah aku lihat sebelumnya."
Rafael menatap gambar itu. Sel-sel asing bergerak di antara sel-sel tubuhnya seperti ikan yang berenang di antara terumbu karang.
"Sel ini sebenarnya tidak berbahaya," Daniel melanjutkan.
"Dalam dosis yang tepat, AH-Cell bisa mempercepat regenerasi jaringan, meningkatkan fungsi organ, bahkan memperkuat sistem imun. Tapi dosis yang ada di dalam tubuhmu..." Dia terdiam sejenak.
"Terlalu banyak. Terlalu banyak sehingga AH-Cell bermutasi. Mereka tidak hanya memperbaiki tubuhmu—mereka mengubahnya. Merebut kontrol. Mengganti sel-sel normalmu satu per satu."
Udara di ruangan terasa lebih dingin.
"Aku bahkan tidak yakin apa aku mampu menyembuhkanmu," kata Daniel, suaranya bergetar sedikit.
"Ini bukan penyakit yang pernah aku hadapi. Ini adalah perang di level selular. Dan kamu... kamu kalah."
Rafael menatap tangannya lagi. Jadi inilah yang terjadi. Tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri.
"Sejak saat itu," Daniel melanjutkan,
"aku mengumumkan kematianmu secara hukum. Seluruh dunia mengetahui Rafael Alkava sudah tidak ada lagi. Itu adalah satu-satunya cara untuk memberimu waktu. Waktu untuk melakukan reset. Waktu untuk menyembuhkanmu."
"Reset?" Rafael menatap Daniel.
"Aku menempatkan tubuhmu dalam suspended animation," jelas Daniel.
"Menurunkan suhu tubuh, memperlambat metabolisme, memberikan serum khusus yang aku kembangkan sendiri untuk menidurkan AH-Cell. Satu per satu, aku mencoba mengembalikan kontrol tubuhmu. Tiga bulan lebih, Rafael. Tiga bulan aku berjuang untuk membawa kamu kembali."
Keheningan panjang mengisi ruangan.
Rafael memproses semua informasi ini. Dia mati. Lalu hidup kembali. Dan sekarang, dia bukan lagi manusia yang sama.
"Jadi aku sudah tidur lebih dari tiga bulan?" tanyanya pelan.
"Exactly. Lebih dari tiga bulan," jawab Daniel.
KRUCUK
Suara itu datang dari perut Rafael—keroncongan lapar yang keras, memecah keheningan serius di ruangan.
Daniel terdiam sejenak, lalu senyum tipis muncul di wajahnya.
"Aku mengerti. Aku akan keluar dan menyiapkan makanan untukmu."
Rafael mengangguk pelan.
Daniel berdiri, berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia berbalik sejenak.
"Istirahatlah. Kita bicarakan ini lebih lanjut setelah kamu makan."
Pintu ditutup dengan desisan pneumatik. Rafael sendirian lagi.
Tapi pikirannya tidak sendiri—dipenuhi dengan pertanyaan yang berputar tanpa henti.
Tiga bulan.
Tiga bulan dia hilang dari dunia.
Tiga bulan dia dinyatakan mati.
Apa yang berubah dalam tiga bulan itu?
***
BERSAMBUNG...