NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.15

Setelah makan siang berakhir, keramaian kantin perlahan menyusut. Meja-meja mulai kosong, suara tawa berubah menjadi dengung samar dan bau makanan bercampur dengan bau minuman manis yang tumpah. Ryn Moa melangkah keluar dengan perasaan yang masih belum sepenuhnya rapi, seperti ada sesuatu yang tertinggal di meja kantin tadi. Bukan ponsel atau buku, tapi perasaan hangat yang tidak tahu harus ia simpan di mana.

Setelah menyelesaikan makan siangnya tadi, Ryn Moa berjalan menuju perpustakaan seorang diri. Langkahnya tidak cepat dan tidak juga lambat. Lebih seperti seseorang yang berjalan sambil memikirkan terlalu banyak hal sekaligus. Tangannya menggenggam tali tas, bahunya sedikit tegang, dan matanya menatap ke depan tanpa benar-benar melihat. Ia mencoba merapikan isi kepalanya.

Taehyung.

J-Hope.

Namjoon.

Tiga nama itu berputar seperti lagu yang diputar ulang tanpa tombol stop. Ia baru beberapa langkah meninggalkan area kantin ketika suara familiar memanggil dari belakang. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar seseorang memanggil.

“Ryn Moa!”

Nada itu ceria, sedikit terengah, dan terlalu khas untuk diabaikan. Ryn Moa berhenti, menoleh perlahan, dan tentu saja ada J-Hope.

J-Hope berlari kecil mendekatinya. Ia tampak seperti baru saja menyadari sesuatu lalu berbalik mengejar. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya tidak benar-benar ngos-ngosan, dan senyumnya masih utuh seperti sebelumnya.

“Kamu mau ke perpustakaan?”

“Iya…”

Jawaban Ryn Moa singkat, refleks. Ia masih belum sepenuhnya siap menghadapi keberadaan J-Hope lagi secepat ini, tapi tubuhnya tidak menolak. Tidak seperti saat ia ingin menghindar dari Taehyung karena gugup. Tidak seperti saat ia harus menata sikap di dekat Namjoon. Dengan J-Hope, semuanya terasa mengalir santai.

“Aku antar,” katanya ringan. “Sekalian mau balikin buku nya Kim Namjoon”

Nama itu membuat alis Ryn Moa terangkat sedikit, tapi ia tidak berkomentar. Hanya mengangguk pelan dan menyesuaikan langkahnya dengan J-Hope. Mereka berjalan berdua di bawah pepohonan rindang. Jalan menuju perpustakaan itu memang salah satu jalur paling menyenangkan di kampus. Pepohonan besar menaungi trotoar, daunnya bergesekan pelan tertiup angin, menciptakan bayangan bergerak di tanah. Cahaya matahari menembus celah daun, jatuh berkilauan seperti potongan emas kecil. Ryn Moa mendengar suara langkah mereka berdampingan, irama yang hampir selaras. Ia mencium sedikit wangi parfum pria dari arah J-Hope. Tapi J-Hope yang ceria cepat mencairkan suasana yang canggung tersebut.

“Kamu kalau ketawa lucu,” katanya tiba-tiba.

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut tanpa aba-aba, tanpa peringatan. Dan nyaris membuat Ryn Moa hampir tersandung mendengarnya. Ujung sepatunya nyaris menyangkut batu kecil di trotoar.

“Hah?!”

Nada suaranya naik satu oktaf. Wajahnya langsung menoleh ke J-Hope dengan mata membulat, antara kaget dan tidak percaya.

“Ketawa kamu itu nggak biasa,” J-Hope melanjutkan. “Kayak… ketawa anak kecil yang bahagia karena es krimnya dua sendok lebih banyak.”

Ia mengatakannya sambil tersenyum lebar, tangannya bergerak sedikit seolah menggambarkan dua sendok imajiner. Tidak ada kesan menggoda berlebihan, tetapi lebih seperti pengamatan jujur yang keluar tanpa filter.

“Perumpamaan apa itu…”

Ryn Moa menahan malu, pipinya terasa hangat. Ia menunduk sedikit, berharap rambutnya cukup panjang untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya. J-Hope tertawa renyah dan terdengar lebih ringan daripada sebelumnya, seperti seseorang yang senang karena reaksinya berhasil.

“Aku serius. Itu bikin orang ikutan ketawa.”

“Bohong…”

Kata itu keluar lirih, setengah membela diri, setengah berharap itu benar.

“Coba aja. Kalau aku lagi bete, aku tinggal ingat kamu ketawa. Langsung ceria.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada bercanda, justru terlalu tulus. Ryn Moa seakan mematung, langkahnya melambat, hampir berhenti, tapi J-Hope ikut memperlambat langkah tanpa perlu diberitahu. Ada jeda singkat di antara mereka, jeda yang dipenuhi suara dedaunan dan detak jantung yang mendadak terasa lebih jelas. Ada ruang kosong dalam dadanya yang terasa hangat. Bukan hangat yang membuatnya panik atau pun yang membuatnya ingin lari, namun hangat yang mengisi. Ini bukan kilatan suka seperti saat melihat Taehyung. Bukan pula rasa nyaman dalam diam seperti bersama Namjoon. Ini… entah apa, Ia tidak punya kata untuk menggambarkannya. Tapi terasa terang dan ringan.Terasa seperti… orang yang menyeimbangkanmu. Seseorang yang tidak membuatmu merasa harus jadi versi tertentu dari dirimu. Tidak menuntut, tidak menguji namun hadir, dan entah bagaimana membuat segalanya terasa lebih mudah. Ryn Moa menelan ludahnya sendiri, ada kegelisahan kecil yang menyelinap.Dia tidak seharusnya merasa begini.

Ia sudah menyukai Taehyung sejak lama. Perasaan itu bukan main-main. Bukan sesuatu yang bisa digeser hanya karena beberapa percakapan ringan dan tawa nyaman. Tapi saat berjalan berdua dengan J-Hope, dunia terasa..lebih cerah. Seolah kontras warna di sekelilingnya dinaikkan satu tingkat, langkahnya lebih ringan, serta pikirannya tidak terlalu berisik. Mereka terus berjalan hingga gedung perpustakaan berdiri di depan mereka, bangunan besar dengan kaca tinggi dan pintu kayu yang selalu mengeluarkan aroma khas buku tua.

...⭐⭐⭐...

Langkah mereka berhenti tepat di depan pintu perpustakaan. J-hope membuka pintu dan mempersilahkan Ryn Moa untuk masuk duluan. J-Hope mengeluarkan buku dari tasnya, menepuk-nepuk sampulnya sejenak seolah memastikan itu benar, lalu mengangkat pandangannya ke arah Ryn Moa.

“Terima kasih ya, J-Hope,” kata Ryn Moa singkat.

Kata-katanya sederhana, tapi nadanya jujur. Ia menatap J-Hope langsung kali ini, tidak menunduk untuk menghindar.

“Untuk apa?”

Nada J-Hope benar-benar penasaran, bukan basa-basi.

“Untuk… ya. Temenin jalan.”

Ia mengangkat bahu kecil, seolah tidak tahu bagaimana menjelaskan lebih jauh tanpa terdengar berlebihan. J-Hope mengangguk lembut. Gerakan kecil itu terasa penuh perhatian.

“Kamu tau?” katanya sambil memasukkan tangan ke kantong. “Kamu itu tipe orang yang gampang bikin nyaman.”

Kalimat itu diucapkan pelan, seperti rahasia kecil yang dibagikan begitu saja.

“Eh?”

Ryn Moa tidak siap mendengar itu. Ia berkedip sekali, lalu dua kali.

“Dan itu jarang.”

Nada J-Hope tenang, tidak dramatis, tapi justru itulah yang membuatnya terasa nyata.

Ryn menunduk malu.

“Kamu juga…”

Jawaban itu refleks, Jujur. Tidak dipikirkan panjang.

J-Hope tersenyum kecil, senyum yang tidak selebar biasanya, tapi lebih dalam. Senyum yang tidak dibuat untuk orang lain namun muncul karena sesuatu yang menyentuh.

“Kalau gitu… kita cocok ya?”

Kata itu muncul perlahan. Cocok, Bukan “suka”, “naksir”, atau “jalan bareng”. Ryn Moa terdiam, Kata itu seakan memantul-mantul di kepalanya. Cocok berarti seimbang, saling mengisi dan Cocok berarti… potensi. Ia tidak langsung menjawab. Tidak bisa ! Tuhan… apa-apaan ini? Pikirnya.

Di satu sisi, hatinya terasa hangat. Di sisi lain, pikirannya berteriak panik. Ia berdiri di ambang sesuatu yang belum ia pahami, sesuatu yang tumbuh terlalu cepat untuk diberi label. Di dalam perpustakaan, pintu terbuka, seseorang masuk, suara langkah dan bisikan buku menyusup ke dunia kecil mereka. J-Hope tidak mendesak. Ia hanya berdiri di sana, menunggu, dengan senyum yang sabar. Dan Ryn Moa tahu, tanpa perlu dikatakan, bahwa hari ini, sekali lagi, semesta menambahkan satu lapisan kebingungan baru ke hidupnya. Dan ini…baru siang hari.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!