NovelToon NovelToon
Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Perjamuan Langit Kultivasi Lidah Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Dan budidaya abadi
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12 resep penjinak dewa

Hutan Kabut Hantu, Zona Dalam.

Udara di sekitar Han Shuo bergetar hebat, terdistorsi oleh gelombang panas yang mematikan. Di hadapannya, Kirin Tanah Bermata Api berdiri setinggi tiga meter, napasnya menyemburkan uap belerang yang layu mematikan tanaman di sekitarnya. Sisik merahnya bergemerutuk seperti bara api yang saling bergesekan.

Mata binatang itu merah menyala, pupilnya mengecil karena pengaruh Cairan Perangsang Birahi yang dilemparkan Wang He. Ia bukan lagi penjaga hutan yang agung; ia adalah mesin pembunuh yang gila karena rasa sakit dan nafsu membunuh.

"GRAAAAAWR!"

Raungan Kirin itu menciptakan gelombang kejut yang melempar Han Shuo mundur tiga langkah. Punggungnya menghantam batang pohon hangus. Rasa sakit menjalar di sekujur tubuhnya, mengingatkannya bahwa ia hanyalah manusia biasa di hadapan monster tingkat empat ini.

Seorang kultivator normal akan lari atau menghunus pedang. Tapi Han Shuo tidak melakukan keduanya.

Tangannya bergerak perlahan, bukan ke arah pisau, melainkan ke arah tas bumbunya.

"Kau kesakitan, bukan?" bisik Han Shuo, suaranya tenang di tengah gemuruh. "Darahmu mendidih. Perutmu terasa seperti dibakar. Kau tidak butuh musuh. Kau butuh obat."

Kirin itu tidak peduli. Ia mengangkat kaki depannya yang besar, bersiap menginjak Han Shuo menjadi bubur daging.

Han Shuo melempar sebuah toples tanah liat ke tanah di antara mereka.

Prak!

Toples itu pecah, menyebarkan bubuk putih berkilauan: Garam Surga Pengikat Jiwa.

Aroma garam itu aneh. Tidak asin seperti laut, tapi harum seperti hujan pertama yang jatuh di tanah kering. Aroma itu menyusup ke hidung Kirin, membuat gerakannya terhenti sepersekian detik.

Itu adalah celah yang dibutuhkan Han Shuo.

Ia mengeluarkan wajan besi hitamnya. Bukan sebagai tameng, tapi sebagai wadah. Ia juga mengeluarkan daging Babi Hutan segar yang ia dapatkan dari hasil buruan pembunuh bayaran tadi (yang tersimpan di cincin penyimpanan si pembunuh yang ia rampas).

"Jika kau ingin membakar sesuatu, bakar ini!" teriak Han Shuo.

Ia melemparkan potongan daging babi hutan itu ke udara, tepat di depan wajah Kirin.

Kirin itu secara refleks menyemburkan api dari mulutnya.

FWOOSH!

Api neraka menyelimuti daging itu. Panasnya ribuan derajat, cukup untuk menghanguskan tulang menjadi abu dalam sekejap.

Tapi Han Shuo sudah bergerak. Ia melompat maju, menembus gelombang panas itu. Wajan besinya menyambar daging yang sedang terbakar itu tepat di udara sebelum jatuh ke tanah.

Teknik Wajan: Tangkapan Naga Api.

"Panas! Panas sekali!" batin Han Shuo menjerit. Kulit tangannya melepuh seketika, tapi ia tidak melepaskan gagang wajannya. Ia menyalurkan seluruh Qi Api Batin-nya ke wajan itu, menciptakan lapisan pelindung tipis yang mencegah daging itu hangus total.

Ia menggunakan api Kirin itu sendiri untuk memasak daging tersebut.

Di dalam wajan, lemak babi hutan itu meleleh mendesis, bertemu dengan sisa-sisa api Kirin yang terperangkap. Han Shuo menaburkan Garam Surga dan segenggam Daun Mint Es yang ia petik di pinggir mata air.

Kombinasi itu menciptakan reaksi kimia magis. Panas ekstrem dari api Kirin (Yang) bertabrakan dengan dinginnya daun mint (Yin), dijembatani oleh Garam Surga.

Asap yang keluar dari wajan itu berubah warna menjadi biru keunguan.

Kirin itu tertegun. Aroma yang keluar dari wajan Han Shuo bukanlah aroma daging bakar biasa. Itu adalah aroma yang menenangkan saraf. Zat perangsang di dalam darah Kirin mulai bereaksi dengan aroma tersebut, perlahan ternetralisir.

Han Shuo mendarat kembali di tanah, napasnya memburu. Daging di wajannya kini telah matang sempurna, permukaannya berwarna karamel gelap yang berkilau, memancarkan aura spiritual yang lembut.

Ia tidak memakan daging itu. Ia meletakkan wajan itu di tanah, lalu mundur perlahan sambil menundukkan kepala dan mengangkat kedua tangannya.

Bahasa tubuh universal: Ini untukmu.

Kirin itu mendengus, uap panas keluar dari hidungnya. Ia menatap Han Shuo dengan curiga, lalu menatap daging itu. Rasa lapar dan insting penyembuhan diri mengalahkan kemarahannya.

Ia mendekat, lalu menjilat daging itu dengan lidahnya yang kasar.

Telan.

Detik berikutnya, mata merah Kirin itu melebar. Sensasi dingin yang menyegarkan meledak di dalam perutnya, memadamkan api liar yang menyiksanya akibat racun Wang He. Rasa gurih dari daging babi hutan yang dimasak dengan apinya sendiri memberikan kepuasan yang mendalam.

Tubuh Kirin itu bergetar. Sisik-sisiknya yang tadi berdiri tegak karena marah, kini perlahan merapat kembali. Cahaya merah di matanya meredup, digantikan oleh warna emas yang agung dan tenang.

Binatang itu duduk. Ia menatap Han Shuo, bukan lagi sebagai mangsa, tapi sebagai... penyembuh.

Han Shuo jatuh terduduk, tenaganya terkuras habis. "Syukurlah... resep Penjinak Binatang di Bab 4 ternyata bukan bualan."

Kirin itu mendengus pelan, lalu melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia menggigit bagian ekornya sendiri—bukan melukai, tapi melepaskan sebuah sisik besar yang menutupi daging paling lembut di pangkal ekornya.

Di balik sisik itu, terdapat gumpalan daging berwarna merah muda yang memancarkan cahaya seperti permata.

Daging Permata Kirin.

Ini adalah bagian tubuh yang bisa beregenerasi, namun mengandung esensi kehidupan murni dari binatang tingkat empat. Di dunia kuliner, ini adalah bahan legendaris yang hanya bisa didapatkan jika binatang itu memberikannya secara sukarela. Jika dibunuh paksa, daging ini akan berubah menjadi batu.

Kirin itu mendorong gumpalan daging seukuran bola kaki itu ke arah Han Shuo dengan hidungnya.

"Kau... memberikannya padaku?" tanya Han Shuo tak percaya.

Kirin itu mengangguk sekali, lalu bangkit berdiri dan melompat pergi ke dalam kedalaman hutan, meninggalkan jejak kaki yang tidak lagi membakar tanah.

Han Shuo menatap daging bercahaya itu. Ia tersenyum, meski wajahnya penuh jelaga.

"Wang He, kau membawa pulang bangkai. Aku membawa pulang berkah."

Han Shuo melihat posisi matahari. Waktu tinggal satu jam lagi. Jarak ke arena masih lima kilometer melalui medan terjal.

Ia membungkus daging itu dengan daun talas raksasa, lalu memakan sisa remah-remah bumbu yang tertinggal di wajannya. Sisa energi dari masakan tadi memberikan lonjakan tenaga terakhir.

Ia mulai berlari.

Arena Turnamen Sekte Awan Merah.

Suasana di arena sudah memanas. Waktu tinggal tersisa seperempat batang hio. Tiga peserta lain sudah kembali dengan hasil buruan mereka: seekor Rusa Angin, Ular Rawa, dan Burung Besi.

Namun, bintang panggung saat ini adalah Wang He.

Di meja masaknya yang megah, Wang He sedang menyelesaikan hidangannya. Bahan utamanya sangat mengerikan sekaligus mengagumkan: Jantung Serigala Petir Ganda.

Jantung itu masih berdenyut lemah di atas piring saji, dikelilingi oleh irisan sayuran herbal yang ditata rumit.

"Selesai!" seru Wang He sambil mengangkat tangannya.

Para juri, termasuk Penatua Tie, mendekat. Aroma masakan Wang He sangat kuat, mendominasi, dan agresif.

"Nama hidangan ini adalah: Jantung Raja Penakluk," Wang He mengumumkan dengan angkuh. "Dimasak dengan teknik Rebusan Darah Mendidih menggunakan tujuh jenis arak beracun untuk meningkatkan potensi Yang di dalam jantung."

Penatua Tie mencicipinya. Wajahnya sedikit berkerut karena rasa alkohol yang tajam, tapi kemudian ia merasakan aliran energi yang meledak di dadanya. "Kuat. Sangat kuat. Ini makanan untuk prajurit sebelum perang. Rasanya sedikit kasar, tapi khasiatnya nyata. Nilai: Delapan Setengah."

Wang He tersenyum puas. Nilai itu sudah cukup untuk menang, mengingat peserta lain hanya mendapat nilai enam dan tujuh.

"Sepertinya pemenangnya sudah jelas," kata Wang He sambil melirik ke arah pintu masuk hutan yang kosong. "Sayang sekali, peserta nomor 49 sepertinya tersesat... atau mungkin sudah menjadi makan siang cacing tanah."

Di tribun, Li Mei berdiri kaku. Wajahnya pucat pasi. "Han Shuo... tidak mungkin..."

Penatua Agung Mu Chen, yang duduk di kursi tertinggi, masih menutup matanya, seolah sedang tidur. Tapi jarinya mengetuk-ngetuk pegangan kursi dengan ritme teratur.

"Waktu hampir habis," gumam pembawa acara. "Sepuluh... sembilan..."

Wang He tertawa. "Sudahlah, umumkan saja kemenangan saya."

"Lima... empat..."

Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari pinggir hutan.

Sesosok tubuh melesat keluar dari balik pepohonan, melompat tinggi melewati pagar pembatas arena, dan mendarat dengan dentuman keras tepat di stasiun masak nomor 49.

Debu beterbangan. Saat debu menipis, terlihat Han Shuo berdiri dengan napas terengah-engah. Bajunya hangus di sana-sini, rambutnya berantakan, dan ia hanya memiliki satu tangan yang berfungsi normal.

Tapi di tangannya, ia memegang bungkusan daun talas yang memancarkan cahaya merah muda lembut.

"Maaf... terlambat..." Han Shuo menyeringai, giginya terlihat putih di wajahnya yang hitam kena jelaga.

"Han Shuo!" teriak Li Mei, air mata menggenang di matanya.

Wang He terbelalak. "Kau... bagaimana kau bisa selamat dari Kirin itu?!"

"Kirin itu titip salam untukmu," jawab Han Shuo dingin. Ia meletakkan bungkusan itu di meja.

"Sisa waktu tinggal sedikit! Kau tidak akan sempat memasak!" ejek Wang He. "Bahan mentah tidak akan dihitung!"

Han Shuo melihat batang hio. Tinggal sisa abu terakhir. Mungkin hanya cukup untuk lima menit.

Memasak daging biasa butuh waktu berjam-jam.

"Lima menit sudah cukup untuk hidangan ini," kata Han Shuo tenang.

Ia membuka bungkusan itu. Cahaya merah muda Daging Permata Kirin menyinari arena, membuat Jantung Serigala milik Wang He terlihat kusam seperti daging busuk.

"Itu... Daging Permata Kirin?!" Penatua Tie berdiri saking kagetnya. "Mustahil! Itu hanya bisa didapat jika..."

Han Shuo tidak membuang waktu untuk penjelasan. Ia mengambil pisau dapur berkaratnya.

Ia tidak menyalakan api.

"Apa yang dia lakukan? Tanpa api?" penonton bingung.

Han Shuo memegang daging itu dengan tangan kirinya (yang menggunakan Tangan Bayangan), dan pisau di tangan kanan.

Ia mulai mengiris daging itu dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

Teknik Pisau: Seribu Kelopak Bunga Es.

Setiap irisan daging itu setipis kertas. Begitu teriris, Han Shuo melemparnya ke udara.

Daging Permata Kirin sudah matang secara spiritual di dalam tubuh binatang itu. Ia tidak butuh api fisik. Ia butuh "Sentuhan".

Han Shuo menggunakan Qi di tangannya untuk memanaskan pisau hingga suhu tertentu, lalu mendinginkannya seketika saat memotong. Perubahan suhu drastis dalam mikrosekon ini "mematangkan" protein daging tanpa merusak strukturnya.

Irisan-irisan daging itu jatuh dan menata diri mereka sendiri di atas piring porselen putih, membentuk susunan mawar merah muda yang indah.

Di detik terakhir, Han Shuo mengambil sisa Garam Surga dan menaburkannya dari ketinggian.

Butiran garam itu jatuh seperti salju di atas mawar merah.

"Waktu habis!"

DONG!

Han Shuo meletakkan pisaunya.

Hidangannya selesai. Sederhana. Elegan. Tanpa kuah, tanpa hiasan sayur. Hanya daging mentah yang "dimatangkan" oleh niat pisau.

Para juri turun dari panggung utama. Wang He menatap hidangan Han Shuo dengan jijik. "Sashimi? Kau menyajikan daging mentah pada para Penatua? Itu penghinaan! Daging Kirin itu kerasnya seperti batu jika tidak direbus tiga hari!"

Penatua Tie mendekat. Ia bisa merasakan aura hangat yang memancar dari piring itu, meski tidak ada asap.

"Silakan," Han Shuo mempersilakan.

Penatua Tie menjepit satu irisan daging dengan sumpit. Daging itu bergetar kenyal. Saat ia memasukkannya ke mulut...

Tidak ada suara kunyahan.

Daging itu meleleh.

Seperti mentega yang ditaruh di atas lidah panas. Rasa gurih yang intens, manis, dan sedikit pedas alami meledak di mulut Penatua Tie.

Tapi yang lebih mengejutkan adalah efeknya.

Penatua Tie merasa seolah-olah ia sedang dipeluk oleh kehangatan bumi. Rasa lelahnya hilang. Aliran Qi-nya yang biasanya tersendat karena usia tua, kini mengalir lancar seperti sungai yang baru dikeruk.

Air mata menetes dari sudut mata Penatua Tie.

"Ini... ini adalah Rasa Damai," bisik Penatua Tie. "Masakan Wang He adalah Rasa Perang. Tapi ini... ini membuatku ingin pulang."

Penatua Agung Mu Chen, yang sejak tadi diam, tiba-tiba muncul di samping meja Han Shuo. Tanpa bicara, ia mengambil sepotong daging dan memakannya.

Mu Chen tersenyum tipis. "Binatang itu memberikannya sukarela, bukan?"

"Ya, Penatua," jawab Han Shuo.

"Hanya koki dengan hati yang bersih yang bisa mendapatkan Daging Permata. Wang He, kau menggunakan racun dan nafsu untuk memburu. Kau mendapatkan Jantung Serigala, tapi kau kehilangan hati koki."

Mu Chen berbalik menghadap seluruh arena.

"Pemenang Turnamen Dapur Sekte Awan Merah tahun ini... adalah Han Shuo!"

Sorakan yang terjadi kali ini begitu dahsyat hingga menggetarkan tanah. Murid-murid luar berlarian menyerbu arena, mengangkat Han Shuo (dengan hati-hati karena lukanya).

Wang He jatuh berlutut. Dunianya runtuh. Ia tidak hanya kalah, ia dipermalukan secara mutlak di depan seluruh sekte. Ia menatap Han Shuo dengan tatapan kosong, lalu beralih menjadi kebencian yang murni dan gelap.

"Ini belum berakhir, Han Shuo," desis Wang He pelan. "Keluarga Wang tidak akan membiarkan penghinaan ini."

Han Shuo, yang sedang diarak, menatap Wang He sekilas. Ia tidak merasakan kemenangan yang sombong. Ia hanya merasa lelah, dan lapar.

Di kejauhan, Li Mei tersenyum sambil menyeka air matanya.

Namun, saat perayaan sedang berlangsung, Han Shuo merasakan getaran aneh di dalam sakunya.

Kitab Rasa Semesta... bergetar.

Sebuah tulisan baru muncul di halaman kosong kitab itu, hanya bisa dilihat oleh mata batin Han Shuo:

"Bab Pembuka Selesai. Syarat Terpenuhi: Daging Permata, Hati Jujur, dan Kemenangan Mutlak."

"Membuka Akses ke: Dapur Dimensi Dewa."

Tiba-tiba, pandangan Han Shuo menjadi gelap. Bukan pingsan. Tapi jiwanya ditarik masuk ke dalam kitab.

Di dunia nyata, tubuh Han Shuo ambruk di tengah kerumunan yang bersorak.

"Han Shuo? Han Shuo!" teriakan panik mulai terdengar.

Epilog Sementara: Di Dalam Kitab

Han Shuo membuka matanya. Ia tidak lagi berada di arena.

Ia berdiri di sebuah dapur raksasa yang seolah melayang di luar angkasa. Langit-langitnya adalah galaksi. Kompornya adalah bintang-bintang kecil. Dan di depannya, berdiri sesosok bayangan transparan mengenakan celemek koki yang terbuat dari cahaya nebula.

"Selamat datang, Pewaris," suara itu bergema, terdengar seperti suara ribuan orang yang berbicara bersamaan. "Kau telah lulus ujian pendahuluan di dunia fana. Sekarang, pelatihan yang sesungguhnya dimulai."

"Siapa kau?" tanya Han Shuo.

"Aku adalah sisa jiwa dari Dewa Dapur sebelumnya. Dan kau... kau punya banyak pekerjaan rumah. Bahan-bahan di dunia fanamu itu sampah. Di sini, kau akan belajar memasak Phoenix, Naga Langit, dan Bintang Jatuh."

Han Shuo menelan ludah. Ia melihat ke arah pisau dapurnya yang ikut terbawa. Pisau berkarat itu kini bersinar emas, karatnya rontok, memperlihatkan tulisan kuno di bilahnya: "Pemotong Takdir".

Petualangan Han Shuo sebagai Koki Dewa baru saja dimulai.

1
Nanik S
Lanjut terus Tor
Nanik S
Tetua Agung ..kenapa pakai Kuali Tulang
Nanik S
Apa Han Suo mau dipanggang
Nanik S
Huo . masak seja sekalian Panatua Mu Chen
Nanik S
Menu yang tida akan dia Lupakan.. menu apa Jan Shuo
Nanik S
Besok memasak Wang Lin
Nanik S
Masak Mie pemutus jiwa
Nanik S
Punya Asisten baru
Nanik S
Keren...jadi Koki Dewa
Nanik S
Han Shuo.. kasih makan dan nanti bawa saja kirin ke depan Tetua Tie
Nanik S
Han Shuo .. apa yang akan terjadi dipuncak
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Han Shuo.. cerdas sekali
Nanik S
NEXT
Nanik S
Perjamuan dengan Harimau
Nanik S
Keren bener
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Hadir ...awal yang beda dari lainya
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ............
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ...........
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!