Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Lamunan Adimas
Rani menatap sekeliling, rasanya sunyi. Hatinya jelas berontak karena di sana hanya ada Adimas dan Rani saja, namun perasaannya senang karena di sana dia mendapatkan ketenangan karena bersama Adimas, dia bisa menemukan rumahnya.
"Mbok ke mana?" tanya Rani celingukan, Adimas menatap ke belakang ke arah rumahnya.
"Sudah pulang mungkin, dia hanya tinggal di sini saat ada pekerjaan saja. Bila pekerjaannya sudah selesai, dia akan kembali ke rumahnya." Ucap Adimas, Rani merasakan kedua pipinya menghangat. Jadi, di sana hanya ada mereka berdua saja?
"Sepertinya aku menginap di rumah lama saja, kayanya aku lebih baik pulang ke Kuningan." Rani mulai risau, Adimas menatap Rani yang jelas terpancar keresahan di sana.
"Kenapa?" Tatapan tajam diberikan Adimas, mata Rani langsung menunduk.
"Tetaplah lawan bicaramu, Ran, itu etika. Kamu tahu, kan?" Adimas mulai merasa terganggu dengan tingkah Rani yang selalu menghindari tatapannya.
"Tapi itu juga tidak baik, Mas," ucap Rani menggelengkan kepalanya cepat. Suara azan Zuhur berkumandang setelahnya, Rani langsung terdiam dari bicaranya.
Setelah azan selesai, Rani langsung bangkit dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kopernya yang sejak tadi tidak disadari Rani, kini telah berada di dekat tangga rumah itu.
"Gak nawarin lagi jadi imam, Ran?" tanya Adimas, Rani sejenak menahandadanya. Astaghfirullah pikirnya, dia sudah susah payah untuk tidak bersitatap, tapi kini Adimas justru menggodanya dengan halus.
"Bila tidak keberatan, Mas," ucap Rani, Adimas terkekeh dan tertawa setelahnya. Sungguh, tampaknya Adimas harus benar-benar mengenal kembali Rani.
Mereka akhirnya melakukan salat berjemaah di ruang keluarga. Sayang sekali, rumah itu belum ada musala dan Adimas kini sudah berencana dalam otaknya untuk membuat musala kecil di samping rumahnya.
"Nanti sore temenin aku, ya?" pinta Adimas, Rani sejenak berdeham kecil.
"Ke mana?" tanya Rani, saat itu Rani masih menggunakan mukenanya yang berwarna putih. Wajahnya yang teduh dan bibir manisnya seolah terus menggoda Adimas sejak tadi.
"Bengkel," jawab Adimas singkat, Rani mengangguk pada akhirnya. Adimas membawa dua koper Rani ke lantai dua, satu kopernya memang sudah dibuka karena harus mengambil mukena, namun satunya lagi masih aman.
"Mas, kok ke sana?" tanya Rani, Rani sadar tadi Adimas beberapa kali masuk ke kamar itu untuk berganti pakaian.
"Daripada susah nanti dibongkar lagi, diberesin lagi. Mendingan langsung saja beresin di sini, nanti juga jadi kamar kamu, Ran." Rani terkekeh dan kepalanya menggeleng pelan.
"Gak apa-apa, Mas, aku gak bisa tidur di kamar itu." tutur Rani lembut, Adimas nampak menyiratkan kekecewaan di wajahnya.
"Yang, aku gak akan apa-apain kamu. Sumpah deh, tak kewer-kewer!" Adimas mengangkat dua jarinya membentuk tanda vis.
"Bukan, Mas, tapi aku." ucap Rani lagi, Adimas menahan senyumnya sejenak.
"Oh, jadi kamu yang mau mengapa-apakan aku, Hem?" Tawa Adimas pecah setelahnya, dia langsung menyeret koper itu masuk ke dalam kamarnya.
Kamar yang terkesan netral, minimalis, dan multifungsi. Tidak sempit, namun kamar itu memang terlihat penuh, meski demikian nampak beberapa lemari kosong dan Adimas melemparkan koper itu ke atas kasur.
"Mau aku yang rapikan?" tawar lagi Adimas, Rani langsung menghalangi tangan Adimas.
"Jangaaan!" Rani menggeleng cepat, Adimas tertawa melihat sikap Rani yang spontan.
"Aku jadi penasaran, apa isinya?" usil Adimas, Rani menatap tajam pada Adimas kala itu.
"Ayo buka!" kekeh Adimas, Rani menghela napasnya kasar. Dia menepikan koper yang sempat tadi dia buka.
"Ini tidak boleh, isinya barang-barang pribadiku, Mas." ucap Rani, Adimas mengangguk paham.
"Terus itu?" Rani menghela napas kasar dan membuka kopernya yang tadi masih tersegel rapi.
Koper itu ternyata berisi banyak buku, buku-buku tebal yang jelas isinya hanya tulisan itu langsung membuat Adimas merinding melihatnya.
"Gak asyik, kupikir tadi kamu bawa besi. Kopernya berat banget, Ran." ucap Adimas menggeleng pelan.
"Ini buku yang sedang aku hafal, Mas, beberapa hanya tinggal melancarkan saja. Dan sisanya masih banyak kekurangan." ucap Rani, Adimas menganga mendengarnya.
"Inikah jelmaan heater matematika?" gemas Adimas, Rani terkekeh setelahnya.
"Nilai menghitungku masih minus, Pak Guru." ucap Rani lagi, Adimas akhirnya tertawa dan membiarkan Rani merapikan baju dan buku-bukunya.
Adimas di dapur mulai memasak, Rani pasti lapar pikirnya. Dia sesekali tersenyum, entahlah, hari itu sangat bahagia. Di antara ribuan hari yang sudah dia lewati, hari itu agaknya masuk nominasi tiga besar dengan predikat hari paling membahagiakan bagi Adimas.
Setelah Rani merapikan pakaiannya, dia melihat sendiri bagaimana Adimas memasak. Rasa nyaman dan bahagia memenuhi seluruh hatinya, meski di bagian hati paling dalamnya dia berontak keras.
"Makan, Ran," Adimas menaruh hasil masakannya di atas meja, Rani sejenak mengangkat alisnya.
Ada sayuran yang dibumbui kecap, ada juga ayam yang digoreng gosong, dan nasi yang belum matang sepenuhnya. Rani ingin tergelak, namun sebisa mungkin dia menahan ekspresi dan tawanya.
Adimas duduk, disusul Rani. Dengan bangga, Adimas menaruh satu centong nasi besar di piring Rani. Rani berdeham, sanggupkah dia memakannya?
Adimas juga melakukan hal yang sama pada piring miliknya, Rani mulai berdoa dan memakan satu suapan kecil masuk ke dalam mulutnya. Nasi yang masih jadi beras, dan sayur.
"Mas, ini kecap?" tanya Rani dengan kedua pipi memerah, Adimas yang belum makan satu suapan pun akhirnya mencicipi sayur itu.
"Uoeeekkk!" Adimas berlari ke wastafel dan memuntahkannya lagi, Rani mencoba mengunyah makanannya namun ternyata dia juga hampir muntah.
"Jangan dimakan!" teriak Adimas, Rani menahan mulutnya agar tidak mengunyah.
"Ini rasanya kaya oli." ucap Adimas, dia langsung menarik semua makanan dari meja dan menatap Rani.
"Muntahkan, sayang," pinta Adimas, dia juga memberikan tisu pada Rani. Rani memuntahkannya, dia sedikit merasa bersalah karena tidak bisa menelan walau hanya sedikit pun. Padahal, mungkin itu dibuat susah payah oleh Adimas.
"Maaf," ucap Adimas, Rani mengangguk kaku. Hening sejenak, Rani tak tahu harus berkata apa kala itu.
"Ran? Bisa masak?" tanya lagi Adimas, Rani mengangguk pelan. Selama sekolah dia memang tidak pernah belajar memasak, namun sejak tinggal di Kairo dia mulai bisa memasak dan justru dia terbiasa. Saat senggang, dia sering membuat kue dan dia cukup senang melakukan itu.
"Aku masak, ya, Mas," cicit Rani, Adimas menghela napas kasar dan mengangguk.
"Butuh sayuran apa saja? Aku akan mengambilnya dari belakang." tanya Adimas, Rani bergerak ke arah dapur dan melihat semua bumbu di dapur itu. Pelat nama pada setiap bumbu salah, bahkan ada kecap asin yang malah diganti oli.
"Feet, siapa yang melakukan ini, Mas?" tanya Rani, Adimas mengingat-ingat. Tak ada nama lain yang terlintas di kepalanya kecuali Arya.
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang