NovelToon NovelToon
Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Transmigrasi Pembully [Jiwa Yang Tertukar]

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa / Komedi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amha Amalia

Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?

Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.

Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.

=-=-=

"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.

"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.

"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.

=-=-=

Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?

=-=-=

Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.

LOVE YOU~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Barang rongsokan

*

Setelah perbincangan singkat, Raya tidak jadi membeli mobil. Mereka kembali ke rumah Bu Indah, ibunya Raya. Ternyata disana sudah ada Mang Ujang supir Jessie yang menunggu.

Raya mengeluarkan semua barang belanjaannya lalu melirik Jessie "Sana pulang." Usirnya tak berperasaan.

Jessie mengangguk pasrah. Saat dia hendak masuk ke mobil, Bu Indah keluar.

"Ya ampun Raya, ini belanjaan siapa?" Pekik Bu Indah melihat banyak paperbag di tangan Raya.

"Aku." Balasnya santai.

"Dapat uang darimana sayang?" Tanya Bu Indah.

Raya tampak berpikir, tidak mungkin ia bilang punya uang sebanyak itu "Ini darinya." Ucap Raya melirik Jessie "Katanya tanggung jawab karna udah nabrak."

Bu Indah menatap Jessie, Jessie tersenyum "T-tante." Jessie menyalaminya sopan.

Dalam hati Raya mengutuk Jessie 'Nyokap sendiri di bilang tante, durjana.'

"Kenapa membelikan barang sebanyak itu?" Bu Indah merasa tak enak hati.

"Tidak apa apa, sekali kali aku mentraktirnya." Jessie melirik Raya.

Tatapan Raya sinis seolah berkata 'Enak aja. Gue yang traktir lo, bukan lo traktir gue.'

"Udah malem, lo capek kan? Pulang aja." Usir Raya kembali, senyum manis yang mengancam.

"Aku pulang dulu." Pamit Jessie sebelum Raya berubah jadi monster, pikirnya.

Mang Ujang membukakan pintu mobil belakang, Jessie masuk lalu tersenyum manis pada Raya dan Bu Indah. Mang Ujang pun melajukan mobilnya pergi menjauh dari pelataran rumah itu.

Raya masuk dalam rumah, dia tidak sabar mau unboxing barang belanjaannya.

"Ini makanan buat ibu sama ada pakaian juga." Raya menyodorkan dua paperbag pada Bu Indah.

Saat ingin menerima, pandangan Bu Indah menatapnya dari atas sampai bawah. Ia baru menyadari sesuatu, putrinya pakai makeup? "Ini kamu sayang?"

Raya mengangguk sambil tersenyum.

"Kamu cantik sekali." Puji Bu Indah tulus "Kenapa kamu merubah penampilan?"

"Bosan, pengin suasana baru." Balas Raya santai. Kembali menyodorkan paperbag itu "Buat ibu."

Bu Indah melihat isi paperbag "Ini pasti mahal sekali."

"Ini murah kok." Jawab Raya enteng "Gak usah pikirian harganya, nanti pakai ya. Dan itu makanannya jangan lupa di makan."

"Iya, terimakasih. Katakan juga pada temanmu tadi, bilang makasih." Ucap Bu Indah, Raya hanya senyum tipis "Kamu udah makan?"

"Udah. Aku mau langsung tidur, capek." Pamit Raya.

"Iya. Kamu istirahat saja. Kamu baru sembuh jadi jangan terlalu capek." Bu Indah membelai rambut Raya lembut.

Raya terpaku, belaian itu terasa hangat, di tambah dengan senyuman tulus Bu Indah membuat hatinya tenang.

"Aku tidur dulu." Pamitnya lagi, Raya pun masuk ke kamar.

Raya meletakkan semua paperbag ke atas kasur, ia pun merebahkan dirinya di samping paperbag itu. "Melelahkan."

Hembusan nafas kasar terdengar, pandangannya menatap langit kamar. Bayangan saat Bu Indah membelai rambutnya membuat dia teringat dengan sosok yang selama ini ia rindukan.

"Rambutmu sangat indah sayang, Mama menyukainya." Mama Yasmin membelai rambut Jessie kecil.

"Kamu adalah Anugrah terhebat yang Tuhan berikan pada Mama. Mama harap kebahagiaan selalu menyertaimu."

Tak terasa, bulir bening mengalir di pipi mulusnya. Raya dengan Jiwa Jessie ini pasti akan rapuh jika tentang keluarga. Di luar saja dia dingin dan kejam, itu hanya untuk menutupi kesedihannya. Semua sikap buruknya di sekolah, ia jadikan itu sebagai pemberontakan pada Papanya.

"Jessie rindu Mama." Lirihnya, dengan nafas tercekat.

"Apakah ini takdir? Jessie menginginkan kehadiran Mama, lalu entah apa yang terjadi kini Jessie masuk ke tubuh orang yang punya sosok ibu sebaik Mama. Mungkinkah ini jawaban dari keinginan Jessie?

Niat hati masuk ke kamar untuk unboxing barang belanjaan, namun justru curhat meratapi nasibnya. Hingga tak sengaja rasa kantuk mulai menjalar dan membawanya ke alam mimpi.

*

*

Hari mulai pagi, Raya bersiap memakai seragam sekolahnya. Merias diri dengan makeup yang ia beli kemarin. Gerakannya terhenti.

"Gue di tubuh nih cupu, artinya gue harus siap ladenin semua siswa yang mungkin bully gue." Gumamnya pelan mengingat bagaimana Raya yang dulu sering di bully "Awas aja kalo ada yang berani nyentuh gue." Lanjutnya sorot mata tajam.

Ia melangkah keluar kamar, Bu Indah terlihat sedang menyajikan makanan. Raya memutar bola matanya malas, dalam hati mendengus 'Itu lagi. Kek gak ada makanan lain aja.' Matanya menatap tempe bacem di atas meja.

"Bu, apa gak ada makanan lain?" Tanyanya, ia sangat tidak menyukai makanan itu.

"Gak ada sayang. Lagian ini kesukaanmu dan ini lebih murah." Balas Bu Indah memberi pengertian.

Raya mengeluarkan dompet lalu mengambil beberapa lembar uang warna merah dan menyerahkannya pada Bu Indah. Ia kemarin sempat tarik tunai agar memegang uang cash "Buat makan nanti malam." Ujarnya.

Mata Bu Indah membelalak, tak percaya putrinya memegang uang sebanyak itu "Uang darimana ini?"

"Tabungan." Balas Raya asal.

"Ya ampun, jika tabungan kamu ya lebih baik simpan saja." Bu Indah menolak lembut.

"Untuk Ibu. Kemarin uang ibu di ambil ayah kan? Jadi anggap ini sebagai ganti." Raya terus memaksa, ia meletakkan uangnya di tangan Bu Indah "Pakai Bu. Setidaknya kita gak makan tempe bacem terus. Aku bosan."

"Kamu udah gak suka tempe bacem?" Tanya Bu Indah.

Raya hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan.

"Yasudah, nanti ibu masakin yang lain kesukaan kamu." Ucap Bu Indah, Raya nampak antusias "Mau apa? Sambal pare? Terong di cabein? Pete bakar? Sayur lodeh? Pecak tauge? Atau mau semur jengkol?"

Mulut Raya menganga lebar, jika saja di hadapannya ada pemilik tubuh yang asli... Sudah di pastikan seribu kata mutiara akan keluar lalu menyumpah serapahinya 'Seleranya sangat norak.'

"Mau apa sayang?" Tanya Bu Indah lagi.

"Ayam aja bu." Raya mencoba tersenyum.

"Bukannya kamu kurang suka ayam?" Bu Indah terheran.

"Itu dulu, sekarang suka kok."

"Baiklah, nanti ibu masakin buat kamu." Bu Indah akhirnya pasrah meski dalam hati heran saat mengetahui kesukaan anaknya berubah.

Mereka pun memulai aktifitas sarapan dengan tenang. Tepatnya Bu Indah yang tenang, jika Raya jangan tanyakan lagi. Mulutnya makan sambil tersenyum, hatinya penuh kata mutiara 'Raya anj--...' Umpatnya kesal.

"Assalamu'alaikum, Hello epribadeh." Seru seseorang menggelegar membuat Raya tersedak.

"Wa'alaikumsalam." Balas Bu Indah ramah "Eh nak Pipit. Mau berangkat sama Raya?"

"Iya tante. Raya baru sembuh jadi mending berangkat bareng aku." Pipit nyengir.

Raya memutar bola matanya malas. Semalam Pipit memang chat dan mengajak bareng, dia hanya membaca tanpa membalas.

"Raya lagi sarapan. Kamu sudah sarapan belum? Mau sekalian?" Tawar Bu Indah, ia sudah sangat akrab dengan teman anaknya itu.

"Aku udah sarapan tadi." Pipit melirik makanan diatas meja, melihat tempe bacem disajikan "Tapi kalau tante memaksa, Bolehlah aku ikut makan juga." Lanjutnya dengan tampang tanpa dosa.

Raya menatap sinis "Gak ada yang maksa." Cibirnya hanya di anggap angin lalu sama Pipit.

Bu Indah terkekeh, ia tahu bagaimana sifat Pipit "Ayo makan." Ajaknya kemudian menyajikan makanan di atas piring untuk diberikan pada Pipit.

Rutinitas sarapan berlangsung dengan baik, tentunya dipaksa menjadi baik oleh Raya. Kini Pipit mengajak Raya untuk segera berangkat.

"Ini... Motor lo?" Pekik Raya menatap sebuah sepeda motor bebek dengan satu helm mirip kuli bangunan.

Pipit mengangguk antusias "Otak lo kayaknya masih agak geser, jadi pelupa gitu ya."

Raya mendelik, Pipit menjadi ngeri melihatnya. Ia tidak pernah melihat tatapan tajam sahabatnya itu.

"Udah ayo berangkat, entar keburu telat dan di hukum pak ketos." Ajak Pipit menghindari tatapannya, ia segera memakai helm lalu naik ke motornya. Melirik Raya sekilas "Lo gak lupa cara naik motor kan?"

"Lo pikir gue beg*." Maki Raya.

Pipit menelan ludah kasar, ia hanya bertanya. Apa yang salah?

Raya menghela nafas kasar, berharap ini segera berlalu. Terpaksa ia menaiki motor Pipit, membonceng tanpa berpegangan.

"Let's go, berangkat." Pipit mulai menjalankan motor dengan kecepatan sedang.

Di tengah perjalanan, Pipit terus mengoceh mengajak Raya mengobrol ringan seputar pelajaran juga terkadang diselingi tentang idol kpop kesukaannya. Raya hanya mendengarkan, malas bicara hal yang menurutnya tidak penting. Tatapan Raya menatap sekeliling, dia menyadari Pipit melewati jalanan kecil bukan jalan raya besar. Itu sebabnya sekitar mereka cukup sepi, tidak banyak motor berlalu lalang.

"Ini motor apa keong sih? Lembek banget jalannya." Ketus Raya mendengus.

"Ini udah cepat Ray." Balas Pipit tak terima "Lagian kalo tambah cepet lagi entar yang ada kita bukan sampe sekolah tapi rumah sakit."

Raya mendengus, cewek ini selalu saja punya jawaban saat berdebat.

Mendadak saja motor mereka oleng, mengadat, lalu berhenti.

"Why?" Tanya Raya heran, perjalanan mereka masih jauh.

"Sebentar." Pipit berusaha tenang, ia kembali menyalakan mesin motor tapi sia sia. Perlahan menoleh ke belakang menatap Raya ragu "Motornya mogok Ray."

"What?! Mogok?" Pekik Raya, langsung turun sambil berkacak pinggang "Udah gue bilang ini motor jalannya kek keong, taunya emang rusak. Dasar motor butut, rongsokin aja ni motor. Gak ada guna, nyusahin doang. Emang harusnya di buang ke got." Raya menendang motor Pipit kesal.

"Ya maklum Ray, gue lupa servis." Pipit menggaruk tengkuknya yang tak gatal "Daripada lo marah gak jelas, mending bantuin gue."

"Bantu apa?" Ketus Raya.

"Dorong motor gue." Pipit menyengir tanpa dosa.

"What?! Lo nyuruh gue dorong motor rongsokan ini? Hah! Gak mau! Dorong aja sendiri." Tolaknya mentah mentah.

...----------------...

1
rhenha 123
lanjut thor
•🌻 𝓼𝓾𝓷𝓯𝓵𝓸𝔀𝓮𝓻𝓼 🌻•
yaa tak kirainn chatstory🥲 KAPANN BUAT CS LGII THORR🤧
Amha amalia: lagi pengin buat novel kakak😌😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!