Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07 : Mulai ragu
Ainur menjambak rambutnya, nyeri itu seperti ujung jarum menusuk-nusuk. Giginya saling beradu, napas mulai pendek-pendek dan pandangan berkunang-kunang.
Takut ketahuan berakhir menimbulkan rasa curiga, Ainur menggeleng pelan nyaris tak bertenaga. Mengusir spekulasi aneh tapi terasa masuk akal. Dikembalikan lagi handuk pada tempatnya. Diapun berdiri, sisi badannya bersandar pada lemari lalu tembok kamar.
Ainur masuk ke dalam kamar mandi, tidak mengunci pintunya. Sambil menahan nyeri pada perut, jemarinya menurunkan celana dalam.
Ketika berjongkok dan mulai buang air kecil – Ainur menggigil, menggigit bibir. Dia tidak tahu menyamakan rasa sakit ini dengan apa, yang jelas sangat menyiksa sampai urat-urat lehernya mengejang.
Ainur tidak kuat berdiri, berakhir terduduk di lantai dingin, lembab. Menangis dalam diam seraya memaksa otak untuk berpikir keras meskipun dia tahu seperti berjalan diatas batang berduri.
‘Kenapa tubuhku lemah sekali?’ tanyanya pada diri sendiri. Dia langganan penyakit musiman seperti; batuk, flu, demam, dan lainnya.
Ainur ketika masih kecil, jarang bermain diluar rumah seperti anak-anak pada seusianya. Bisa dibilang tidak pernah. Dia besar dalam lingkungan keluarga, tanpa sahabat, enggan menjelajahi dunia luar, selalu mengekori kakak kandungnya, Dayanti.
Pun, memasuki masa sekolah – Ainur mendapatkan perlakuan khusus. Jarang masuk kelas, lebih banyak belajar di rumah dibimbing seorang guru atas permintaan sang ayah yang rela mengeluarkan biaya ekstra.
Semua itu dianggap sebagai bentuk cinta kasih anggota keluarga. Ainur begitu penurut, apapun yang dikatakan, diinginkan orang tuanya hampir semua disanggupinya tanpa protes, bertanya.
“Inur, sayang … kamu di dalam?” tanpa menunggu, pintu kamar mandi dibuka.
Ekspresi Daryo terlihat cemas kentara sekali kalau dia khawatir melihat istrinya duduk di atas lantai. “Kenapa? Mana yang sakit?”
Sejenak Ainur menatap wajah pria yang sudah tiga tahun membersamainya. Raut Aryo layaknya laki-laki begitu mencintai sang istri. “Aku sesak buang air kecil, tapi ndak bisa berdiri sehabisnya. Perutku sakit, mas.”
“Maaf nggeh. Tadi mas nyuci handuk bekas menstruasi mu.” Aryo memapah Ainur sampai berdiri, lalu mendudukkannya di pinggiran bak air.
Penuh kelembutan dan perasaan menyesal dia mengurusi Ainur. “Apa mau mas rebuskan air hangat dulu untuk membasuh badanmu agar nanti tidurnya lebih nyenyak?”
“Ndak perlu, mas. Pakai air dingin saja. Maaf merepotkan,” entah kenapa perasaannya tak lagi sama, ada keraguan membayanginya. Seolah menyangsikan perlakuan manis ini.
“Mas ndak repot kok, dek. Asal kamu sehat, merasa nyaman, itu sudah seperti piala kemenangan bagi mas sebagai seorang suami.” Bibir Ainur dikecup lembut, singkat.
Ainur diam, membiarkan dirinya diurusi layaknya bayi. Hanya memandang rumit betapa sibuknya seorang Aryo – keluar masuk ke kamar mandi, membawa pakaian bersih, melepaskan baju bagian basah terkena air seni.
Semua itu tak luput dari netra sayu Ainur. Perasaannya sedikit berbeda, hati tergugah, rasa curiga kian membesar. ‘Apa memang ada, seorang pria benar-benar tulus mencintai istrinya yang berpenyakitan. Ndak bisa memberikan keturunan, dan sering dianggap seperti orang kurang normal?’
‘Kenapa kamu terlihat sempurna tanpa cela mas, seolah bukan manusia tempatnya khilaf serta salah. Sifat, sikapmu sangat manis, tatapan mendamba, apa kamu benar-benar tulus ke aku?’
Pertanyaan-pertanyaan demi pertanyaan menggema dalam hatinya. Keraguan itu menciptakan jurang pemisah. Dia tak lagi terkesima, buta mata tertutup cinta besar yang kini dirasa seperti sandiwara semata.
“Kenapa?” Daryo memandang aneh ekspresi tidak biasa Ainur.
"Ndak apa-apa. Cuma bersyukur saja, dihadiahkan sosok suami sempurna seperti mas Daryo.” Ia memaksakan tersenyum, tapi matanya tak berbinar seperti biasanya.
“Sepertinya kamu sudah mengantuk lagi. Jadinya pintar merayu, sayang sekali Inur sedang datang bulan, padahal mas kepengen,” nadanya terdengar sedikit kecewa, entah tulus atau pelengkap sandiwara.
Entahlah, bagi Ainur yang tadinya berwarna cerah kini berubah abu-abu.
“Sabar nggeh, cuma beberapa hari saja,” jawabnya di zona aman.
Aryo mengangguk pelan, terkekeh sumbang layaknya suami sangat menginginkan bermesraan dengan istrinya. Ia bopong Ainur, membiarkan pakaian kotor teronggok di lantai.
Ainur mencekal lengan suaminya saat hendak ditinggalkan seorang diri di peraduan.
“Sebentar sayang, mas bersihkan dulu baju dan celana mu yang basah. Cuma direndam bubuk pencuci pakaian, besok pagi baru mas cuci tangan.”
Genggaman itu pun terlepas. Aryo masuk ke dalam kamar mandi, cuma sebentar. Lalu keluar lagi dan naik ke atas ranjang.
Sisa malam ini, Ainur tidur berbantalkan lengan suaminya. Ia didekap lembut, wajah dikecup sayang, dibisiki kata-kata cinta.
***
Cup.
Aryo mengecup kening sang istri yang masih terlelap di pukul setengah sembilan pagi. “Cantik, bangun dulu nggeh. Sudah ditungguin banyak orang.”
“Banyak orang siapa?” gumamnya parau, perlahan membuka mata.
‘Ada yang aneh dengan ekspresinya, kenapa terlihat sangat sumringah?’ Ainur memperhatikan raut sang suami. Wajah tampan itu berseri-seri.
"Mengapa ngelihatinnya sampai melongo gitu, dek?” suara tawa Aryo terdengar lepas.
“Pagi ini mas Aryo jauh lebih tampan.” Ia tersenyum, pipinya terasa hangat.
Lutut Daryo menekan tilam, dia membungkuk dan menyerang bibir Ainur, mengecupnya menggebu-gebu. “Belajar darimana sih? Ndak biasanya kamu ngomong manis gini? Apa lagi ada maunya. Ngaku, sayang.”
'Entahlah, tiba-tiba saja mulutku merangkai kata aneh, terasa asing,’ keluhnya. Menyembunyikan apa kata hati, membalas memeluk leher Aryo.
"Siapa yang nungguin, mas?”
Daryo menarik diri, membantu istrinya duduk, lalu dia berjongkok di samping ranjang seraya menggenggam kedua tangan berjari lentik. “Keluarga Jayadi, Sugianto – berkunjung kesini. Katanya mereka mau mengabarkan sesuatu.”
Sudut mata Ainur berkerut. “Kenapa tiba-tiba sekali? Bapak juga ikut?”
“Lengkap. Makanya, selagi para pelayan menyiapkan sarapan pagi, mas mau membantu kamu membersihkan diri. Ayo!” ajaknya, siap-siap mau menggendong Ainur ke kamar mandi.
‘Aneh? Ada apa gerangan sampai bapak juga mau berkunjung kemari. Biasanya sibuk mengatur, mengawasi para pekerja di kebun lada, dan jeruk bali.’ Ainur melingkarkan tangan pada belakang leher.
***
Khusus hari ini, Ainur memakai kain jarik motif Sidoasih sebagai bawahan, lalu batik kutubaru polos warna kuning gading. Bila ada pertemuan keluarga, tanpa perintah maupun permintaan, mereka paham jika diwajibkan memakai pakaian tradisional.
Wanita yang rambutnya digelung sederhana itu berjalan menggunakan lutut di atas lantai pendopo bangunan terbuka terletak di depan hunian mewah keluarga Tukiran. Letaknya sedikit menyamping, dikelilingi bunga mawar, Melati serta tanaman hias.
Sepasang netra pria berumur setengah abad, memperhatikan putri bungsunya. Tangannya terulur menerima salam santun. Tak ada kata yang terlontar, cuma usapan lembut nan singkat di pucuk kepala.
Ainur juga menyalami ibu dan kakaknya, lalu menghampiri keluarga Jayadi.
“Paman,” sapanya dengan telapak tangan tertangkup di depan dada, wajah sedikit menunduk.
“Kabarnya, nduk?” balas sebuah suara berat, bertubuh sedang dengan bobot ideal.
“Baik, paman,” Ainur merasa sedikit tidak nyaman yang coba disembunyikan dengan baik.
Kemudian dia menyalami bu Sasmita, istrinya pak Jayadi. Wanita ini sama seperti bu Mamik, dan Warti – keseharian mengenakan kebaya ataupun baju lurik sama seperti suami mereka.
Kamila, putri tunggal keluarga Jayadi menyapa ramah Ainur. Dia memeluk sebentar dan memandang hangat.
Terkadang, Ainur sering tidak percaya diri bila berdekatan dengan Mila yang memiliki kecantikan natural dan daya pikat pekat, aura wanita terhormat.
Ketika Ainur kembali duduk di samping suaminya. Bu Mamik, Sasmita, dan Warti, hampir bersamaan memberikan kabar yang membuat jantung Inur sejenak tidak berdetak.
“Kamila tengah mengandung lima minggu.”
“Citranti hamil lima minggu.”
“Dayanti lagi berbadan dua. Usia kehamilannya memasuki minggu ke lima.”
‘Kenapa bisa berbarengan …?’
.
.
Bersambung.
ainur gak di bawa jalan jalan ke desanya dwipa lagi ya kak,,,biar dia lihat aktivitas warga di sana juga
menghanguskan mu si paling pintar.