Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasi goreng di tengah malam
Di kebun pribadi halaman belakang. Sebria duduk menyendiri menikmati jus mangga setelah merapikan bunga-bunganya. Ia menatap jauh hamparan bunga-bunga itu. Semuanya mekar sempurna seperti hidup yang ia rasakan saat ini. Sebria memilih tidak bekerja kantoran lagi sejak beberapa tahun lalu ia memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Saat pernikahannya bersama Deric dulu. Ia sudah menekuni dunia seniman bunga.
Sapuan angin sore menyejukkan kulitnya setelah berkeringat. Sebria menarik nafas panjang tanpa terasa pernikahannya dan Jehan sudah memasuki usia ke empat bulan. Semua nya berjalan dengan baik dan seimbang. Perlahan Keona sudah menerima Jehan disisi kakaknya. Tidak ada lagi bahasa formal bahkan mantan idola itu lebih luwes bersama Jehan.
Sebria membagi waktunya begitu baik antara keluarga, toko bunga dan orang tua. Sampai saat ini Byan masih jadi prioritas nya. Sesekali mereka akan mengantar Byan mengunjungi makam Ayusa. Memiliki ibu baru bukan berarti melupakan wanita yang melahirkannya. Meski belum melihat wajahnya secara nyata dan tidak memiliki ikatan batin yang kuat setidaknya Byan tahu siapa yang melahirkannya di dunia ini. Karena itu tidak akan pernah tergantikan.
"Mama Bi..." Lengkingan suara Byan membuat Sebria tersentak kecil. Kakinya berlari cepat dengan rambut bergoyang tipis disisi keningnya.
"Kamu sudah pulang?" Sebria membantu menurunkan tas dari pundak anak itu. "Bagaimana les nya?" Ia bertanya sambil meletakan tas ke atas meja.
"Seru, Ma. Ada teman baru baru masuk." Anak itu menjawab sambil mendaratkan tubuh di kursi.
"Berteman dengan baik ya, jangan usil sama temannya." Nasehat Sebria sambil merapikan helaian rambut Byan. "Istirahat dulu baru mandi ya..."
"Kalian disini rupa nya." Jehan tiba-tiba muncul masih mengenakan pakaian kantor lengkap. "Pantas aku panggil-panggil tidak ada." Ujarnya mengecup kening Istri dan anaknya bergantian.
"Biasanya kamu pulang agak malam."
"Pekerjaan ku sudah selesai jadi aku pilih pulang cepat." Pandangan Jehan tertuju pada gelas jus mangga. "Jus lagi?"
Sebria tersenyum. "Aku lagi senang jus mangga. Kalian mau, biar aku buatkan." Ujarnya sambil berdiri.
"Boleh." Jehan juga berdiri dari tempatnya duduk. "Sambil nunggu mama buat jus mangganya kita mandi dulu ya." ujar nya kepada Byan.
"Aku tidak mau jus mangga, aku mau jus apel kalau ada buahnya."
"Ada kok. Kalian mandi sana."
Sore begitu tenang dan sejuk. Sebria membuat jus jeruk sementara para asisten rumah tangga memasak untuk makan malam. Dua gelas jus sudah di letakan ke atas meja ruang tengah. Kaki langit nampak menggelap menjemput senja. Jingga di ufuk barat unjuk pesona dengan kilau indahnya. Dedaunan di dalam pot mulai menunduk dengan kelopak bunga sedikit mengkerut dan menggulung.
Sebria menaiki anak tangga menyusul suaminya. Ia mulai merasa lengket karena keringat setelah merapikan taman bunganya. Pekerjaan ringan tapi cukup membuatnya basah.
"Jus nya aku taruh di atas meja ruang tengah." Sebria berkata sambil melangkah ke kamar mandi.
Jehan hanya mengangguk sambil tersenyum. Tapi tidak langsung turun melainkan menunggu Sebria selesai mandi. Ia duduk di tepi kasur membuka ponsel. Tidak sampai satu jam Sebria keluar dengan wajah segar dan handuk dililitkan di atas kepala.
Jehan menurunkan kakinya dari kasur lalu berdiri. Aroma sabun menguar lembut menyapu indranya. Hanya sekali raup. Tubuh mungil istrinya sudah dalam pelukannya.
"Je..." Sebria tersentak kecil tiba-tiba suaminya agresif. Ia masih mengenakan kimono berniat ke ruang ganti. "Kenapa?"
"Pengen peluk saja." Jehan menghirup rakus aroma wangi itu. Ia mendusel menemukan kenyamanan.
"Aku pakai baju dulu, baru kita turun."
Jehan dengan tidak rela melepaskan pelukan. Rasa rindunya tidak akan habis. Lagi dan lagi ingin memeluk istrinya itu. "Aku tunggu kita turun sama-sama."
Detik jam terus berputar semakin meninggalkan sore. Segelas jus sudah tandas di atas meja hanya menyisakan jejak basah gelasnya. Aroma masakan sudah menguar dari arah dapur. Di atas meja kayu yang besar beberapa menu tersaji dengan tampilan yang menggiurkan. Makanan favorit sudah siap tinggal duduk untuk eksekusi.
"Makanan siap ayo makan." Ajak Sebria lembut datang dari arah dapur.
Jehan dan Byan saling berpegangan tangan mengikuti jantung rumah mereka itu menuju ruang makan. Manik mata mereka menangkap beberapa menu tertata. Bisa di pastikan rasa nya seenak biasanya.
Suara denting sendok yang beradu dengan piring menjadi pembuka, sebelum akhirnya aroma uap nasi yang mengepul mencairkan keheningan.
"Hambar." Celetuk Sebria yang mencicipi lauk yang ia ambil ke atas piringnya. Sekali lagi ia menyendok lalu menyuap. "Iya hambar."
Jehan mengambil menu yang sama lalu menaruhnya ke atas piring dan mencicipinya. "Tidak hambar." Ujarnya mencicipi lagi. "enak kok tidak hambar. Rasa nya pas. Byan coba kamu rasa siapa tahu papa salah."
"Iya pa." Byan juga mengambil menu yang sama lalu mencicipi nya. "Ini enak, Ma. Tidak hambar."
"Apa mama kebanyakan minum jus mangga ya jadi lidahnya tebal." Sebria mengambil menu lainnya rasa nya tetap sama. Alhasil ia hanya makan sedikit.
"Kok makan nya sedikit?" Tegur Jehan melihat istrinya sudah selesai makan.
"Aku sudah kenyang. Kalian makan saja." Sebria tersenyum sambil minum air putih. "Byan, tambah lagi, Nak."
Byan mengangguk. "Nanti kalau mama lapar makan lagi ya..." Ia khawatir kalau mama baru nya itu sakit.
"Iya sayang nanti mama makan lagi kalau lapar."
...----------------...
Lampu ruang kamar berpendar temaram, menyelinap di antara celah kelopak mata Sebria. Harum sisa sedap malam dan lily yang kuat dari lantai bawah biasanya menenangkan, namun malam ini, aroma itu kalah telak oleh keroncongan perutnya yang semakin menuntut.
Sebria berguling ke kanan, lalu ke kiri. Ia mencoba menghitung kelopak mawar dalam imajinasinya untuk terlelap, namun yang muncul justru bayangan nasi goreng hangat dengan suwiran ayam serta telur mata sapi di warung tenda abang-abang pinggir jalan. Kegelisahan itu bukan karena pesanan buket yang menumpuk untuk besok pagi, melainkan karena ia tidak selera saat makan tadi.
Akhirnya, ia menyerah. Dengan helaan napas panjang, Sebria bangkit, membiarkan lantai dilapisi karpet menyambut telapak kakinya. Di tengah keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh detak jam dinding, ia melangkah duduk di sofa dimana suaminya masih terjaga di hadapan laptop.
"Sayang." Jehan tersentak kecil merasakan pergerakan sofa. "Apa kamu terganggu karena aku bekerja. Tadi tiba-tiba ada email yang harus aku buka dari Felix." Ujarnya menyebut nama sang asisten.
"Aku tidak bisa tidur. Aku lapar."
Jehan terkekeh. "Mau makan, ayo aku temani ke dapur." Ucapnya sambil menutup laptop dan melepaskan kaca mata.
"Makanan yang tadi hambar." Sebria menyadarkan kepala di bahu suaminya.
"Mau cari makan diluar?" Jehan senang karena Sebria bisa bermanja dengannya. "Mumpung masih jam sebelas."
"Ayo." Sebria bersemangat. "Nasi goreng abang-abang pinggir jalan." Ucapnya berbinar.
Udara malam yang dingin menusuk kulit tidak menyurutkan niat Sebria dan suaminya untuk keluar rumah. Sambil merapatkan jaket, mereka berkendara santai menyusuri jalanan yang masih agak ramai diterangi lampu jalan kekuningan.
Roda empat itu berhenti di sebelah warung tenda. Gerobak kayu biru. Tidak terlalu penuh masih ada tempat untuk duduk.
"Ayo..." Jehan menggandeng tangan istrinya untuk masuk. "Nasi gorengnya dua." pesannya sambil mencari tempat duduk.
"Disana saja." Bisik Sebria menarik tangan Jehan.
Wangi bumbu ulek yang ditumis sangat menggoda. Suara dentingan sudip yang beradu dengan wajan menjadi musik pengiring yang khas bagai simfoni malam. Asap mengepul tinggi saat nasi diaduk cepat, sementara tumpukan kerupuk putih dalam kaleng besar dan botol-botol saus berderet rapi di atas etalase kaca merupakan visual ikonik.
Sebria dan suaminya memilih duduk di kursi plastik pendek yang lumayan kokoh, menunggu pesanan mereka sambil memperhatikan tangan terampil si abang yang menaburkan garam dan bumbu rahasia dengan gerakan cepat. Rasa lapar yang tadi menggelisahkannya kini berubah menjadi antisipasi yang menyenangkan di bawah langit malam yang tenang.
"Pas rasa nya, kan?" tanya Jehan sambil menyodorkan selembar tisu saat uap panas nasi goreng mulai memancing butiran keringat di dahi Sebria.
Wanita itu mengangguk antusias, mulutnya masih penuh dengan sensasi hangat dan gurih mentega. "Iya. Untung kita keluar, kalau tidak, aku pasti cuma bisa melotot menatap langit-langit kamar sampai pagi."
Jehan terkekeh. "Santai nikmati nasi goreng nya.
Beberapa menit kemudian mobil mereka melambat saat meninggalkan gerobak nasi goreng, seolah ingin memperpanjang sisa kehangatan malam. Suasana jalanan sudah jauh lebih sunyi, hanya ada suara mesin kendaraan yang jarang-jarang.
Jehan menggenggam tangan Sebria, menariknya sedikit lebih tinggi sambil mencium nya lama. "Sudah kenyang atau ada yang mau di makan lagi?"
Tepat di depan pintu rumah, mereka berhenti sejenak. Sebria menghirup dalam-dalam aroma tanah basah dan sisa wangi bunga yang keluar dari sisi pintu. "Terima kasih ya sudah mau menemani cari nasi goreng jam segini," bisiknya.
Jehan hanya tersenyum, lalu mengecup keningnya singkat sebelum memutar kunci pintu. "Apapun supaya istri ku ini bisa tidur nyenyak."
Makasih, Kakak Ririn, sudah menuliskan kisah yg indah ini. Tep semangat berkarya 🥰