Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.
Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 Yakin
Hidayah tak pernah datang dengan suara keras; ia hadir pelan, seperti cahaya fajar yang menyelinap tanpa memaksa.
—Aldivano Athariz—
Langit sore itu berwarna jingga lembut, seperti kanvas yang dilukis perlahan oleh tangan tak terlihat. Cahaya matahari menembus jendela kamar Celine, jatuh di atas meja riasnya dan memantulkan bayangan wajah yang sedang termenung.
Sudah beberapa hari ini hatinya terasa berbeda.
Bukan gelisah.
Bukan pula sedih.
Melainkan seperti ada panggilan halus yang berulang-ulang mengetuk, pelan namun konsisten—seperti tetes air yang jatuh di batu hingga akhirnya meninggalkan bekas.
Celine duduk di depan cermin. Rambut panjangnya tergerai di bahu, lembut seperti sutra yang tertiup angin. Namun sorot matanya tidak sedang memandangi kecantikan fisik. Ia memandangi dirinya yang lebih dalam—dirinya yang sedang tumbuh.
Sejak peristiwa demi peristiwa yang mengguncang hidupnya, sejak rahasia pernikahan itu terungkap, sejak ia mengambil jeda untuk memahami, sejak ia kembali dengan hati yang lebih lapang—ia merasa semakin dekat dengan Allah.
Sujudnya terasa lebih lama.
Doanya terasa lebih jujur.
Air matanya lebih mudah jatuh, seperti hujan yang tak lagi malu membasahi bumi.
Dan di antara semua itu, muncul satu keinginan.
Keinginan yang tidak tiba-tiba, namun tumbuh perlahan seperti benih yang diam-diam berakar.
Ia ingin berhijab.
Bukan karena tren.
Bukan karena tekanan.
Bukan karena ingin terlihat lebih baik di mata orang lain.
Tetapi karena hatinya ingin lebih dekat.
Namun keputusan itu bukan keputusan kecil. Bagi Celine, itu seperti melangkah ke fase baru dalam hidupnya. Seperti menutup satu bab dan membuka bab lain dengan kesadaran penuh.
Dan karena ia kini telah berstatus istri, ia ingin berbicara dengan Aldivano.
Bukan untuk meminta izin semata.
Tetapi untuk berbagi niat.
Malam itu, suasana rumah tenang. Daddy Caesar sedang membaca di ruang kerja. Mommy Chailey sudah masuk kamar. Calvin entah sedang sibuk dengan dunianya sendiri.
Di taman belakang, Aldivano duduk di kursi kayu panjang. Angin malam menggerakkan daun-daun seperti bisikan yang lembut. Cahaya lampu taman jatuh di wajahnya, menampilkan ekspresi tenang seperti permukaan danau tanpa riak.
Celine melangkah mendekat.
Langkahnya pelan, seperti seseorang yang membawa sesuatu yang berharga di dalam hatinya.
“Kak…” panggilnya lembut.
Ia menoleh, lalu tersenyum kecil. “Iya?”
“Boleh bicara?”
“Tentu.”
Celine duduk di sampingnya, menjaga jarak yang sopan. Jarak yang selama ini mereka pelihara dengan penuh kesadaran.
Beberapa detik mereka hanya diam. Hening itu bukan canggung, melainkan seperti ruang yang memberi kesempatan bagi hati untuk menyusun kata.
“Aku ingin bertanya sesuatu,” ucap Celine akhirnya.
Aldivano menatapnya penuh perhatian. “Tentang apa?”
Celine menarik napas panjang. Udara malam terasa sejuk, seperti memberi keberanian.
“Apa pendapatmu… tentang aku yang ingin berhijab?”
Kalimat itu keluar dengan lembut, namun terasa seperti pintu besar yang baru saja dibuka.
Aldivano terdiam.
Bukan karena terkejut.
Tetapi karena pertanyaan itu terasa begitu dalam.
Ia tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Celine dengan tatapan yang tidak menghakimi, tidak menuntut—hanya mendengar.
“Kamu ingin berhijab?” tanyanya pelan, memastikan.
Celine mengangguk. “Aku belum mulai. Tapi akhir-akhir ini… rasanya seperti ada yang memanggil. Setiap kali selesai shalat, setiap kali membaca Al-Qur’an… aku merasa ingin lebih menjaga diri.”
Ia menunduk, jemarinya saling bertaut.
“Bukan karena siapa pun. Bukan karena ingin terlihat salehah. Tapi karena aku ingin… lebih dekat.”
Suaranya lirih, seperti doa yang tak ingin terdengar keras.
Angin malam berembus pelan, menyentuh wajah mereka seperti saksi yang diam.
Aldivano tersenyum tipis.
“Kalau itu niatmu,” ucapnya tenang, “itu adalah keputusan yang sangat indah.”
Celine menoleh cepat. “Kamu tidak merasa… ini terlalu cepat?”
Aldivano menggeleng perlahan. “Hidayah tidak pernah terlalu cepat atau terlalu lambat. Ia datang tepat waktu.”
Jawaban itu terasa seperti air yang mengalir di tanah kering.
Celine menatapnya, matanya sedikit berkaca-kaca.
“Tapi aku takut,” bisiknya.
“Takut apa?”
“Takut tidak istiqamah. Takut nanti kalau aku lemah. Takut kalau ini hanya perasaan sesaat.”
Ketakutan itu nyata. Seperti bayangan yang mengikuti cahaya.
Aldivano mengangguk pelan. “Takut itu wajar. Bahkan orang yang sudah lama berhijab pun masih takut. Karena istiqamah bukan tentang tidak pernah goyah. Tapi tentang selalu kembali.”
Kalimat itu seperti tangan yang menggenggam erat tanpa memaksa.
Celine terdiam.
“Aku tidak ingin kamu berhijab karena aku,” lanjut Aldivano lembut. “Kalau kamu melakukannya, lakukan karena Allah. Kalau suatu hari kamu merasa lemah, aku tidak akan menghakimimu. Aku akan mengingatkan dengan lembut.”
Hati Celine terasa hangat seperti diselimuti cahaya kecil.
“Dan kalau aku belum siap sepenuhnya?” tanyanya lagi.
“Aku tetap menghormatimu.”
Jawaban itu sederhana, namun kuat seperti akar pohon yang mencengkeram tanah.
Untuk pertama kalinya, Celine tidak merasa dihadapkan pada tuntutan.
Ia merasa didukung.
Dan dukungan yang tidak memaksa, sering kali lebih kuat daripada tekanan yang keras.
"Boleh aku meminta sesuatu?"
"Boleh. Apa itu?"
"Bisa kamu panggil aku "Mas"? Kemudian Aldivano mengatakan alasan dibalik permintaannya tersebut.
"Mungkin... Sedikit kaku, tapi baiklah, M-Mas," jawab Celine dengan gugup.
Sementara Aldivano langsung melengkungkan bibir, akibat suara yang didengarnya.
Malam itu, setelah percakapan mereka, Celine kembali ke kamarnya.
Ia membuka lemari.
Di sudut lemari, ada beberapa hijab yang pernah ia beli—sekadar coba-coba, sekadar untuk acara tertentu. Kain-kain itu terlipat rapi, seperti menunggu dipanggil.
Ia mengambil salah satunya. Warna krem lembut.
Ia berdiri di depan cermin, mencoba melilitkannya perlahan.
Tangannya sedikit gemetar.
Bukan karena ragu.
Tetapi karena sadar.
Saat kain itu menutupi rambutnya, ia menatap bayangannya sendiri.
Wajah yang sama.
Mata yang sama.
Namun terasa berbeda.
Seperti melihat versi dirinya yang lebih tenang.
Air matanya jatuh perlahan.
“Ya Allah… jika ini memang langkahku menuju-Mu, kuatkan aku.”
Hijab itu terasa ringan di kepala, namun berat dalam makna.
Seperti amanah yang harus dijaga.
Keesokan paginya, Celine turun ke ruang makan dengan hijab yang masih sederhana, lilitan yang belum sempurna.
Mommy Chailey terdiam beberapa detik saat melihatnya.
“Sayang…” suaranya hampir bergetar.
Daddy Caesar menurunkan korannya.
Calvin bahkan berhenti mengunyah.
Celine tersenyum malu-malu. “Aku… ingin mencoba.”
Mommy Chailey berdiri, mendekat, menyentuh pipinya dengan lembut.
“Kamu terlihat sangat cantik.”
Celine tersenyum kecil. “Cantik karena hijabnya?”
“Cantik karena niatnya,” jawab Mommy pelan.
Di sudut ruangan, Aldivano hanya memperhatikannya dengan tatapan yang penuh syukur.
Bukan tatapan bangga yang berlebihan.
Tetapi seperti seseorang yang menyaksikan bunga mekar di pagi hari—indah karena waktunya tepat.
Hari-hari berikutnya menjadi proses.
Ada hari di mana Celine merasa percaya diri, seperti burung yang terbang dengan sayap baru.
Ada pula hari di mana ia merasa canggung, seperti anak kecil yang belajar berjalan.
Namun setiap kali ia ragu, ia mengingat percakapan malam itu.
Bahwa hijab bukan simbol kesempurnaan.
Melainkan perjalanan.
Dan perjalanan tidak selalu lurus.
Suatu sore, saat mereka duduk berdua di ruang baca, Celine berkata pelan,
“Terima kasih.”
Aldivano menoleh. “Untuk apa?”
“Karena tidak pernah memaksaku.”
Ia tersenyum. “Aku belajar bahwa cinta yang memaksa bukan cinta. Ia hanya keinginan.”
Celine terdiam.
Hatinya terasa lapang seperti langit tanpa awan.
Ia menyadari satu hal.
Hijab bukan hanya tentang menutup rambut.
Ia tentang menutup celah-celah ego.
Tentang menjaga hati.
Tentang merendahkan diri di hadapan Allah.
Dan keputusan itu, meski tampak sederhana di mata orang lain, baginya seperti melangkah ke taman yang baru—penuh harapan, namun tetap harus dijaga.
Malam itu, saat ia berdiri lagi di balkon, angin menyentuh hijabnya lembut.
Ia tersenyum.
Dulu ia merasa hidupnya penuh rahasia dan kejutan.
Kini ia merasa hidupnya perlahan menemukan arah.
Seperti sungai yang akhirnya tahu ke mana ia harus bermuara.
Dan di sampingnya, Aldivano berdiri tanpa banyak kata.
Tidak memimpin.
Tidak mendorong.
Hanya berjalan sejajar.
Dan untuk pertama kalinya, Celine merasa—
bahwa bukan hanya pernikahannya yang mulai ia pilih dengan sadar,
tetapi juga jalannya menuju Allah.
Pelan.
Lembut.
Namun mantap.
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...