Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.
Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Sophia kemudian keluar dari area kamar mandi dan melihat pamannya sedang menunggu di luar.
"Paman, tadi Sophia mau cuci tangan, lalu Sophia dibantu oleh seorang wanita. Dia baik sekali!" ceritanya antusias.
"Benarkah?" tanya Brian ramah.
Namun sebelum mereka pergi terlalu jauh dari bangunan kamar mandi, wanita yang tadi membantu Sophia keluar dan mengintip ke arah luar—tepat ke arah Brian dan Sophia.
"Brian...?"
Ternyata, wanita yang baru saja menolong Sophia adalah Lena. Wajahnya tampak terkejut saat menyadari bahwa pertemuan itu mempertemukannya kembali dengan Brian—secara tidak sengaja.
"Siapa anak yang bersamanya itu...?" gumam Lena penasaran, menatap dari kejauhan sosok Brian yang terlihat menggandeng tangan Sophia.
Di sisi lain, Brian dan Sophia telah kembali ke tempat mereka dan langsung menyantap hidangan yang sebelumnya disiapkan oleh Amayah. Mereka menikmati suasana teduh yang jauh dari keramaian, dengan berbagai menu yang tertata rapi.
"Enak sekali, Kak Amayah!" puji Sophia dengan wajah ceria.
Amayah tersenyum kecil. "Terima kasih..."
"Tapi aku tidak menyangka kau berani-beraninya mengejek aku tidak ahli berenang, padahal dirimu sendiri juga tidak bisa," ujar Brian sambil memotong daging untuk Sophia.
Tentu saja Amayah tidak terima. "Kau sendiri yang menantangku lomba renang, padahal kau juga tidak bisa," balasnya menyindir.
"Wajar saja. Aku jarang pergi ke tempat wisata atau wahana seperti ini," jawab Brian datar.
Amayah yang sedang menambahkan saus ke makanannya membalas singkat, "Aku juga."
Suasana mendadak terasa canggung. Keduanya terdiam, seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing, meski tangan mereka tetap sibuk dengan makanan.
"Ini pertama kalinya bagiku. Aku cukup puas," ucap Amayah lirih dengan ekspresi datar.
Brian menatapnya sekilas. "Kau senang?" tanyanya.
"Tidak juga... tapi aku menikmatinya," jawab Amayah dengan senyum tipis.
"Bilang saja jika kau senang."
"Jangan menebak perasaanku!" kata Amayah kesal.
Perdebatan kecil pun kembali terjadi. Keduanya saling melempar argumen sepele, seolah ingin menjatuhkan harga diri satu sama lain. Di sisi lain, Sophia tetap fokus menikmati makanannya, seakan pertengkaran Brian dan Amayah sudah menjadi pemandangan sehari-hari baginya.
Sementara itu, Lena berada tidak jauh dari mereka. Ia mengintip dari dalam kolam sambil menyelam perlahan.
"Bukankah wanita itu... sepertinya aku pernah melihatnya..." pikir Lena.
Ia mencoba mengingat-ingat, hingga akhirnya tersadar. "Dia dari kelasku. Duduknya paling depan, dekat pintu. Tapi siapa ya namanya...?" batinnya.
"Ada apa?" tanya seorang wanita di dekatnya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya melihat-lihat saja," jawab Lena gugup. Lalu ia tersenyum kecil. "Ngomong-ngomong, mau balap renang denganku tidak?"
"Kamu berani menantangku? Ayo!"
"Kalau kakak kalah, kakak harus mentraktirku makan siang," ujar Lena penuh percaya diri.
"Hah? Itu tidak adil!"
Sambil mendengar ocehan kakaknya, Lena sesekali melirik ke arah Brian yang sedang makan bersama Amayah dan Sophia. Ia tampak ingin menghampirinya, namun ragu.
"Tujuanku ke sini untuk melepas beban pikiran," gumamnya. "Lebih baik urusan itu kupikirkan nanti saja."
"Ada apa?" tanya kakaknya heran.
"Ayo mulai, Kak!"
Tanpa menunggu aba-aba, Lena tiba-tiba melesat lebih dulu ke dalam kolam.
"Eh?! Curang!!!"
---
Brian pulang bersama Amayah dan Sophia dengan mobil. Ia mengemudi dengan penuh fokus, kedua tangannya mantap memegang setir. Amayah duduk di kursi penumpang depan, menatap lurus ke arah jalan, sementara Sophia di kursi belakang tampak sudah tertidur lelap.
"Kurasa Sophia sudah tertidur pulas," ujar Brian datar sambil sesekali melirik ke kaca spion tengah.
Amayah menoleh ke belakang, memastikan. "Wajar saja. Dia begitu aktif hari ini, energinya pasti terkuras habis. Tidak sepertimu yang belum melakukan apa-apa saja sudah perlu diisi baterai," balas Amayah sambil mengejek.
Brian mengernyit. "Kau ini hobi sekali mengejekku, ya?"
"Tapi aku hanya mengatakan fakta, kan?" tanya Amayah santai.
"Terserah…" jawab Brian singkat, terdengar lelah.
Suasana mobil pun hening. Hanya suara mesin dan deru ban yang menemani perjalanan mereka. Keduanya fokus menatap jalan di depan, hingga akhirnya Amayah memecahkan keheningan.
"Sebelum ayahku tiada, dia pernah berjanji akan mengajariku berenang," ucapnya tiba-tiba. "Aku sangat senang waktu itu, karena aku ingin ahli di bidang tersebut."
Brian menyimak dengan tenang. "Lalu mengapa kau tidak mempelajarinya sendiri?" tanyanya.
Amayah terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku kehilangan semangat. Rasanya seperti tidak ada gunanya aku mempelajarinya sendirian."
Brian kembali diam, lalu berkata dengan nada datar, "Apa kau tidak keberatan jika suatu saat nanti aku menyewa seorang perenang profesional untuk mengajari kita?"
Mendengarnya, Amayah tampak kebingungan. "Jangan bercanda," balasnya sambil tersenyum geli.
"Aku tidak bercanda."
"Kau serius?" tanya Amayah ragu.
Brian mengangguk pelan. Amayah pun akhirnya mengerti.
"Kalau begitu," katanya sambil tersenyum percaya diri, "siapa yang lebih dulu jago berenang adalah pemenangnya. Yang kalah harus menuruti keinginan apa pun dari sang pemenang."
"Jika kau menantangku seperti itu," balas Brian sambil tersenyum angkuh, "bersiaplah terkejut jika suatu hari kau melihat namaku di daftar peserta olimpiade."
Amayah tertawa kecil. "Jangan harap bisa mengalahkanku."
Ia masih tersenyum, jelas terhibur oleh candaan Brian. Namun perlahan, rasa kantuk mulai menguasainya.
"Tidur saja. Aku akan membangunkanmu ketika aku sudah menjuarai olimpiade," ucap Brian santai.
"Sebelum tidur akan aku hajar kau terlebih dahulu," balas Amayah tegas.
Brian langsung terdiam.
Mobil kembali sunyi. Tak lama kemudian, Amayah pun terlelap, menyusul Sophia di kursi belakang. Brian tetap fokus menyetir, menatap jalan yang mulai diselimuti cahaya sore.
Sore itu menjadi salah satu penutup hari yang berharga bagi mereka. Untuk pertama kalinya, mereka bisa saling tersenyum dan bercanda tanpa beban.
Brian berharap momen seperti ini bisa terus bertahan. Ia ingin orang-orang terdekatnya merasa nyaman berada di sisinya.
"Aku tidak ingin mengulangi hal yang sama," batin Brian.
---
Berhari-hari berlalu, dan rencana Brian tetap berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Lena berusaha mengajaknya bicara, selalu saja ada halangan. Entah itu karena Brian sengaja mengabaikannya dengan berpura-pura tidur, atau memasang wajah polos seolah tidak mendengar saat Lena memanggil namanya.
Brian benar-benar bersungguh-sungguh untuk menghindari Lena. Ia bahkan sampai meminta bantuan Amayah untuk membujuk beberapa murid agar sering mengajak Lena berbicara, dengan harapan gadis itu tidak lagi mendekatinya.
Para murid yang dibujuk menerima permintaan itu dengan senang hati dan melakukannya tanpa keberatan. Brian pun tidak ragu melangkah lebih jauh—ia rela membayar beberapa guru agar tidak menyatukannya dengan Lena dalam kelompok pelajaran apa pun.
Tak hanya itu, ada seorang pria yang belakangan ini sering terlihat ramah mengajak Lena mengobrol. Namanya Rafael, putra dari pemilik salah satu perusahaan terbesar di Amerika Serikat. Sikapnya selalu sopan dan hangat, seolah dengan sengaja mencari perhatian Lena. Banyak murid mulai memperhatikan mereka, bahkan merasa iri karena keduanya tampak serasi.
"Mereka cocok sekali, ya. Aku kapan?"
"Mending mereka pacaran aja!"
Lena tetap bersikap baik kepada Rafael. Ia membalas dengan senyum ramah, meski senyum itu tidak sepenuhnya tulus. Saat berbincang dengannya, Lena kerap melirik ke arah Brian. Ia masih belum bisa melupakan masalah mereka. Lena ingin berbicara dengannya, tetapi selalu saja ada penghalang. Rasa muak mulai muncul, namun ia tidak tahu bagaimana caranya agar Brian tidak lagi membencinya.
Pada suatu momen, Rafael menyadari kebiasaan Lena yang sering mencuri pandang ke arah Brian. Ekspresinya berubah seketika, meski senyum tetap terpasang.
"Ngomong-ngomong, akhir pekan ini kamu sibuk?" tanyanya.
Beberapa murid di sekitar justru langsung berteriak heboh, bukan Lena yang salah tingkah, melainkan mereka sendiri.
Lena tersenyum sopan. "Oh, aku harus mengunjungi kakek dan nenekku akhir pekan ini…" jawabnya, lagi-lagi melirik ke arah Brian.
"Begitu ya," balas Rafael pelan, matanya mengikuti arah pandangan Lena yang tertuju pada Brian.
Sementara itu, Brian tertidur pulas di bangkunya, sama sekali tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Ia hanya tahu satu hal—ia membenci kenyataan bahwa Lena duduk di dekatnya, karena itu berarti selalu ada banyak orang yang berkumpul di sekelilingnya.
---
Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)
---
Suatu hari saat jam istirahat, Amayah yang baru saja keluar dari toilet mendadak berhenti melangkah. Di hadapannya, Lena berdiri membelakangi wastafel, menatapnya dengan ekspresi sedih yang sulit disembunyikan.
"Hei… bisa kita bicara?" tanya Lena dengan suara gugup.
Amayah mengernyit tipis. "Ada apa?" tanyanya balik.
Sebenarnya, Amayah sudah bisa menebak topik yang ingin dibicarakan Lena. Namun, ia memilih mengikuti alurnya saja. Ia menatap Lena dengan wajah datar, membuat gadis itu tampak semakin tidak nyaman.
"Ini soal Brian," ucap Lena pelan. "Aku melihatmu bersamanya di Zplish-Zplash akhir pekan lalu. Apa kau dekat dengannya?"
Amayah terkejut dalam hati. Ia tidak menyangka Lena benar-benar melihatnya bersama Brian di wahana air itu. Ia sempat mengira Lena hanya ingin menanyakan alasan Brian yang belakangan menjauh darinya.
"Mungkin kau salah orang," jawab Amayah datar.
Lena terdiam sesaat sebelum tersenyum kaku. "Ah… iya juga, ya. Mungkin memang aku yang salah lihat…"
Suasana pun menjadi canggung. Lena menunduk sedikit, bingung dengan dirinya sendiri. "Apa sih yang aku lakukan…" batinnya malu.
"A-apa kamu kenal Brian?" tanya Lena lagi, ragu-ragu.
Tanpa berpikir panjang, Amayah langsung menjawab singkat, "Tidak."
"Begitu ya… maaf sudah mengganggumu," ucap Lena lirih.
"Ya," balas Amayah singkat, lalu bergegas meninggalkan tempat itu.
Lena tetap berdiri di sana, sendirian, memikirkan semua yang baru saja terjadi. Perasaannya campur aduk—bingung, ragu, dan frustrasi. Meski begitu, ia berusaha tetap tenang. Kesabarannya dalam menahan diri sungguh luar biasa.
Ia menarik napas perlahan.
"Aku akan menunggu saat yang tepat," batinnya. "Aku akan bertanya langsung pada Brian."
---
Di sore hari, ketika semua murid telah kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat, Brian masih berada di sekolah. Ia menjalani piket sore sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Brian menyapu lantai, mengepel, membersihkan jendela, mengibaskan debu dari rak dan lemari dengan kemoceng, menghapus papan tulis, serta merapikan kursi dan meja. Semua itu ia lakukan seorang diri.
Alasannya sederhana. Banyak murid enggan piket bersamanya. Karena itu, mereka kerap meninggalkan tugas bersih-bersih pada Brian dan pergi begitu saja. Awalnya ia menolak, namun tak pernah sempat membantah karena mereka sudah lebih dulu menghilang. Hal itu terus terjadi sejak ia masih duduk di bangku SMP.
Setelah semuanya selesai, Brian merapikan barang-barangnya dan bersiap pulang. Namun saat ia melewati lorong lantai satu yang gelap dan sepi seperti biasa, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Tanpa peringatan, seseorang menghantam leher belakang Brian dengan tongkat baseball. Pukulan keras itu membuat tubuhnya terlempar dan tersungkur ke lantai.
"Arghhh!" teriaknya kesakitan.
Brian memegangi lehernya yang nyeri dan menoleh ke belakang. Tiga orang berdiri di sana, menatapnya sambil tersenyum dan tertawa jahat.
"Hahaha, kena juga kau," ujar salah satu dari mereka. Suaranya terasa tidak asing di telinga Brian.
Pria itu menarik kerah baju Brian dan mengangkatnya dengan kasar. Meski menahan sakit, Brian menatapnya tajam.
Orang itu adalah Rafael—seseorang yang belakangan terlihat dekat dengan Lena. "Kau...!" gumam Brian tertahan sakit.
"Apa?" jawab Rafael santai.
Tanpa basa-basi, Rafael melempar Brian ke lantai. Tak berhenti sampai di situ, ia menendang perut Brian dengan keras.
"Arghhh!" teriak Brian lagi.
Pandangan Brian berkunang-kunang. Dari sudut matanya, ia melihat kamera CCTV di lorong itu—mati. Kesadarannya langsung menangkap satu hal: tanpa bukti, ia tidak akan bisa menuntut apa pun.
Rasa sakit menusuk hebat. Perutnya terasa mual hingga ia sedikit muntah.
"Ihhh! Menjijikkan," ujar Rafael dengan nada jijik.
Rafael kembali mencengkeram kerah baju Brian. "Kau tahu apa yang membuatku semarah ini?" tanyanya santai dengan senyum kejam.
"Brengsek," balas Brian singkat, menahan nyeri.
"Kau yang brengsek!" bentak Rafael.
Dengan emosi yang meluap, Rafael melanjutkan, "Aku senang karena Lena meresponsku dengan baik. Dia terlihat nyaman denganku."
Ia mendekatkan wajahnya. "Tapi entah kenapa, pandangannya selalu tertuju padamu. Dan aku tidak menyukainya."
Meski kesakitan, Brian tersenyum tipis penuh provokasi. "Itu karena kau payah. Pria yang hanya mengandalkan tampang dan uang. Kau bahkan tidak pantas berada di sisinya. Dan kau tahu? Selama ini Lena hanya berpura-pura baik padamu karena terpaksa."
Ucapan itu sukses menyulut amarah Rafael.
"Pria yang dijuluki raja pemalas sepertimu berani berkata begitu? Lawak!" teriaknya.
Dua anak buah Rafael tertawa puas, jelas terhibur.
"Aku akan melakukan apa pun demi keinginanku," ucap Rafael dingin. "Dan aku tidak sudi ada orang yang menghalangiku."
Cengkeramannya berpindah ke leher Brian. Rafael menghantam tubuh Brian ke dinding dengan kasar, membuat napasnya semakin tercekik.
"Lihat saja nanti...!" ujar Brian tertahan sakit.
Rafael tersenyum jahat, lalu melepaskan cekikannya dan menjatuhkan Brian ke lantai.
"Aku serahkan dia pada kalian," kata Rafael santai. "Aku tidak ingin tanganku kotor dan terinfeksi virus pemalas."
Dua orang lainnya pun mendekat dengan senyum jahat, sambil mengepalkan tangan seolah bersiap. Brian menatap kosong ke depan, pasrah.
"Aku tidak bisa bertarung," batinnya.
Lalu kejadian yang paling ia benci—yang tak pernah ia inginkan terjadi lagi—kembali terulang. Trauma lama itu menyeretnya ke dalam mimpi buruk yang sama. Mimpi buruk yang membuatnya memilih menyendiri dan tak mempercayai siapa pun.
Brian dihajar tanpa ampun. Wajahnya memar, bibirnya pecah hingga berdar*h, kepalanya dibanting, perutnya ditendang, kakinya diinjak. Rasa sakit datang bertubi-tubi, membuatnya benar-benar tersiksa.
Beberapa menit kemudian, penyiksaan itu berakhir. Namun Brian tak lagi mampu bergerak. Ia terbaring diam di lantai lorong yang dingin.
Pandangan kosongnya menatap langit-langit sekolah. Tanpa ia sadari, air mata menetes perlahan, bercampur dengan rasa nyeri yang tak kunjung hilang.
"Mengapa... mengapa selalu aku...?" batinnya.
"Mengapa selalu aku yang menderita?!" teriak Brian, suaranya menggema di lorong sepi.
Ia memejamkan mata sambil terisak. "Dunia tidak adil... begitu kejam..." gumamnya lirih.
Bersambung.
semangat terus bang!!!