Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 29
Di dalam mobil yang melaju mulus membelah jalan pagi, Max kini duduk bersandar dengan satu tangan bertumpu di sandaran pintu.
Tatapannya tajam melalui kaca jendela. Namun pikirannya tidak berada di jalan. Ia teringat pagi itu.
Cahaya matahari menembus tirai kamar, menyisakan garis-garis tipis di seprai yang masih berantakan. Udara kamar masih hangat oleh sisa gairah semalam—panas yang belum sepenuhnya padam.
Zayna bangun lebih dulu.
Wajahnya memerah, bukan karena marah… tapi karena malu. Ia bahkan tak berani menatap Max terlalu lama. Gerakannya canggung saat mengenakan kembali pakaiannya, rambutnya terurai sedikit berantakan di bahu.
Max hanya memperhatikannya dari tempat tidur, tanpa berkata apa pun.
Ada kepuasan yang bukan sekadar fisik.
Ada rasa memiliki.
Di dapur, Zayna berdiri menyiapkan sarapan. Tangannya sibuk, tapi pikirannya jelas tidak setenang itu. Ia beberapa kali menggigit bibir bawahnya sendiri, seolah mengingat sesuatu yang membuat pipinya kembali memanas.
Max mendekat tanpa suara.
Tanpa peringatan.
Ia berdiri tepat di belakang Zayna.
Lalu memeluknya.
Lengannya melingkar di pinggang wanita itu dengan pasti. Tubuhnya menempel tanpa ragu, seakan tak ada ruang bagi jarak.
Zayna terkejut kecil.
“Max…” suaranya lirih, campuran gugup dan protes lemah.
Namun ia tidak melepaskan pelukan itu.
Max menunduk sedikit, wajahnya dekat di sisi leher Zayna.
“Kenapa malu?” bisiknya rendah. “Semalam kau tidak seperti ini.”
Napas Zayna tersendat.
Tangannya yang memegang spatula sedikit gemetar, tapi ia tetap berdiri di sana—dalam dekapan pria yang bukan suaminya.
Dan di dalam mobil sekarang, sudut bibir Max terangkat tipis. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu siapa Zayna. Dan ia tahu siapa Drake.
Mobil terus melaju.
Sementara dalam benak Max, bukan hanya investasi yang ia genggam—
Tapi juga kelemahan seseorang yang kini berada di bawah pengawasannya.
Di sela-sela emosi Max yang setiap kali ingin meletup saat teringat Drake, imajinasi nya yang lain juga justru kembali lagi menariknya ke dapur pagi itu—ke momen yang jauh lebih intens daripada sekadar pelukan.
Max tidak melepaskan dekapannya. Alih-alih menjauh saat merasakan tubuh Zayna yang menegang, ia justru semakin merapatkan diri.
Max bisa merasakan detak jantung Zayna yang berpacu cepat di bawah telapak tangannya, seirama dengan napasnya yang mulai memburu. Tangan Max pelan dan lembut meremas kedua payudaraa Zayna dari belakang.
"Max, lepaskan... Ahh.. Aku… Sedang masak… Emhh," bisik Zayna, suaranya bergetar.
“Aku gemas dan memyukainya, Zayna. Izinkan tanganku bermain-main sebentar. Aku juga memyukai aroma sisa-sisa semalam yang masih menempel di kulitmu," sahut Max pelan, suaranya serak tepat di telinga wanita itu.
Max memutar tubuh Zayna dengan perlahan namun penuh otoritas. Kini mereka berhadapan. Punggung Zayna terhimpit tepian konter dapur yang dingin, sementara di depannya ada kehangatan tubuh Max yang mengintimidasi.
Satu tangan Max kini mencengkram pinggang Zayna agar tidak ada jarak antara mereka, dan tangan lainnya masih menangkup di payuudaraa Zayna, meremass pelan.
“Emmh…” erangan lolos dari mulut Zayna lagi.
“Kau milik siapa hari ini?” tanya Max, sebuah pertanyaan retoris yang kejam.
Zayna tidak menjawab. Ia justru memejamkan mata saat Max menunduk, bukan untuk mencium bibirnya, melainkan membenamkan wajah di ceruk lehernya. Punggung besar Max melengkung karena Max yang memiliki tubuh tinggi.
Max menghirup aroma tubuh Zayna— Menyesap lagi leher Zayna menambah bekas merah yang sudah terlalu banyak, dengan masih meremass payudara Zayna dengan satu tangannya. Memilin dan memelintir putingg Zayna dengan lembut.
“Aahhhm… Anggghh… Max…” Zayna mendesah pelan, sebuah suara yang terdengar seperti kekalahan.
Tangan Zayna yang tadinya berniat mendorong dada Max, kini justru meremas kemeja pria itu, mencari pegangan agar kakinya tidak lemas.
“Katakan namaku lagi…” tuntut Max rendah, bibirnya menyapu kulit sensitif di bawah telinga Zayna.
“Max...” rintihnya pasrah.
Max menjauhkan wajahnya hanya beberapa sentimeter, membiarkan napas mereka saling bertukar di ruang yang sangat sempit. Ia tidak butuh lebih dari ini sekarang. Ia hanya ingin memastikan bahwa setiap inci dari pikiran Zayna telah ia kuasai—sebelum ia menghadapi Drake.
Max kemudian menghisap payudarra Zayna, membuat punggung wanita melengkung dengan hisapan dan permainan lidah Max.
Max menarik napas panjang, kembali ke kenyataan di dalam mobilnya. Ia merapikan jam tangan di pergelangan tangannya yang kokoh.
“Aku merindukannya…” gumam Max.
Bleiz yang duduk di kursi kemudi mendengar gumaman itu. Sebagai bawahan yang telah bertahun-tahun mengabdi, ia sangat mengenal watak tuannya.
Sepanjang sejarahnya bekerja untuk Max, baru kali ini ia ditugaskan menjaga sebuah rumah kumuh semalaman penuh. Dan yang lebih mengejutkan, baru kali ini ia melihat Max menghabiskan malam bersama seorang wanita.
Sejujurnya, Bleiz sempat sangsi. Ia tak percaya pria sekelas Max akan menaruh minat seserius itu pada wanita miskin tersebut. Saat berjaga di luar bersama Kenji semalam, ia sempat menduga Max hanya sedang bermain-main atau sekadar melampiaskan rasa penasaran atau rasa bosannya.
Namun, ia ingat satu fakta krusial: ini adalah pertama kalinya Max membiarkan seorang wanita menyentuh sisi pribadinya sedalam itu. Bahkan menghabiskan malam penuh gairah. Bagi Max tak ada satu wanita pun yang ia biarkan bisa menyentuh nya.
Begitu pagi tiba dan melihat binar kepuasan di wajah tuannya yang tampak lebih cerah, Bleiz akhirnya sadar. Max tidak sedang bermain-main.
Mobil melaju dalam sunyi yang menekan.
Bleiz menimbang cukup lama sebelum akhirnya berbicara. Ia tahu batasnya. Ia tahu kapan harus diam. Tapi kali ini… ia merasa perlu mengingatkan.
“Tuan Max,” ucapnya hati-hati.
Max tidak menoleh, namun ia tidak menghentikan Bleiz.
Bleiz menarik napas pelan.
“Saya tidak berani mencampuri urusan pribadi Anda. Tapi ada satu hal yang perlu anda pertimbangkan.”
Hening beberapa detik.
“Ikatan pernikahan itu… lebih dalam dari yang terlihat.”
Tatapan Max tetap lurus ke depan.
“Seberapa dalam?” tanyanya datar.
Bleiz menjawab tanpa ragu.
“Sedalam kebiasaan. Sedalam luka yang pernah disembuhkan bersama. Sedalam kenangan yang tumbuh sejak mereka belum punya apa-apa.”
Ia melanjutkan dengan suara rendah namun jujur.
“Bagaimanapun Drake dan Zayna bertengkar… mereka pernah hidup dan tumbuh bersama. Mereka membangun hari-hari dari titik nol. Ikatan seperti itu tidak mudah diputus, bahkan oleh rasa sakit.”
Max tidak bereaksi, tetapi rahangnya sedikit mengeras.
Bleiz menambahkan,
“Kadang, orang yang tersakiti tetap kembali bukan karena cinta yang besar. Tapi karena akar yang sudah terlalu dalam.”
Mobil tetap melaju.
Bleiz tahu kata-katanya berisiko. Namun ia tidak sedang membela Drake. Ia sedang mengingatkan tuannya.
“Jika anda ingin memenangkan sesuatu,” lanjutnya pelan, “pastikan bukan hanya hatinya yang Tuan pegang… tapi juga keyakinannya untuk benar-benar melepaskan masa lalunya, karena kenangan tidak akan mudah di lupakan.”
Akhirnya Max berbicara.
“Menurutmu aku tidak tahu itu?”
Nada suaranya dingin.
Bleiz tersenyum tipis.
“Saya yakin anda tahu. Tapi saya juga tahu… saat hati mulai terlibat, bahkan orang terkuat pun bisa meremehkan ikatan lama.”
Keheningan kembali turun.
Beberapa saat kemudian, Max menyandarkan kepala ke kursi.
“Akar bisa dicabut,” ucapnya pelan. “Jika tanahnya diganti.”
Bleiz tidak menjawab lagi.
Ia hanya tahu satu hal—
Max tidak akan mundur.
Namun mulai hari ini, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar harga diri atau balas dendam.
Melainkan hati yang untuk pertama kalinya, benar-benar ia inginkan.
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk